
Arya yang masih terdiam di tanah tanpa bergerak, masih merasa syok.
Dia sedikit mengingat penampilan pria berjubah itu...
Mata hijau zamrud yang bersinar ketika diterpa sinar bulan milik pria berjubah itu malah mengingatkannya pada Zaint.
Senyum menyeringai keji nya pun hampir mirip, hanya saja wajahnya tidak terlihat jelas. Tapi yang jelas aura pria itu sangat pekat dengan warna hitam dan merah yang terus berputar-putar, menghasilkan tekanan yang menakutkan.
Dia baru tersadar ketika dia mendengar erangan milik Lili. Dia segera berbalik menatap gadis itu yang juga sudah jatuh bersimpuh di tanah memegangi perutnya kesakitan. Sedangkan Delvan terluka di bahunya terkena sabetan senjata tajam.
Arya bangun dari tanah dan langsung menghampiri teman temannya. Dia bahkan tidak menyadari jika saat ini lehernya terus mengalir darah segar. Yang dia khawatirkan hanyalah teman temannya.
"Dia kenapa?" tanya Arya setibanya di samping teman-teman nya.
"Perutnya tertusuk benda tajam dari para undead tadi" jawab Delvan yang mencoba menahan pundak adiknya. Padahal dia sendiri terluka
"Apa?!"
"Dari pada itu, bukankah lehermu juga sangat bermasalah?" ucapan Riden menyentuh leher Arya menyeka darahnya, tapi itu sia-sia karena darahnya tidak mau berhenti membuat semua orang terkejut.
Tidak mungkin luka seperti itu tidak bisa di regenerasi bukan?
Tapi, kenapa lukanya masih terbuka dan mengeluarkan darahnya?
Ketika Riden menyentuh lehernya, akhirnya Arya menyadari jika ternyata lehernya seperti tersayat dengan luka yang mirip dengan sisa cekikan pria berjubah itu.
Mungkin kah....?
"Apakah diantara kalian ini ada yang bisa sihir penyembuhan?" tanya Arya menatap semua penjaga yang ada di sana, tapi sayangnya semuanya menggelengkan kepala mereka.
"Tidak berguna!!" sungut Arya kesal.
Semua penjaga bayangannya hanya mengerutkan bibir mereka bersalah dan menunduk. Jika Arya sudah mengeluarkan suara tanpa suhu seperti itu, kemungkinan terbesarnya hanya dua, dia teramat marah atau dia sudah diujung kesabarannya.
Tunggu, setelah diingat-ingat kembali, Arya sebenarnya punya kenalan yang bisa sihir penyembuhan.
Itu dia!
"Semuanya merapat! Kalian juga! Jangan ada yang berada diluar lingkaran sihir!" Arya berteriak sembari membuat sihir teleportasi nya. Dia membuat lingkaran yang lumayan besar dengan menghabiskan sekitar setengah Mana miliknya.
Mereka langsung berteleportasi ketempat Archduke Marlin. Setibanya di sana, Arya tanpa pikir panjang langsung mengetuk pintunya dan seketika jatuh pingsan ditempat, untungnya ada Brian yang sigap menangkap tubuh lunglai Arya.
Beberapa saat kemudian pintu terbuka menampilkan seorang gadis yang menggosok matanya dan menguap.
"Siapa? Kenapa malam-malam berkun-- Arya?!" ketika gadis itu membuka matanya dengan sempurna dia langsung terkejut. "Cepat masuk! Apa yang terjadi pada kalian?" tanyanya membukakan pintunya dengan lebar.
Brian dan Delvan masuk sambil menggendong kedua gadis yang terluka itu ala bridal style.
"Itu tidak penting untuk sekarang! Kemana harus dibawa ini?! Berat woy!!" ujar Delvan yang sedang membawa tubuh adiknya yang semakin lemas.
^^^(Sempat-sempatnya_-;)^^^
"Ah, bawa mereka ke kamar itu saja!" tunjuk Kesha pada salah satu ruangan yang berada di lantai satu itu.
