The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
BERKUMPUL BERSAMA (?)



"Ekhem.... Bukankah tadi kamu bilang kamu punya tiga sahabat? Mana satunya?" tanya Brian pada tiga orang yang kini ada yang sedang rebahan, memutar Rubik, dan duduk dilantai membaca buku dan mengemil ria.


Diabaikan~


"Ar, ini... Bagaimana cara mutar nya ya?" tanya Lili menyerah kan Rubik yang tadi dia mainkan kepada Arya.


Arya yang sedang rebahan, meliruk sedikit lalu berdiri dan mengambil Rubik dari tangan Lili. Dia berjalan mendekati Delvan yang sedang duduk dilantai dan ikut nyemil.


Brian mengamati Arya yang sedang memutar Rubik dengan kecepatan tangan yang terlihat lihai dan cekatan dalam memilih warna.


56 detik...


Dia menghitung kecepatan gerak gadis itu dan hasilnya cukup menakjubkan. Hanya butuh kurang dari satu menit untuk gadis itu menyelesaikan permainan Rubik nya.


"Kecepatan memutar Rubik mu sudah meningkat satu detik dari biasanya" ucap Delvan santai. Delvan selalu menghitung berapa lama gadis itu memutar Rubik itu di setiap ada kesempatan.


"Sepertinya IQ mu semakin meningkat setiap ada waktu ya?" Lili memuji Arya dan langsung merebut kue kering yang ingin dimakan oleh kakaknya itu. Delvan mengernyitkan dahinya lalu menatap adiknya sengit.


"Gak bisa kah, kamu ambil yang ada di mangkuk itu, adikku tersayang?!" Lili yang ditanya seperti itu dengan polosnya memasukan kue kering itu ke mulut nya dan menggeleng. Delvan hanya menghela nafas pasrah dibuatnya.


Arya tersenyum tertahan dan menoleh kearah Brian yang masih membatu melihat mereka berinteraksi.


"Kwenawpwa? Swahabuayt kwu cwatwu nywa lwagwi adwah wuyuswan jwadwi bweyum bwiswa dwatwang!(kenapa? Sahabat ku satunya lagi ada urusan jadi belum bisa datang!)" Arya hanya bisa berkata seadanya saja. Dia sudah cukup pasrah dengan nada bicaranya yang agak aneh. Dia juga tidak terlalu perduli apakah orang paham atau tidak, itu bukan urusannya!


Tok... Tok... Tok...


Brakkk.....


Dari arah jendela ada suara ketukan sebanyak tiga kali dan jendela terbuka dengan cukup keras.


"Aku sudah mengetuk tiga kali untuk menujukan kesopan dan juga etiket yang baik untuk seorang yang ingin bertamu" ujar seorang anak laki-laki yang memiliki rambut perak kebiruan dan juga mata kuning keemasan yang tak lain adalah Riden.


Sedangkan yang mendobrak pintu itu adalah Feron yang juga datang bersama Riden.


"Halo semua apa kabar? Hari ini aku datang bersama dengan Riden datang kesini bersama" sapa Feron dan mendekati Arya. "Hm? Siapa anak ini?" tanyanya ketika baru melihat Brian.


"Wait, wait... Bagaimana kamu bisa tahu rumah Risen sedangkan kalian baru saja bertemu satu tahun yang lalu?" Lili mengernyit kan dahinya dan merasa aneh. Padahal dia saja tidak tahu dimana Rumah Riden.


"Hm, bagaimana? Almarhum ibunya adah bibiku, adik ayahku, putri dari Kekaisaran Ruffela, yang dengan kata lain dia dan aku adalah sepupu" ucap Feron merangkul bahu Riden tapi langsung ditepis dengan jijik oleh Riden.


Riden menatap datar pada Feron seperti berkata 'menjauh, kau menyebalkan' ya kira-kira seperti itu.


Sebegitu nya...


Apa-apaan?


"Bukankah kau bilang kau hanya memiliki tiga sahabat bagaimana dengan pangeran dari Kekaisaran Ruffela ini? Mau kamu apakan?" tanya Brian langsung.


"Dwiya mwaswyh twahwab twemwan bwlyum swahab--(dia masih tahap teman belum sahab--)" ketika Arya menjawab tiba tiba Feron menyerobot dan memotong perkataannya.


"Ar? Ada apa... Ada apa dengan nada bicara mu yang terdengar seperti tikus kejepit roda kereta, hah?" tanya Feron membuat wajah Arya menggelap.


Tikus...?


Tikus kejepit katanya....?


Hah?!


Ternyata lebih menyebalkan dari pada Rosiel, ya?


[Buahahahah, tikus kejepit roda kereta? Kok dia bisa tahu?! Ahahaha]


Ah~ tidak sepertinya mereka berdua benar benar seperti bajingan yang menertawai nya.


Walau suara Rosiel tidak terdengar oleh orang lain tapi Arya yang mendengarnya berasa menghadapi Zaint Versi rambut panjang dan Ghaib.


