The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
PANGERAN RUFFELA



Satu minggu telah berlalu dan selama itu pula arya menjadi kaum rebahan yang kerjaannya cuma makan, tidur, main ke taman, terus ke kamar, tidur, bangun, makan. Gitu aja terus sampe mampus_-


"Heh kau tidak lelah baring mulu kayak paus terdampar" ujar Dark


"Heh, IRI BILANG DUGONG!!!" teriak Arya dan dibalas cibiran oleh Dark.


"Oh ya Dark aku mau nanya? ciri ciri anggota keluarga lima keluarga Kekaisaran apa?"


"Hem, kau belum tau itu" dan dibalas gelengan kepala oleh Arya.


"Ternyata kau tidak terlalu memiliki pandangan luas tentang segala macam pengetahuan. Kukira kau jenius?" Sindir aja terus!!


"Cih, katakan saja kenapa sih?" kesabaran Arya sudah hampir habis dan Dark masih berani menyindirnya?! Heh cari perkara memang!


"Baiklah baiklah"


Di Benua ini terdapat 5 kekaisaran, yaitu :



Kekaisaran Roseland


Kekaisaran Theodore


Kekaisaran Ruffela


Kekaisaran Zelonix


Kekaisaran Zovariz



Ciri² nya sebagai berikut :


Kekaisaran Roseland : rambut merah + mata Emerald.


Kekaisaran Theodore : rambut putih + mata merah darah.


Kekaisaran Ruffela : rambut coklat + mata emas


Kekaisaran Zelonix : rambut kuning keemasan/pirang + mata biru tua.


Kekaisaran Zovariz : rambut hitam + mata ungu


'Tunggu anak yang bertemu dengan ku seminggu yang lalu pun kenapa memiliki ciri ciri keluarga Kaisar Ruffela yak? Oh astaga mati aku' batin arya menangis virtual.


"Ada apa dengan mu kenapa kau terlihat seperti orang yang tertekan?"


"Aku tidak sengaja bersitegang dengan salah satu dari keturunan Ruffela deh kayaknya, seminggu yang lalu?" wajah arya sudah pucat. Jika saja dia bertemu dengan ayahnya apakah 'dia' akan mengadukan tentang perbuatannya kemarin. MEMALUKAN OYY!!!


"haha lihatlah wajah lucumu itu apakah kamu tahu jika keluarga Kaisar Ruffela itu terkenal dengan bermuka dua?"


"Hah? Benarkah?"


"Iya" huh batin arya udah hampir lepas kendali


"Tapi mereka orang yang tahu etiket dengan sangat baik, lho?"


"Huft, baguslah?" ujar arya sambil mengelus dada lega.


"Eits tapi jangan senang dulu keturunan mereka itu termasuk orang yang 'yandere' loh!"


"WHAT, DEMI APA?!!! SERIOUSLY?!!" kaget woy, keturunan yang Yandere mampus beneran sudahlah ga da harapan dah buat Arya.


Belum selesai arya berbicara tiba-tiba datang seorang pelayan memberitahukan kepadanya mereka jika ada para utusan dari kekaisaran Ruffela.


WHAT?!!!


Arya yang mendengarnya kaget, langsung saja dia mengenakan gaun dan sedikit merias diri lalu berlari menemui ayahnya yang sudah duduk singgasana nya.


"Ayah?!"


"Duduk, sini!"


'Nih orang gak bisa lembut sedikit napa?' batin Arya jengkel.


"Baik ayah" kini di dahi arya sudah tercetak jelas tanda perempatan imajinasi yang menghiasi dahinya. Dengan senyum malaikat dia duduk di samping Zaint.


Setelah beberapa saat pintu dibuka dan menampilkan 2 sosok pria satu terlihat seperti utusan dan satu lagi...


WTF?!!


ITU SI YANDERE EH SALAH PANGERAN RUFFELA MAKSUDNYA! !


'Hm, kalau tidak salah nama si... siapa ya? Astagaaa aku lupa?! Gimana ini? Mati akuuuu (ಥ⌣ಥ)?'


"Salam yang mulia kaisar Roseland!" sapa sang utusan dan pangeran secara bersamaan.


"Hm, selamat datang semuanya di kekaisaran ini! Saya menyambut kalian semua" balas Zaint tetap dengan ekspresi sama, datar!


"Selamat datang semua" kali ini Arya juga ikut menyapa para utusan itu.


Saat Pangeran Ruffela mengangkat kepalanya dan tersenyum lembut ke Arya, dan mereka semua menganggap itu wajar. Tetapi berbeda dengan Arya dia bisa merasakan jika bulu kuduknya berdiri semua. Dia bisa merasakan firasat buruk akan menyapanya sebentar lagi.


'Demi apa?! Aku merinding loh?! Takut banget asli !' Arya benar benar ingin keluar saja dari suasana yang terasa berat baginya ini.


