
Malam...
Pasar...
Arya dan teman-temannya berjalan di pasar sembari berbelanja beberapa barang hiasan.
Arya yang tidak menunjukan rasa tertarik hanya bisa diam mengikuti. Dia yang terus berdiam diri di kamarnya membuat semua temannya sangat gemas. Apalagi Emilly yang benar-benar tidak tahan dengan keheningan yang dibuat Arya.
Arya diam diam melirik kearah salah satu bros berwarna hijau dan dia teringat dengan mata ayahnya.
Cantik...
Dia sedikit menggeleng kan kepalanya agar berhenti memikirkan orang itu.
Tanpa sadar bibir Arya mengerucut dan matanya berkaca-kaca.
Tuhkan dia jadi kangen sama ayahnya kan?!
Ugh, sangat menyebalkan!!
Pasar yang semula ramai sekali lagi menjadi hening di dalam pendengaran gadis itu. Tidak ada sedikitpun suara yang bisa dengar kecuali suara gemercing yang yang tidak tahu datang dari mana.
Suara lonceng kecil?
Arya mengikuti arah suara itu dan dibelakangnya semua teman-temannya mengikuti. Mereka tidak tahu apa yang terjadi yang mereka tahu hanya Arya tiba tiba pergi kearah berlawanan dengan arah mereka datang.
"Uhhh, nak bisa bantu nenek tua ini sebentar?"
Setibanya di sebuah jalan yang sedikit sepi mereka bertemu dengan seorang wanita tua yang jalan ngesot dijalan.
"Mbak kunti?" gumam Arya langsung mendapatkan delik kan tajam dari teman temannya.
Untung gak ada Hayeo...
Kalo ada dia mungkin Arya sudah digeplak
"Nak?" wanita tua itu memiliki penampilan compang camping mirip seperti gelandangan.
Arya mengulurkan tangannya tapi sebelum itu dia melepas sarung tangannya.
Wanita tua itu menatap lama pada tangan yang dijulurkan Arya.
Dia berfikir jika anak didepannya itu sangat mengerti tata krama ketika berjabat tangan. Tapi... Gadis itukan hanya ingin menyambut tangan seorang gelandangan, kenapa perlu formalitas?
"Tidak apa nek, mari kami bantu" ucap Emilly mengangkat tubuh wanita tua itu untuk berdiri.
"...."
Arya tidak sedikitpun mengeluarkan ekspresi ketika wanita tua itu menyambut tangan nya.
Gak ada aura nya...?
"Nek, apa anda sudah makan, kami ingin makan sekarang, bagaimana kalau anda ikut kami makan?" tawar Delvan mengulurkan tangan membantu wanita tua itu berjalan.
"Ah, tidak usah! Nanti kalian repot!" ucap wanita tua itu menggeleng.
"Gak apa, itu tidak masalah!"
Akhirnya mereka menuju ke sebuah restoran yang memesan ruang pribadi. Mereka masuk dan memesan banyak makanan. Bahkan saking banyaknya meja pun seperti tidak ada tempat lagi yang tersisa tempat kosong.
Arya memesan sepiring hidangan dengan menu utama daging salmon yang diimpor langsung dari jauh.
Selesai makan Arya keluar dari ruangan itu untuk mencari udara segar.
Wanita tua itu memandang sebentar lalu mulai bertanya.
"Anak itu sangat dingin"
"Hm? Maksud anda Arya? Tidak, dia adalah anak yang ceria kok"
"Tapi, mau dilihat dari sisi manapun anak itu sangat suram"
"Itu mungkin karena dia dilarang pergi ke Akademi oleh ayahnya"
Wanita itu mengangkat alisnya dengan penasaran lalu kembali bertanya.
"Dilarang? Bukankah anak itu terlihat sudah cukup umur untuk masuk Akademi?"
"Cukup umur? Gak kok, dia dan saya memiliki umur yang sama, kami sama-sama berumur 8 tahun. Bedanya saya dibolehkan tapi terkendala umur, dan Arya dilarang juga karena terkendala umur"
Wanita tua itu berkedip beberapa kali...