"Dwiwam!! Dwasal, kwaw kwiwa enwak apwah ngwomon cepwelti inwi, hwa?!!(Diam!! Dasar, kau kira enak apa ngomong seperti ini, hah?!!)" Arya yang tersulut emosi berteriak marah dan menghentak kan kakinya dan naik kembali keatas kasur.


Sebelum menghempaskan kepalanya ke bantal, Riden mengeluarkan sebotol ramuan dari balik bajunya dan langsung menyodok mulut Arya hingga Arya yang tidak sempat bereaksi, langsung melotot kaget dan memberontak.


Semua yang menyaksikan membuka mulut dan tersentak, apalagi Brian yang terlihat cukup Syok juga membuka mulut nya tak percaya.


Semuanya berfikir : "..." sungguh berani...!


Arya yang tiba tiba mendapatkan serangan tidak terduga langsung bangun dan mundur sampai nempel di dinding.


Dia menatap horor kearah Riden dan tangannya gemetar, dia berucap...


"Kau... Kau ingin membunuhku? Apa... Apa aku sudah berakhir sekarang?" tanpa dia sadari, dia sudah bisa berbicara dengan lancar. Dia terus memegangi leher nya dan bergumam.


Semuanya : "..." Luar biasa dia belum sadar~


[Hm, sepertinya bocah laki-laki itu cukup pintar dan bisa diandalkan? Hei bocah sadarlah dan dengarkan suaramu itu sendiri, bod0h!!]


Rosiel berteriak dan menyengat tangan Arya hingga gadis itu terperanjat kaget karena seperti tersengat listrik bertegangan tinggi.


"Halo? Halo? 1! 2! 3! Cek! Cek! Satu dua katak lompat, kok Feron gak berakal sehat?" Arya yang mencoba untuk memeriksa suara nya langsung menyelipkan pantun yang langsung menancap di jantung Yang punya nama.


Nyindir pakai kata kata manis ✖️


Nyindir pakai kata kasar ✔️


"Daebak!" sahut Lili Mengacungkan jempolnya.


"Ada baju ada celana, mau nyindir kok gak pilih-pilih kata?"


"Bunga mawar bunga melati, aku gak peduli!!" sahut Arya membuang muka.


"Ada bola warna hitam, ayok sini baku hantam!!?"


Arya dengan sigap melipat lengan bajunya hingga ke siku atas diikuti oleh Feron.


"Eits, mau apa kalian, hah?! Arya, Feron hentikan sikap kekanak-kanakan kalian ini sekarang! Kalau ingin bertengkar, keluar dari sini! Cari lapangan sana, hei?!" Lili dengan cepat menghentikan mereka berdua sedangkan yang lain nya diam menonton.


"Hmph!!!" mereka berdua secara bersamaan membuang muka dengan suara dengusan kesal. Apalagi Arya yang sudah bersiap ingin menghajar Feron dengan tangan kosongnya itu.




"Ar, kamu sudah dengar?"tanya Feron saat mereka sudah agak tenang. Bahkan saking tenangnya Arya sudah tidak mementingkan etiket dan menyenderkan tubuhnya di sofa Kaki dinaikan dan tangan yang menyangga kepalanya itu.



Dan sesekali memakan Cemilan, dia tidak memakan permennya karena giginya baru saja disembuhkan oleh Riden, dan dia sudah jera karena mematahkan giginya itu.



"Dengar apa?" tanya Arya memasukan kue rasa cokelat ke mulutnya.



Semua orang ada dikamar itu langsung menoleh.



"Katanya tiga bulan lagi akan ada acara ulang tahun Kekaisaran jaeyang, kau tidak tahu?" tanya Feron memberi pengertian.



"Bahasa apa yang mereka gunakan?" tanya Arya yang langsung duduk normal.



"Korea" sahut Lili menjawab pertanyaan Arya.



*Eh*?



*Korea*?



*Ada ya Kekaisaran Korea*?



"Ouh, berarti satu bulan lebih cepat dari ulang tahunku dong?" Arya bertanya dengan polosnya.



"Eh, memangnya kamu kapan ulang tahun?" tanya Feron mengernyit.



"Kamu ingat, tahun kemarin saat ada kembang api dari arah istana, heh? Saat itulah Arya berulang tahun!! '**Pada 1 Agustus untuk pertama kalinya lahir dengan hidup-hidup seorang putri dari sebelas generasi yang dikutuk**'!!!" jawab Delvan dengan menyenderkan punggungnya di sofa.



"Ah, aku ingat saat itu memang ada kembang api ternyata itu untuk memperingati hari kelahiran Arya?" akhirnya Feron mengingat kejadian yang cukup menghebohkan karena acara kembang api itu terjadi saat tengah malam.



Brian juga baru tahu dan ikut mangut-mangut.



••••



••••



••••



••••



dah silahkan dibaca kakak 𓆩😇𓆪



jangan lupa like and komennya