The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
126



Rokan, karakter yang hampir terlupakan, kini hadir kembali dengan kondisi yang tidak terduga.


Tubuhnya yang memar di beberapa bagian terekspos dengan jelas.


Ah, rasanya sakit...


Dia menggigit bibirnya erat sampai mengeluarkan cairan kental.


Dia merasa jika situasinya saat ini benar-benar menyedihkan. Tiga temannya menyerangnya karena keluarganya bangkrut.


Bukan dia yang menyebabkan keluarganya mengalami kejatuhan. Dan lagi selama ini dia tinggal di akademi dan tidak pernah pulang kerumahnya, lalu kenapa dia yang disalahkan? Dasar manusia-manusia itu...


Selama delapan bulan terakhir, bahkan tak ada hari dimana dia bisa pulang. Keluarganya ingin dia hanya fokus pada pendidikannya agar mendapatkan posisi yang bisa menunjang hidupnya sendiri alih-alih keluarganya.


Tapi lihatlah apa yang terjadi sekarang.


Dia memang anak nakal tapi... Itu tidak membuat alasan pada teman-temannya membuangnya kan.


Kenapa mereka melakukannya, padahal kan mereka sahabat sejak awal. Kenapa mereka berubah sedemikian rupa hingga dia sendiri tidak mengenali mereka.


****


Arya menaikkan alisnya sembrono. Matanya terlihat bertanya-tanya siapakah gerangan yang baru saja terbang bak pesawat tempur melewatinya.


Gadis itu menoleh kearah sumber tubuh terbang tadi, ada tiga orang yang ada di sana, dia menoleh kearah berlawanan dan ada satu anak yang sekiranya familiar di ingatannya sedang meringkuk kesakitan.


Siapa ya?


Tiga orang anak yang melihat keberadaan Arya yang tiba-tiba datang menjadi gelagapan.


Mereka berlari menjauh tapi Arya menangkap mereka dengan kekuatan sihirnya. Sudah cukup lama dia tidak merasakan sensasi menggunakan sihir.


Arya membuka mulutnya dan suaranya sedikit menggema.


"Kalian ada masalah hidup ya? Seperti gak punya adabnya deh" Arya mengeluarkan permen dari sakunya dan memakannya, "yah, paling tidak kalian harus minta maaf kan kalau bikin masalah?"


Arya menyeret ketiga anak itu kearah anak yang meringkuk di tembok. Dia memaksa ketiganya membungkuk, ah tidak, dia memaksanya bersujud dengan sihirnya,


"Cepat, minta maaf, jika tidak aku tidak masalah menghancurkan 'bintang' kalian" ancam Arya dengan malas.


Anak yang meringkuk itu mengangkat kepalanya dengan gemetar. Pandangannya kabur dan rasanya seperti beberapa tulangnya patah. Tapi, orang yang ada didepannya itu, dia bisa melihatnya walau tidak jelas.


Laki-laki cantik...


Arya masih menekan ketiga anak itu semakin kuat. Ada senyum aneh terukir diwajahnya.


Pyop....


Tak ada keraguan dalam tindakannya saat dia memecahkan satu bintang milik salah satu dari tiga orang itu. Dia tidak pernah bohong tentang ucapan nya.


"Meh! Terlalu banyak jeda" anak yang di bintang nya dipecahkan mengerang dengan menyedihkan. Tak ada kehangatan dimata Arya, dia seperti menikmati suara yang mengalun di bawahnya. Kekehan yang dibuatnya seperti merasa jika situasi saat ini sedikit lucu.


Dua anak yang melihat hal itu merinding dan menangis. Mereka menunduk dan bersujud kearah Rokan. Tak ada yang tahu apa yang terjadi selanjutnya, Arya hanya membuang ketiga anak itu entah kemana dan membantu Rokan berdiri.


"Kamu... Bodoh ya? Kok mau aja dihajar sama kotoran seperti mereka?" gerutu Arya memapah Rokan keruang perawatan.


