
Depan gerbang Kekaisaran Ruffela...
Sudah ada lima orang anak kecil didepan gerbang masuk Kekaisaran Ruffela.
Pagi-pagi sekali Arya mendatangi kediaman Rimson dan langsung menyeret Delvan dan Lili, setelah itu mereka juga menjemput Riden dan Brian. Dan melakukan teleportasi untuk sampai di Kekaisaran Ruffela.
Saat mereka sudah sampai di Depan Gerbang Kekaisaran Ruffela, Arya menarik tangan semuanya dan masuk tapi dicegah oleh pengawal.
Arya memiringkan kepalanya dan mengeluarkan lencana nya, tanda sebagai seorang Putri. Pengawal itu langsung menunduk dan mengizinkan mereka masuk.
Saat mereka sudah masuk, pengawal itu menulis surat yang dikirimkan langsung kepada Kaisar.
Ketika masuk kedalam wilayah kekaisaran, Arya dan yang lainnya langsung disuguhkan dengan hiruk-pikuk kehidupan ibu kota Kekaisaran Ruffela yang sama sibuknya dengan di Kekaisaran Roseland.
Saat tiba di sebuah kios mainan, Arya mengambil sebuah burung mainan.
"Paman, ini bagaimana cara mainnya?" tanya Arya pada pemilik kios tersebut. Dia membolak balik burung mainan itu dengan bingung.
"Ya di terbangin lah!" sahut Delvan yang langsung mendapat kaki gepeng gratis oleh Lili.
"Haha, itu namanya burung pesan, cara kerjanya dengan mengatakan pesan yang ingin kamu katakan dan burung itu secara otomatis akan merekamnya, lalu kamu juga bisa mengisinya dengan sedikit Mana, setelah itu burung itu akan langsung terbang, jangan lupa dengan penerima pesan suara itu juga harus di sebutkan" Arya mendengar penjelasan panjang lebar dari pemilik kios dan mengangguk mengerti.
"Baiklah, harganya Berapa?" tanya Arya langsung menatap pemilik kios.
"2 keping perak 5 perunggu" jawab pemilik kios dan Arya langsung mengeluarkan satu keping emas dan memberikannya langsung kepada pemilik kios.
"Eh, kenapa 1 keping emas, ini terlalu banyak!" pemilik kios itu merasa tidak enak dan memberikan koin emas itu kembali pada Arya.
Arya pastinya menolak karena itu bukanlah sesuatu yang sulit dia berikan, namun pemilik kios itu terus saja menyodorkan koin itu membuat Arya mengambil kembali uangnya.
"Oh, ya sudah" ucap Arya sembari mengantongi uangnya kembali
^^^(Emang gak ada akhlaknya)^^^
[Hei bocah, kenapa kau mengambilnya kembali?!]
Tiba-tiba Rosiel menyahut membuat Arya mengangkat alisnya.
{Karena dia tidak mau ya sudah aku ambil balik, padahal aku sudah berbaik hati karena tadi dia ingin menjelaskan tentang burung kertas nya}
[Ya, enggak gitu juga b0d0h!! Kenapa kau tidak mengambil sesuatu dari kios itu dan berikan kembali uang itu?]
Arya memikirkan sebentar lalu memberikan kembali koin emas itu pada pemilik kios, dia melihat-lihat sebentar lalu mengambil sebuah bola, tapi anehnya ketika dia mengangkat bola itu tiba tiba dia jatuh memegangi bola itu.
Jatuhnya juga dengan gaya
"Eh? Paman ini benar-benar bola untuk anak-anak?" tanya Arya.
Pasalnya saat dia mengangkat bola itu belum sampai menekuk sikutnya tiba tiba bola itu langsung membawa tangannya kebawah dan jatuh ke tanah. Membuatnya membungkuk.
Sial ini terlalu berat untuk anak-anak!!
"Eeee, itu, anu, itu namanya bola sihir, jika dialiri Mana itu akan beraksi seperti itu" ungkap pemilik kios langsung mengangkat bola yang menimpa tangan Arya.
