The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
RYZAN(?)



Malam hari...


Tadi siang sampai sore Arya mengejar Delvan yang juga terus melarikan diri hingga Arya yang kelelahan membuatnya berhenti mengejar tapi malah menunggu di kamar hingga tertidur tanpa sadar.


Ryzan menatap wajah Arya yang sedang tidur dari samping.


Remaja itu mengedipkan matanya sekali dan duduk di kasur milik Hansel.


Susunan kasur:


...__⌥⌥________⌥⌥___...


...⊏Aryan⊐ ⊏Delvan⊐...


...⊏Hansel⊐ ⊏Habbi⊐...


...⊏Ayka⊐ ⊏Ryzan⊐...


..._________𓉳__________...


Kasur Arya berada di paling ujung berdekatan dengan tembok. Dia menyukai tempat itu karena ada jendelanya.


Ryzan masih menatap Arya yang menutup matanya dengan tatapan tidak bisa diartikan.


"Aku cukup tampan! Jadi berhenti menatapku, bisa-bisa bolong juga wajahku!" ucap Arya membuka matanya dan bangun.


"Ada apa?" tanyanya lagi sambil mengangkat tangannya hingga bunyi.


Kretek..


^^^(Enak banget suaranya :v) ^^^


Aduh...


"Kamu tidak makan malam?" tanya Remaja laki-laki itu memandang Arya yang memutar kepalanya ke kiri dan ke kanan hingga bunyi lagi.


Arya mendengar apa yang dikatakan Remaja laki-laki yang ada didepannya dengan diam lalu memikirkannya.


Selama ini dia selalu melewatkan makan malam dan selalu makan saat tengah malam itu pun jika ingat, tapi sekarang... Em, ayo makan!


"Baiklah"


Arya dan Ryzan turun bersama dan melihat beberapa anak yang sedang memilih beberapa lauk di nampan masing-masing.


"Jika kita sudah benar-benar diterima di Akademi, kita bisa memasuki kantin untuk makan"


Arya mengangguk dan mulai menelusuri setiap orang.


Mayoritas siswa yang mendaftar di sektor Pedang adalah laki-laki dan dia tidak mengenal siapa pun. Kecuali teman sekamarnya, itupun hanya beberapa saja.


Ryzan menarik tangan Arya dan membawanya untuk memilih makanan.


Setelah selesai mereka ikut duduk di samping Delvan yang memberikan kode untuk duduk bersama.


"Ryz--" ucapan Arya terpotong oleh Ryzan


"Panggil Rey"


Arya berkedip dengan tenang dan kembali mengangguk.


"Rey, kamu punya emosi tidak?" tanya Arya asal. Sebenarnya tidak asal, hanya saja dia tidak merasakan aura apapun dari remaja disampingnya itu.


"Absurd banget kalau ngomong" sahut Delvan memakan makanan nya.


^^^(Absurd \= aneh/gak jelas) ^^^


"Bacot~" jawab Arya menoleh malas pada Delvan yang hampir tersedak.


^^^(Bacot\= Bad Attitude Control Of Tongue)^^^


"Astaga" Hansel berusaha untuk tetap bertahan walau ingin sekali dia membanting kedua anak didepannya. Disampingnya ada Brian yang juga masuk sektor pedang, hanya saja kamarnya berbeda dari mereka.


Mereka merasa jika ada Emilly atau Feron di satu sektor dengan mereka, mungkin mereka akan memilih untuk mengundurkan diri dari sektor pedang dan pergi ke sektor lainnya. Kenapa? Karena jika anak-anak itu digabungkan bahkan suara pasar malam pun akan kalah dengan suara kebisingan anak-anak itu.


"Selesaikan makan kalian dan kembali ke kamar masing-masing" ucap Brian menengahi kedua anak dengan sifat brutal itu, jika tidak percaya lihatlah tingkah mereka.


Arya yang berencana melempar pisau kearah Delvan langsung mengurungkan niatnya, begitu pula sebaliknya dengan Delvan yang berencana ingin melempar gelas ke Arya.


Arya dan Delvan membuat kontak mata dan mengangguk.


^^^Maksudnya: "cepat berhenti sebelum dia menghentikan kita dengan 'cinta' nya yang menakutkan"^^^


Yup, Delvan benar-benar tidak sadar dengan apa yang dia lakukan dengan Arya yang saat ini jadi Aryan. Dia melakukan itu secara alami dan berdasarkan naluriah yang sudah mendarah daging.


Setelah selesai mereka bertiga kembali ke kamar asrama. Mereka mengisi perjalan menuju kamar dengan beberapa cerita singkat.


Ryzan menatap lekat pada ketiga anak itu dan dia hanya bisa mengerutkan dahi.


Mereka bertiga tidak bisa terbaca...?


Mereka bukan orang biasa kan...?


"Jangan menatap mereka seperti itu, kamu seperti hewan buas, tahu?" kata Brian menaruh nampan kosongnya ketempat menumpuk nampan kotor.


Ryzan berkedip sebentar, dia terkejut.


"Anak itu... Aku bahkan tidak merasakan hawa keberadaannya!"


"Kamu yakin tidak mengenal Arya?" tanya Delvan sekali lagi sebelum masuk kedalam kamar.


Arya yang ditanya terus menerus oleh Delvan jadi kesal dan memutar matanya malas.


"Gak! Apa kau puas hah!?" jawab Arya dengan wajah selempeng-lempengnya.


Dia sangat jengah mendapat pertanyaan itu, selain karena dia sendiri adalah Arya, alasan lainnya adalah dia belum ingin mengatakan identitasnya pada anak satu itu.


☾ ♿︎ ☽


Asrama Sektor Sihir....


Brak....!!


