
Pagi hari....
Arya bangun dengan kepala pusing. Wajahnya yang putih itu terlihat linglung.
Perasaan tadi tidurnya diruang musik kok udah dikamar aja?
Gadis itu bangun dan langsung membersihkan tubuhnya. Dia tidak ingin terlalu ribet jika ingin berpakaian, cukup jangan disuruh pakai gaun panjang saja sudah bagus
Dia keluar dari kamarnya dan langsung disambut dengan udara segar pagi. Suara kicauan halus melayang di udara, sinar matahari yang menusuk mata, dan bangunan istana yang sangat tinggi dikelilingi oleh taman yang teramat luas.
Gadis itu mengedipkan matanya beberapa kali.
Dunia sedang sibuk...
Ok, jadi Arya yang seperti tidak memperdulikan dunia itu kembali masuk ke kamarnya. Dia menoleh kearah tempat tidurnya sebentar.
Kemana naga kesayangan pergi?
Arya membongkar beberapa lemarinya dan kasurnya untuk mencari naga nya; Raya.
"Kemana perginya?" Arya dengan frustasi mengobrak-abrik kamarnya sendiri hingga berantakan.
Gak ada?!
"Ngapain~?"
Dari arah jendela seorang pria dengan rambut panjang diikat keatas dan dengan netra mata merah itu memandang Arya yang terlihat panik itu santai.
"D-Dark? Raya... Aku lupa naruhnya!" ucap Arya masih mencari-cari disekitar nakasnya.
Naga hitam; Dark yang baru saja datang langsung mengangkat alisnya heran.
Raya? Siapa?
"Ugh, bayi naga ku kemana sih! Hih, kok gak ada?" gumam Arya rada kesal.
Dark memiringkan kepalanya dan wajahnya seperti ingin tertawa.
"Itukan hewan kontrak mu, kamu kan bisa memanggilnya lewat tanda kontrak?"
Arya menatap Dark agak lama sebelum dia mengalihkan pandangannya pada tangannya.
Seingat dia, dia tidak tahu dimana tanda kontraknya berada. Jadi dia sangat bingung.
"Aku tidak tahu letaknya"
Pernyataan Arya membuat Dark tertawa ngakak.
"Oh, ya ampun! Dia ini b0d0h atau b0d0h? Kok hal dasar seperti itu saja dia tidak tahu? Katanya pintar?" saking geli nya Dark pada Arya dia bahkan tertawa sampai terpingkal-pingkal.
"Apa lucunya sih anj*r!?" Arya yang kesal langsung melemparkan vas yang dia pegang.
"Fufu! Coba kamu konsentrasi lalu sebut namanya tiga kali" kata Dark menghindari lemparan vas itu
"Lalu dia keluar?" tanya Arya dengan wajah kembali tenang
"Enggak!" jawab Dark dengan nada mengejek
Arya yang mendengar jawaban singkat tapi gak guna itu kembali kesal dan kali ini pisau kertas yang jadi senjatanya.
^^^(pisau yang digunakan untuk membuka surat)^^^
"He-hey, aku bercanda! Iya itu berhasil, cobalah!"
Arya mengerutkan keningnya, walau dia kesal tapi dia ingin mencobanya. Apa salahnya, tak ada yang tak mungkinkan, yang ada yang tak bisa tidak mungkin jadi bisa kalau gak ada usaha, intinya usaha dan yakin saja.
Tak lama kemudian lingkaran sihir berwarna hitam dan biru keluar dari tubuh Arya secara bertahap.
Dark bahkan sampai heran ketika melihat lingkaran itu.
Lingkaran yang aneh...!
"Mengandung sihir yang kuat, mana yang berlimpah... Tunggu! Mana yang berlimpah? Inikan....?"
Perlahan lingkaran itu menghilang bersamaan dengan seekor naga kecil muncul.
Arya membuka matanya dan menangkap naga kecil itu ke pelukannya.
"Sial, kamu melakukan kontrak hidup dan mati? Kok aku gak tahu! Kamu berbagi Mana dengan naga ini kah?"
Arya yang tiba-tiba mendengar suara Dark langsung menoleh.
"Kontrak hidup dan mati? bukan nya kontrak jiwa? Kenapa yang lainnya gak sama?"
^^^(Maksudnya itu Delvan, Emilly, sama Riden)^^^
"Siapa bilang? Milikmu spesial, kalau biasanya hewan kontraknya mati itu tidak akan berpengaruh pada tuannya, lain lagi denganmu, jika hewan kontak mu mati, kamu juga mati! Itu lah yang membuatmu jadi berbeda"
Arya yang mendengar kata-kata Dark seketika membulatkan matanya sempurna.
Raya mati, dia juga mati?
Whhaaatttt!!
"Gila ya?" umpat Arya mencubit tubuhnya sendiri.
Waras kok masih!
Dark memutar kepalanya dan memandang kearah lain.
Seharusnya bukan naga itu, tapi orang lain!
Kenapa waktunya bertepatan dengan pecahnya telur naga sih! Kan jadi salah kontrak!?
Kapan dia akan datang? Dia ada masalah kah?
Dark tersentak sebentar...
Tunggu! Dark mengerutkan kening, dari tadi dia memikirkan siapa? Kenapa harus ditunggu? Kenapa harus dibandingkan dengan naga kontrak nya Arya? Kenapa dia merasa kecewa?!
Argh! Entah kenapa Dark malah memikirkan seseorang yang cukup gila, memangnya apa hubungan orang itu dengan Arya?!
