
Istana Kekaisaran Jaeyang.....
Aliran memperbaiki tatanan rambutnya dan wajahnya yang ada didalam cermin bagaikan pantulan wajah Zaint ketika kecil, dan semua kaisar tahu seperti apa wajah Zaint ketika masih kecil, dingin dan terlihat tidak bisa didekati oleh siapapun. Dan sekarang mereka kembali melihat wajah itu dari pantulan cermin.
Pakaian yang dikenakan oleh Alican yang ada di cermin adalah setelan jas anak laki-laki dengan warna yang sama dengan dress yang digunakan oleh Arya.
Hayeo yang tidak tahan melihat tatanan rambut Alican lantas menarik Alican kedepannya. Dia menarik sedikit rambut Alican dan membuatnya menjadi kepang yang ada di depan telinga sebelah kanan dan anting yang digunakan Arya sebelumnya di lepasnya dan ditaruh ditelinga sebelah kiri.
Tiga pita yang dipakai nya pun dilepas dan dibentuk menyilang dan satunya lagi dibiarkan melintang.
Ketika sudah selesai dipermak oleh Hayeo Alican langsung mendorongnya menjauh. "Menjauh any*ng, darahmu terlalu harum!!" teriak Alican mencoba untuk tidak mencium aroma yang dikeluarkan oleh tubuh Hayeo.
Hayeo sedikit tersentak, dia lupa jika si gila bernama Alican ini sangat suka meminum darah para korbannya. Jika dibandingkan dengan kakaknya Eun Jun Alican adalah psikopat yang sesungguhnya. Yah, walau dia bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Ini adalah salah satu alasan kenapa Sonya(Fesya) dan dirinya melarang keras Arya untuk mabuk, karena jika mabuk maka Alican akan dengan leluasa membalas dendam kepada orang yang berani membuat Arya frustasi. Tapi sekarang.... Haih... Bahkan tanpa mabuk pun dia sudah bisa menguasai tubuh arya.
"Alican, kau itu beneran laki-laki?" tanya Hayeo duduk kembali di tempat duduknya.
Alican mengerutkan keningnya dan menatap cermin lama.
"Seperti yang kau lihat, aku adalah laki-laki, apakah ada laki-laki yang tidak bisa digambarkan hanya dengan kata cantik dan tampan disaat bersamaan sepertiku di dunia ini?" ujar Alican dengan narsis nya membuat Hayeo yang memakan cemilan nya tersedak.
"Ah, ya, sampai sekarang aku masih bingung kenapa kepribadian ganda milik Arya adalah laki-laki gila sepertimu?! Sudah gila, narsis pula, benar-benar wajib untuk dimusnahkan!!? Dan pria cantik? Banyak tuh di rumah Seeju*" cibir Hayeo berhasil membuat pelipis Alican berdenyut-denyut karena kesal.
^^^(Rumah Seeju \= rumah bordil pria)^^^
"Br3ngs3k, beraninya kamu membandingkan ku dengan para uke-uke yang ada di sana, aku laki-laki normal yang menyukai kecantikan, walaupun aku menyukai yang belok, aku harus menjadi pihak atas(seme), si4lan, untung saja Arya gak ngerti tentang dunia luar yang menakutkan sepeti itu, aman!! Dan kau, jangan bilang kau masih saja jadi kaum Fujo tingkat akut!!"
perkataan Alican berhasil membuat semua orang terperangah, begitu pula dengan Zaint yang baru saja mencerna apa yang didengarnya ikut membuka mulut nya sedikit. Benarkah ini sisi lain anaknya, terlalu blak-blakan!!!
"Dasar gila, anjink rabies kau hah, kenapa kau sangat blak-blakan seperti itu hah, lihatlah sekeliling mu kalau mau bicara, bangs*t!!!" teriak Hayeo menutup mulut Alican
"Dan lagi, walaupun aku Fujo tingkat akut maksudnya apa coba?!" teriak Hayeo dengan telinga merah.
"Ouh, kau pura-pura polos? baik. Saat kau melihat dua orang laki-laki bergandengan tangan pergi ke toilet walau kau tahu mereka tidak seperti 'itu' tetap saja otakmu itu bergerak dengan kecepatan 4G. Lebih cepat dari kereta listrik"
"Mana ada!!?" sahut Hayeo menyangkal dengan wajah yang semakin memerah.
"Oh, begitu kah? Baiklah, jawablah dengan cepat, berapa panjang milik Caius?" tanya Alican dengan cepat.
Hayeo yang kaget tanpa sadar menjawab, "±60 cm, tembus tenggorokan"
"Ha, katanya polos" ujar Alican merangkul bahu Lili yang sudah berdiri di samping kakaknya.
"Ah, i-itu... " jawab Hayeo dengan gagap. Tapi tiba-tiba dia mengernyitkan keningnya bingung.
"Kau, tahu yang seperti itu? Kau pernah menonton?" tanya Hayeo pada Alican yang masih terlihat santai.
"Tidak, aku tidak menonton anime yang seperti itu, aku tidak suka yang virtual aku hanya pernah melihat yang live" perkataan Alican berhasil membuat Hayeo terperangah.
