
⚠ Cerita aneh!
Setelah kedua anak itu tenang, kakek Damien mengatakan jika keduanya harus memperkenalkan diri mereka secara 'lengkap'.
Ingin sekali kedua anak itu berkata kasar.
"Halooo! Saya Aryalania Frosen Alexander Roseland dan dia Aryan Arkien Alexander Roseland" kata Arya merangkul Aryan; melambaikan tangannya.
Dia tiba-tiba membeku ditempat saat dia selesai memperkenalkan diri.
"Eh, loh? Kok paman Kelion, sih?" tunjuk Arya pada Kelion yang terlihat keberadaannya sedikit samar.
Kaisar Ruffela menoleh menatap anaknya yang terlihat terkejut.
"Ahaha! maaf semuanya" ucap Arya sedikit menunduk merasa bersalah.
"Apakah hanya itu? tanya kakek Damien melipat tangannya. Dia duduk di kursi dekat Zaint.
Arya mengepalkan tangannya kesal.
"Huh! Iya hanya itu!" kata Arya judes.
"Hah? Bukankah kau punya yang lain? Pendidikan? Status? Bukannya kau punya semua itu? Kenapa tidak dikatakan saja?" ujar kakek Damien memprovokasi Arya.
"Uhhh! Harus?!"
"Iya!" sahut Kakek tua itu tanpa toleransi.
"Atau haruskah aku yang menyebutkannya?" tantang Kakek Damien
"Boleh!" dan tantangan diterima.
"Arya~ anak yang masuk dunia politik sejak usia 3 tahun sampai saat ini dia berusia 9 tahun, anak yang... Tidak ada kata santai dalam bekerja. Tidak ada hari tanpa adu mulut dengan ayahnya"
Arya memicingkan matanya tajam, "saya sangat santai kok?"
"Iya, iya, sangat santai sampai berminggu-minggu diruang arsip negara mengumpulkan informasi~?" jawab Kakek Damien dengan santai.
"Karena itu penting!" sahut Arya lagi.
"Ok lanjut!"
"Dia memiliki cukup banyak koneksi diusia muda, salah satunya 'raja' guild terbesar di benua yang memiliki banyak cabang yang tersebar"
Guild milik Denki adalah keberadaan yang cukup menakutkan di Kekaisaran Roseland. Itu terjadi saat Denki mulai melakukan bisnisnya saat dia baru 18 tahun. Itu terjadi beberapa tahun kemudian. Bisnis yang dia lakukan dengan kemampuannya sendiri. Mulai dari tempat terendah sampai mencapai tempatnya di masa depan.
"Itu terbentuk tanpa sengaja" gumam Arya. Matanya tak berhenti hanya pada kakeknya namun dia melirik semua orang yang hadir.
"Hampir setahun lalu dia menjadi salah satu dari dua siswa termuda di Akademi" sejak kalimat itu jatuh, semua orang diam dengan keterkejutan yang hebat.
Jika setahun yang lalu, berarti saat berusia 8 tahun kan?
"Dia itu termasuk anak yang keras kepala, berapa kali dia menghilang dari istananya, dan kembali dengan banyak barang ditangannya, bukankah terakhir kali kamu kabur adalah saat... “
"Saat saya pergi ke Akademi tanpa memberi kabar dan menyamar menjadi laki-laki" sambung Arya sedikit kesal.
"Benar, kamu menggambarkan kekeraskepalaan terakhirmu dengan sangat bagus"
"Alah, ujung ujungnya juga ditangkap!" sahut Aryan dengan suara menggumam.
"Tapi gak sampai dibawa pulang!"
Kedua anak itu berdebat sebentar dan tiba-tiba Arya menunduk menatap kakinya yang dengan sengaja diinjak Aryan.
Lihat, sekarang Aryan mulai melawan. Tapi Arya bukan orang yang bodoh dia menuduh dengan sangat sedih.
"Kakek lihat Aryan menggunakan kekerasan pada ku!!"
Aryan mengangkat kakinya dengan perasaan aneh, dia kesal namun juga tidak. Dia berbalik lalu pergi meninggalkan Arya yang membeku ditempat.
Arya tahu dia berlebihan bercandanya jadi dia mengejar Aryan.
Namun, belum sempat Arya sampai, ada seorang pangeran yang menyerangnya.
Ribuan sulur mawar merangkap menjadi seperti perisai besar yang melindungi Arya, itu Aryan.
Matanya yang tajam dan wajah malasnya berubah seketika menjadi serius.
"Kau ingin mati?" sentak Aryan marah.
Arya menoleh dan tak ada rasa terancam di wajahnya, melainkan kesenangan yang bergejolak. Padahal dia kira Aryan marah padanya namun ternyata sifatnya yang protektif mudah tersulut gara-gara dia hampir terluka.
Gadis itu memegang sulur Aryan dan memutar nya menjadi benda yang siap membunuh lawannya. Dia tidak sepintar Aryan untuk urusan perubahan bentuk benda, tapi dia bisa sedikit-sedikit.
Perlahan tapi pasti kaki keduanya melangkah mendekati meja dari Kekaisaran Ruffela.
Saat wajah Arya mendekati wajah Kelion benda yang di pegang Arya juga perlahan seperti terbakar api biru. Itu adalah api dingin milik Arya.
