The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
IKUT RAPAT



Cukup lama gadis itu berbincang dengan pemuda tampan itu. Pemuda yang terlihat baik tapi nyatanya hanya topeng.


Kok sama ya?


Pemuda bernama Denki itu ternyata adalah seorang pemimpin dari guild pembunuh bayaran yang tidak pernah menampilkan wajahnya pada siapapun.


Tapi ada terkecuali untuk gadis yang didepannya itu.


Gadis yang menerobos masuk keruangan pribadinya.


Gadis yang sekali ngomong ternyata seperti akar, bercabang cabang, gak ada jalan berhentinya.


Gadis yang memiliki keunikan tersendiri untuk orang orang yang peka.


Gadis cantik yang memiliki identitas dan latar belakang yang tak biasa.


Gadis yang memiliki kemampuan.


Tapi, juga, gadis yang menyembunyikan wajah aslinya dengan senyum manis.


"Hey, apakah kau tidak berniat untuk kembali ke istana, ha?" tanya pemuda itu membuat gadis yang mengantuk itu langsung menegakan tubuhnya.


"Hah, pulang? Jam berapa sekarang?" tanya gadis itu langsung bangkit berdiri dari bangku tempat duduknya tadi.


"Hm? Pukul 05.28? Sudah subuh?"


Ucapan pemuda itu membuat gadis itu sontak membulatkan matanya lebar.


"SUBUH DARI MANA?!! SUDAH PAGI INI!!! MATI AKU!! AKU PERGI TERLALU LAMA!! LINA DAN TERA PASTI AKAN MEMAKAN KU HIDUP HIDUP!! AHHHH LATIHAN SPARING PEDANGKU DENGAN FAREL?!! SUDAH TERLEWAT 58 MENIT, LAGI!!"


Gadis itu berteriak panik sekaligus histeris dan berlari keluar. Tidak lupa dia memakai kembali syal itu, tapi kali ini dia menutup hingga bagian hidungnya.


Pemuda itu masih membatu merasakan jantungnya yang jadi maraton mendengar teriakan kencang gadis itu. Badannya aja yang seperti gadis kecil tapi suaranya mirip sirine pengumuman adanya perang Dunia, NYARING!!


Sial, telingaku dengung!!





Gadis itu melesat pergi langsung ke kamarnya dan ternyata.....


Sudah ada lima pasang mata yang menatapnya datar.


Gadis yang berlari tadi itu langsung menunduk dan merutuki kecerobohannya sendiri.


Tidak seharusnya dia terlarut dalam percakapan yang membuatnya mengantuk.


Hei, siapa tadi yang bilang hanya Tera dan Lina saja?!


Itu kaisar sama perdana menteri nya lagi apa, hah?!


Kok ada dikamar orang subuh-subuh?


Gak ada kerjaan apa?


"Baru pulang?" tanya salah satu dari tiga pria di sana. Ya itu adalah Zaint, dia melipat tangannya di dada


"..." gadis yang baru saja datang mengangguk dengan lemah. Takut dan rasa bersalah menyatu menjadi rasa gelisah tatkala melihat mata datar ayahnya.


"Masih ingat punya tempat pulang rupanya?"


Jleb...


"..." gadis itu mengangguk


"Kenapa diam? Lidahmu dipotong kah? Atau mau aku potong?" nada tenang namun mengandung ancaman itu membuat gadis itu semakin menunduk. Kan sudah dibilangin kalau Zaint itu tidak pernah membentak anak perempuannya. Paling tidak nada tinggi kalau lagi adu mulut saja. Lagi pula tidak mungkin dia akan benar-benar memotong lidah anaknya kan?


Gadis itu menggeleng ".... Tidak" ucapnya lirih.


"...Lalu?" laki-laki duda anak satu itu berdiri. Usianya baru saja dua puluh delapan tahun dan dia memiliki wajah yang tenang dan lempeng membuat dia disukai dan ditakuti secara bersamaan oleh para wanita bangsawan. Dan kini duda itu berhadapan lagi dengan putrinya yang keras kepala itu.


Sebelum ke kamar anaknya dia sempat melihat kearah hutan yang sering dipakai anaknya belajar pedang tapi dia tidak ada, lalu pergi kelapangan ketempat para kesatria berlatih tapi juga tidak ada. Biasanya anaknya itu hanya mendatangi beberapa tempat saja jika berada di istana. Yaitu, kamar, ruang kerja dan belajar ayahnya, ruang arsip, perpustakaan, tempat latihan prajurit dan kesatria, dan juga hutan tadi.


Tapi tidak ada orangnya


Karena Zaint selalu memiliki otak yang kosong(alias jarang berfikir) jadi dia tanpa sadar berjalan kearah kamar anaknya dan hal yang sama pun terjadi lagi


Ruangan itu juga kosong.


Hanya ada Dua dayang pribadi dan juga satu orang kesatria penjaga nya saja yang sedang bolak balik mencari sesuatu.