Semuanya bergegas memasuki ruangan itu, sedangkan Kesha langsung berlari ke lantai tiga tempat ayahnya bekerja. Biasanya jam segini ayahnya belum tidur. (Pas chapter sebelumnya kan udah tau kalau) Kesha tidak tahu bagaimana menggunakan sihir penyembuhan. Dia hanya bisa melihat benang merah takdir(sedikit mirip saintess, tapi bukan)
"Ayah, ayah! Cepat turun, keadaan darurat!! Cepat!! Emergency ini loh, yah!!!" teriak Kesha memasuki ruang kerja ayahnya. Sion hanya menoleh dan mengernyitkan kening nya bingung.
Darurat apa?
Emergency apa?
"Apanya?" tanya sion bingung. Jarang banget anaknya itu panik kek gini biasanya kalem. Pertama kalinya dia panik kan pas ada...
"Arya datang, hampir mati tapi masih pingsan!" ucap Kesha kelewat panik.
Sion menghela nafas kasar.
Benarkan, pasti gara gara anak Sebiji kaisar, kan?!
"Yang bener yang mana?" tanya Sion makin bingung.
Kesha yang sudah kesal langsung menarik ayahnya untuk mendatangi ruangan milik Arya dan yang lain nya berada.
Ketika Sion menatap dua gadis yang tepar di kasur dia langsung terkejut.
Riden menyenderkan tubuhnya di pojok dinding. Dia memiliki luka di pergelangan kakinya karena dia tidak terlalu memperhatikan serangan yang tiba tiba menyerang nya dari belakang.
"Apa yang terjadi pada mereka?!" tanya Sion langsung menggunakan sihir penyembuhnya pada Lili. Dia menutup luka milik gadis itu dan langsung berpindah ke Arya.
"Itu, kami tiba tiba diserang oleh para Undead" balas Delvan yang duduk di samping adiknya.
Sion sedikit membeku dan langsung menoleh kearah Delvan, "Undead? Maksudmu makhluk panggilan yang terlarang itu? Mayat hidup yang dilarang keberadaan nya?!" Sion mencoba untuk tidak percaya tapi anggukan dari semua orang yang ada di ruangan itu(kecuali Kesha) membuatnya mau tak mau harus percaya.
Dia mengernyit lalu dengan tenang memegang luka Arya. Ketika dia menyentuh lehernya hal yang dia rasakan membuatnya langsung menarik tangannya.
Walau terasa agak tipis, tapi bekas luka itu tidak terkena kekuatan sihir biasa, itu lebih mirip dengan.... sihir gelap.
Dia dengan ragu kembali menempelkan jarinya untuk memastikan apakah pikirannya keliru.
Tapi sekali lagi kekuatan yang menakutkan kembali menguar dari luka itu.
Dia bukanlah orang yang akan membiarkan hal seperti itu begitu saja pada seorang anak kecil, apalagi gadis kecil.
Semakin lama sihir gelap(hitam) didalam tubuh seseorang maka itu akan semakin berbahaya apalagi ini adalah tubuh seorang gadis kecil yang usianya saja belum sampai sepuluh tahun. Hal terburuk adalah sihir gelap itu bisa menyerap daya hidup orang yang terkena olehnya dan akhirnya mati.
∆¶¶¶¶¶∆
Ruang kerja Zaint....
Saat ini Zaint terus menatap kearah foto anaknya yang sudah direncanakan akan datang dua hari lagi. Tapi, foto yang dipegangnya bingkai nya pecah menyebabkan beberapa bagian dari Foto itu rusak, tapi tidak parah.
Perasaannya sangat tidak enak saat ini.
Sebelumnya, Pagi hari ketika dia sedang mengerjakan sisa berkasnya untuk minggu ini, tiba-tiba tinta yang disediakan di ruangannya itu tumpah berserakan padahal tidak ada yang menggerakkannya.
Lalu saat siang hari ketika waktu untuk minum teh tiba-tiba cangkir yang dipegangnya pecah berhamburan di lantai.
