The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
PEMILIK KIOS



"TUAN... BERHENTI...!!" Belum sempat Arya menyentuh tubuh kucing itu tiba tiba snicky berteriak dan berlari mendekat.


Dia berdiri didepan Arya sambil merentangkan tangannya. Matanya yang bulat tajam sedikit menyipit dengan mulut terkatup rapat.


"Eh? Snicky kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Arya memegang pundak snicky yang sedikit tegang.


"Iya, ada masalah! Dia adalah masalah nya! Tuan, anda tidak boleh berdekatan dengan klan kucing itu!! Dia berbahaya!" Peringatan Snicky lontarkan terus menatap kearah kucing merah muda itu. Dan menunjuk nunjuk kucing pink itu.


Klan kucing?!!


Fokus Arya jelas berbeda dari yang dikatakan oleh snicky. Disuruh menjauh karena berbahaya, tapi dia malah fokus ke nama klan dari tuh kucing.


"Tunggu klan kucing, jangan bilang klan manusia kucing lagi?" Seru Arya kaget.


"Baru ngeh ternyata, tuan?" Jawab snicky dengan wajah datar yang hampir jadi tanpa ekspresi. Dia menatap Arya yang baru saja konek dengan pembicaraan mereka.


"Hehe iya, tapi.... Dia cute begitu kenapa berbahaya sih?" Ujar arya masih dengan wajah cemberut yang imut.


"Hah... Coba saja tuan pegang dia pasti--" Belum selesai snicky berbicara tiba tiba kucing itu berlari menyelinap melewatinya dan bergelayut manja di kaki Arya. Sedangkan Arya masih dalam proses LOLA alias loading lama. Dia masih merasa cengo sendiri.


"OMG!!! Cute banget!! Ahh... Hatiku sakit!!! Bolehlah kupeluk, so cute ihk!!!" Teriakkan histeris pun keluar dari mulut Arya. Sungguh lemah imannya ketika berhadapan dengan hewan berbulu seperti kucing dihadapannya.


Miau...


"Hua hatiku tertusuk benang!" Arya berteriak sambil memegangi dadanya yang dag-dig-dug serrr.


"Te-tertusuk benang? Bukannya tertusuk panah yah tuan?" Tanya snicky dengan keringat di pelipis matanya.


"Duuh, kalau tertusuk panah mah aku sudah mati kali" Ujar Arya sewot.


'Sabar punya tuan kek dia, semakin sabar semakin banyak pahalanya' batin snicky kesal, pembuluh darahnya pun sudah keluar membentuk perempatan di dahinya. Karena sudah tidak ada yang lain akhirnya dia kembali ke wujud nya yang semula, ular hitam. Biarkan saja tuannya berbuat sesuka hati, dia tidak peduli.


Arya yang sudah tak kuat menahan damage-nya kucing pun langsung menggendongnya. Tak lama kemudian yang lainnya pun datang dan terkejut melihat Arya memeluk kucing pink di pelukannya.


Hacih...


Tapi tanpa diduga oleh yang lain, tiba tiba Lili bersin membuat semuanya kembali terkejut.


"Bu-buang tuh kucing...!! Buang woy!! Hacih... Hacih...." Teriakan Lili diikuti dengan suara bersin yang menyertainya.


"Ka-kamu kenapa sih? Kok jadi gini?"tanya Arya bingung.


"Dia alergi aroma kucing, makanya dia bersin" Ujar Evan menjelaskan dan Arya hanya mengernyit kan dahinya.


"Alergi Aroma?" Sudah jelas fokus Arya berbeda dengan yang lain. Semua orang yang ada disana menatap Arya dengan rumit.


"Apa? Kenapa kalian semua menatap ku?" Tanya Arya membuka matanya polos.


Dan secara serempak mereka semua menunjuk kearah kucing di gendongan Arya. Dan Arya juga ikut melihat apa yang mereka tunjuk.


"Hehe, ternyata kucing?" Dan secara ajaib nya Arya benar benar


Gak konek sama sekali!?


"Untung... Teman.... Kalau bukan.... Udah ku lempar sepatu kamu Ar!"


Pembuluh darah Evan sudah terlihat, dengan wajah yang tersenyum dan tangan yang hampir mengambil sepatu yang dia pakai.


mampus!?


"Maaf.... ka-kalau begitu... Aku harus buang kucingnya kah?" Tanya Arya dengan wajah sedih yang dibuat buat.


Dasar topeng !?