Rokan terdiam, tidak ada yang tahu apa yang dipikirkan olehnya. "Terimakasih" lirihnya mengeratkan bibirnya.


Hhhhhh....


Arya berjalan kearah alat komunikasi diruang itu lalu menghubungi perawat. Setelah selesai dia mengambil air dan lap kecil.


"Meh, sini! Buka mulutmu" gadis itu menarik dagu remaja itu mendekatinya.


"Eeh, g-gak usaah..!" elak Rokan mencoba melepaskan cengkraman Arya.


Duag... Arya memukul kepala remaja itu cukup keras. "Diam!" ancam nya.


Perlahan Arya mengusap bibir nya yang mulai bengkak seperti di sentok tawon. "Gila ya, ngapain gigit bibir sih?"


"Kalau dipukul tuh balas! Kalau gak bisa mukul paling tidak tampar lah, jambak kek, gigit kek, tusuk batu juga bisa cari yang runcing, kamu itu laki-laki, kok gak bisa ngelawan sih! Greget banget!!" ceramah Arya yang dengan gemas menekan bibir itu cukup membuat sang empunya meringis.


"Ta-tapi mereka itu kuat?" gumam Rokan menunduk.


"Hih, jangan nunduk, woy!" Arya menarik dagunya sedikit kasar, "kalau mereka kuat memang kenapa? Jadi lebih kuat, kan bisa? Kok masalah gampang di sulitkan sih?"


"Tapi keluarga mereka kay--"


"Haah?? Sekarang status? Kamu dari Kekaisaran mana sih?" kesal Arya menampar kecil pipi Rokan beberapa kali.


"Roseland"


"Hah?"


••Loading bentar••


"Heeeh?" kaget, Arya melangkah mundur. Jadi, mereka satu benua, gitu?


"Kenapa?"


"Jurusan mu apa?"


"Sihir"


Aha


"Orang tuamu siapa?"


"Kok nanyanya orang tua?"


"Udah jawab aja, siapa tahu kenal!"


"Itu privasi tahu!" tolak Rokan mentah.


Arya menarik lengan bajunya ingin mulai 'membully' anak didepannya.


Beberapa saat kemudian, Rokan dengan kesal campur marah mengusap pipinya yang memerah. "Penyihir agung itu kakekku, ibuku adalah putrinya, ayahku baron yang lumayan kaya, tapi karena beberapa hal, ayah dan kakekku tidak akur, dan beberapa hari yang lalu aku baru tahu jika ayahku meninggal saat perang, dan setelahnya kau tahu apa yang terjadi kan, harta benda keluargaku diambil kerabat yang lebih tinggi pangkatnya"


Arya mengedipkan matanya sambil fokus pada ceritanya. "Katamu kakekmu penyihir agung? Apakah tuan Tarte? Apa kakek mu tahu situasimu sekarang?" Arya kenal orang itu, dia adalah guru sihirnya saat berusia 5-sekarang.


"Kamu tahu kakekku?"


Arya mengangguk dan memikirkan beberapa hal. "Yah, dia guru sihir tuan putri kan?"


"Oh kau tahu? Siapa kamu?" tanya Rokan bingung dan curiga dengan identitas Arya.


Aku sang putri; gak mungkin Arya akan bilang begitu kan?


Arya mengangkat bahunya dan berjalan mendekati lemari untuk mengambil beberapa kain perban.


"Kamu punya paman?" tanya Rokan pelan.


"... Iya" ucap Arya mengangguk.


"Apa? Kamu tak percaya?" tanya Arya melihat tatapan anak itu.


"Enggak juga"


Arya berjalan kembali ke kursi dan membuka beberapa kain perban. untuk mengikat kepala Rokan yang sudah dibersihkan dari darah.


"Penyihir agung punya berapa anak?"