"Kau... Kau membawa tubuh Arya ke tempat seperti itu!?" tanya Hayeo dengan tidak percaya.
"Mau bagaimana lagi, lagian Arya tidak tahu menahu apapun!" Alican mengangkat bahunya sembari mengerutkan keningnya. Dia melirik sedikit kearah Lili dan berkata.
"Yah, walau begitu polos, Arya tetap membiarkan Bumerang ada disisinya. 'Diriku' itu benar-benar tidak merasa terbebani ya?!" ucap Alican memegang dagu Lili.
"kau sedang membicarakan apa?" kata Hayeo memicingkan matanya curiga.
"Jadi bagaimana kau bisa ada dan kembali keluar!? You know dengan adanya dirimu sebagai 'dirinya yang lain' itu akan menyebabkan terjadinya butterfly effect, tahu!?" tanya Hayeo mengalihkan pembicaraan.
^^^(Butterfly effect \= perubahan yang bisa membawa merubah sekitarnya juga)^^^
"Hmph, jika bukan karena 'dia' mungkin aku tidak akan ada sebagai sisi lain Arya. Haha, sepertinya sampai sekarang aku masih memiliki kebencian padanya!!" geram Alican menggenggam angin kosong di tangannya dengan erat. Terlintas dimatanya kebencian dan kekejaman yang tak terkira dalamnya.
"Siapa? Ibumu?" tanya Hayeo penasaran. Zaint langsung mengernyitkan keningnya.
Ibu?
Ibu dari anaknya kan sudah mati?
Alican sedikit menoleh lalu menggeleng, "kau tidak akan percaya, jadi kau tidak perlu tahu" jawab Alican sedikit melipat tangannya.
"Bisakah aku tahu siapa itu?" tanya Hayeo pada Alican.
Alican berfikir sejenak lalu menjawab, "Kau tahu kan, tidak ada yang gratis di dunia ini, kau harus memberiku imbalan " ujar Alican mengangkat bahunya.
"Baik, jadi kamu mau apa?" tanya Hayeo menghela nafas pasrah.
"Apa mau ku? Berikan tanganmu!" ucap Alican menengadahkan tangannya.
Semua orang bingung mengapa Alican meminta tangan Hayeo. Termasuk Hayeo nya sendiri. Dia memberikan tangannya begitu saja dengan hampa. Tapi firasat buruk tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhnya.
Dia mencoba menghilangkan pikiran buruk di kepalanya dan tiba tiba tangannya terasa sakit dengan sensasi nyeri karena sebuah gigitan.
Alican tidak tanggung-tanggung jika dia menginginkan sesuatu. Sejak awal dia tertarik dengan aroma aliran darah milik Hayeo yang membuatnya terus meneguk saliva nya hampa.
Deg...
Alican memegangi dadanya dimana jantungnya berada. Semua orang panik tak terkecuali Zaint yang langsung menuruni tangga dan menahan tubuh anaknya agar tidak jatuh.
"Aduhhh... Pala aing cenat-cenut!!" desis Arya memegangi kepalanya.
"A-arya? Kamu?" tanya Hayeo memegangi tangannya yang habis digigit Alican.
"Kenapa?" tanya Arya bingung. Dia sedikit terdiam lalu merasakan sesuatu yang kental ada di mulutnya.
Glup....
Dia tanpa sadar meneguk nya dan rasa amis memenuhi indra perasa nya dia menjulurkan lidahnya keluar. Ketika lidahnya benar-benar keluar cairan darah kental keluar dan dengan bebasnya meluncur ke karpet yang dia injak. Dia menaruh tangannya di mulutnya membuat darah mengotori tangannya itu.
Arya menegakkan kepalanya mulutnya yang penuh dengan darah terbuka tanpa bisa ditutup. Dia menatap tanpa berkedip kearah Hayeo yang masih memegangi lengan nya yang masih mengalir darah segar, lalu ke tangannya.
"Ini.... Ayah... Aku..." Arya dengan gagap menjelaskan pada ayahnya yang langsung memeluknya.
Tubuh Arya memutar tak terkendali dan air mata memenuhi pelupuk mata nya. Dia sangat tidak menyukai darah mengotori tubuhnya, tapi sekarang.... Darah malah memenuhi mulutnya? Dia benar-benar tidak Terima. Dia menangis sejadi-jadinya di pelukan ayahnya.
Zaint memeluk anaknya dengan erat, rasanya dia dejavu dengan keadaan seperti ini. Ah ya, saat Arya berusia satu tahun beberapa bulan setelah acara ulang tahunnya, beberapa pembunuh bayaran memasuki kamarnya. Bukannya menangis karena akan dibunuh, anaknya malah menangis karena seluruh kamar dan tubuhnya penuh darah.
Bayangin saja betapa menyedihkan nya ekspresi anaknya saat itu. Dia tidak merasa kasihan pada anaknya, melainkan pada pembunuh yang lehernya terpisah dari tubuhnya. Itu adalah pemandangan yang benar-benar menakutkan.