Dan sore harinya, ketika dia ingin merebahkan tubuhnya, tak ada angin, tak ada badai tornado, tiba-tiba foto dirinya dan anaknya yang ditaruh olehnya di dinding terjatuh dan pecah seketika. Ketika dia mengangkat foto yang pecah itu, anehnya hanya foto anaknya yang sedikit terkoyak.
Perasaan buruk yang tidak diinginkan tiba-tiba naik kepermukaan hatinya.
Apakah terjadi sesuatu?
dia tidak mati kan?
Dia mencoba berfikir positif thinking tapi malah berakhir jadi overthinking.
^¥¥¥¥¥¥^
Di ruangan gelap sedikit pencahayaan bulan.....
Seorang pria tinggi yang sedang menunggu didepan sebuah jendela besar memandang ke langit malam.
Beberapa saat kemudian...
"Bagaimana?"
Pria berjubah yang baru saja masuk menoleh sedikit menatap pria yang duduk di depan jendela dengan pandangan samar.
Pria dengan mata hijau Zamrud itu menyeringai, "ya, aku berhasil melukainya berkat kekuatanmu" pria berjubah itu melepaskan jubahnya dan menaruhnya di kursi yang agak jauh dari pria yang duduk di depan jendela.
"Kau tidak membunuhnya, kan?" tanya pria yang duduk didepan jendela itu menoleh. Matanya samar samar berubah menjadi Ungu tapi tidak terlalu jelas.
"Tentu saja tidak, tapi teman gadisnya sepertinya memiliki luka cukup dalam, hm tembus belakang sepertinya? Bagaimana menurutmu?" tanya pria bermata Hijau Zamrud itu menggosok dagunya.
"Itu tidak masalah, bahkan jika gadis itu mati bukan hal sulit, masalahnya adalah pada Putri Kaisar itu, tidak ada buah yang jatuh jauh dari pohonnya!" ucap pria yang duduk didepan jendela itu menuangkan Wine di dua gelas dan mendorongnya ke depan pria bermata hijau Zamrud.
"Ya, kau benar! Hanya saja aku ingin bermain-main dengan keduanya, aku ingin melempar dua burung dengan satu batu" pria bermata hijau Zamrud itu mengulurkan tangan nya untuk menerima gelas.
"ah benar, anak laki-laki yang terlihat seperti kakaknya gadis yang terluka itu juga terluka, sedangkan dua lainya lukanya sedikit ringan"
"Tidak apa? Mereka semua hanya bidak untuk melengkapi permainan yang baru saja dimulai ini, mereka akan tersingkir dengan mudah" ucap pria itu dengan entengnya, dia mengeluarkan papan catur dan mereka bermain.
"Kau tahu? Kaisar bukan lah rajanya tapi dia juga bukan pion nya, orang yang selalu bersembunyi dan mengatur segalanya secara diam diam adalah Sang Putri, walau dia terlihat ceria dan sifatnya acak, terkadang dia juga bisa menunjukan sisi aslinya. Jika dia adalah salah satu dari bidak catur ini maka dia adalah pion yang sebenarnya. Tanpa kita sadari terkadang dia adalah orang yang bisa membunuh Sang Raja! Hm, skakmat!" selagi menjelaskan pria yang memiliki mata ungu samar itu menjalankan pion nya dan langsung memakan Sang Raja milik Pria bermata Hijau Zamrud.
Pria bermata hijau Zamrud itu tercekat, dia memandang tak percaya pada pion yang berdiri kokoh ditempat kematian Sang Raja miliknya.
"Hei, itu agak..." pria bermata hijau Zamrud itu tidak menyadari jika ada sebuah pion didepan Rajanya makanya dia sangat terkejut melihat Rajanya tiba-tiba dimakan begitu saja.
"Jadi jika kau benar-benar ingin mendapatkan apa yang kau inginkan, kau harus mencoba menyingkirkan orang terdekatnya dahulu, buat mentalnya down itu akan mempermudah rencananya!"
"Sama seperti pion ini, dia tersamar oleh bidak yang lain makanya tidak ada yang menyadari keberadaan nya"
••••••••
••••••••
••••••••
••••••••
Yok-yok di like and komen🤗✌👍