Semua orang menatap Arya datar, sedangkan yang ditatap hanya menampilkan wajah polos polos kambing.


Embhekkk.....


Karena merasa sedikit ada tekanan intimidasi dari semua orang akhirnya Arya melepaskan kucing tersebut dengan perasaan enggan.


Arya meminta maaf pada Lili tapi Lili merasa jika itu bukan kesalahan Arya melainkan kesalahan si kucing kenapa? Karena dia tiba tiba muncul entah darimana jadi mereka baikan. Setelah itu mereka pulang--


Eits, jangan pulang dulu dong, mari kita ke pasar....





Setelah berpamitan dengan Marquis, mereka pun meluncur langsung ke pasar. Di sana mereka melihat pemandangan yang biasa mereka lihat kalau pergi ke pasar. Orang yang berlalu lalang, para penjual yang menjual barang barangnya dan konsumen yang membeli keperluannya bertebaran di sana sini.


Luar biasa!?


Saat mereka sedang melihat lihat barang barang disana tak sengaja mereka melihat sebuah kios yang menjual pernak-pernik yang sangat menarik perhatian Arya.


Tapi ada yang aneh, kenapa sepanjang kios yang bertebaran disana hanya kios itu yang sepi pengunjung?


Coba lihat semua kios itu, semuanya sangat ramai pengunjung.


Arya membuat kode dengan matanya kepada dua curut yang dia bawa.


Di mana snicky?


Snicky ada, dia selalu berubah wujud jadi gelang yang selalu Arya pakai di tangannya atau jadi gelang kaki. Tapi sekarang dia ada dikereta berdiam diri seperti ban*kai ular mati


Kucing pink?


Karena Arya menghormati privasi dari Lili jadi dia meninggalkannya di kereta. Jangan kira Arya akan meninggalkannya di kediaman Marquis karena dia sangat menyukai kucing. Awalnya sih mau dibawa juga jalan jalan tapi yasudah lah, tinggal aja. Dia sama snicky didalam nemenin snicky biar snicky gak di culik trus dijadiin sate ular:v. Uh... Jadi kenyang:$


Lili dan Evan mengerti lalu mengikuti dari belakang tanpa banyak mulut.


"Halo bibi, apakah ini semua dijual?" Arya bertanya dengan sopan kepada pemilik kios tersebut.


"..." Tanpa menjawab wanita tua yang memakai jubah itu tersenyum dan mengangguk.


Glek...


Tanpa disadari oleh mereka bertiga, bulu kuduk mereka bertiga berdiri semua.


Sial wanita tua itu agak... mengerikan!!!


"Ka-kalau begitu... Bisakah saya membeli yang ini?" Dengan tangan yang agak berkeringat Arya menunjuk pada sebuah gelang indah dengan hiasan bunga mawar.



Setelah dia membeli gelang tersebut, dia tidak langsung pergi melainkan tetap diam disana tanpa minat pergi ke kios yang lain. Kenapa? Karena dia lagi nunggu Lili beli sesuatu di kios yang menjual berbagai macam bunga.


Kenapa Arya memilih gelang itu? Kerena lagi lagi dia merasa ditarik oleh benda itu. Seperti ada benang yang menariknya secara halus dan itu juga berlaku seperti lukisan wanita paruh baya dikediaman Vintaics.





"Hoy, Ar bagaimana kabar mu?"


Apa sih sok kenal ?!


Tiba tiba terdengar suara sapaan dari arah yang lumayan jauh menyapa Arya. Yap, itu Feron, yang notabene-nya seorang pangeran Ruffela yang kemungkinan lagi jalan jalan di pasar.


Tuh anak gak punya rumah kah? Kok sering banget keluyuran ketempat orang? Keliatan kayak orgil kalau aja gak pakek baju bagus?!


"..." Arya melirik anak laki-laki itu tanpa minat sedikit pun.


"Apakah kamu gak punya tempat tinggal? Rasanya kamu tuh sering banget ke negara orang? Kamu tuh bukan gembel yang tinggal di jalanan tanpa punya tujuan kan?"


Jleb.... 3x


Tiga serangan dilontarkan Arya tanpa disaring, dia secara blak-blakan menyerang lawannya tanpa pandang bulu. Matanya yang terlihat malas memandang anak laki-laki itu tanpa berkedip. Dengan tangan yang bersedekap didada dan posisi sedikit angkuh


"Aku cuma bermain main disini" Dan ingin melihatmu


"Heh terserah!"


