
"Hentikan....."
"Tolong hentikan...!!"
"Jangan sakiti ibu!!"
"Kumohon!!"
"Aku kan juga putri mu... Kenapa... Kenapa ayah tega melakukannya!!"
Di ruangan luas dengan banyak barang berserakan, seorang gadis dengan rambut putih keperakan menangis sambil bersujud dihadapan tiga orang "human". Di belakangnya wanita dengan rambut ombre cokelat memandangnya dengan ketidak percayaan yang sangat jelas.
"Kumohon..." sekali lagi gumaman lirih gadis itu memasuki telinga wanita dibelakangnya.
"Bagaimana ini ayah? Kita harus apa sekarang? Hehe! Kamu memohon seperti anj*ng yang patuh~ kalau begitu~ jilat sepatuku! Cepat!!" salah satu dari tiga 'human' itu tertawa dengan penghinaan yang begitu lekat pada kedua matanya. Dia memajukan kakinya dengan seringai di bibirnya yang berwarna merah maroon.
"ZILVA!!! Dasar gadis brengs*k!! Aku akan membunuh kalian Sialan!! Tidak Isal ibu mohon jangan menuruti gadis iblis itu, ibu mohon sayang!!? Hiks kumohon Isal, jangan...!"
"ISABELLA HENTIKAN--!!"
~¥¥¥¥¥¥¥~
Arya bangun dengan kepala berputar-putar, layaknya helikopter.
"Hahhh, siapa? Apa itu!??"
Dia duduk dengan memegangi kepalanya dan sedikit memiringkan nya. Dia jadi sedikit linglung
Ngapain yak kemarin?
Yang dia ingat hanya dia sedang adu mulut dengan ayahnya, lalu ke kamarnya, tanpa ingat kejadian dia berganti dengan Alican.
Alican sudah memanipulasi ingatan Arya( ͠° ͟ل͜ ͡°)
Beberapa saat kemudian dia ingat dengan sesuatu.
Eh apa yah?
Dan dia lupa apa yang barusan dia ingat.
Dia terus berusaha mengingat apa yang dia mimpikan tapi itu tidak ada hasilnya, dia benar-benar lupa dengan apa yang ada di otaknya.
Sedangkan Alican..
Saat ini dia sedang senam jantung dan hampir jatuh dari perahunya.
Mimpi yang Arya mimpikan kali ini berbeda dari biasanya!
Tapi apaan sih itu!?
Dia dengan tidak percaya mengulang apa yang dia dengar diakhir mimpi itu.
Itu benar benar diluar ekspektasinya, oh ayolah dia benar-benar kaget.
Bahkan saat ini dia masih dag dig dug loh.
++++
"KENAPA!!! KENAPA!!! KENAP--!!"
"KARENA KAMU HANYALAH ANAK HARAM!!?"
++++
Alican dengan kencang melempar awan pikiran Arya itu ke air yang ada dibawahnya dan bergumam.
"Ugh, dasar any*ng!!? Kenapa aku buang! Dasar ogeb!? Ceroboh banget, akh!!!" Alican dengan gemas mengacak acak rambutnya sambil memandang air yang ada dibawah perahu nya.
Yups, Arya lupa lagi gara-gara Alican memusnahkan ingatnya tanpa dia sadari. Bisa dibilang Alican adalah seseorang yang mengatur pikiran Arya, dalam artian baik ya!
^^^^^^~^^^^^^
Arya membuka tas ajaibnya dan mengambil salah satu pakaian nya dan memasuki kamar mandi. Dia juga mengambil beberapa helai pita, entah untuk apa.
Dia menanggalkan semua pakaiannya dan berdiri langsung didepan cermin.
Sebentar lagi...
Sebentar lagi dia akan kembali merasakan sakitnya kutukan ditubuhnya.
Arya dengan santainya memasuki bak mandi dan berendam didalamnya. Dia merentangkan tangannya dan bersandar.
Dia memejamkan matanya, tanpa sadar dia malah melihat sesuatu yang aneh. Itu buram tapi perlahan mulai terlihat jelas
Itu muncul di pikiran nya dan itu mirip seperti sebuah surat.
"Ahaha, aku pasti salah lihat"
Tapi, kenapa perasaannya gak enak ya?
Ah sudah lah...!
Arya memakai pakaiannya dan juga mengatur rambutnya agar tidak basah. Dia turun kebawah untuk menemui semuanya sekaligus keluar cari angin.
Rencananya mereka akan pulang hari ini, tapi karena ada beberapa masalah mereka akan pulang saat tengah hari, sekitar jam 13.37.
Arya dan teman-temannya yang lain dengan tenang menunggu. Dihadapan mereka ada banyak jenis permen susu stroberi yang memang sengaja di siap kan untuk Arya yang menolak untuk memakan makanan berat.
Mereka berbincang dengan satu dan juga cukup ramai karena mereka bukan lah orang-orang kaku yang mau ngomong terbatas. Apapun yang bisa dikatakan pasti mereka katakan. Terutama Hayeo yang ketemu pawangnya. Beh jinak lah pokoknya.
Entah sejak kapan di samping Arya ada dua kucing yang terlewat manja padanya dan membuat tiga lainnya terbakar api kecemburuan.
Ah, apa yang harus dilakukannya?
"Khalihan shiapah?" ucap Arya dengan suara digetar-getarin. Dia memang tidak kenal dengan dua kucing itu tapi kenapa mereka nempel banget kek ada lem tikusnya tu' nah.
"Cih, hanya naga muda saja sangat songong, bagaimana ketiga dewasanya ya?" sindir serda membuat Raya membeku.
Ugh...
