
Ruangan putih itu menjadi tempat sunyi ketika dua orang anak dengan tinggi tubuh sama dan wajah sama itu menunjukan ekspresi yang berbeda.
"Ah Aryan, sakit banget woy" keluh Arya memegangi dadanya. Hatinya sakit saat melihat makhluk merah itu. Dia merasa sangat aneh. Padahal dia tidak ingat siapa makhluk merah itu.
Aryan diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Tapi dia samar samar mengingat sesuatu.
"Arya? Apakah kita mengenalnya?"
".... Gak ingat"
Makhluk merah itu membuka matanya saat mendengar suara serak dua anak yang ada didepannya.
"Emh... Yang... mulia?"
Mendengar suara yang terasa familiar itu sontak membuat Aryan yang sebelumnya hanya diam kini mulai mengeluarkan suara merintih begitu pula dengan Arya yang semakin mewek.
"Ah..maaf apa saya membuat anda berdua menangis?"
Makhluk merah itu jadi panik dan tidak tahu harus apa.
Kakek Damien mengedipkan matanya.
"Kenapa kalian jadi cengeng? Padahal kan kalian gak kenal?"
Air mata yang baru saja akan banjir banyak dari Arya seketika berhenti. Benar sih, mereka kan gak kenal? Walau begitu...
Aryan bangun dan mengusap matanya. Dia bersikap seperti tidak terjadi apapun.
"Dasar bermuka dua!" decak Kakek Damien.
Arya diam, matanya agak sembab dan hidungnya sedikit merah. Malu bang***
Beberapa menit kemudian...
"Hei Yoma pergi sana! Kau menghalangi cucuku!" teriak Kakek Damien dongkol saat melihat makhluk merah bernama Yoma itu terus mengekori Aryan.
"Kenapa sih?" ucap Arya kesal. Dia mengerutkan keningnya dan dengan langkah cepat menendang Yoma kesamping. "Gak bisa kah kamu jangan mengikuti Aryan?!! Dia itu milikku tahu!!?"
Arya menarik tangan Aryan menjauh.
"Ahhh, kenapa kedua tuanku itu sangat kejam! Aduh.. Sakit tenyata?" Yoma dengan tidak berdaya mengusap pinggang nya yang barusan ditendang Arya.
"Arya, kamu mau memanggilku kakak?" tanya Aryan di sela-sela tarik kan tangan Arya.
Arya berhenti.
"Gak!"
"Kenapa?"
"Usia kitakan sama?"
"..." tapi dia ingin dipanggil kakak!!
Kakek Damien menatap kedua anak itu dengan mata yang tidak bisa diartikan. Sekilas Arya itu mirip Zaint begitu pula dengan Aryan.
Kakek tua itu menutup matanya mengingat suara yang tidak bisa dia lupakan.
—— "Jika Areska hidup saya tidak masalah kalau harus mati!"
"Tidak!! Arran gak boleh mati!! Arran itu milik Ares!!"———
"Kakek, anda melamun lagi!" Arya melambaikan tangannya kearah kakek Damien.
Kakek Damien memutar kepalanya sedikit dan melihat dua anak yang menatapnya itu sebentar.
"Ehem! Nah, maaf, tadi kalian sudah lihat pohon perak yang ada di sana, kan?"
Arya mengangguk, "iya sudah"
"Itu pohon yang terhubung langsung pada dunia"
"Dunia?"
"Iya, itu Pohon Dunia atau Pohon Kehidupan"
"Pohon dunia?" gumam Aryan.
Arya menarik tangan Aryan dan berbisik.
"Namanya mirip seperti pohon yang ada di Thi*ker be*l"
Aryan menutup mulut Arya, "... Diam"
Arya cemberut tidak senang. Kenapa sih? Dia menarik pandangannya kearah belakang. Matanya seperti nya berubah warna karena pantulan kilau pohon itu.
Ack...
Kakek Damien tanpa ampun menarik kepala Arya agar mengalihkan pandangannya.
Aryan yang melihat jika kepala Arya ditarik paksa itu melebarkan matanya terkejut.
"Heh! Kakek! Kau kira kepala Arya itu apa? Kepala b*rbie hah? Jangan asal tarik!!" teriak Aryan yang segera memeluk Arya erat
"Ugh, Aryan jangan dicekik, bodoh!!!"