"Hm? Apa yang kamu beli di tempat seperti ini?" Tanya anak laki-laki itu dengan mengangkat sebelah alisnya dan memasukan tangannya kedalam saku celananya.


"Ya? Ah, aku beli ini? Kenapa? Apakah kau mau membeli sesuatu juga? Untuk saudaramu, mungkin?"


Anehnya saat Arya berbicara tentang saudara tiba tiba atmosfer disana mulai terasa berat. Wajah anak laki-laki itu jadi terlihat sedih bercampur marah. Wajahnya yang tadinya tersenyum tiba-tiba luntur.


Sepertinya ada masalah?!


"Saudara ya? Hmm..... Aku tidak punya. Saudaraku menghilang enam tahun yang lalu."


Shitt, salah ambil topik!!!


"Ma-maafkan aku Feron, aku-aku tidak bermaksud--"


"Sudahlah tidak apa, lagi pula itu sudah jadi masa lalu bukan?"


Anak laki-laki itu memotong ucapan Arya dengan senyuman indah diwajahnya. Dan Arya masih merasa tidak enak hati.


"Bukankah itu mereka?" Ujar Anak laki-laki itu mengalihkan membicarakan yang agak canggung.


"Ah, iya itu mereka! LILI! ! ! EVAN! ! !"


Arya berteriak dengan suara agak pelan tapi terdengar. Dua saudara itu mendengar nama mereka dipanggil pun berlari kecil kearah dua anak laki-laki dan anak perempuan yang tak lain adalah Arya dan Feron.


"Kami sudah selesai? Haruskah kita kembali?" Tanya Lili ketika melihat kearah orang yang menurutnya adalah hama yang suka menempel.


Maksudnya itu : kami akan kembali apakah kau akan mengganggu kami dan mengikuti kami seperti kucing kehilangan rumah?


Feron: "..." Kau sedang menyindir ku?


"Tunggu!"


Dheg...


Ketika mereka akan meninggalkan kios tersebut. tiba tiba bibi pemilik kios itu menghentikan langkah mereka. Membuat jantung mereka melompat satu kali dengan spontan.


"I-iya bi, ada apa ya?" Tanya Arya setelah membalikkan badan nya diikuti yang lain. Dahinya sudah ada sebutir keringat menggantung disana.


Ternyata gak bisu!?


"Apa yang paling berharga bagimu?"


Tiba-tiba pemilik kios itu bertanya dengan menopang dagunya dengan dua tangan nya yang disatukan dan senyum yang tepati dibibir keriputnya.


Ke-kenapa jadi menyeramkan yah?


Hal paling berharga? apa maksud wanita tua itu?


Tanpa ragu Arya berkata: "keluargaku"


Keluarga bagi Arya : Zaint, Tera, Lina, Delvan, Riden, Dark, Farel, Emilly dan masih banyak lagi yang sudah ada bersamanya sejak dia masih berupa 'ulat', uhuk... Yah intinya orang yang lebih berharga dari segalanya, hm istilahnya harta karun nya di dunia itu.


Wanita tua itu tersenyum penuh arti sebelum berkata: "Jagalah itu, jika kau menyayangi mereka!"


"Jangan menyembunyikan sesuatu dari mereka kau mengerti.... Alice? "


Dheg....


Arya tertegun mendengarkan penuturan kata kata dari wanita pemilik kios tersebut.


Bagaimana dia bisa tahu?


Arya memandang wanita tua itu dengan intens tanpa berkedip. Jika diperhatikan lebih detail maka bisa dilihat bahwa pupil matanya bergetar.


"Ta-tadi kau memanggilku apa?--"


"Ar, ayo pergi dari sini! Cepat!!"


Lili dan Evan langsung menarik tangan Arya pergi padahal dia belum menyelesaikan perkataannya!


Dilihat lagi oleh Arya wanita itu tersenyum. Membuat seluruh bulu ditubuh Arya meremang.


Siapa sebenarnya wanita tua itu?


&&&&&&&&&&&&&&


monmaap gess authornya lupa alur jadi aga gak nyambung. Mungkin gara gara kelamaan ga up. Authornya lagi kesenengan baca manhwa BL hiks.


Makasih yang baca novel authornya yang gaje ini makasih banget!


Bye bye


hiks katanya tulisannya cuma xxxxx doang jadi author tulis ulang. itu mungkin gara gara author nulisnya di buku catatan karena gak ada font-nya jadi pake font yang ada aja. sorry lupa ngedit😅😅