"Hanya ibuku"


"Ah... Aku paham, jadi kakekmu tidak merestui hubungan ayah-ibumu karena selain status adalah karena anak satu-satunya, kalau itu sih aku paham" ucap Arya menganggukkan kepalanya.


"Memang kamu mau jadi apa saat sudah dewasa?" tanya Arya lagi.


"Menjadi? Aku ingin bekerja di istana, gaji bulanan nya itu cukup membuat hidup nyaman"


Arya membuka matanya geli, "Kerja di istana itu berat tahu, bisa saja kamu mati dihari kedua, siapa tahu kan?"


"Tidak mungkin"


"Ya terserah saja lah"


Arya yang tahu dan sangat paham dengan situasi pegawai yang ada di istana. Haha, salah satunya ya Tama :v


Btw, dia sudah cukup lama tidak ikut rapat, benar kan?


Beberapa saat kemudian perawat masuk dan mengecek keadaan Rokan yang sedang berbaring.


Setelah selesai menjalani perawatan ringan, Rokan kembali keasramanya dengan diikuti Arya dari belakang.


"Kenapa kamu mengikuti ku?"


Arya mengangkat alisnya, "memang kenapa?"


"Ti-tidak, hanya saja ini asrama..."


"Laki-laki?"


"..."


"Apa? Aku laki-laki!"


Jika itu adalah Feron mungkin di dia akan memecahkan dinding saat mendengarkan perkataan Arya.


"Kenapa kamu tidak kembali ke asrama mu?"


Arya menjawab seadanya yang dia ingin jawab, walaupun dia tetap mengikuti remaja laki-laki itu.


Tak ada yang berlalu-lalang di koridor asrama, tapi rasanya banyak yang mengawasi mereka.


Rokan membuka salah satu kamar dan masuk. Ada bau aneh yang tercium dari ruangan. Seperti ruangan yang tidak dibersihkan bertahun-tahun, sangat berdebu.


"Ini kamar asrama mu? Kok kosong? Banyak debunya lagi! Kamu tidak tinggal dengan teman-temanmu yang lain?"


"Oh, tempat yang lain... Aku diusir ehehe!" ucap Rokan tertawa canggung.


Arya membuka bibirnya tapi tak ada yang bisa keluar darinya. Malang banget nih anak!?


"Em, sebentar aku bereskan"


"Yaudah, aku mau ketempat seseorang dulu"


Arya pergi meninggalkan Rokan yang sedikit merasa malu karena kamarnya yang seperti gudang.


Tok... Tok...


Arya mengetuk kamar asrama milik Feron dan Riden. Ada dua jenis asrama di setiap jurusan, ada yang khusus perempuan dan laki-laki. Walau begitu, kedua jenis kamar itu ada di satu asrama.


Seseorang keluar dengan kacamata tertaut di hidungnya. "Iya, cari siapa?"


"Apakah Feron nya ada?" tanya Arya langsung.


Orang itu mengangguk lalu kembali masuk, mungkin memanggil Feron.


Beberapa saat kemudian Feron keluar dengan wajah berseri.


"Ada apa?"


"Kamarmu masih ada tempat kosong?"


Feron melirik kedalam sebelum bertanya, "iya ada, kenapa? Kamu mau tinggal disini?"


"Gak, makasih, aku ingin kamu memasukkan satu orang, bisa?"


"Siapa?"


"Bentar"


Arya pergi lalu kembali lagi sambil menarik Rokan dibelakangnya. Dia berhenti tepat didepan Feron yang berwajah aneh.


"Dia?"


"Iya" angguk Arya.


"Dia?" tanya Feron lagi, tapi wajahnya kali ini sepertinya benar-benar aneh.


"Ada apa?" tanya Arya menoleh kearah kedua orang itu.


"Kamu gak tahu kelakuan nya, ya?!"


"Maksudnya? Ada apa memangnya??" Arya yang kebingungan sekali lagi menatap keduanya bergantian.


$$$$$$$$$✒


Wokay, selesai!!


Komen ≥10 untuk up selanjutnya~