The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
AYAH DAN ANAK



Selesai pelajaran...


Arya gadis berusia delapan tahun yang saat ini menyamar menjadi laki-laki itu kini berjalan keluar dari kelasnya diikuti oleh Teman-teman nya dari belakang.


Tatapan matanya kosong semenjak ayahnya keluar dari kelasnya. Rasanya disekitarnya seperti sangat hening, tak ada sedikitpun suara yang terdengar oleh telingannya.


Guru meminta mereka untuk tidak pergi terlalu jauh dari kelas karena itu mungkin akan mengganggu para Kaisar yang saat ini beristirahat di bangunan khusus yang dekat taman Akademi.


Arya duduk dikursi sementara teman-temannya hanya berdiri dari samping. Mereka saling melirik sebelum suara tenang Arya membuka percakapan mereka.


"Kenapa?"


"Anu, gini... Em, itu, maaf ya... Kami salah paham" ucap Emilly merasa bersalah.


Arya diam tidak menanggapi ucapan Emilly. Dia hanya berkedip kosong.


"Aku juga, aku sungguh minta maaf!" ujar Feron juga ikut merasa bersalah.


Arya mengkat sedikit kepalanya. Mata hijau pudar itu perlahan kembali kewarna aslinya, hijau yang hampir mendekati warna zamrud.


"Memangnya... Kalian salah apa?" tanya gadis itu. Tatapan matanya semakin dalam membuat mereka menjadi gelisah.


"Itu... Kami menuduhmu macam-macam"


Arya kembali diam dengan mata jadi sedikit gelap.


"Ayah... Juga menuduhku macam-macam saat itu, dan kalian juga melakukannya. Menurut kalian, jika aku..." Arya tidak menyelesaikan perkataannya dan kembali diam.


Arya, jangan bilang kamu masa puber ya!?


Teman-temannya dengan gemas meremas telapak tangan mereka masing-masing.


Tolong selesaikan bicaramu!!


Hansel duduk disamping Arya dan menepuk pundak gadis yang sedang ada dihati(?) nya itu pelan.


"Maaf ya, kemarin kami sungguh tidak bermaksud menyudutkanmu, sungguh--"


Arya menaruh jari telunjuknya dibibir dan berkata pelan, "Sheet! Diam ya, tidak perlu dijelaskan, aku paham... Lagi pula kemarin itu aku juga sangat kekanak-kanakan, hehe"


Arya kembali diam dan matanya langsung tertuju pada kaca bening yang menampilkan belakang kepala ayahnya. Tapi, tiba-tiba pandangan matanya bertabrakan dengan mata ungu seseorang.


Pria itu tersenyum pada Arya sebelum dia memutar kepalanya.


Arya seketika temenung. Apa itu? Sedikit menakutkan...


Seperti bukan manusia...!


Waktu yang dibutuhkan untuk pelajaran adalah dari 07.30 s/d 14.00 dengan empat mata pelajaran perhari, khusus hari jum'at dan sabtu dari 07.30 s/d 12.30 dengan tiga mata pelajaran.


Sisa waktu yang ada, bisanya akan digunakan untuk ektrakurikuler, seperti kelas musik atau olahraga. Tapi, jika tidak ingin mengikuti kelas itu juga tak apa.


Arya yang orangnya mageran tapi rajin itu dengan santai nya berjalan menuju kelas musik dengan menyenandungkan beberapa bait lagu yang dia hapal.


"Ku yang dulu bukanlah yang sekarang, dulu ditendang sekarang ku disayang, hehem hem heeem 🎶" lagu yang dia senandungkan bahkan mirip dengan kehidupan yang dari dunia modern dan yang sekarang.


Dari arah depan, seseorang menatap Arya dengan tatapan menyala.


"Ugh, ngapan ada Tama sih disitu!" gumam Arya langsung berbalik dan lari dengan cepat.


