The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
HAYEO & GEUN-ZHI



Akademi Bintang...


"Untuk apa anda mengikuti saya" tanya seorang gadis dengan rambut diikat kuncir kuda itu membalik tubuhnya menatap seorang remaja laki-laki yang terus saja mengikutinya sedari pagi.


Angin berhembus menerbangkan beberapa daun-daun yang perlahan jatuh ke tanah. Remaja laki-laki itu hanya tersenyum canggung dan menggaruk tengkuk lehernya.


"Eum, itu... Karena aku tidak mengenal siapapun" jawab remaja laki-laki itu dengan hati-hati


"Lalu? Bukankah anda dan saya juga hampir bisa dibilang tidak pernah bertemu? Jadi berhenti mengikuti saya! Saya mo-hon!?" pinta gadis itu menunduk lalu lanjut berjalan.


Remaja laki-laki itu dengan gagap mengulirkan kearah Hayeo tapi tidak dapat, dia bahkan sampai tidak bisa mengucapkan sepatah katapun pada gadis yang meninggalkannya sendiri.


Ti-tidak bisa begini! Kakak bilang jangan sampai mencolok!!?


Gadis itu adalah Hayeo dan remaja laki-laki yang terus saja mengikutinya itu adalah Geun-Zhi; adik dari Geun-Lee. Pangeran ke-9 Kekaisaran Jaeyang.


Memang benar dia adalah seorang Pangeran, tapi, tak ada yang pernah mengaggapnya, bahkan mungkin mereka memang tidak mau mengenal Pangeran itu, penyebabnya hanyalah karena pangeran Geun-Zhi terlahir lemah dan tubuhnya juga tidak bisa mengumpulkan 'Qi' sebagai seorang pengguna Martial Art. Semuanya menganggapnya sebagai aib sekaligus sampah keluarga Kekaisaran.


Sejak kecil juga Pangeran Geun-Zhi selalu diasingkan, ibunya membuangnya karena tidak bisa menarik perhatian Kaisar, dan hanya Geun-Lee lah yang menganggapnya manusia dan memberinya makan. Kalau tidak, sudah dipastikan sejak kecil Pangeran Geun-Zhi akan mati karena kelaparan.


"Tunggu! Huft... Huft...!"


Geun-Zhi mengejar Hayeo lagi dan hap! Akhirnya dia menangkapnya...!


"Lihat, kulitnya sangat gelap, siapa dia?" bisik salah satu siswa membuat Hayeo langsung diam ditempat.


Apa-apaan itu...!


Semua orang menatap Geun-Zhi dengan tatapan aneh dan seperti... Jijik. Remaja laki-laki itu mengerutkan bibirnya dan langsung berbalik menatap pada siswa yang mengatasinya tadi dan dengan tegas berkata...


"Masih mending kulitku hitam tapi bersih, daripada kulit putih penuh jerawat! Kamu tidak pernah membersihkan wajahmu? Atau kamu membersihkan wajahmu dengan kot*ran kambing?" sarkas Geun-Zhi membuat wajah siswa itu mengkerut menjadi buruk rupa.


Hayeo dengan lucu menatap remaja yang masih menarik pakaiannya dengan tatapan ingin tertawa lepas. Lihatlah anak itu, tangannya yang memegang ujung pakaiannya itu gemetar, lucu sekali~


"Ehem, dia benar~ kamu tahu gak kalau kulit gelap itu termasuk warna yang sangat eksotis, memiliki daya tarik khas karena belum banyak dikenal umum, itu artinya tidak banyak orang yang lahir langsung dengan kulit gelap seperti dia, bukankah seharusnya dia bangga? Kenapa harus kalian 'bully'? Aneh banget!" ucap Hayeo dengan tangan dilipat dan senyum miring yang tercetak dibibir tipisnya.


Geun-Zhi dengan bengong menatap gadis dihadapannya dan langsung terpana, dia kira Hayeo tidak akan membantunya tetapi... Itu benar-benar diluar dugaannya.


✂〰〰〰


"Kukira kamu bukanlah orang baik?" ucap Geun-Zhi memakan makanannya.