"Salam tuan putri? Maaf ketidak sopanan saya seminggu yang lalu" ujar Tuh pangeran.


'Doggie, kenapa kau mengatakan hal yang bisa bikin aku ditebas sih?!' Arya memperhatikan wajah Zaint yang sudah berubah warna jadi gelap. 'Wuwuwu, mati aku (ToT) tolong siapapun, aku minta buatkan lubang kumohon?! Kalau perlu tenggelamkan aku di samudra Hindia juga gak masalah, hiks!?'


"Ah~ tidak apa pangeran, itu juga merupakan kesalahan saya karena tidak mengenali wajah 'tampan' anda"


"Saya juga putri, karena tidak memberi tahu identitas saya lebih awal, anda jadi salah paham dan memanggil saya sebagai 'orang miring' jadi karena anda sudah mengetahui identitas saya, saya harap anda tidak perlu sungkan lagi, bukan"


'Aih, pengen ku bungkam deh' Batin Arya gemas sendiri.


"Haha, tentu saja. Dan saya harap anda tidak perlu menyebut saya 'berbisa' lagi kan?" ucap Arya dengan perempatan imajiner di dahinya dan senyum di bibirnya.


"Tentu saja"


"Hmm, ayah boleh kah aku pergi sekarang?" dan dibalas deheman dari Zaint.


"Apakah saya bisa menemani anda putri?" tawar Pangeran Ruffela.


"Tidak perlu karena saya tidak suka ada yang 'menguntit' saya!" tolak arya dan melenggang menjauh dari sana.





Di taman


Setelah keluar dari tempat orang gila. Dia duduk dengan frustasi di bawah 'pohon jiwa' pemberian Zaint. Yang hampir ditebas olehnya, tapi dicegat oleh Arya karena dia suka.


Pohon itu memiliki besar yang tidak terlalu. Hmm seperti pohon beringin tapi tidak ada akarnya dan memiliki batang yang sangat besar


"Hee bukannya kamu yang semangat banget ngejawab semuanya yak?" ujar Dark yang dihadiahi delikkan tajam dari arya.


"Huh sudahlah gak usah di bahas! Lagi pula aku gak tau siapa nama tuh pangeran" Dark yang mendengar pengakuan Arya terperangah tidak percaya. Seriously?!


"Feron Jeres Ruffela"


"Nah iya itu" Arya belum sadar!


"Eh, tunggu! Dark kamu kan yang jawab? Kok kamu tau" tanya Arya tanpa menoleh.


"Engga kok, itu–"


"Aku yang jawab!"


DUARRR


Mendengar pengakuan itu Arya dan Dark spontan berbalik dan Arya kaget sampai hampir terjengkal kebelakang.


"Hah!?" Arya refleks menutup matanya dan membatin.


'Mampus jatuh, moga masih hidup! Oy harga diriku jatuh tolong!' belum sempat Arya terjatuh ala princess yang ada di tv, tapi sudah keburu ditangkap oleh Feron terlebih dahulu.


"Putri anda tidak apa-apa?" tanya Feron sambil tersenyum.


"BANJIRRR! ! ! GANTENG BANGET SUMPAH! ! ! ?" jarak antara Arya dan Feron hanya sekitar dua jengkal dan itu sudah membuat Dark kembali terperangah untuk kedua kalinya.


'Gila, mereka lagi ngelakuin adegan teater romansa kah? Mungkin judulnya 'jodohku dari kejahilanku' kali yah?' batin Dark tersenyum jahat.


"EKHEM!? kalian lagi apa?" ditengah tengah lamunan Arya tiba-tiba datang tiga orang curut.


"Acieee yang lagi drama Romeo and Juliet. Sepertinya kita mengganggu deh?" ujar Lili dengan seringaian dibibir merah ceri nya itu.


Mendengar itu Arya cepat-cepat melepaskan tangannya dan mendorong Feron sampai jatuh.


"Mana ada!" Arya mencoba menyangkalnya tapi terus didesak oleh kedua kakak beradik itu, sedangkan Riden hanya menatap Feron dengan intens.


"Kenapa kamu mengganggu Arya?" tanya Riden pada Feron.


"Tenanglah aku tidak ada niat jahat padanya kok~" Riden terus menatap wajah tampan Feron yang pastinya bak ketampanan dewa yunani kan?!


Bayangin saja, anak kecil umur delapan tahunan dengan wajah tirus, hidung mancung, mata tajam berwarna gold dan rambut yang ditata memiring. Apalagi senyum yang selalu terpatri indah dibibir tipisnya itu. Apakah tidak ada yang tergoda? Author aja tergoda.


"Maksudmu kau datang kesini tanpa tujuan jahat?" kali ini Evan yang bertanya.


"Tentu saja~" ujar Feron santai.


Lili ingin mengusirnya tapi baru saja dia akan melangkah, dia sudah ditahan oleh Arya.


