The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
KASIHAN ZAINT(Ω Д Ω)



Dalam kelas...


Arya dan yang lainnya duduk di kursi yang disediakan. Ruangan kelas itu sangat besar dengan beberapa fasilitas pendukung, seperti: pedang, tombak, belati, dan benda tajam lainnya yang digunakan untuk penjelasan atau teori. Sedangkan untuk praktek atau simulasi nya akan dilakukan di lapangan.


Kelas itu sangat ramai karena beberapa siswa ada yang meng-gibah, biasalah namanya juga homan, pasti tidak lepas dari urusan gibah.


Arya dan Ryzan hanya diam, Hansel merebahkan kepalanya dimeja, sedangkan Delvan, Habby dan Ayka asik mengobrol.


Benar saja, hampir seisi kelas adalah laki-laki, dan hanya ada satu anak perempuan didalam kelas itu. Anak perempuan itu duduknya di paling pojok dengan wajah cuek bebek ketika dia sedang dibicarakan.


Beberapa saat kemudian seorang Profesor laki-laki masuk dengan santainya membuat semua anak diam. Profesor itu masih terlihat muda dan juga tampan, tapi Arya bisa merasakan aura menyeramkan terpancar dari tubuhnya. Profesor itu pasti benar-benar tegas pada siswanya. Tidak mungkin seorang Profesor muda bisa menjadi pengajar di Akademi jika dia orang 'gampangan'


"Halo semua, apa kabar?" tanya Profesor itu dengan ramahnya sambil menopang tangannya di atas meja dalam posisi berdiri


"Baik Pak!" jawab semuanya serempak.


"Oke, mari kita mulai dari perkenalan, bagaimana? Mulai dari saya lalu dilanjutkan oleh kalian dari kanan ke kiri!"


"Nama saya TAIGA REKSTA, usia saya 29 tahun. Saya adalah Profesor atau yang kalian kenal sebagai guru. Tugas saya dikelas ini adalah untuk mengajari kalian teori dasar tentang 'pedang', untuk urusan praktek, bukan saya yang mengajar! Baik silahkan lanjutkan!"


"Nama saya... "


Semua siswa baru mulai memperkenalkan nama mereka masing-masing hingga giliran Arya dan teman-temannya.


"Nama saya Delvan Arano, usia saya 10 tahun, saya memiliki saudara yang berada di sektor sihir, saya tidak bisa sihir, tapi saya bisa menggunakan pedang"


"Nama saya Hansel Leone, usia saya 10 tahun, saya masuk sektor pedang karena saya ingin belajar lebih banyak tentang pedang"


"Nama saya Ayka Sotta, usia 10 tahun, tujuan saya masuk sektor pedang adalah untuk meningkatkan kemampuan berpedang saya"


"Nama saya Habby Floen, usia saya 10 tahun, tujuan saya masuk sektor pedang, karena saya ingin belajar tentang pedang"


"Nama saya Ryzan Chieral, usia saya 11 tahun, tujuan untuk meningkatkan kemampuan berpedang"


"Nama saya Aryan Arkien Alexander, usia saya 8 tahun... Apa?" seketika perkenalan Arya terhenti saat dia melihat semua pandangan tertuju padanya


"Delapan tahun?" tanya Profesor itu memiringkan kepalanya.


"Iya, kenapa?" tanya Arya bingung.


"Tidak apa, lanjutkan!" ujar Profesor itu melambaikan tangannya.


"Baik, ulang ya! Nama saya Aryan Arkien Alexander, usia saya 8 tahun, tujuan saya masuk sektor pedang.... Gak tahu! Saya masuk kesini karena saya bisa menggunakan benda tajam, saya bisa menggunakan pedang, tapi saya lebih mahir melempar belati... Em begitulah! Tapi saya bisa mencari tujuannya nanti" ucapan Arya membuat Profesor terdiam.


"Maksudmu... Kamu tidak memiliki tujuan? Tapi kamu memutuskan untuk mencarinya?" tanya Profesor itu dibingungkan oleh perkataan siswa barunya itu.