Hayeo dengan ringan mengaduk nasinya dan memutar kepalanya kesamping. Saat ini mereka berada di kantin karena jam pelajaran telah usai


"Kenapa? Aku memang bukan orang jahat kok sejak awal, kamu baik aku baik, kamu jahat aku jahat, kamu munafik ya tinggal di potek aja selesai, apa yang diributkan?"


Glup....


Geun-Zhi dengan susah payah menelan salivanya saat dia mendengar penuturan dari Hayeo.


"Kenapa kamu membantuku?" tanya Geun-Zhi dengan lirikan matanya menatap Hayeo.


"Kenapa ya? Entahlah~ mungkin karena kamu mirip puppy kecilku?" jawab Hayeo seadanya.


Geun-Zhi dengan tidak percaya membuka mulutnya sedikit.


Pu-puppy?


"Kamu punya peliharaan?"


"Engga!"


"Lalu, siapa Puppy?"


"Budak kecil yang mati bunuh diri~ padahal aku sudah kasih makan~ kasih minum~ ku ajak main~ tapi... Ketika aku lihat lagi ternyata dia gigit lidahnya sendiri~ seharusnya kepotong saja lidahnya agar dia tidak gigit-gigit lidahnya sendiri" jawab Hayeo langsung murung.


"Aaarkg!" Geun-Zhi seketika kehilangan kata-kata nya menatap Hayeo.


Gadis disampingnya itu gila! Sangat gila! Sejak kapan seorang budak menjadi puppy?


"Kenapa pangeran dengan tubuh lemah sepertimu masuk sektor bela diri?"


^^^(Martial art) ^^^


Saat mendengar perkataan Hayeo, terdapat jejak kejutan dibawah mata Geun-Zhi.


Bagaimana...?


Hayeo hanya melirik sedikit dan dia tahu apa yang dipikirkan remaja disampingnya itu dalam sekali lirikan saja.


"Hanya berlari beberapa langkah saja kamu sudah lelah, letih, lesu, apa yang akan orang pikirkan tentangmu?"


Geun-Zhi melebarkan matanya ketika dia menunduk dan langsung menoleh.


"Kau..."


Hayeo bangun dari tempat duduknya dan menyeret kerah Geun-Zhi langsung ke taman....


Baru beberapa menit dan Geun-Zhi sudah ngos-ngosan, apa-apaan itu!


Ah...


Hayeo berhenti saat dia mengingat Arya.


Gadis itu juga lemah fisik ya? Dia hanya tahu jika Arya itu lemah mental... Dia melupakan itu...


Anak itu... Mirip dengan anak di samping nya.


Hayeo kembali menoleh menatap remaja disampingnya. Geun-Zhi yang tidak tahu apa yang dipikirkan oleh gadis disampingnya itu hanya tersenyum canggung.


Hayeo menghela nafas pelan dan mengalihkan pandangannya, "Jangan dipaksa"


Jangan memaksa senyum, itu menyakitkan. Dia yakin itu, Arya juga begitu... Padahal dulu dia yang paling luka tapi anak itu tetap tersenyum. Padahal air matanya keluar tapi dia tetap tersenyum. Itu... Gila kan? Ahh itu menyebalkan.


" Jangan pedulikan apa yang para kepa rat itu katakan, itu semua hanya omong kosong yang tak berdasar! Mau itu unik, tetap pertahankan mulut boncabe mu itu, itu sangat berguna" setelah mengatakan itu Hayeo berdiri dan langsung pergi meninggalkan Geun-Zhi sendirian.


"Itu pujian kan?"


✂〰〰〰


Beberapa hari kemudian....


Akademi Bulan...


Langit cerah mengawali hari-hari seorang gadis delapan tahun itu di Akademi. Dia tidak tertarik melihat para siswa yang seperti mengawasinya. Beberapa kali dia hanya melirik namun lama kelamaan dia kesal juga.


Semua rumor yang beredar adalah karena kulit putihnya. Sebenarnya apa yang salah, ayahnya; Zaint saja memiliki kulit putih pucat, lalu kenapa dia yang dipermasalahkan?


Dia juga tidak terlihat aneh, kecuali warna rambut merah muda nya saja yang terlihat mencolok, yang lainnya tidak ada apa-apa.