[Tenanglah, biar aku yang urus!]


[Hm, baik]


Mereka berdua bertelepati melalui pikiran mereka agar tidak ada yang mendengar.


"Kalau tidak ada yang penting begitu silahkan pangeran pergi, pintu keluar taman nya ada di sana" Arya berkata sopan, sambil mengarahkan tangannya ke pintu keluar taman.


"....!"


Semua orang yang mendengarnya terperangah tak percaya mendengarnya, termasuk Lili yang ingin mengusirnya dari tadi.


'Aku yakin hanya dia yang berani mengusir seorang pangeran seperti itu' batin dua Rimson.


'Haha, ini pertama kalinya aku diusir loh' Feron tertawa miris di hatinya.


'Hah, sudah biasa' batin Riden menghela nafas


"Hem~ ada apa?" tanya arya tak mengerti dan dibalas gelengan kepala dari semuanya.


Salah seorang pelayan yang mendengar nya pun terkejut dan melaporkannya kepada Zaint.





"Baginda... Tu, tuan pu, putri tadi... Ditaman tadi putri mengusir pangeran dari Kekaisaran Ruffela dari taman, Baginda" ujar pelayan tadi melapor pada Zaint. Dia sudah banjir dengan keringat.


"Lalu? Apakah kamu pelayan baru?" tanya zaint pada pelayan tersebut. Dia hanya duduk bertopang dagu menatap dingin pada pelayan yang tidak tahu apapun tentang Arya anaknya itu.


"I, iya baginda" ujar pelayan itu gemetar ketakutan. Sebab dia tahu seberapa kejam dan sadis nya orang yang duduk didepannya itu. Dia bahkan tahu tentang julukannya di medan perang. 'Iblis perang' ya! itu adalah julukannya.


"Gils, suruh para pengawal bawa dia keluar dan kurung dia dia bawah tanah!" perintahnya pada Gils asisten pribadinya.


"Baiklah~ kau menyuruhku tapi kenapa kau tidak pergi sendiri saja" keluhnya pada Zaint. Tapi sayangnya Orang Tiran ini gak ngerespon.


'Cih kutub, untung tuan putri bukan kutub. Jika tidak mungkin udah jadi kekaisaran Theodore kali yak? Dingiiiin' batin Gils jengah dengan sifat dingin tuannya itu.


Belum melangkah dua kali Gils sudah di hentikan oleh Suara ketukan dari luar pintu. Zaint langsung menyuruh masuk orang yang mengetuk pintu.


Zaint POV


Aku yang baru menyelesaikan urusan dengan para utusan dari kekaisaran Ruffela, langsung pergi ke ruang kerja, dan duduk dengan bosan, didukung lagi dengan kesunyian yang melanda ruangan ini.


Belum lama aku duduk tiba tiba pintu diketuk. Lalu Aku menyuruh Gils untuk membukakan pintu. Saat pintu tersebut dibuka ternyata yang datang adalah seorang pelayan dengan wajah pucat yang terlihat hm... Apa yah? Mungkin seperti habis melihat Oran mati mungkin.


Aku bertanya tentang kedatangannya itu. Tapi dia malah melaporkan hal yang menurutku tidak penting. Haha, apakah dia tidak pernah mendengar tentang Julukannya putriku itukah, 'topeng terbaik' iya itu julukannya. Hanya aku dan pelayan pribadinya saja yang tahu tentang itu. Aku pun tahu karena cerita dari Farel.


Aku menyuruh Gils untuk memanggil para pengawal, karena aku sedang tidak mood untuk berteriak tidak jelas untuk memanggil mereka semua.


Tak lama setelah aku menyuruh Gils, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruang kerja ku. Saat aku menyuruh masuk, ternyata itu adalah.... Putriku yang sedang wajah cemberut? Kek bebek.


"Ayah?"


"Hmm? Kenapa wajahmu seperti itu?"


"Aku lagi gak mood. Tadi aku ketemu serangga menyebalkan!"


Walau begitu tumben dia mengadu seperti itu. Biasanya langsung cingcup aja. Karena mau Bagaimana pun aku tahu jika dia ini adalah iblis berwajah malaikat.


"Ayah apakah kamu tahu jika tadi.... siapa yah namanya?"


Apakah gadis ini pelupa? Ataukah dia yang memang tidak mau tau tentang seseorang yang tidak dia ingin ketahui? Aku selalu bingung dengan sifat bodoamat anak ini!


"Apakah kau melupakan namanya?"


Sudah jelas dia melupakan nama pangeran itu. Aku sangat tahu tentang sifatnya yang seperti itu. karena itu juga merupakan sifat ku juga sih. Jika tidak penting untuk apa diingat, ya kan?!.


"Tidak aku mengingat namanya?"


Oh ya btw tadi pelayannya udah dibawa keluar sama pengawal.


"Siapa?"