"Ini bukan tubuh aslinya kok, kenapa khawatir?"
Aryan terkejut, apa maksudnya?
Jika itu bukan tubuh Arya lalu apa...?
"Jangan khawatir, aku memiliki kemampuan khusus"
Kemampuan Kakek Damien berspesialis pada 'jiwa'. Karena kondisi 'jiwa' dua cicitnya itu spesial maka penanganan nya juga sangat istimewa.
"Aku tidak menggunakan tubuh asli karena itu sedikit beresiko, jadi aku membawa kalian sebagai 'roh', tempat yang biasanya kamu tempati itu disebut 'jiwa' tempat dimana 'roh' berada"
Arya memiringkan kepalanya, "maksudnya dalam satu jiwa kami itu ada dua roh?"
"Hm, kamu pintar"
"Tunggu! Kalau begitu Aryan dan saya itu satu kan berarti?"
"Iya"
"Loh? Kukira Aryan itu teman imajinasi doang!?"
"Sulit untuk mengatakan jika kita itu sama, karena kamu mana mungkin percaya? Jika kamu ingin tahu tentang namaku, kamu bisa bertanya pada ayah?" timpal Aryan.
"Kalian itu tidak sama, jiwa kalian memang satu, tapi roh kalian itu sama sekali berbeda, kedua roh itu menyinkronkan wujud masing-masing dalam satu jiwa"
"Arggg!! Bisakah intinya saja? Saya tidak mengerti anda ngomong apa!!" Arya dengan geram mengacak rambutnya
"Hah... Ciri-ciri anak yang tidak sabaran" kakek Damien melipat tangannya dan menggeleng. "Maksudnya itu kalian dua roh yang tinggal di satu jiwa, paham? Kalau gak paham akan ku lempar kalian diruang hampa!" ancam kakek Damien membuat Arya diam.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Aryan.
"Biar kutanya, kalian sudah mati berapa kali?"
Arya memegang dagunya dia menghitung menggunakan jari tangannya.
15 detik kemudian...
"Hm, baru satu kali sepertinya?"
Ngapain kamu hitung selama itu kalau jawabannya cuma satu!!?
"Arya, sehat?" tanya Aryan dengan pikiran seperti Kakeknya.
Arya menggeleng cengengesan.
"Apakah hanya itu?"
"... Iya"
"Hm, begitu...?"
"Ada apa? Apakah kami hidup berulang kali dan mati berulang kali juga, gitu?" tanya Aryan penasaran.
Kakek Damien terdiam sejenak dan refleks menoleh kearah Aryan.
Anak yang pintar menilai kondisi...!
Aryan membuka mulutnya yang rasanya kelu untuk berkata-kata. Sungguh? Mereka hidup berulang kali?
"Memang apa yang terjadi di kehidupan pertama kami sampai kami hidup-mati berulang kali?"
Kakek Damien diam. "... Tentu saja itu karena kalian bunhumhp--" Yoma membungkam bibir Kakek Damien dan menariknya pergi meninggalkan Aryan dan Arya yang membeku.
Kenapa an**r!?
Kenapa setengah-setengah sih! bukunya penasaran aja!!
Beberapa saat kemudian...
Kakek Damien mengirim Arya dan Aryan kembali ketempat masing-masing tanpa memberikan kejelasan yang pasti.
PHP. . .
\=\=\=\=\=\=\=\=∞\=\=\=\=\=\=\=\=
Mata yang semula tertutup kini terbuka secara perlahan. Pemandangan kabur adalah hal pertama yang terlihat. Arya memiringkan kepalanya saat seseorang yang sangat familiar diingatan nya sedang menatapnya horor.
Arya mengedipkan matanya dan dia tiba-tiba ketakutan.
Plak....!
Suara renyah seketika terdengar setelah tangan kanan seorang pria muda duda itu mendarat di jidat anak semata wayangnya.
"Beraninya kamu pingsan dan membuat panik orang!!"
Arya membeku ditempat tidurnya matanya melotot tak percaya dan mulutnya terbuka lebar. Dia masih belum sadar sepenuhnya dan sudah dipukul? Jahatnya heh!!?
"A-ayah? Kok kamu ada disini?!" tanya Arya bangun dari kasurnya.