"8 tahun? Tapi tubuhnya..."
"Oh, itu karena masa pertumbuhan tubuhnya lebih cepat dua tahun, jadi dia terlihat seperti berusia 10 tahun padahal dia baru 8 tahun" ucap Feron mengambil gelas airnya dan meminumnya langsung.
"Lalu bagaimana denganmu nona?" tanya wanita tua itu pada Emilly yang juga makan makanan penutupnya.
"Oh, saya? Tidak tahu! Tinggi saya memang lumayan untuk anak-anak berumur 8 tahun"
Wanita tua itu tersenyum: "..." tapi dia terlihat sama tingginya dengan gadis yang keluar tadi?
"Ngomong-ngomong, nek bagaimana nenek bisa tahu tentang Akademi? Nenek tidak terlihat istimewa?" tanya Brian mengambil tisu dan membersihkan tangannya dari kotoran.
Wanita tua itu sedikit tersentak, "tidak, aku hanya tahu sedikit saja, uhuk!"
"Oh begitu"
Sangat mencurigakan...
"Jadi saat ini apa yang kamu dan dia butuhkan?" tanya wanita tua itu lagi
"Surat rekomendasi, hehe!" ucap Emilly dengan cengengesan.
"Hanya itu?"
Emilly yang mendengar perkataan gampang wanita tua itu membuatnya mendelik kaget.
"Nenek bilang 'hanya'? Apa nenek tahu kalau kepala Akademi itu sangat sulit ditemukan?"
Eh?
Wanita tua itu sedikit sadar sesuatu. Ah benar itu karena dia memang kadang cosplay jadi mengemis
"Nona, bisa beri tahu saya nama panjang anda dan gadis tadi?" tanya wanita tua itu pada emilly.
Semua yang ada di ruangan itu mengalihkan pandangan mereka pada Wanita yang tadi bertanya.
"Untuk apa anda tahu? Kami tidak bisa mengatakan kepada siapapun nama panjang kami" ucap Feron menatap nanar wanita tua itu.
"Tidak apa, aku hanya ingin memberikan kalian balasan karena sudah menolong ku"
"Tapi..." ucap Emilly dengan ragu-ragu
Arya yang sebelumnya ada diluar kini masuk dan menyela perkataan Emilly.
"Sudah selesai? Pulang, Farel menjemput ku" ucap Arya sesingkat mungkin.
"Hm? Ternyata ada teman teman anda, putri?" ucap Farel yang tiba-tiba masuk.
"Apa aku pernah pergi tanpa mereka?" ucap Arya melirik sedikit.
Arya masuk dan menyerahkan sekantong ruang dimensi berisi koin emas pada wanita tua itu.
"Hidup dengan baik"
Setelah mengatakan itu Arya langsung pergi diikuti dengan yang lain.
Sebelum beranjak pergi, Emilly menoleh dan berkata: "saya Dari keluarga Rimson dan yang barusan masuk adalah anak Kaisar"
Wanita tua itu terpaku sebentar. Dia melirik sedikit kearah kantong kecil itu dan tersenyum.
"Tentu saja, lambang Kekaisaran di kantung ini sudah menjelaskan statusnya"
"Persahabatan antara dua anak Kaisar, dua anak Duke, satu anak Grand Duke, dan satu anak pemilik Menara Hitam Utara benar-benar kombinasi yang luar biasa"
"Dan... Sepertinya aku baru sadar kalau dia mirip ayahnya saat muda. Hemp! Wajahnya seperti dicopy dengan sempurna"
Wanita tua itu memasukkan kantung itu kedalam sakunya dan berdiri.
"Sepertinya aku akan sibuk lagi, kekeke"
___
___
Arya yang baru pulang ke istananya membuka pintu ruang musiknya dan mencari pianonya.
Itu sudah pukul 01.57... kurang tiga menit untuk berganti waktu menjadi pukul dua malam.
Dia memainkan beberapa lagu santai yang membuatnya mengantuk
"Hing"
Rasanya sangat mengantuk...
