The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
127



Arya memiringkan kepalanya bingung, kedua anak itu menatap sengit.


"Dia itu sudah membully lebih dari seperempat siswa di jurusan kami, dia itu lebih dari pembuat onar" ujar Feron menatap Rokan dengan permusuhan yang terlihat jelas.


Rokan mengeratkan bibirnya dan menatap Feron kesal. "Aku melakukannya karena mereka duluan!"


"Hah!!? Duluan kamu bilang?!! Jelas-jelas kamu dan teman-temanmu membully mereka duluan, gila ya?"


"Teman-teman nya?" Arya mengingat sebentar, apa jangan-jangan tiga anak yang pernah dia terbangkan beberapa jam yang lalu?


"Itu k-karena anak-anak itu menghina keluarga dan teman-teman ku?" seketika Rokan ciut dihadapan Feron yang tiba-tiba jadi mengintimidasi.


"Hei binatang! Di Akademi semua siswa dilarang menyebutkan nama keluarganya! Bagaimana ada yang tahu keluargamu!!?"


Rokan tersentak oleh bentakan Feron. Bahkan Arya yang sedari tadi berpikir ikutan terkejut dibuatnya.


Feron kalau marah ngeri ya....!


Arya mencoba menengahi keduanya saat Emilly datang dan menendang Feron dari belakang.


"Yohow!! Ada apa ini? Kamu ngalangin jalan!" Emilly mendekati Arya dan memeluknya dari samping. Dia seperti tidak merasa salah telah menendang laki-laki yang sudah meringkuk dilantai.


"Dasar cabai busuk!! Kamu menendangku lagi!!" suara Feron parau menahan sakit.


Riden keluar dari kamar dan hanya memandang pada sepupunya yang kesakitan.


"Masih hidup" gumamnya memandang Feron. Matanya bergerak perlahan kearah Rokan lalu berkedip.


"Masih ada satu kasur, kamu bisa menggunakannya, ada disamping jendela kiri" ucap Riden menunjuk kedalam.



Feron meringis dan dengan keras kepala menolak sekamar dengan Rokan.


Arya memberi kode dan Emilly mengeluarkan tali dan mengikat Feron.


"Kenapa kamu menolak sekamar dengannya?" tanya Arya berjongkok.


"Kan sudah kubilang, aku tidak menyukainya"


"Alasan yang lebih spesifiknya?"


"Dia sangat sombong, bodoh, bukan anak baik"


"Haha! Kayak kamu tidak saja"


"Tapi tetap saja....!"


"Dia baik kok, mungkin, yang aneh itu temannya, kek kita tuh... Kamu sombong, Emilly tukang pancing emosi, Riden kang roasting, Delvan si penyuka hiburan terbuka, Brian si paling-paling, dan aku si paling gila(?)... Yah... Rada miriplah~?"


"Ternyata kamu menyadari kalau beneran gila ya?" celetuk Emilly menutup mulutnya dengan 'slaayy~'


Arya tersenyum kecil dan mengusap kepala Emilly perlahan. Matanya sayu seperti pohon yang merundukkan dedaunan nya.


"Ngomong-ngomong apa kabar kalian?"


Feron melirik sekilas sebelum membuka mulutnya, "sangat baik, tapi beberapa hari terakhir kami benar-benar sibuk"


"Karena Ujian?"


"... Iya, padahalkan masih lama juga"


Arya mengangguk dan karena urusan nya telah selesai kini dia pergi mencari Yoshua sesuai dengan tujuan utamanya tadi.


Dia ingin meminta buku catatan khusus untuk penilaian, karena dia kadang lupa sesaat atau selamanya.


Jalan yang dia lalui sepertinya cukup sepi, mungkin karena sudah mulai memasuki jam malam, ada beberapa hal menarik yang ada di Akademi. Bahkan ada rumor yang beredar bahwa ada iblis yang berkeliaran ditempat itu.


Dan rumor itu membuat beberapa orang tidak suka, terutama para siswa yang berasal dari daerah perbatasan Kekaisaran Zovariz. Karena kebanyakan penduduk diperbatasan memiliki darah campuran antara manusia dan spesies lain. Salah satunya manusia serigala, hybrid, dan lainnya.