^^^(Arya adalah saya saat ditanyain tentang Cita-cita, karena saya tidak tahu Cita-cita saya apa🤓)^^^


Arya mengangguk dengan pasti membuat temannya menepuk dahi pasrah.


"Tapi... Satu hal yang pasti! Saya masuk Akademi Bulan karena saya kabur dari rumah" dan ya peryataan Arya kali ini membuat seisi kelas tidak percaya.


"Ar-- tidak Iyan kamu.... Membuat bencana(?)" sahut Delvan diangguki dua temannya; Hansel dan Brian.


"Kamu lupa ya, hukuman mu yang terakhir kali?"


"Apa?"


"Maksudmu hukuman gantung terbalik di pohon?" sahut Brian membuat Arya kesal sekaligus malu.


Wkwkwk


"Kamu gila? Kenapa kabur?!" tanya Hansel yang bahkan tidak bisa percaya.


"Kenapa? Aku tidak pergi lama juga, paling... 5..tahun? Yah, biarin saja dia marah, aku tidak peduli!" jawab Arya acuh tak acuh ingin duduk tapi dihentikan oleh Profesor didepan.


"Kenapa kamu ingin melarikan diri dari ayahmu?" Profesor itu tahu jika apa yang ditanyakan nya itu bersifat pribadi. tapi... Ini adalah pertama kali dia melihat seorang siswa baru yang memiliki alasan absurd untuk masuk Akademi.


Arya menatap lekat pada Profesor itu dan menghela nafasnya panjang.


"Alasannya mudah, kami bertengkar! Dia sangat senang membuat saya marah, jadi saya balas marah, dan puncaknya.... Saya melarikan diri. Kenapa? Karena saya tahu dia akan mencari saya. Itulah sebabnya saya tidak peduli dengan orang itu. Mungkin saat ini dia sedang meremas surat yang saya berikan pada nya dengan perasaan gemas sekaligus kesal" Arya dengan senyum kecil menggenggam pena ditangannya hingga patah.


"Iyan? Kamu lupa yah jika pena yang kamu patahkan itu adalah salah satu hadiah ulang tahunmu yang ke-2 tahun dari ayahmu?" Hansel dengan wajah yang tidak bisa diartikan itu memberitahu Arya membuat Arya membuka tangannya dan melihat pena ditangannya patah menjadi dua


"Wah... itu benar-benar patah~" sahut Brian melirik sedikit pada pena di tangan Arya.


Arya mengerutkan keningnya dan hidungnya terasa panas


"Ekh, sial pena limited edition berharga ku" Arya sudah menyimpan pena itu selama lebih dari enam tahun, tapi... Itu patah. Ugh itu barang berharga nya, walau bukan terbuat dari emas, tapi kan tetap saja... Ah, hatinya rasanya berdenyut sakit.


"Ukh, hidungku panas" ucap Arya langsung duduk dan menyembunyikan wajahnya dan menggenggam erat penanya.


Delvan, Hansel, yang duduk disebelah kanan dan kiri Arya dengan sabar menepuk-nepuk punggung Arya.


•••


Beberapa menit setelah semua memperkenalkan diri pun berlalu. Sekarang pelajaran pun dimulai dan pertanyaan pertama jatuh pada Arya. Sepertinya Arya itu benar-benar ditargetkan oleh Profesor muda itu.


"Saya ingin bertanya, jika kamu adalah pedang, maka kamu akan jadi pedang apa?" tanya Profesor mengajukan pertanyaan aneh. Tapi itu masih bisa dijawab Arya menjadi lebih aneh.


"Jika saya adalah Pedang, maka saya akan menjawab dengan pasti jika saya adalah pedang bermata dua. Saya bisa menjadi penyelamat, tapi saya juga bisa menjadi pembunuh! Ayah saya bilang, saya adalah topeng terindah yang tidak bisa dilepaskan, ayah saya juga bilang jika saya adalah pedang bermata ganda yang bertaburan permata!"


Profesor itu kembali terdiam. Ya lumayan, wajah Arya itu memang putih jadi pantas saja jika ayahnya berfikir jika dia indah. Tapi apa maksudnya topeng?