^^^(Bar-bar banget neng°v°) ^^^


Emilly menggebrak sebuah meja tempat duduk beberapa anak laki-laki yang tadi siang mengganggu Arya dkk.


"Apa kamu tadi ada membuat keributan dengan anak-anak lain?" tanya Emilly seperti menginterogasi.


Rokan sebagai pemimpinnya mengerutkan keningnya dan balas bertanya.


"Kamu siapa? Apa kamu mengenal anak berwajah dingin tapi cantik itu?"


Emilly dengan bingung memiringkan kepalanya.


"Wajah dingin? Cantik?" Emilly dengan tidak percaya membuka matanya lebar. "Waaa! Kamu bahkan bertengkar dengan seorang gadis? Kamu laki-laki?!Kamu seorang baj*ngan ya?"


Rokan yang merasa dituduh langsung menyangkalnya.


"Matamu! Itu anak laki-laki tahu! Wajahnya bahkan lebih putih dari seorang gadis seperti mu!"


Mulut Emilly rasanya seperti tidak bisa tertutup ketika mendengar perkataan dari anak didepannya itu. Sedangkan Feron dengan sekuat tenaga menahan diri untuk tidak tertawa.


Dia bahkan sampai bersandar di bahu Riden agar tidak jatuh. Sementara Riden memutar matanya kesal melihat sepupunya itu menahan tawa.


"Ca-cabai hitam dikatai tidak seputih anak laki-laki? Wkwk, apa benar cabai-ku itu perempuan?"


"Kata-kata mu berlebihan!" Riden mencoba memperingati Feron yang tidak pernah ada akurnya dengan Emilly.


Emilly yang mendengar suara cekikikan Feron langsung berputar dan dengan sangat cepat memukul kepala Feron hingga suaranya menggema.


"Siapa cabai mu, rubah!!?"


Feron yang merasakan panas dan berdenyut di kepalanya benar-benar membuatnya tercengang, begitu juga dengan seisi kantin asrama.


"Renyah sekali suaranya~" ucap Riden dengan malas.


"Ka-kau memukul ku? Beraninya kamu...!" setelah dia mengatakan ketidak percayaan nya, dia dengan satu ketukan di kepala Emilly benar-benar memukul balik.


Emilly yang dibalas pukul oleh Feron mulai berkaca-kaca. Dia dengan cepat menangis kejar.


"Huwaaaa! Rub-- tidak! Feron mem-bully ku, Hu wu wu!!"


Feron yang menyaksikan penampilan menyedihkan dari Emilly jadi gelagapan.


"He-hey ti-tidak aku tidak melakukannya dengan sengaja"


"Hu wu! Kamu bohong! Wuwu, sakit~ Riden, kepalaku ada benjolan!!" Emilly yang merasakan benjolan kecil di kepalanya seketika panik dan mengadu pada Riden yang hanya diam menyaksikan.


"Apa? Tidak! Aku... Di kepala ku juga ada tahu!" bela Feron memegangi kepalanya.


Baik, sebenarnya di kepalanya Feron bahkan lebih besar.


Batin Riden: "ingin ngakak tapi takut nambah dosa"


Riden menghembuskan nafasnya panjang dan langsung menunduk.


"Maaf untuk keributan yang baru saja terjadi, mereka memang seperti kucing dan tikus jika dipertemukan"


Setelah meminta maaf, Riden dengan tidak sabar menarik tangan Emilly dengan santai dan menyeret leher Feron dengan kasar.


"Bukankah anak bernama Feron itu cocok dikatakan seorang baj*ngan? Dan... Kenapa kalian menatapku seperti itu!?" sewot Rokan mencoba membela diri juga ketika dia melihat tatapan curiga dari seisi kantin asrama nya.


☏⚠︎☠︎


Keesokan harinya...


Semua siswa baru yang masuk tahun ini ada sekitar ±500 orang siswa, setiap sektor hanya bisa memuat ±90 orang. Karena itu, banyak orang-orang yang mengincar surat pendaftaran yang tergolong sulit didapatkan. Kebanyakan surat itu dikirim tanpa pemilik dan terlihat tidak mencolok. Jadi tidak heran jika ada siswa yang dari kalangan rakyat biasa masuk. Kan tidak ada ketentuan jika hanya bangsawan yang bisa ikut.


Arya berjalan bersamaan dengan Ryzan yang kebetulan sendirian didalam kamar asrama. Sementara yang lain sudah pergi ke aula utama Akademi untuk mendengarkan beberapa kata sambutan dari Wakil Kepala Akademi; Delvina.


"... Diharapkan setiap siswa untuk menjaga ketertiban yang berlaku, jangan ada yang membuat keributan tanpa sebab, jika ada alasannya maka harus langsung menghadap ke ruang konsultasi.


Pelajaran akan dimulai dari hari ini, semua siswa baru bisa langsung memasuki kelas masing-masing. Tidak apa jika misalkan ada siswa dari sektor lain masuk ke sektor lainnya, hanya saja jangan sampai membuat keributan, apalagi sampai menimbulkan kerugian, baik bagi seseorang maupun kelompok. Jika itu dilanggar... Bersiap-siap saja langsung berhadapan dengan saya.


Baik semua hanya itu yang ingin saya sampaikan, kurang lebihnya saya mohon maaf, dan semoga kalian bisa belajar dengan giat dan mendapatkan hasil yang terbaik! Semoga beruntung!!"


Setelah ucapan itu semua siswa baru langsung berpencar untuk menuju kelas masing-masing. Arya berjalan beriringan dengan teman sekamarnya yang terlihat cukup mudah untuk bergaul.


✎______bersambung______


Komen and like jangan lupa.


Paling tidak tinggalkan Jejak berupa Komenan agar saya bisa semangat😁