Tak ada yang bisa memastikan tentang rumor yang beredar, karena tak ada yang melihat secara langsung perwujudan dari iblis yang dirumorkan itu.


Saat dalam perjalanan,Arya berhenti di lorong panjang yang bersebelahan dengan taman Akademi yang terdapat pohon dan batu yang lumayan besar.


Netra hijau zamrud miliknya berkilau dibawah cahaya rembulan, memantulkan sesuatu yang bergerak perlahan dari bawah pohon.


Kaku, ya, tubuh Arya kaku ditempat. Ingatlah jika Arya adalah seseorang yang takut dengan yang namanya 'hantu'


Sesuatu yang berkilauan terlihat menatapnya dari kejauhan, dia yakin jika itu adalah sepasang mata yang menatapnya.


"Mata permata?" gumam Arya seketika saat mata itu berkedip. "Iya kan? Kilauan nya seperti permata" mata Arya begitu tajam dan menelisik setiap sudut disamping pohon itu.


Tanpa sadar Arya berjalan mundur lalu berlari cepat setelah matanya secara tidak sengaja menangkap pemandangan janggal.


Dia berdoa tapi dia lupa jika dia atheis. Semua dewa yang dia tahu dia sebutkan semuanya. Berharap jika apa yang dia lihat barusan hanya halusinasinya saja.


Seseorang yang ada dibawah pohon itu menarik bibirnya keatas topeng yang menutupi wajahnya terlepas menampilkan wajah yang terlihat hancur sebelah. Itu bukan karena kecelakan atau peristiwa aneh, hanya saja sejak lahir memang seperti itu rupanya.


Matanya memang terlihat seperti permata, tapi itu adalah permata hancur. Kulitnya pucat seperti mayat dan rambutnya hitam dengan tanduk melingkar pendek.


Dia iblis ras murni..


siapa yang bilang iblis itu rupawan??


Tatapannya mengikuti langkah Arya yang perlahan menjauh. Ada yang mengganjal hatinya. Seperti biasa semua 'manusia' membenci ras iblis.


Hm, sebenarnya tidak juga. Zaint memiliki 'beberapa kenalan' yang bisa membuat kesepakatan. Dan salah satunya adalah...


Srezzz...


Nitt..


"Halo?"


"... Ingatlah untuk kembali"


"Baik, Yang Mulia"


"Jaga kesehatan mu dengan benar"


"...akan saya laksanakan"


"... Iya"


Iyap, orang yang ada diseberang panggilan itu adalah kenalannya Zaint. Sekaligus rivalnya Rechan jika bertemu.


Orang itu mematikan panggilan dan hanya tersisa anak iblis kecil itu di sana. Suasana hening dan hanya terdengar suara pohon berdesir ditiup angin.


"Hei, kamu bukan hantu kan?" tiba-tiba Arya menyembulkan kepalanya dibalik batu tepat dihadapan anak iblis itu.


Anak iblis itu hampir mati karena jantungnya melompat sekali. Kenapa harus tiba-tiba???


"Aku bukan" suara serak menyahut pertanyaan Arya pelan.


"Ah, syukurlah kalau bukan, karena seingat ku hantu itu memiliki bau tidak enak dan tidak memiliki mata, bahkan ada belatungnya juga"


Sebenarnya gak gitu juga...


Anak iblis itu mundur saat Arya perlahan maju. Dia yang agak panik langsung menghilang dan meninggalkan Arya sendiri.


"Weh, sialan, kenapa aku ditinggal?" Arya yang kesal menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Padahal niatnya baik loh, pengen nyapa, tapi malah ditinggalin. Padahal dia tadi sudah lari tapi balik lagi karena yakin itu bukan hantu.. Huh! Dasar Setan! Eh tapi kayaknya bukan setan deh?


"Dahlah, balik lagi cari Yoshua"


Tak ada yang mengerti situasi malam itu dan mungkin memang tak ada.


Malam berganti pagi dan pagi berganti malam. Waktu tiga bulan terasa seperti tiga menit, dan seperti itulah waktu berlalu. Selam tiga bulan itu Arya tidak pernah sekalipun melihat sosok anak iblis seperti malam itu. Padahal dia terus saja datang saat malam. Rela-relain diinterogasi tiap malam, tapi tetap saja tidak ketemu.