"Pedang bermata ganda yang bertaburan permata? Itu adalah kata kiasan untuk menggambarkan 'keindahan yang memiliki dua sisi' cukup unik"


"Ngomong-ngomong tentang namamu, kamu memiliki berapa kata didalamnya?" tanya Profesor lagi. Dia bertanya karena jarang ada anak yang memiliki lebih dari dua kata dalam sebuah nama depan dan tengah.


Arya berkedip


"Empat kata, satu nama depan, dua nama tengah, dan satu untuk nama keluarga" ucap Arya dengan tenang.


Sebenarnya nama tengah 'Alexander' juga termasuk nama keluarga, tapi itu hanya berlaku jika seseorang itu keluar dari keluarga Kekaisaran.


Setelah beberapa jam berlalu kelas pun selesai untuk hari ini. Tapi.... Ada yang belum selesai.


"Bocah, kamu bilang gak mau ditemui oleh tamu? Kok kamu ada disini?" tanya Delvan dengan senyum kesalnya.


Sama halnya dengan Hansel dan Brian yang juga geram dengan Arya yang saat ini tengah tersenyum kecil.


"Kenapa? Aku kan memang tidak terima tamu, kalau terima tamu memang siapa yang nyambut? Pelayan? Kalian kan tahu, hampir semua pelayan ku itu punya latar belakang yang berbeda-beda~ walau mereka hanya ada 10 orang mereka bukanlah orang biasa"


Saat ini mereka berjalan bersama menuju ke kantin. Dan yah, seperti yang terjadi kemarin, banyak mata yang menatap mereka, terutama para anak perempuan.


"Kamu lihat anak dengan rambut merah muda itu, dia sangat putih dan tampan! Sungguh, dia benar-benar imut"


"Benar dia sangat imut, hanya saja wajahnya sangat datar dan dingin"


"Tapi tetap saja, dia benar-benar terlihat mencolok karena dia yang paling putih dan jika di lihat-lihat bahkan pipinya terlihat kenyal kan? Kyaa! Ingin sekali aku menyentuhnya!!"


Beberapa anak perempuan berteriak dalam diam ketika mereka bergosip ria disaat Arya dan teman-temannya lewat.


Rasanya wajah Arya jadi panas saat mendengar suara anak perempuan itu. Semoga itu tidak pernah terjadi!!


Bahkan, Brian yang terlihat tersamarkan itu sampai tersenyum tertahan mendengar perkataan itu.


Sungguh menggelikan...


Hansel dengan penasaran menyentuh pipi Arya setelah mendengar perkataan anak perempuan tadi.


"Iya, kenyal" ucapnya sambil terus menoel-noel pipi Arya.


Arya dengan jijik menutup pipinya dengan telapak tangannya.


"Beraninya kamu menyentuh pipi ku! Mau mati!"


♡⑅*˖•. ·͙*̩̩͙˚̩̥̩̥*̩̩̥͙·̩̩̥͙*̩̩̥͙˚̩̥̩̥*̩̩͙‧͙ .•˖*⑅♡


Kekaisaran Roseland...


Ruang kerja Zaint...


Jadi saat ini dia sedang uring-uringan karena membaca surat singkat anaknya.


Baik saat ini anaknya sudah tidak bisa di tolerir lagi..


Gadis itu benar-benar anak yang tidak bisa diam


Apa-apaan lima tahun?!


Dia tidak percaya anaknya sendiri tidak ingin pulang jika belum lima tahun?!


Anak nakal itu...


Lihat saja nanti...


Dia pasti akan tertangkap..!


"Yang Mulia, hari ini anda harus kembali ke perbatasan lagi, masalahnya menjadi lebih besar karena anda pergi dari sana"


"Orang-orang yang tidak berguna!" suara Zaint benar-benar serak karena marah bercampur kesal.


Marah karena masalah diperbatasan semakin rumit, dan kesal karena anaknya yang gak ada akhlaknya itu melarikan diri.


Semuanya tidak ada yang berjalan dengan baik....!!