Ryzan mendekati Arya yang sedang memakai dasinya. Beberapa hari terakhir dia sedikit tahu tentang remaja didepannya itu. Perkataan Remaja laki-laki (gadis) itu beberapa hari lalu memang benar, dia memiliki teman lain yang berbeda sektor dengannya. Dan itu sedikit lucu saat dia tahu jika hampir semua(?) teman remaja itu tidak ada yang normal. Kecuali Brian yang kelihatan masih sedikit normal, sisanya dia tidak tahu. Dan... Diantara mereka tidak ada yang terbaca, mereka yang pintar atau dia yang tidak mampu? Itu membuatnya penasaran.


"Kamu sudah selesai?"


Arya menoleh kebelakang dan sedikit mengangguk.


Ryzan kembali melirik Arya dan dia berkedip sedikit.


Bukannya Arya itu sedikit aneh? Saat kekacauan di kantin hari itu, kenapa dia seperti berubah? Delvan, Hansel dan Brian juga seperti sangat panik? Aneh. Wajahnya juga bisa berubah-ubah. Kadang dingin, hangat, tersenyum malaikat, tiba-tiba polos, bisa licik(walau gak licik-licik amat), kadang bisa gila juga sih.


"Anaknya siapa sih?" tanpa sadar Ryzan mengatakan pikirannya membuat Arya mengernyit.


"Siapa? Aku? Kamu sedang memikirkan ku? Kamu pasti memiliki pikiran buruk kan tentangku!?" tuding Arya memicingkan matanya tajam.


Ryzan langsung gelagapan.


"Ti-tidak, aku tidak!" ucapnya sambil melambaikan tangan dan menggeleng kan kepalanya cepat.


"Hah! Dasar, tidak jauh beda dengan anak-anak yang lain" Arya mendengus kesal mempercepat langkahnya.


Pelajaran kali ini sama halnya dengan yang biasanya namun kali ini Arya mendapat tugas kelompok, dimana dia harus menganalisis macam-macam jenis senjata dan kegunaannya. Satu kelompok terdiri dari lima orang, dan itu pilih sendiri.


"Observasi tidak datang berkali-kali, tapi tugas selalu datang berkali-kali di kehidupan ini" ketika ingin berdiri dari meja ruang kelas itu, Arya bersenandung ringan membuat guru paruh baya yang tadi memberi tugas itu mengulas senyum tipis, ini pertama kali baginya setelah mengajar bertahun-tahun seorang siswa secara terang-terangan menyindirnya didepannya langsung.


Lebih baik mempertahankan satu anak blak-blakan seperti itu daripada mempertahankan ratusan anak yang diam tersenyum dengan hari mengutuk kan?


Begitu juga dengan yang lainnya, mereka tertawa membuat bising ruang kelas itu.


Anak itu sangat lucu~


Keluhan nya seperti anak usia dua tahun~


Wkwkwk....!


Guru paruh baya itu mengetuk meja podium dan berdehem.


Dia tersenyum dan langsung menatap Arya dengan pandangan tertarik.


"Kamu suka menggunakan kata-kata bijak?"


Arya menggeleng dan berkata dengan tegas, "tidak, saya benci kata-kata itu! Karena kata-kata itu saya di hukum tiga hari menulis kata penyesalan"


"Pft, ekhem, kenapa, padahal itu cukup bagus?" tanpa sadar guru paruh baya itu tertawa.


Delvan mengangkat bahunya.


"Bagaimana tidak dihukum, kalau tiap hari kata-kata bijak yang keluar dari mulutnya itu mengandung sarkasme yang sangat parah, saya sangat kagum karena ayahnya masih mentolerir nya hanya dengan tiga hari introspeksi diri"


Arya menyipitkan matanya dan mencibir, "apaan, apa yang kukatakan itu nyata ya! Dia itu memang bajng--emphhh!"


Hansel tanpa ampun membekap mulut Arya yang benar-benar tidak ada filternya.


"Diam atau ku pukul?" ancam nya pada Arya yang melebarkan matanya.


"Kam-uu yepyas!! ummm!!? yepyasemm!!" Arya terus meronta saat Delvan dan Hansel membungkuk minta maaf.


komen dan like ygy ^\=^