"Aku hanya ingin memastikan saja" hei, pemuda itu tersenyum provokatif.
"Apa?"
"Tidak, hanya saja cukup sulit mendapatkan surat rekomendasi dari Kepala Akademi, jadi pasti kau sangat berbakat bukan? Apa kamu masuk jurusan sihir?"
"Haha!" Arya duduk berhadapan dengan Kelion memiringkan kepalanya.
"Aku masuk jurusan Seni Pedang, tapi bukan hanya aku tapi teman-temanku juga, hanya ada tiga yang masuk jurusan Sihir dan jurusan obat-obatan"
"Siapa saja?"
"Hm? Brian dari keluarga Gerald, Delvan dari keluarga Rimson, Hansel dari keluarga Kekaisaran Theodore" saat dia menyebut nama teman-temannya dia perlahan melirik keluarga bangsawan yang memiliki nama keluarganya. Memang mereka pasti merasa aneh, bingung, dan terkejut karena itu adalah nama penerus mereka dimasa depan yang bahkan mereka saja tidak tahu.
"Dari jurusan sihir... Hm, Emilly anak kedua dari keluarga Rimson, Riden dari keluarga Zonka dan... Feron anak keluarga Kekaisaran Ruffela, satu-satunya anak mu~" kalimat terakhir membuat kejutan dimata Kelion yang awalnya tenang.
"Apa kamu tidak mengerti? Semua orang yang diundang disini adalah kaisar masa depan dan para calon kepala keluarga di masa depan, orang yang ku sebutkan sedari tadi adalah teman-temanku" sebenarnya Arya juga baru ngeh saat dia memperhatikan orang-orang itu. Jadi sebenarnya kakeknya ingin memperkenalkannya kepada para penerus, begitu? aneh sih sebenarnya.
"Kau dari masa depan?"
"Emh, begitulah?"
"Apa aku akan menjadi Kaisar?" tanya Kelion menatap Arya dalam.
"Eh, iya, kenapa?"
"Ti-tidak, apakah pasanganku itu..."
"Lidya" jawab Arya cepat.
Kelion mengusap dadanya lega. Dia terlihat sangat senang ketika mengetahui hal itu.
Arya mengedipkan matanya perlahan dan lembut, gadis itu ingin bilang kalau sebenarnya dia punya anak kedua namun hilang, tapi dia masih punya hati nurani untuk tidak bilang.
Sulur mawar yang masih ada disampingnya mengelus pipi Arya perlahan, ada perasaan aneh saat benda itu menyentuh kulitnya.
"Iyan, kalau marah ngomong aja sini gak usah kek gitu, sini ngomong empat mata, nah!" kata Arya menyaksikan Aryan yang duduk di atas sulur dengan wajah masam. Dia sangat bad mood dibuatnya.
"Gak mau!"
"Huft, Aryan... Turun yok kak, nanti tiap hari ku panggil kakak, ya? Sekarang turun sini, yuk?" bujuk Arya dengan wajah yang perlahan melembut.
Ayah tolong!!!
Pupil mata Arya perlahan menyusut saat Aryan yang perlahan roboh dari tempatnya.
"Ro-Rosielll!!" teriak Arya yang berlari dengan cepat ingin menangkap Aryan. Tidak sempat!!
"Hah~ dasar tuan-tuan menyebalkan!!" ucap seseorang yang menangkap Aryan dengan dua tangan.
"Oh..." Arya jatuh perlahan saat dia mendekap Aryan yang tertidur pulas.
"Kakek Damien!!!" teriak Arya lagi menoleh kearah kakeknya yang baru saja sampai didepannya.
"Jangan berteriak terus" tegur Kakek Damien memegang leher Aryan. "Dia... Hanya tidur(?)!"
Entah bagaimana, wajah Kakek damien tidak terlihat baik.
"He-hey kakek? Aryan tak apa?" tanya Arya memastikan, au-aura kakeknya terlihat kelam. Jantung gadis itu berdetak lebih cepat saat aura kakeknya semakin pekat.
"Kake--"
"Huh, kan sudah kubilang dia tak apa, dia hanya tidur, kondisinya mungkin akan membaik kalau dia tidur, mungkin akan butuh waktu yang lama untuk dia tidur, tapi bukan berarti dia tak akan bangun!"
Rosiel yang terabaikan mengangkat alisnya bingung. "Hei, pria tua, bukannya kau itu sudah lama mati? Saat keponakan mu mati kan kau juga ikut mati?" tanya Rosiel melipat tangannya.
Kakek Damien diam dan menatap Rosiel dingin. Wajahnya yang berubah seperti itu membuat semua orang terkejut, pria tua itu tak pernah berekspresi sedingin itu sebelumnya.
"Apa? Apa aku salah? Aku ingat melihatku saat itu, aku melihatmu yang mati dan menghilang bersama dengan---" Rosiel yang terus mengoceh dipotong tanpa ampun oleh Kakek damien
"Diam, bukankah seharusnya kamu membawa anak-anak ini kembali?"
"..."
Pria itu sangat menjengkelkan.
"Kau itu adalah mendamping Arya dan Aryan memiliki pendampingnya sendiri, panggil orang itu untuk membantumu nanti"
"Terserah mu!"
++++
Haaaaaah, selesai!!