The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
.



Setelah beberapa menit, akhirnya rambut Arya yang semula panjang kini sudah pendek berkat keahlian tangan Delvan.


"Hm, Arya kamu sudah sehat?"


"Yoi, sehat seperti baru dipoles!"


"Oh, syukurlah... Kamu membuat kami panik, seminggu penuh kamu tak sadarkan diri tahu?!"


"Ya maaf"


"Untung saja Feron mendapatkan nomor panggilan alat komunikasi ayahmu dari ayahnya" kata Delvan.


"Panggilan untuk ayahku?"


"He'em"


"Halah, lima hari sebelum ayahku datang kemana dia kok telat!" ucap Arya kesal.


"Ya kan, kita gak tahu nomor panggilan alat komunikasi ayahmu!"


"Oh gitu!"


Saat jam sudah menunjukan 08.30, guru masuk dan membawa mereka semua ke satu arena duel.


Arya dan teman-temannya berdiam dipojokan memperhatikan ketika guru itu menjelaskan peraturan ujian.


Jujur saja Arya benar-benar tidak percaya bahwa satu hari setelah dia bangun ada Ujian, mana dia gak ada persiapan lagi.


"Baik, apa semua paham? Jika ada yang terluka disini ada healer jadi jangan khawatir. Ingat jika ada yang keluar dari arena maka akan didiskualifikasi, paham!!"


"Paham!!!"


"Baik mari kita mulai dari absensi pertama dan kedua!"


Setelah beberapa kali menang-kalah, kini giliran Arya yang maju.


"Baik, Amon dan Aryan silahkan maju"


Amon adalah anak dengan absensi ke 23, saat dikelas bisa dibilang dia itu anak yang sangat sombong. Dan dia paling benci pada satu orang... Ya~ itu Arya.


"Hei anak gay, aku akan pastikan kekalahanmu hari ini!" serunya dengan nada mengejek. Dia itu iri pada kepintaran Arya membuatnya sering gelap mata.


Hem, apa menurutmu Arya akan kesal? Heh tentu saja tid--


"Ehei~ anak ban*sad ini~ mau ku pelintirkah itu mulut? Lemes banget sih, kek mulut ibu-ibu komplek!"


"Apa kau bilang?!!"


"Hah~ menang kalah itu urusan nanti, sekarang yang penting itu usahanya. Ada usaha ada hasil! Yok maju!" tantang Arya menyilangkan pedangnya di depan dada.


Tanpa sadar Delvan malah bertepuk tangan mendengar tantangan Arya.


Bii...


Bii...


"Kalau kalah jangan nangis ya... Hehe!!"


"Apa kau bilang?!"


Biiii....


Anak bernama Amon itu mengambil langkah cepat untuk menusuk Arya.


Ehem, Arya memutar tubuhnya dan kembali berputar, pedang ditangannya ikut mengayun dengan gelombang angin yang mengikutinya.


Amon yang tak sempat bereaksi pada serangan tiba-tiba Arya langsing terlempar keluar arena.


"Huwoh!! Tuhkan suombong lagi!!! Kena ulti kan!! Heh...!" ucap Arya dengan senyum puas sekaligus mengejek.


Arya turun dari arena dan kembali ke tempat teman-temannya. Sepanjang dia berjalan banyak sekali tepuk tangan yang mengiringinya


"Ka-kau curang... Ugh!" ucap Amon yang merasa kesakitan.


Arya berputar setengah langkah. "Curang apa? Itu namanya trik. Tidak ada larangan menggunakan kekuatan elemen dalam peraturan ujian, lagian aku malas berurusan dengan anak anj-ehem sombong sepertimu"


"Kau sialan!!"


Arya memutar matanya dan menatap Amon seperti remahan rengginang sisa. "Am-pas...." setelah mengatakan itu Arya tersenyum miring.


Setelah beberapa sesi kini giliran Brian yang maju. Mata peraknya berkedip beberapa kali saat dia melihat lawannya.


Bukan masalah wajahnya, tapi Brian sedikit risih dengan tubuh gemetar anak yang jadi lawannya.