"Paman, tolong jujur! Ini kios mainan atau kios barang sihir, sih?!" Arya yang sudah kesal jadinya ngegas.
Ctlak....
"Bukankah sudah jelas ini adalah kios barang sihir atau lebih tepatnya toko peralatan sihir?"
Pemilik kios itu langsung menjentikkan jarinya, dan hal tidak terduga pun terjadi kios itu berubah menjadi sebuah bangunan yang cukup besar dan hampir semua isinya adalah barang-barang sihir. Bahkan pakaian pemilik kios itu juga berubah.
Arya dan yang lainnya membuka mulutnya sedikit dan memandang tidak percaya pada pemilik kios.
"Hey, kau.... Kenapa kumis mu menghilang dan kenapa penampilanmu menjadi muda? Tapi, kamu cukup tampan!"
Sudah jelas Fokus Arya berbeda dari yang lainnya. Bahkan dia mengagumi penampilan dari pemilik kios
Pemilik kios itu mendorong kacamatanya dan tersenyum.
"Terimakasih! Tapi usia ku sudah lima puluh tahun lebih loh! Huhu!" ucap pemilik kios yang memang terlihat sangat muda itu.
"Benarkah?" Arya memicingkan mata nya tidak percaya "apakah kamu memiliki hubungan dengan ayahku? usianya sudah dua puluh delapan tapi dia masih terlihat muda!" tanya Arya lagi tapi emang orangnya aja yang ngajak ribut.
"Otak mu bermasalah ya, Ar? Sejak kapan pria yang berusia dua puluh delapan tahu itu tua, hah? Itu mah namanya pamud(papa muda) atau gak duda kesepian!" sahut Lili yang langsung mendapatkan sentilan di dahinya hingga benjol oleh kakaknya, Delvan.
"Kalau ngomong itu ngotak dulu!!" Delvan yang kesal langsung melipat tangannya di dada.
Bahkan Riden dan Brian hanya menatap dengan jengah dan juga menggelengkan kepala mereka sembari menghembuskan nafas.
Arya tersenyum kikuk dan menoleh untuk melihat pemilik kios yang juga ikut terkekeh melihat kelakuan bar-bar sahabatnya.
"Tunggu sebentar ya paman tampan! Aku ingin menghubungi temanku yang lain!" kata Arya membalikan tubuhnya dan pergi ke dekat jendela.
Walau jendelanya terletak agak jauh tapi tetap terdengar oleh semuanya.
[kami sudah sampai, cepatlah jemput kami!
Dari Arya
^^^Untuk Feron]^^^
Setalah dia mengucapkan pesannya, dia langsung memasukkan Mana miliknya dan menerbangkan burung itu.
Pemilik kios sedikit tersentak mendengar nama yang diucapkan Arya dan dengan cepat bertanya.
"Feron? Bukankah itu nama pangeran? Siapa kalian?" tanya Pemilik kios itu langsung.
Delvan: "teman"
Arya: "teman"
Lili: "musuh bebuyutan"
Riden: "sepupu"
Brian: "..."
Ucap mereka serempak, tapi ketika mendengar Ucapan Lili membuat semuanya menoleh.
"Apa?" tanya Lili ketika melihat tatapan intens semuanya.
"Iya" jawab Lili agak kesal.
Arya mengingat nama panggilan keduanya ketika bertemu...
Lili memiliki nama panggilan Cabai dari Feron, karena mulutnya yang pedas.
Dan Feron memiliki nama panggilan Rubah dari Lili, karena rambutnya yang berwarna Coklat cerah.
Ketika memikirkan semua itu membuat Arya terkekeh geli.
"Oh, iya paman, hampir saja dilupakan, siapa sebenarnya paman! Penyihir?" tanya Arya mendekati Pemilik kios itu.
"Bisa dikatakan begitu, tapi pada dasarnya aku adalah mantan penyihir" jawab Pemilik kios yang ternyata adalah seorang mantan penyihir.
"Kok begitu?" Lili jadi ikut bertanya ketika mendengar kata Mantan Penyihir.
