
Arya yang baru saja masuk kedalam ruang kerja Zaint dengan cara menendang pintu pun dihadiahi tatapan dingin yang menusuk dari sang empu pemilik ruangan.
'Se-sepertinya aku bakalan dihukum deh?'
Dia menelan ludah nya susah payah pun berkata dengan senyum canggung
"Em, ayah? ....Maaf!" Ujar Arya sambil menundukkan kepalanya merasa tekanan yang luar biasa menimpanya. Bahkan kucingnya pun juga ikut menunduk sedikit gemetar dan dia juga sudah memberi nama kucingnya dengan nama MIAU WU. (belibet banget namanya, ya lord ಥ_ಥ)
Ahhh.... Takutttt...!
"Kenapa kamu meminta maaf memangnya kesalahan apa yang sudah kamu perbuat?" Tanya Zaint dengan mata melengkung tapi dia tidak tersenyum.
Maksudnya itu: "kalau sudah tau salah kenapa selalu kamu ulangi? Hah?!"
Ahkkk... Astaga bulu kuduk ku?
"Lain kali tidak akan aku lakukan lagi kok, ayah!" Ujar Arya masih dengan wajah menunduk dan suara sedikit bergetar karena takut. Bahkan kucing di pelukannya hampir tewas karena tercekik
Kucing malang: "..." Jika kau ingin membunuhku bisakah kamu jangan menjepit ku seperti ini?. Sebaiknya kau langsung menebasku saja lah!
"Tidak ada lain kali, ini sudah yang kesekian kalinya kau merusak pintu! Mulai hari ini jadwal pelajaran mu akan di perpanjang!! Dan.... Kau akan mulai mengikuti kelas penerus mulai dari minggu depan!!" Ujar Zaint tanpa melihat kearah Arya yang sudah membelalakan matanya karena terkejut.
"....!?" Dasar si gila tak berperasaan?!
"A-apa?! Kau bercanda kan, Zaint?" Tanya Arya tanpa menyadari nama panggilan nya berubah.
"Kau memanggil ku apa tadi? Kau memanggil ku 'Zaint' dan bukan 'Ayah' kan?" Tanya Zaint denyipitkan matanya tanpa ekspresi.
"...!" OMG, lupa! Mulutku keceplosan, astaga, mati aku?!
"Ah? Ti-tidak ayah, bukan seperti itu!" Ujar Arya menjelaskan bahkan kucing ditangannya sudah dia lempar ke sembarang tempat.
Kucing apes : "..." seharusnya aku tidak usah memilihnya sebagai tuan saja tadi! Huh, ekor cantikku lecet kan jadinya?!
↑
↑
(Diatas ini merupakan kucing minim akhlak(눈‸눈))
Siapa yang tidak akan membelalakan matanya ketika mendengar tentang kelas penerus?! Kelas penerus adalah kelas untuk penerus kaisar! Apalagi yang diketahui olehnya adalah 'kelas penerus Kekaisaran Roseland adalah neraka bagi keturunannya'. Wewenangan itu dipegang oleh faksi yang bahkan tidak bisa diganggu gugat oleh kaisar yang sekarang. Pelajaran itu di laksanakan selama tiga minggu berturut turut tanpa ada jeda dan bahkan tanpa ada belas kasihan dari siapa pun.
TAPI KENAPA HARUS DIA?!
awalnya Zaint tidak mau memasukan nya kedalam neraka yang bernama kelas itu. Kenapa? Karena dia tau seperti apa tempat itu yang bahkan bisa disebut sebagai ruang penyiksaan. Dia merupakan anak ke 25 dari 37 putra kaisar sebelumnya jadi dia tau bagai mana kerja sistem di dalam kelas tersebut.
Dia tau kalau Arya mulai muak akan sesuatu dia akan membuangnya. Istilahnya seperti Zaint adalah lempar satu batu dapat dua burung. Dia memberikan anaknya mainan dan jika anaknya sudah bosan anaknya itu bisa meratakan 'mainan' itu sampai jadi rata dengan tanah. Ini lah keuntungan memiliki anak yang setengah waras setengah gila.
Gils yang memperhatikan dua orang beda usia itu berdebat hanya diam bagaikan menekin hidup dipojokan.