Aih, ingatannya kenapa jadi campur aduk gitu sih!?
Dark yang pusing memikirkan apa yang sepertinya pernah terjadi dimasa lalu membuatnya tidak tenang.
"Aku pergi dulu, nanti aku akan datang lagi"
"Ya, pergi sana! Jangan datang lagi dalam waktu dekat juga gak ngapa-ngapa!"
Arya menaruh naga itu di pelukannya dan pergi ke luar untuk menikmati waktu yang sudah menunjukan pukul 10.17
"Kamu yang makin berat, atau aku yang lagi lapar sih? kok terasa bawa beban dosa ya?"
"Draaaaa~" (majikan sangat jahat~)
Arya membuka ruang makannya dan sudah banyak makanan yang tersedia. Semua sajian itu tersaji dengan rapi, wangi masakan itu menyeruak masuk ke indra penciuman Arya, membuat cacing yang ada diperut gadis itu bergeliat.
"Kamu lapar Raya? Makan kuy! Terimakasih untuk makanannya kepala koki!" ucap Arya menaruh Raya di atas meja dengan daging yang disajikan khusus untuk Naga itu.
Kepala koki hanya tersenyum lalu menunduk. Dia perlahan mundur dan menghilang di sela-sela pintu.
Arya mulai makan daging ikan rebus dengan tenang, dia ingin menenangkan hatinya yang sedikit aneh.
Dari arah jauh ada suara tapak kaki yang cukup kecil membuat gadis yang sedang makan itu melirik kearah pintu.
"Siapa yang datang kesini jam segini?"
Pintu terbuka membuat Arya yang sebelumnya ada selera untuk makan menjadi beku seketika.
Netra hijau zamrud nya bergetar d sedikit ketika mata itu menatap pada seorang pria tinggi dengan pakaian resminya memasuki ruang makan.
Ke-kenapa dia disini?
"Ar--"
"Saya sudah selesai, permisi!"
Arya berjalan melewati tubuh tinggi pria itu begitu saja. Dia seperti nya sangat kecewa dengan apa yang sebelumnya terjadi. Dia lelah hati maupun pikirannya, dia butuh istirahat. Yah paling tidak, dia ingin untuk tidak melihat ayahnya beberapa waktu saja.
Tama yang berada dibelakangnya mendadak tremor. Dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menghentikan 'Kaisar yang datang tiba-tiba' itu untuk bertemu anaknya, hanya saja gagal.
Sedangkan Zaint yang diabaikan oleh anaknya hanya diam membeku ditempat. Dia tidak menyangka anaknya akan benar-benar membencinya bahkan sampai tidak menganggapnya. Separah apa anak itu membencinya?
Arya yang tidak bisa makan dengan tenang hanya bisa menghela nafasnya panjang. Dia lapar dan dia butuh makan!
π¨ πβ’β’β’β’β’β’πΈπ¨
Ruang Kepala Akademi....
"Elvin! Cepat dimana aku menaruh surat rekomendasi?!"
Seseorang yang merasa namanya dipanggil dengan tergesa-gesa mendatangi ruangan majikannya.
"Delvina Nyonya! Surat rekomendasi? Seingat saya anda menaruhnya di laci, setiap tahun kan anda hanya mengeluarkan 3 surat? Apa ada perubahan?"
Padahal dia perempuan
Wanita berambut ombre ungu itu tersenyum dan mengangguk.
"Tahun ini aku akan mengeluarkan '5' surat rekomendasi!"
Wanita bernama Delvina itu hanya sedikit bingung dan memiringkan Kepalanya.
Li-lima? Banyak sekali!?
"Si-siapa-siapa saja?"
Wanita yang ditanyain soal itu hanya bisa mengangkat alisnya.
"Dua orang anak pintar, hanya saja usia mereka masih belum memenuhi standar"
Delvina kembali mengerutkan kening nya ketika mendengar kalimat dari wanita dihadapannya.
"Maksud anda dibawah usia 10 tahun?"
"Iya!"
"Sembilan tahun?"
"Tidak"
"Lalu? Berapa?"
"Delapan tahun"
"Eh! Semuda itu?"
"Hu'um"
Setelah wanita berambut ombre ungu itu menemukan surat rekomendasinya, dia dengan cepat menulis beberapa detail yang diperlukan dan langsung mengirimnya dengan sihir ketempat Arya dan Emilly.
Dia tidak bisa menyia-nyiakan, potensi dari dua anak itu kan? Jadi, dia akan menerima dua anak itu langsung. Lagipula tinggi mereka cukup untuk masuk Akademi(hanya usia saja tidak mendukung). Paling tidak itu sudah cukup.
"Nyonya, anda ingin pergi kemana?" tanya Delvina yang melihat wanita itu berniat ingin pergi lagi.
"Kemana saja boleh dong!"
ββββββπ π±π ββββββ‘
Arya yang baru selesai mencari makanan kembali ke kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya.
Dia dengan kasar merebahkan tubuhnya di kasur dan memutar mainan gantung nya hingga berbunyi gemerincing.
Mungkin untuk beberapa waktu ke depan dia tidak ingin bekerja lagi. Dia ingin menikmati hidup anak-anak nya dengan hanya rebahan terlebih dahulu.
Habiskan waktu mu bersantai sebelum waktumu yang menghabisi santaimu!
Capek prennnn....βΏοΈβ¨οΈπ£
Jangan lupa like and komenβΊοΈ
#Gachagabut