Tama Ferton, menjabat sebagai perdana mentri pada usia 19 tahun dan sampai kini pria lajang dengan usia hampir 32 tahun itu adalah seorang pria jomblo tanpa pasangan, bahkan bisa dibilang dia tidak tertarik dengan wanita, tapi jangan mengiranya adalah maho, dia normal hanya saja dia masih ingin menikmati waktu sendirinya saja.


Pria itu adalah orang yang selalu berdiri disamping Kaisar sejak 12  tahun lalu, ketika rapat atau mengunjungi acara seperti hari ini dia selalu mendampingi Kaisar. Hanya saja dia masih penasaran dengan anak laki-laki yang mirip dengan putri dari Kaisar yang dia dampingi itu.


Anak Kaisar itu adalah orang pertama yang berhasil membuat emosi Kaisar yang selalu stabil itu jadi naik turun layaknya kincir air.


Putri bar-bar yang telah dia lihat pertumbuhannya setiap hari itu adalah salah satu keajaiban dunia yang tidak dimusnahkan oleh Kaisar Zaint yang gila itu.


Putri sendiri adalah kebalik dan persamaan dari Kaisar itu. Kebalikan nya sifat, sikap, dan prilaku. Sementara persamaannya adalah sifat gila, tak takut mati, dan kejam. Benar-benar tidak akan ada yang akan menyangkal tentang seberapa kuat darah antara mereka berdua.


Tapi, sesuatu hal yang luar biasa adalah Putri Kaisar gila itu tiba-tiba menghilang tanpa meninggalkan jejak selain secarik surat yang isinya bahkan diluar nalar pemikirannya.


Putri Arya biasanya hanya pergi dari pagi hingga siang atau sore sampai malam, tapi semenjak hari itu gadis itu bahkan tidak terlihat batang hidungnya. Benar-benar membuat panik.


Tama menatap Arya yang melarikan diri darinya dengan tatapan yang memusingkan.


Tama berasal dari wilayah Timur, dimana itu adalah wilayah yang hangat. Wilayah itu memiliki tradisi unik yaitu berburu monster yang berada disekitar wilayah penduduk. Biasa yang mengikuti tradisi itu adalah para anak-anak muda yang ada wilayah itu, baik bangsawan maupun orang biasa.


Dan hasil dari berburu itu akan di nilai dari segi berat dan jenis monster yang ditangkap. Biasanya kulit atau tulang dari monster itu akan diproduksi dan dibuat benda pakai yang nantinya akan diekspor keberbagai daerah lainnya.


Dan dari banyaknya perburuan monster itu, ada satu peserta yang paling banyak mendapat buruan, itu adalah Tama Ferton. Dia memiliki kemampuan berburu dan kemampuan memanahnya adalah yang terbaik di wilayah Barat. Tapi entah kenapa dia malah jadi Perdana mentri yang bahkan tidak membutuhkan tenaga otot :v


Sungguh takdir yang menyimpang...


Pria itu mengejar Arya yang sudah mulai menjauh dengan cepat. Dia tahu jika Arya itu gadis yang lincah, tapi dia tidak menyangka jika gadis itu benar-benar cepat saat berlari.


mungkin akibat keseringan kabur kali ya?


Sementara itu, Arya langsung panas dingin saat dia merasakan jika Tama semakin cepat mengejarnya.


Berhentilah mengejar...!!?


Arya yang berlari itu tiba-tiba menabrak seseorang yang berjalan kearahnya.


"Wha... Si-siapa?"


"Bocah nakal, kecebong darat.." yupz itu adalah Zaint yang langsung mengangkat kerah Arya hingga mata mereka bertatapan lurus.


Arya merengutkan bibirnya, "kecebong hidupnya di air, kalau didarat itu koddoge!" balasnya.


^^^(koddoge itu dibacanya kek gema) ^^^


Zaint mengerutkan keningnya dan menurunkan anaknya yang tingginya hampir diatas perutnya.


"Sepertinya kamu sudah tumbuh?" dia menepuk kepala Arya dan mengosoknya acak.


Arya ikut mengerutkan keningnya.


Dia tersunggung mendengar ucapan ayahnya.


