The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
PERTENGKARAN KECIL



"Linaaa~! Kamu dimana?!" Arya berteriak kencang sambil menyusuri setiap ruangan dilantai tiga. Karena lantai tiga dipenuhi dengan foto, maka lantai tiga Arya namai dengan nama 'Lantai Galeri'.


Foto yang tersimpan di lantai tiga itu, Arya bahkan tidak tahu siapa. Hampir semua foto adalah gambar  seorang wanita atau wanita dengan anak laki-laki.


Sepertinya itu foto para permaisuri (?) bersama pangeran yang mereka lahirkan.


^w^j


Lina yang mendengar teriakkan Arya langsung keluar dan memeluk Arya.


"Putri, akhirnya anda kembali" ucap Lina memeluk Arya.


Arya membalas pelukan Lina. Lina adalah pengasuh yang dia miliki. Menurutnya Lina bagaikan ibu nya, itu adalah pertama kalinya dia memiliki ibu yang lembut padanya.


"Hehe, aku lama ya?"


Lina melepas pelukan nya dan tersenyum mengusap matanya yang sedikit mengeluarkan embun.


"Tentu saja" wanita itu bangun dari tempatnya berjongkok.


Arya memegang tangan Lina dan menariknya untuk berjalan-jalan.


"Baru juga beberapa bulan"


"Sudah setengah tahun Putri"


"..."


Apa karena dia terlalu banyak belajar, dia bahkan hampir lupa berapa bulan dia ada di Akademi tinggal.


"Em, tenang saja! Aku hanya 4 tahun di Akademi kok!"


Lina menatap Arya horor.


"Putri bilang 'hanya'? Apa anda tahu seberapa lama itu?"


"..."


Hanya...


4 tahun \= 48 bulan \= 208,571 minggu \= 1.460 hari \= 35.040 jam \= 2.102.400 menit \= 126.144.000 detik


Emh...


Lama juga ternyata, ehe 0w0


Arya jadi kehilangan kata-kata miliknya.


"Uh, Lina itu sebentar saja kok!"


"Apa saya harus sebutkan berapa lama?"


"... Gak, gak perlu!"


Lina benar-benar jahat...╥﹏╥


Arya membawa Lina kearah taman dan mereka duduk disebuah gazebo yang dekat dengan sungai kecil.


Arya menjatukan kepalanya diatas meja dan bergumam tidak jelas.


"Bagaimana kabar anda di Akademi?" tanya Lina menatap Arya.


Arya mengangkat kepalanya, "yah begitu saja, bangun, belajar, keperpustakaan, ekstrakurikuler musik atau jurnailistik, lalu tidur, begitulah setiap harinya, setres lama-lama!"


"Wah, sungguh? Apa anda memiliki teman?"


"Semua teman-teman ku juga masuk ke sana, hanya ada satu orang saja sih yang jadi teman lainnya"


"Hm? Siapa?"


"Seadna"


"Laut Na?"


"Seadna Lina, kenapa jadi Laut Na?" protes Arya


"Eh, tapi Seadna memiliki arti Laut Na yang terkenal di Kerajaan Na yang dekat dengan Kekaisaran Ruffela"


Arya memanyunkan bibirnya. Dia sepertinya ingat jika Seadna perna mengatakan dia dari keluarga sastra.


Agh mumet...!?


Padahal niat dia pulang untuk healing, tapi kenapa dia jadi tambah pusing?!


"Ah! Sudah lah! Aku hanya berkunjung hari ini, nanti sore aku harus kembali"


"Aku akan mencari Tera"


"Apa perlu saya temani?"


"Lina! Aku bukan anak kecil lagi, aku akan pergi sendiri!"


Lina tersenyum dan menunduk.


Tuan Putri nya sudah besar ya ternyata...


Arya mencari keberadaan Tera yang katanya ada dibelakang Istana, dia menyusuri tembok Istana itu dengan cepat.


"Ah, Tera!!"


Tera pengasuh kedua Arya, dia adalah gadis muda yang belum menikah. Dia memiliki rambut hijau mendekati hitam mata seperti kayu muda dan kulit sawo matang.


Dia menoleh dan melihat Arya yang berjalan kearahnya.