"Paman diputusin sama pacar paman yang seorang penyihir ya?" tanya Lili lagi.
"Heh, gak gitu konsepnya jubaedah!!" Arya meninggikan nada suaranya.
Hump...
Lili mendengus kesal dibuatnya.
Huft...
Sabar-sabar punya teman seperti Lili yang sukanya ngambek.
"Baiklah paman adalah mantan penyihir, kan? Kalau begitu sekarang giliran ku untuk memperkenalkan diri!! Sebenarnya sekali lihat pun kamu akan tahu jika aku memiliki ciri-ciri unik, bukan?" ucap Arya tersenyum misterius tapi terlihat elegan dan bermartabat.
Ciri-ciri unik?
Apa?
Kulit seputih salju...
Mata tajam dan dalam berwarna hijau zamrud...
Rambut merah dengan ujung bergelombang...
Sikap yang cukup baik... Tidak!!benarkah...
Senyum misterius yang mirip dengan seseorang....
Kenapa malah mirip dengan kakek tua 'itu'...
Benar-benar mirip sekuntum bunga...
Matanya juga mirip dengan tangkai bunga yang berduri.
Tunggu...!!
Jika diingat-ingat kembali itu mirip dengan kalimat 'bunga mawar berduri racun'.
benar kata-kata itu sangat mendeskripsikan gadis itu.
Wajah cantik yang menyembunyikan senjatanya dengan senyuman dan juga penampilan yang elegan dan mewah layaknya bunga mawar.
"Kau... Keturunan Roseland?" pemilik kios itu bertanya dengan ragu.
Arya mengangguk.
"Ya, benar! Kenapa?"
"Bagaimana kamu bisa bertemu dengan pangeran?"
"Ah itu..."
Ngomong ngomong, ketika mengingat pertama kalinya dia bertemu dengan Feron adalah di pasar dan saling lempar ejekan, yang intinya pertemuan pertama mereka sangat berantakan!!
"Kenapa?"
"Hah? Tidak apa!"
Arya menggelengkan kepalanya ketika Pemilik kios itu mendesaknya untuk menjawab.
"Hum, jadi... Bagaimana caranya aku membawa bola ini?" tanya Arya ketika mengingat bola sihir yang menimpa tangannya beberapa saat yang lalu.
"Ouh, gampang saja! Jangan gunakan Mana mu! Seperti ini!" jawab pemilik kios mempraktikkan mengangkat bola sihir itu kedalam kantung yang dibawa Arya.
Tunggu!
Kenapa dia yang malah memasukan bola itu kedalam kantong nya?
Arya yang mendapat bantuan gratis langsung membungkuk dan berjalan keluar meninggalkan pemilik kios yang masih linglung.
Saat keluar dari bangunan itu Arya dan yang lainnya langsung bertemu dengan Feron yang juga sedang mencari mereka.
Mereka berbincang sebentar lalu pergi ke istana untuk beristirahat.
Feron membuka pintu kamarnya hingga kamar yang berwarna coklat pudar itu menyambut pemandangan pertama mereka berempat
Arya tanpa basa basi langsung berlari dan melompat keatas kasur.
Didalam kamar itu juga ada dua pelayan wanita dan juga seorang ajudan.
"Siapkan semuanya, cemilan, teh, susu, permen, dan coklat!" perintah Feron yang langsung dilaksanakan oleh para pelayan.
"Tunggu! Bisakah kalian membawakan ku susu hangat murni?" tanya Arya membalikkan tubuhnya. Sepertinya dia benar benar kelelahan.
Dua pelayan itu langsung mengangguk dan pergi dari sana.
"Ini... Rasanya menyenangkan, bisa bebas tanpa memikirkan semua tumpukan berkas yang tidak ada habisnya" keluh Arya menyunggingkan senyum lebarnya.
"Kan kamu yang terlalu maniak kerja!" sahut Feron yang menyenderkan tubuhnya di sofa.
Arya terkekeh dan tanpa sadar matanya menutup, membawanya ke dunia seribu mimpi.
selesai.....