"Jadi selama ini kamu melihatku seperti apa hah? Kenapa baru sadar jika aku sudah tumbuh?"


Zaint mengkat alisnya dan menggenggam tangan anaknya dan menariknya pergi.


"Hmm, Anak kecubung? Anak goblin? Anak pungut?" ujar Zaint seperti bertanya-tanya seperti apa dia menggap anaknya.


Oke, sekarang Arya semakin tersinggung.


"Oh ayolah! Ayah, kamu bercanda kan? Katakan jika ini benar-benar hanya jokes bapak-bapak!?" teriak Arya dengan sangat kesal.


Tama yang sebelumnya mengejar Arya, kini terhenti ditempatnya saat dia melihat pemandangan yang familiar.


Kapan terakhir kali dia melihat Ayah dan anak itu berjalan bersama? Hm mungkin sudah cukup lama.


Dia tersenyum dan mengangkat bahunya. Setalah itu dia berjalan pergi agar tidak mengganggu ayah dan anak itu.


Arya menoleh kebelakang, dia merasakan kehadiran seseorang yang sebelumnya mengejar nya.


Tidak ada...


"Ayah, bagaiman kamu menemukanku? Apa kamu ingin menyuruhku pulang? Tapi... Aku tidak ingin"


Zaint melihat Arya sebentar.


"Kenapa aku harus menyuruhmu pulang?"


Arya mengerjap kan matanya menatap ayahnya.


"Eh, bukannya saat itu kamu melarangku ya?" tanya Arya bingung


Zaint kembali menatap anaknya.


"Kapan? Aku bahkan tidak tahu jika kamu minta izin, aku bahkan tidak ada di Istana!"


"Hah! Lah, terus siapa yang ada di ruang kerja ayah saat itu? Masa hantu? Gak mungkin 'kan, jelas-jelas ayah ada disini, masih hidup loh ini!?" ujar Arya tak percaya.


"Astaga" Zaint dengan tidak percaya menepuk keningnya Arya.


Dia memegang kedua pundak Arya dan menatap wajah Arya yang cukup pucat.


"Dengar baik-baik! Jangan pernah percaya apa yang kamu lihat, jika kamu tidak yakin jangan pernah yakin dan percayai saja kata hatimu, jangan pernah dengarkan orang yang tidak kamu kenal, paham?"


Arya yang pertama kali melihat ayahnya yang sangat serius memperingatinya itu menjadi terdiam.


"O-oke"


Huft...


"Tapi Ar,  kenapa harus lima tahun? Kamu tidak ingin pulang heh?!" Zaint dengan kesal menarik pipi Arya hingga sedikit berwarna merah.


Arya menutup pipinya dan matanya melebar.


Sakit weh..!


"Gak papa, gabut doang?"


"Hah?"


Gabut?


Zaint memperhatikan anaknya dari samping dan pandangannya jadi sedikit risih saat dia melihat seberapa pendek rambut anaknya.


Warna merah yang biasanya dia lihat kini berubah menjadi merah muda. Dan hijau zamrud yang biasanya menatapnya kini berubah menjadi hijau pudar.


Dan untuk pakaian... Dia sudah biasa melihat anaknya menggunakan pakaian casual dan celana panjang/pendek jadi itu tidak lah aneh dimatanya. Yang bermasalah hanya rambut dan mata saja, dan gender?. Rasanya dia tidak terima ketika melihat anak jadi laki-laki walau hanya pura-pura.


\=\=\=\=\=\=


AKHIRNYA BESOK HARI TERAKHIR ULANGAN!!


Nah kakak-kakak readers yang baik hati, hari ini saya akan membuat 3 eps karena minggu kemaren gak up hehe😃


sebenarnya mau up tiap hari minggu, cuma saya kadang kalau mau ngumpulin niat nulis itu rasanya berat gitu, kalau gak lagi ngantuk ya ada kerjaaan. jadi harap sabar.


ok... tunggu review nya itu cukup lama karena HP saya rada rusak.


selamat membaca...