Dia ingin menemui ayahnya namun rasanya sangat gengsi. Dia tahun jika dia menemui ayahnya dia akan memaki nya lagi.
^^^(Dan salah paham pun berlanjut_-)^^^
Arya tidur dengan kepala ditaruh di atas tut-tut piano membuatnya sedikit berbunyi.
_-_-_-_
-_-_-_-
Dari arah kejauhan seekor kuda berlari dengan kecepatan tinggi. Penunggang kuda itu terus memacu kudanya membelah hutan yang lebat itu sendirian.
Satu hal yang sekarang dia pikiran adalah.
Farel bodoh, anaknya membencinya br*ngs*k
Ya itu adalah Zaint yang baru saja menerima kabar dari Farel.
Isi suratnya..
"Yang Mulia, Putri membenci Anda sekarang"
Satu kalimat berjuta beling, ketika dia mengingat isi pesannya jantungnya berasa ditembak pisau tapi meleset, ngilu-ngilu gimana~ gitu nah rasanya.
"Lebih cepat!" Zaint benar-benar memacu kudanya dengan kecepatan yang tidak ngotak, sampai dia di pasar yang perlahan sepi itu dia dihentikan seseorang.
"Apa mau mu?" sungut Zaint mengerutkan dahinya.
Orang yang menghentikan nya adalah seorang wanita muda dengan rambut ombre ungu menyala.
"Tidak~ aku hanya merindukan mu~apa kamu tidak merindukanku? Aku jadi sedih" ucap wanita itu dengan dramatis.
"Tidak usah berbicara omong kosong! Menyingkir!!"
"Dasar pria berhati dingin! Huh, tembok es pada akhirnya akan melahirkan tembok es yang lainnya juga"
"Apa maksudmu?"
"Anakmu seperti balok es!"
Setelah dia mengatakan itu dia pergi sambil melambaikan tangannya.
Arggggg....!!!
Rasanya Zaint ingin berteriak dan menikam wanita tadi langsung di jantungnya, kalau saja dia tidak mengingat siapa wanita tadi mungkin sudah dia lakukan.
"Wanita gila yang menyebalkan!"
Zaint kembali memacu kudanya langsung ke Istana putrinya yang sedikit jauh.
Zaint turun dari kudanya dan menanggalkan jubahnya begitu saja dan kembali berlari ke kamar anaknya.
Separah apa?
Sesampainya dia di kamar anaknya dia tidak melihat apapun bahkan mau dilihat berapa kali pun ruangan dengan warna hitam dan cream mendominasi itu sangat sunyi.
Dimana dia?
Zaint membuka satu per satu ruangan itu dan tetap saja tidak menemukan apapun. Sampai dia di ruangan yang paling ujung; ruang musik.
Apakah disini?
Perlahan dia membuka ruangan itu dan akhirnya dia bernafas lega.
Anaknya yang terlihat tertidur lelap itu perlahan diangkatnya dan di dekap nya dalam pelukannya.
Syukurlah...
Zaint berjalan keluar ruangan dengan Anaknya dalam pelukannya dan langsung menuju ke kamar Arya yang tidak terlalu jauh.
Dua membaringkan anak nya di kasur dan ingin beranjak bangun. Tapi, saat dia ingin bangun kelasnya tidak sengaja mengenai hiasan gantung anaknya.
"Seperti anak kecil saja-- eh ini?"
Zaint menyentuh beberapa batang logam yang menjadi hiasan gantung itu dan mengernyit.
"Ada... Sihir penenang? Apakah ini..."
Sihir penenang biasanya digunakan pada seseorang yang mengalami gangguan mental. Tapi sihir ini juga sangat jarang digunakan, karena penggunaan yang tergolong sulit.
Tapi kenapa anaknya memilikinya di mainannya...?
Padahal mainan gantung itu sudah sangat lama di miliki anaknya, tapi... Kenapa dia baru sadar sekarang?
Astaga....!
°^°°^°°^°
Jangan lupa komen😩
Kok dikit banget yang komen? kan saya jadi geregetan😣
Ayolah komen dan jangan lupa paket lengkap lah👍