"Kamu sehat?"


"Y-ya, ya, sa-saya tidak papa!"


"Wah Bry kamu bikin anak orang ketakutan woy, wkwk!" teriak Arya yang geli melihat lawan temannya itu.


Cukup tangannya yang gemetar, jangan sampai lengah tuh anak! Bisa-bisa hilang tuh kepala!


"Yok bisa yok jangan letoy!" teriak Arya lagi. Jika dia bisa memberi saran, sebaiknya mundur aja sih.


Setelah tiga kali alat pengingat, pertandingan dimulai dengan Brian yang langsung menyerang.


Ditangkis...


Eh...?


Arya terdiam, dia mencubit pipinya dan menoleh pada anak-anak yang lain.


Apa dia tidak salah lihat? Ada yang bisa menangkis pedang Brian?


Serangan kedua kembali diarahkan Brian pada anak itu tapi lagi-lagi ditangkis.


Kemana perginya anak yang terlihat gemetar sebelumnya?


Kini semua pandangan orang lain seketika berubah.


Brian diam dan tidak bergerak. Dia tidak lagi menyerang untuk yang ketiga kalinya, namun dia hanya ingin bertanya saja.


"Siapa nama mu?"


Anak itu diam rambut cokelatnya terjuntai kebawah. "Kita satu kamar, tapi kau tidak ingat namaku?"


Hah!?


Makjleb...!


Arya membuka mulutnya lebar. Serius? Satu kamar tapi gak kenal? Manusia macam apa itu?


"Kita... Sekamar?"


"Iya, ak-aku yang ada di kasur paling ujung dekat jendela kanan"


"Wahhhhh!" teriak tak percaya Arya, Delvan, dan Hansel.


"Aku... Benar-benar tidak ingat" gumam Brian pelan.


Setelah beberapa waktu Ujian kembali berlangsung sampai sore hari. Arya kembali kekamarnya dan merebahkan tubuhnya.


Hm, dia merindukan Snicky dan Miau Wu... Sedang apa ya mereka? Apa mereka sudah makan? Apa tidur mereka baik-baik saja? Hm sedih kalau diingat.


Alat komunikasi yang ada didalam tasnya dia keluarkan dan dengan cepat memutar nomor ayahnya.


"Zzzrtzzzzzrt...."


"..."


"Ayah aku tahu kamu disana!"


"Apa?"


"Untuk?"


"Untuk dimakan! Ya untuk jadi temanlah! Apa lagi?!"


"... Ok"


"Zruuuudddddd"


Tanpa aba-aba alat itu mati membuat Arya sangat-sangat kesal. Tidak bisakah lebih panjang bicaranya?! Gak tahu basa-basi apa?! Hih!


Arya diam matanya berkedip beberapa kali. Ruangan sunyi itu membuat pikirannya kosong.


Hm, dia kepikiran lagi...


Jika dia dan Aryan itu satu tubuh di beberapa kehidupan, apa jangan-jangan dikehidupan pertama, mereka itu dua orang beda tubuh ya, saudara mungkin?


Kutukan, apa itu berhubungan dengan kutukan?


Memang siapa yang mengutuk mereka? Kurang kerjaan banget...!


Yo...ma? Sebenarnya apa itu? Dia hidup, bernafas, bergerak, tapi badannya merah.


Cekrek...


Pintu terbuka dan seseorang masuk. Arya menoleh dia sama sekali tidak bergerak dari posisi rebahan nya.


"Ayka?"


"Kamu kenapa lagi?" tanya Ayka mendekati Arya dan duduk dikasur milik Hansel.


"Kau benar-benar sudah sehat?"


Arya berkedip, mata hijau zambrutnya bergerak perlahan.


"Yah, seperti yang kau lihat! Ada apa?"


"Seseorang mencarimu, dia ada diluar sedari tadi"


"Hm? Siapa?"


"Cris, anak yang ada di kelas kita"


"Oh ok, thanks info nya!" Arya bangun dari tempat tidurnya dan langsung keluar.


Didepan pintu ada Cris yang menunggu sambil bersender di tembok.