"Apa yang kalian cari?" tanya Kaisar itu mengejutkan tiga orang yang sedang bolak-balik mencari sesuatu itu.


"Ah, itu yang mulia, anu... P-Putri... Putri... Menghilang lagi..." ujar Tera dan Lina dengan gagap.


"Putri tidak ada keluar dari pintu masuk, kemungkinan Putri keluar lewat jendela!" ujar Farel dengan keringat sebesar biji jagung di pipinya. Apalagi melihat wajah Zaint yang hitam menjadi semakin hitam.


Dan akhirnya Zaint pun menuggu sampai anaknya yang sayangnya berbanding 180° darinya.


Kembali untuk saat ini....


Matahari sudah menampilkan wujud nya, membuat langit perlahan terang. Burung burung bersiul dan embun pagi pun mencair.


Seorang gadis yang sedari tadi diam tak bersuara, melirik sedikit kearah seorang pria dewasa yang kini sedang fokus pada berkas didepannya.


Ada beberapa berkas di atas mejanya.


"Ayah, apakah masih ada urusan denganku hingga kamu membawaku keruangan mu?" tanya gadis itu membuka percakapan yang telah hening selama beberapa saat.


Tadi, setelah dia ditanya ini dan itu dia langsung dibawa ke ruang kerja Kaisar. Dan dia ngekor dari belakang tanpa suara seperti di lakban.


"Kamu akan ikut denganku pergi rapat pagi hari ini!" ujar pria yang tak lain adalah Zaint. Dia ingin membuat gadis itu mengerti dengan politik yang lebih dalam lagi.


Gadis itu membuka mulutnya menjadi berbentuk (°o°;) dan itu berhasil membuat Kaisar Tiran itu tersenyum tipis, saking tipisnya bahkan wajahnya tidak terlihat menunjukan ekspresi apapun.


"Tapi--!"


Pria itu memotong perkataan anaknya karena dia sepertinya sudah tau jika akhir dari perintahnya adalah penolakan.


"Baik... Lah~ hiks!"


Huft...


Kaisar tiran yang selalu terlihat kejam itu selalu menghela nafas untuk Mengasihani dirinya sendiri, dia selalu tenang ketika di medan perang, tapi, ketika berhadapan dengan anaknya dia benar-benar diuji kesabarannya sampai-sampai dia ingin menjahit mulut dan merantai tubuh putri semata wayang nya di tiang gantung.


Dia selalu berharap putrinya itu terlihat tenang, tegas, sekaligus bermartabat sekali saja, tapi dia sadar jika itu.... Mustahil!!




Gadis yang dibelakang dengan gontai mengikuti ayahnya.



Dia masuk kedalam ruang rapat bersama ayahnya.



Wajahnya sudah berubah menjadi wajah yang berbanding 180° dari wajah yang biasa dia tunjukan pada orang-orang, wajah dingin tak tersentuh itu sangat mirip dengan seekor singa tidur. Sikapnya yang sekarang sangat kontras dengan yang biasanya, saat ini sikapnya dan wajahnya sangat tegas, bahkan auranya keberadaannya pun hampir sama dengan ayahnya. Sikapnya yang biasanya urak-urakan kini sudah berganti seperti wanita bangsawan pada umumnya, ya anggun dan Berwibawa.



Bahkan Zaint yang menatap putrinya itu tertegun tak percaya dengan apa yang dia lihat.



*Kemana anak nya yang sering berbuat kekacauan dan keonaran*?



*Siapa anak yang dibawa olehnya*?



Dia membuka mulutnya sedikit dan tertegun. Bukankah tadi dia mengatakan jika anaknya tidak mungkin bisa bersikap tenang, tegas dan bermartabat. *Tapi kenapa anaknya malah melebihi ekspektasinya, hah*?!!



Grand Duke Gerald yang tadi malam dikunjungi Arya pun juga ikut berkedip.



*Kemana hilangnya gadis yang tersenyum tadi malam, huh*?!



Saat ini yang dia lihat adalah seorang gadis dingin yang sudah dididik dengan sangat sempurna untuk menjadi pengganti Kaisar. Bukan hanya wajah kloningan langsung dari Kaisar, bahkan sifat dan sikapnya pun tak ada beda nya dari Kaisar. Gaya duduknya yang tenang itu benar-benar terasa mengintimidasi semua orang yang ada diruang rapat itu.



Ya, benar semua orang yang hadir di rapat tak bisa menatap langsung ke wajah Arya.



Gadis itu duduk dan menatap semua berkas dimeja lalu mengambilnya satu, dia membacanya lalu menaruhnya kembali.



Ternyata hanya strategi untuk menguatkan pertahanan militer dan juga perbatasan yang terjadi perang.



^•^



^•^



^•^



^•^



^•^



^•^



^•^



^•^



^•^



^•^



**Jangan lupa like and komen👍👌**