Dia awalnya tidak terlalu peduli tapi akhirnya dia melirik kearah Zaint yang masih dengan wajah dingin nya menyuruh Anaknya sendiri untuk mengikuti kelas penerus, langsung memutar matanya jengah. Dia tau jika Zaint ingin memanfaatkan anaknya sendiri untuk menghancurkan hal yang tidak ingin dia hancurkan nya sendiri.
"..." Terlalu kekanak-kanakan!
"Putri anda kesini ingin mengatakan sesuatu kan" Ujar gils.
Maksudnya: "sebaiknya anda menghentikan kan sikap kekanak-kanakan baginda"
Arya mengerti arti dari perkataan Gils langsung mengangguk.
Arya mengulurkan tangannya kedepan, tiba tiba keluarlah ular hitam secara perlahan dari tangan arya yang tertutup mantel tipis.
Zaint dan Gils yang melihat ada ular yang baru saja keluar dari lengan bajunya arya tercengang dan perlahan membuka mulut mereka sedikit.
"...!"
"...!"
snicky yang baru saja keluar dari bajunya Arya langsung berubah menjadi anak kecil dan mulai mengeluarkan kertas yang berisikan tentang bukti-bukti pemberontakan yang akan dilakukan oleh Marquis Vintaics kepada Arya yang sudah mengulurkan tangannya meminta kertas tersebut.
"Hehe, bagaimana menurutmu ayah? bagus tidak?" Tanya Arya menyeringai ketika menyerahkan kertas itu dimeja Zaint.
Zaint melihat kertas itu ada didepannya langsung membacanya dan terkejut
' jadi ini yang anak ini lakukan? menarik'
Zaint langsung tersenyum miring ketika selesai membaca kertas itu dan memandang Arya yang tersenyum cerah.
"Jadi apalagi yang kau tahu?" Tanya Zaint menyenderkan punggungnya dikursi nya dan melipat kedua tangannya didada.
"Menurut informasi terpercaya (snicky) Marquis Vintaics yang notabene-nya kakek ku, dia akan pergi ke wilayah kekuasaannya di Swndel pada sore hari hari ini, jadi apakah...?" Arya memberikan informasi yang dia dapatkan dari Snicky kepada Zaint. Tapi dia berhenti berbicara lalu menatap Zaint dengan harapan.
Zaint yang melihat jika putrinya menatapnya dengan tatapan yang menyilaukan, akhirnya menghela nafas berat.
"Kau tau pepatah 'lempar batu sembunyi tangan'?" Tanya Zaint yang kini menopang dagunya dengan kedua tangan sebagai penyangga.
Arya mengangguk.
"Maka, lakukan seperti itu!" Dan seketika Arya bersorak dan berlari memeluk Zaint. Dia mencium pipi Zaint dan berlari keluar melupakan tentang masalah kelas penerus akibat terlalu girang.
Malam harinya....
Kini diatap istana yang tinggi menjulang sudah ada tiga anak berbeda gender. Dua anak berambut hitam dan bermata biru duduk diatap itu menyisakan seorang anak berambut merah dan mata hijau yang terlihat bersinar tajam. Dia berdiri dipuncak tiang atap yang tipis dan panjang. Dia memandangi sebuah rumah yang terlihat mewah dan elegan. Ya, yang dipandangi nya sedari tadi adalah rumah kediaman Marquis Vintaics.
Sudah saatnya!
Dia mengangkat tangannya dan tiba tiba terbentuklah sebuah busur yang terbuat dari es. Dia menarik busur itu dan perlahan anak panah pun terbentuk dengan api biru diujung nya.
Dia memfokuskan penglihatannya dan mulai bergumam...
Bismillah.... Headshot!!!
Didetik berikutnya suara ledakan pun terdengar. Arya tertawa bahagia ketika melihat puing puing bangunan berterbangan karena meledak.
Dua bersaudara memandangi Arya yang sangat gembira dan memutar matanya malas.
"..." benar-benar hebat! Dia meledakkan rumah kakeknya sendiri.
"..." Yah, sesuai dengan karakternya. Gila dan kejam.
Sedangkan Zaint yang melihat kegilaan Putrinya hanya tersenyum miring dan menatap tidak percaya pada putrinya yang dia lihat di jendela. Dia bisa melihat tawa bahagia putrinya itu yang terlihat tidak berdosa.
"..." itulah dia, ternyata dia benar benar menggunakan pepatah itu dangan baik.
•
•
•
•
jangan lupa 👍 & 💬 & ❤️ 🆗
thanks yang udah baca
love you all😘