Mata gadis itu menatap langit asrama yang gelap. Matanya berkedip berapa kali sebelum dia memutar kepalanya kearah seorang anak yang baru saja masuk.


"Rey, kamu pernah lihat iblis?" tanyanya spontan tanpa embel-embel basa-basi.


Ryzan tersentak, dia diam-diam duduk di kasurnya lalu menjawab: "... Ya, setiap hari... Dulu"


Arya memalingkan wajahnya reflek, "hee? Serius?"


Ryzan mengangguk. "Iya, di tempatku setiap orang bukan manusia"


"Iblis itu jahat?" tanya Arya lagi.


"Tidak semuanya... Tapi dominan iya"


"Hm?"


"Iblis itu bahagia, apa yang mereka inginkan akan didapatkan, tidak ada tekanan, boleh egois kalau tentang sesuatu"


Arya diam, sunyi suasana itu membuatnya tenang. "Begitu ya?"


"Mau dengar cerita ku?" tanya Arya yang perlahan mengangkat tangannya.


"Silahkan jika tidak keberatan"


"Saat aku baru lahir aku hampir mati tapi tidak jadi, saat aku 5 tahun aku juga hampir mati tapi tidak jadi juga, lalu sekitaran umur 6 tahun aku juga hampir mati karena sihir hitam, tapi gak jadi juga. Selama aku hidup, sepertinya keberuntungan selalu melihatku, benarkan?"


Ryzan merebahkan tubuhnya dan dia mengangguk. "Sebuah keberuntungan yang bagus"


Ingat susunan kasur?


__⌥⌥________⌥⌥___


⊏Aryan⊐      ⊏Delvan⊐


⊏Hansel⊐     ⊏Habbi⊐


⊏Ayka⊐        ⊏Ryzan⊐


_________𓉳__________


Selama mereka bercerita, benar-benar hanya suara mereka yang terdengar memecah suasana sunyi malam itu.


Delvan yang pada dasarnya pengguna Aura, mendengarkan tanpa ada mengeluarkan sepatah katapun. Dia terus mengedipkan matanya karena suara dua orang yang terus sahut-menyahut menghilangkan kantuknya.


"Apa ayahmu membencimu?" tanya Arya tiba-tiba.


"Tidak tahu, kadang dia baik, tapi kadang dia lupa jika orang lain mungkin akan mati"


"Bagaimana dengan mu?"


"Sepertinya mirip denganmu, kata-katanya terkadang membuat sakit hati, tapi jika melihat dari sudut pandang orang lain sepertinya dia menyayangiku"


"Jika berdebat, dia tidak mau kalah, aku bahkan sering menangis gara-gara dia"


"Haha! Begitu ya?"


Arya mulai merasa jika matanya menjadi berat tapi mulutnya tidak mau berhenti. "Jika dibandingkan dengan yang 'dulu', aku bahagia memiliki nya, dia tidak banyak menuntut ku untuk sempurna di segala hal, dia membuatku tidak merasa jika aku dibesarkan tanpa ibu, dia adalah menyelamat..." tanpa diduga ternyata Arya telah tertidur pulas.


Ryzan tersenyum, "iya, di satu sisi ayah adalah penyelamat, tapi disisi lain dia adalah pembunuh"


Delvan tertegun mendengarkan penuturan terakhir dari kedua orang yang kini sudah tertidur.


Dia hampir lupa jika Arya dibesarkan oleh Kaisar sebagai orang tua tunggal, tapi... Itu adalah masalah yang besar... Kan?


Keesokannya....


Arya bangun dan membersihkan diri, seperti biasa dia akan ke kelas dan melihat sekeliling. Hanya ada Cris yang tengah menatapnya dari tempat duduknya.


"Apa kabar?" sapa Arya melambaikan tangannya.


"Aku lelah" anak itu menaruh tangannya dimeja dan dijadikan alas kepalanya.


"Huh?" Arya bingung, dia mengambil tempat duduk disebelah anak itu.


"Hari ini, kita berdua akan mengontrol kantin bersama Jazlyn"


Arya teringat dengan jadwal mingguannya, ugh dua kantin sekaligus...


"Pertama, kita harus makan... Kan?"