"Anaknya Kelion menghubungiku dengan panik dan mengatakan jika kamu tidak sadarkan diri selama 5 hari"
Arya terkejut. Perasaan dia cuma pergi beberapa menit doang kok, tapi kenapa bisa lewat
5 hari sih a***?!
"Ayah, kamu panik ya~?" ejek Arya melirik Zaint dengan mata jahil.
"Siapa?"
"Kamu!"
"Siapa yang tanya?"
".... Nyebelin!"
"Tadi yang ngajakin bercanda siapa?"
".... Cih!"
Haha, Arya merajuk.
Gadis itu turun dari kasurnya dan terjun kepelukkan ayahnya. "Ayah aku takut, gak tahu kenapa, apa yang kukira halusinasi ternyata nyata, aku tidak tahu harus apa, senang atau sedih?" keluh Arya menaruh kepalanya dipundak Zaint.
Zaint menepuk punggung Arya perlahan. "Siapa?"
"Aryan"
Deg...
"Dia bilang, 'jika ingin tahu tentang namaku bisa bertanya pada ayah' gitu katanya?"
Dasar anak kurang ajar! beraninya memberatkan sebuah penjelasan pada nya?!
"Hm, begitu? Kukira hal apa ternyata itu?"
Zaint mendudukkan Arya di pangkuannya dengan kondisi masih dipeluk.
"Itu karena aku bosan saja, nama Alican terdengar aneh jadi aku mengubahnya"
"..."
"Aku mendapatkan ide setelah melihat nama depanmu, dan jadilah nama Aryan yang sekarang"
"Hm, benarkah?"
"Iya"
"Lalu... Bagaimana dengan nama 'Alexander'?"
Zaint diam berkedip perlahan. "Itu karena kekeraskepalaan kakek buyut mu!"
"Kakek buyut?"
"Iya, dia mengatakan untuk mewarisi nama tengahnya, dan setelah memberikan nama nya beberapa jam kemudian dia menghilang sampai sekarang"
"Dia pria tua paling menjengkelkan!"
Arya memiringkan kepalanya dan terkekeh pelan. Sepertinya kakek buyut nya itu orang yang memiliki humor tinggi sampai membuat ayahnya yang dingin ini sekesal itu? By the way kakek buyutnya kan memang orang humoris mengingat seberapa seringnya dia bercanda
"Ayah, aku bermimpi tentang kakek buyut, dia bilang ayah adalah anak yang pendiam dan irit bicara"
Zaint diam bibirnya bergerak tak terkendali. Perempatan terlihat di pelipisnya.
"Pria tua itu bicara omong kosong! Dasar pria picik! Sudah kuduga dia pria menyebalkan!"
Arya yang mendengar ocehan ayahnya hanya bisa ngakak. Tolong perutnya keram.
Arya berhenti tertawa saat dia tersadar akan sesuatu, "Ah ya! Ayah!! Kok kamu ada disini?! Bagaimana jika ada yang tahu!!? Arrrrggggg!! Ayah!!!?"
Zaint mengangkat alisnya. Ada apa dengan anaknya itu? Padahal dia baru dua hari tiba ditempat itu!
"Saat kamu dinyatakan tidak sadarkan diri, anak yang tinggal di ruangan ini semuanya sudah dipindahkan. Jadi, saat aku sampai disini tidak ada yang tahu"
"Lalu bagaimana dengan pekerjaan ayah?"
"Untuk apa memiliki bawahan jika tidak bisa dipekerjakan? Buang-buang uang negara saja!"
"Wah...! Jahatnya... Jika aku punya majikan sepertimu pasti sudah lama aku mengundurkan diri"
Arya membayangkan betapa kusutnya wajah Tama dan bawahannya yang lain. Kasihan ya, tapi ayahnya gak salah juga sih... Iya kan?
(Iyain aja)
"Hm, ngomong-ngomong... Kamu tinggal dengan anak laki-laki? Dikamar yang sama?" wajah Zaint menjadi suram saat dia mengetahui fakta bahwa satu-satunya anak perempuannya tidur sekamar dengan anak laki-laki acak!
"Memangnya salah ya?" tanya Arya tanpa menyadari kondisi sekitarnya.
Wah... lihat ada asap hitam suram membumbung tinggi disekitar Zaint.
________
kuota saya habis, ehehe:)