"Ah, Putri? Kapan anda kembali?" tanya gadis itu memutar tubuh Arya beberapa kali.


"Beberapa jam yang lalu"


"Hah, sudah selama itu?"


"Iya"


"Putri, wajah anda tetap cantik ya walau jadi laki-laki"


Lagi-lagi Arya kehilangan kata-kata.


"Padalah gak ada yang yang sadar, tapi kok kamu sadar sih?"


"Haha, saya sadar karena saya tahu perubahan wajah anda dari tahun ke tahun, jadi itu bukanlah masalah sulit untuk ditebak"


"Yeah, dasar! Kenapa kalian berdua sangat mirip sih? Terlalu peka!"


"Oh ya, kamu sudah memberi makan mereka?" tunjuk Arya pada beberapa kandang yang terisi beberapa harimau putih berekor hitam dan kelinci putih bertanduk. Dia tidak begitu ingat kapan dia mendapatkan peliharaan itu, yang dia ingat jika ayahnya memberikannya beberapa hewan peliharaan.


.....Kilas balik....


"Ambil ini!" sodor Zaint memberikan beberapa dokumen.


"Hah? Apaan nih?"


"Peliharaan"


Arya membaca isi dari kertas itu dan dia bingung.


"Hadiah dari wilayah Utara, monster harimau putih dan monster kelinci putih beracun?"


Arya menutup kertas itu dan wajahnya tak berekspresi.


"Kamu yakin jika ingin hewan peliharaan? Bukan binatang buas? Ini monster loh yah! Bukan boneka!" protes Arya. Dia benar-benar kesal pada ayahnya gara-gara secarik kertas.


Apakah itu adalah hadiah normal? Apakah itu tidak berbahaya untuk anak-anak, hah?!


"Kamu 'kan bisa menjinakkan?"


Gila...!


"Haha, kamu baji****!!" umpat Arya dengan sangat kesal.


....Selesai....


Dan begitulah bagaimana dia bisa memiliki peliharaan abnormal dari ayahnya.


"Andaikan ayahku normal, betapa bahagianya hidupku, tapi aku tahu itu hanya angan-angan yang berupa ekspektasi tak nyata"


Walau kedua jenis monster itu memiliki manfaat kesehatan, tetap saja, dia bukan orang yang akan membunuh hewan tak berdosa begitu saja.


Arya mendekati kandang harimau itu dan membuka pagar penghalangnya.


^^^(Mengacu pada profesi mereka sebelum jadi orang-orang di Istana Malam)^^^


"Hm? Tera, apa yang ada disana itu?" tanya Arya pada buntelan aneh di bawah pohon.


Tera memutar kepalanya dan dia juga bingung.


"Tidak tahu putri, perasaan tadi tidak ada disana deh? Saya juga gak mungkin membawa benda aneh itu kesini 'kan?"


"Um, lalu apa dong?"


Arya mendekati buntelan aneh itu dan berjongkok tepat didepan benda itu.


Dia membukanya dan...


Syung....


"Dapat! Anaknya Semut!!" seru benda aneh yang tiba-tiba keluar dari buntelan tadi.


^^^(Fyi: semut \=> ant \=> Zaint)^^^


Arya yang masih loading bahkan sampai membeku ditempat.


Apa tadi?


"Chi-Chi itu tidak sopan!" tegur orang lainnya yang baru keluar dari buntelan.


Makhluk dengan wajah gadis dan ada ekornya itu mundur dan membuka matanya lebar-lebar.


"Oh, maaf, ehehehe!" gadis itu cengengesan membuat Arya tak tahu harus mengatakan apa.


Arya menoleh kebelakang dan dia melihat jika Tera telah pingsan.


"Apa yang kalian perbuat?" tanya Arya.


Aura disekitar gadis itu seketika berubah. Dua orang beda jenis itu sedikit tersentak.


"Emh, ini... Hehe! Maaf lagi, hehe!"


Arya menoleh kearah pemuda tampan dengan rambut panjang disebelah gadis berekor tadi.


"Kalian sebenarnya siapa?"


"Kami?"


"Iyah! Memang siapa lagi!?"


Pemuda itu menunduk dan memperkenalkan diri.