"Sok cool..." gumam Arya.


"Ada apa?"


Cris melirik sedikit. "Sudah sehat?"


Pertanyaan sama kembali Arya dengar "... Iya"


"Ayo, kita dipanggil OSIS" ucap Cris memimpin didepan.


"Eh, kenapa? Ada salah apa memang nya?" tanya Arya bingung


"Entahlah"


Mereka berjalan beriringan sampai disebuah ruangan yang terlihat memiliki pintu yang besar. Mirip diistana ya?


Saat Cris mengetuk pintu seorang perempuan tiba-tiba datang mendekati mereka.


"Arya dan Cris, benar?" tanya perempuan itu.


Arya mengangguk. Perempuan itu tersenyum kecil dan membuka pintu itu dengan sedikit dorongan.


"Guys, yang terakhir sudah tiba!" kata perempuan itu berjalan kearah beberapa anak yang menunggu didalam.


Arya terpaku sebentar. Apa-apaan ini? Kenapa banyak orang?


"Arya dan Cris cepat duduk di sofa!"


Eh?


Arya memiringkan kepalanya. Yang barusan berbicara itu Seadna kan?


Arya yang merasa ling-lung dengan sekitarnya jadi kebingungan.


Beberapa anak bahkan banyak yang menoleh pada nya. Apa sih?


Seadna mengeluarkan beberapa lembar kertas kepada Arya sementara Abel memberikan kertasnya kepada Cris.


"Tolong isi ya!"


Arya diam lagi, "apa ini?"


Dia mendapat selembar kertas dengan beberapa pertanyaan di dalamnya.


Pertanyaan pertama: "Kalau ada angsa lima, dikali dua. Berapa total semua angsa?"


Lah? Kuis anji*!


Arya menoleh kenatap pada Cris yang terus mengerutkan keningnya. Dia mencoba mengintip pertanyaan milik anak itu namun sepertinya soal mereka berdua itu sama.


"Kamu tahu jawabannya?"


Cris menggeleng. "Bagaimana denganmu?"


"Aku tahu"


"Hah, serius?"


"Iya!"


"Bukankah jawabannya 10, kan dua dikali lima jadi hasilnya sepuluh?"


Arya menggeleng, "bukan co', jawaban nya bukan itu! Itu pertanyaan jebakan! Kamu gak ngerti sastra ya? 'Kali' disoal itu bukan tentang matematika tapi tentang logika, itu artinya kolam atau sungai!"


"Lah, bisa gitu?"


"Iya loh, coba liat baik-baik! Disoal itu 'dikali' nya gak pakai spasi, sementara kalau soal matematika itu akan dipisah jadi 'di kali' gitu!!"


"Lah berarti jawabannya...?"


"Iya, benar gak berubah!"


Jadilah mereka berdua menjawab soal itu bersamaan.


Soal kedua: "saat di balik akan berkurang 3. Apakah itu?"


Arya mengeryit sekarang. "Apaan ji* kok gitu sih soalnya."


"Sepertinya jawabannya 9 kan? Jika 9 diputar maka akan membentuk angka 6, jadi jika dilihat akan seperti berkurang 3 angka"


Arya berkedip, "sepertinya kamu anak pintar!" puji Arya mengacungkan jempolnya.


Dari arah depan, anggota OSIS menatap mereka dengan greget, apakah mereka itu terlahir pintar?


Soal ketiga: "Kenapa anak kucing dan anak anjing suka berantem?"


"Lah mana aku tahu!" Arya dengan sangat geram menggertakkan giginya. Memangnya apa sih tujuan anak-anak OSIS ngasih tugas kek gitu?! Bikin kesal aja!!


Ada masalah hidup apa sih yang bikin soal?! Kok aneh gitu sih!!


^^^^^^Â¥^^^^^^^^


ehem_-" halo semua udah beberapa minggu saya gk buka MT. bisa dibilang saya maraton baca lo*kism dan seminggu yang lalu badan saya rasa mau lepas gara-gara main tarik tambang ehehe. sorry ya😓