Beberapa saat kemudian Zaint masuk dan langsung mengangkat anaknya yang terjebak diantara perkelahian empat hewan. Walau dia sudah terbiasa melihat anaknya itu dikelilingi teman-teman nya, tatap saja dia tidak senang.
"Apa aku tidak berat?" tanya Arya melingkarkan tangannya dileher ayahnya
Zaint melirik sedikit dan mengeratkan pelukannya, "Sangat berat"
"Kalau begitu turunkan aku!" ucap Arya mencoba melepaskan diri.
"Diam!"
"Oke"
Zaint terus berjalan dan tidak memperdulikan semua tatapan yang terarah padanya.
Hayeo berkedip beberapa kali dan menunjuk dengan tidak percaya, "jangan katakan pada ku jika dia si tiran medan perang?"
Dan dibalas anggukan oleh yang lainnya.
"Memang benar, tapi apakah dia tadi mengeratkan pelukannya?" Lili ikut bertanya.
"Yupz, ehm, bulan depan Arya akan ulang tahun, kalian akan datang?" tanya Feron menatap semuanya. Dia baru ingat dengan percakapannya dengan Arya beberapa bulan lalu.
"Hah? Bulan depan? Agustus?" tanya Hayo beruntun.
"Iya, 1 Agustus"
Hayeo menutup mulutnya dan menunduk.
Wtf...!?
Kok bisa!!!?
"Ah! Ayo cepat kita harus pulang sekarang, Lili dan Delvan kalian kembali dengan rombongan Arya, kan?" tanya Feron sebelum keluar bersama Steve.
"Iya"
"Oke!"
Arya duduk di kereta yang sama dengan Zaint, dia terus menatap kearah luar dimana ada banyak orang yang berlalu lalang silih berganti.
"Ayah, aku merasa aneh" ucap Arya dengan mata tetap fokus keluar.
"Apa?"
"Sepertinya aku sering melupakan beberapa hal..." adu Arya mengerutkan bibirnya
"Apa maksudmu?" Zaint dengan bingung mengerutkan keningnya menatap anaknya
"Hah, tidak jadi!" ucap Arya dengan wajah ngambek. Ayahnya benar-benar tidak peka, ya?
Sepanjang jalan Arya habiskan untuk tidur, dia terus saja merasa lelah tanpa sebab semenjak memimpikan mimpi itu.
Dia tidur di atas pangkuan Zaint yang menopang kepalanya dengan satu tangan sementara tangan yang lain asik mengusap rambut anaknya.
Saat tidur Arya terus saja mendengar suara yang berdengung tidak jelas. Tapi beberapa terucap dengan cukup jelas.
"Aku tidak ingin mengingat sakit ini, biarkan aku pergi tanpa beban ingatan yang menyakitkan, jika aku bangun aku akan melupakan segalanya, semuanya hanyalah mimpi belaka... Mimpi belaka... Mimpi... Belaka..."
Ya, itu adalah kalimat yang didengar oleh Arya. Suara halus seorang gadis yang bergema tak beraturan dalam mimpi Arya.
Zaint terkejut dengan air mata yang keluar dari pelupuk mata anaknya. Dia perlahan mengusap air mata anaknya dengan tangannya. Anehnya walau sedang menangis Arya tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia akan bangun sedikit pun.
Zaint sedikit mengangkat tubuh anaknya dan mendudukkan nya di pangkuannya, sedangkan kepala anaknya itu dia taruh di lengannya.
Dia memandang lama pada wajah putih anaknya itu dan sekali lagi meneliti. Satu kata yang terlintas di benaknya adalah kata cantik.
Dia ingin menyimpan anaknya itu untuk dirinya sendiri, tapi ini belum waktunya.
Dia yakin 'orang itu' akan mengacaukan nya. Surat yang dikirimkan 'orang itu' hanya lah serangan awal.
Beberapa saat kemudian dia akhirnya ingat sesuatu.
"Secara garis besar, saya ada karena seseorang menginginkan saya. Mau itu anda atau istri si*ala* anda itu"
Ya, dia teringat dengan perkataan Alican dari malam. Tapi, apa maksudnya?
Dia memang tidak pernah mengharapkan seorang anak, tapi tidak tahu dengan Sella. Wanita itu pasti menginginkan anak laki-laki agar bisa mengambil takhta kan?
Pada dasarnya jika seorang anak Kaisar mendapatkan takhta, maka kedudukan tertinggi kedua bukanlah 'Raja' suatu kerajaan besar atau kecil. Tapi pemegang kekuasaan terbesar adalah Ibu Suri, ibu dari kaisar. Bagaimana dengan kaisar sebelumnya? Biasanya anak yang berhasil mendapatkan takhta akan membunuh atau mengasingkan ayahnya.
^^^(Tapi kebanyakan akan dibunuh atau mati)^^^
Tanpa sadar Zaint sudah memeluk anaknya dengan erat dan membuatnya bergeliat tidak nyaman.
Eumh...
Zaint dengan sedikit senyum melonggarkan pelukannya. Dia memandang pemandangan diluar dan bergumam.
"Kita akan pulang... sayang"
Alican yang mendengar perkataan Zaint be like: "uhuk! Uhuk! Ekhem! Ehek! Keselek lope-lope! Tolong!! Kasih tau Arya gak ya?! Ahhhh gak usah ajalah!! Hauek sayang?! Sayang?! Zaint bilang sayang?! Tolong katakan telingaku bermasalah, tolonggg!!!!"
^^^(Histeris sumpah_-;;)^^^
itu aja dulu, harus komen(๑•̀д•́๑)
#Alice and Alican
#Isabella