"Saya memberi salam pada pemilik jiwa 'raja', Putri Ares, nama saya Siam dan dia Chi-Chi"


Arya berkedip beberapa kali. Dia jadi bingung, "jiwa Raja? Apa itu?"


Pemuda itu mendekati Arya, dia menepuk kepala Arya dan berkata: "artinya jiwa yang terlahir tanpa mengingat kehidupan pertama, jiwa yang akan menjadi Raja atau pemimpin!"


Arya terkejut saat mendengar perkataan pemuda itu.


"Apa katamu?"


Dua orang itu tersenyum cerah.


"Sebenarnya kalian itu siapa sih!?"


"Entahlah?"


Pemuda itu mundur dan gadis dengan ekor dengan nama Chi-Chi itu mendekati Arya dengan cepat.


"Aku ingin melihat warnamu!" ucapnya antusias.


Arya mundur ke belakang.


"Apa-apaan!? Warna apa!?" ucapnya kesal.


"Maksudnya warna asli mu"


"Aku tahu, tapi warna apa?"


"Ihh, kamu kolot ya!?"


Baik, sekarang Arya yang malah di roasting makhluk aneh.


"Apa kau bilang?" Arya menarik rambut gadis itu keatas. Untung saja dia tinggi.


"Aku tidak menyukai tikus!" kenapa Arya mengatai gadis berekor itu tikus? Entahlah menurutnya gadis berekor itu memiliki aroma mirip tikus.


Gadis berekor itu terdiam dan sepertinya wajahnya menjadi gelap.


Pemuda itu melepaskan tautan tangan Arya dan menarik Chi-Chi menjauh.


"Kamu.....! Kamu kira kamu apa?! Hanya setengah Elf!!" teriak Chi-Chi marah.


"Chi-Chi!" tegur Pemuda itu menutup mulut gadis itu.


Arya memasang wajah datar. "Aku itu manusia go Block!"


"Uh, sudah-sudah! Putri Ares--"


"Kenapa kamu selalu memanggilku Ares?! Namaku bahkan tidak ada mengandung kalimat 'Ares'!?" protes Arya karena namanya yang main diganti.


'Aryalania Frosen Alexander Roseland' dibagian mananya ada kalimat 'Ares'? Kalau dipanggil 'Lania' itu masih wajar karena ada kalimat itu dibelakang nama 'Arya'


Pemuda itu terdiam sebentar. Sepertinya dia salah panggil.


"Bahkan sebelum aku jadi 'Arya', namaku 'Alice' tahu!"


"Hm, begitu ya? Maafkan saya kalau begitu?"


"Hmph! Jadi maksud warna asli itu apa?"


"Warna rambut"


"Nah gitu dong, jadinya kan gak perlu banyak tanya akunya!" ucap Arya mengubah warna rambutnya menjadi merah kembali.


Gadis dengan ekor itu membuka matanya kagum.


Wow...


Rambut Arya tetap pendek tapi itu terlihat berkilau dibawah matahari sore.


Chi-Chi berlari mengambil sesuatu dari gumpalan itu dan berteriak.


"TUANKU!! MIRIP, SANGAT MIRIP!! TAMPAN SEKALI TUAN!!!"


Pemuda dengan nama Siam itu tersenyum canggung ketika dia melirik Arya yang cengo melihat Chi-Chi.


"Maafkan anak itu, dia memang seperti itu sejak dulu"


"Enggak, gak papa!"balas Arya ikut canggung.


" ehm, begini Putri, mungkin kita akan sering bertemu mulai sekarang"


Arya menoleh dan bertanya.


"Loh kenapa?"


"Itu, sepertinya tuan kami ingin bertemu, hehe!"


"Oh, ya sudah!"


"..." eh?


Bukannya jika ada yang berkata seperti itu, harus di tanya balikkan?


*C*uma oh dong?


"Kenapa anda tidak bertanya?"


"Haruskah?"


".... Tidak!" (iyaaaa!)


Tapi, Arya tidak tahu bahwa jawaban yang dibutuhkan oleh Siam itu bisa merubah segala sesuatu miliknya. Dia tidak tahu apakah mentalnya akan tetap aman atau tidak nantinya.


jangan lupa tinggalkan jejak walau hanya Komenan🤗