The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
BERLATIH PEDANG



Zaint? dia juga sangat kaget dengan surat yang dikirimkan oleh putri kecilnya, dia kira putrinya itu hanya bisa memberi salam dengan bahasa Italia. tak di sangka olehnya, ternyata putrinya ini bisa menulis dalam bahasa Italia juga rupanya. Bukankah itu jenius? batin mereka yang ada di tenda tersebut. setelah itu Zaint pun menyimpan pan surat itu untuk dibalasnya nanti.




Setelah selesai dengan rapatnya akhirnya Zaint pun ke tenda pribadinya sendiri. Dan membaca ulang surat dari anaknya yang satu itu. Ditengah tengah bacaannya dia tersenyum samar. Dan memfokuskan matanya pada satu tulisan 'merindukan' bukankah itu berarti jika anaknya itu sudah sangat dekat dengannya bahkan bisa dibilang udah sangat lengket jika bersama dirinya.



Dia pun mulai menulis surat untuk anaknya itu



"aspettare! papΓ  tornerΓ  a casa quando sarΓ  il momento, abbi cura della tua salute!"



^^^(\*tunggulah! ayah akan pulang jika sudah waktunya, jaga kesehatanmu!)^^^


^^^Translate\*^^^



Setelah menulis surat itu. Zaint mengikatnya pada burung elang pengantar pesan. "Berikan ini pada putriku" ujarnya dan segera dilaksanakan oleh burung tersebut. Kalian tau lah ya kan, kalau tuh burung takut sama orang gila ono, karena aura yang dikeluarkan nya itu sangat menakutkan.



Hampir sama dengan milik Arya tapi dia tidak pernah mengeluarkannya. Takut weh, masa anak umur tiga tahun punya aura membunuh kek orang yang udah sering bunuh orang ajah. Walau pun memang iya, tapi itu dulu sebelum dia rainkarnasi



Back



Arya sekarang berada kamar, tepatnya di jendela yang pasti belum sampai. Tiba tiba di datangi oleh seekor burung pun hanya sedikit menepi.



"Surat dari siapa itu?" tanyanya penasaran.



"Ini adalah surat dari kaisar!" jawab burung itu. Lalu terbang kembali.



"Oh!!" ucapnya lalu membuka kertas itu. 'tunggulah! ayah akan pulang jika sudah waktunya, jaga kesehatanmu!' setelah membaca surat itu Arya hanya tersenyum sedih saja.



Walau pun tulisannya sangat pendek tapi dia paham bahwa Zaint sebenarnya ingin agar dia tidak perlu cemas dan menjaga kesehatannya, agar dia bisa bertemu dengannya nanti dalam keadaan sehat. Setelah Arya membaca surat itu, dia menaruhnya di laci meja yang berada di samping tempat tidur.



'Ck, menyusahkan ku saja' batin Arya kesal karena dia nulis surat panjang tapi dibalas pendek.



'Ta~pi~ kok aku kangen yah, pengen ketemu cepat-cepat, hihi' Arya merasa deja vu dibuatnya ketika masih didunianya yang dulu.



^^^\*α•ΌπšŠπš•πš˜ πšŠπš—πšŠπš” πšŠπš’πšŠπš‘ πš’πšŠπš—πš πš™πšŠπš•πš’πš—πš πšŒπšŠπš—πšπš’πš”, πš”πšŠπš–πšž πšœπšŽπš‘πšŠπš πšŠπš“πšŠ πš”πšŠπš—. π™ΊπšŠπš–πšž πš‘πšŠπš›πšžπšœ πš–πšŠπš”πšŠπš— πšœπšŠπš’πšžπš› πš“πšžπšπšŠ πš‹πš’πšŠπš› πšπšŠπš” πšπšŽπš–πšžπš”. π™Όπšžπš—πšπš”πš’πš— πš’πšπšž πšŠπš“πšŠ πš’πšŠπš—πš πš–πšŠπšž πšŠπš’πšŠπš‘ πš”πšŠπšπšŠπš”πšŠπš— πš’πš—πšπš’πš—πš’πšŠ πš“πšŠπšπšŠ πš”πšŽπšœπšŽπš‘πšŠπšπšŠπš— πš–πšž, πš˜πš”? πš‚πšŠπš’πšŠπš—πš.\*^^^


yah kira kira begitu lah... Dan itu sudah membuatnya tersenyum.



β€’



β€’



β€’



Keesokan harinya, sekarang ini masih lah subuh sekitar jam 04.30 dini hari. Arya sudah siap dengan peralatan berpedangnya. Dan juga pakaian kasual yang dia kenakan sangat cocok untuk latihannya.



Setelah itu dia mengintip keluar sedikit, memastikan jika si 'bayangan' tidak ada, dan benar saja dia sedang berjalan jalan sebentar sebelum kembali berjaga kembali. saat keluar dari kamar Arya langsung berlari dengan pedang di tangannya.



Bayangan yang di maksud adalah Farel yang ngikutin kek anak bebek itu~.



Farel yang tidak sengaja melihat Arya keluar dari dalam kamar sambil membawa pedang di tangannya langsung saja mengikutinya secara diam diam kek hantu minta ditakutin.



di taman yang sedikit jauh dari istana, Arya mulai pemanasan dan dilanjutkan dengan lari lari kecil sebelum akhirnya mengayunkan pedangnya.




Dari atas pohon, Farel terus saja memperhatikannya berlatih pedang. Dia tertegun melihat Arya memainkan pedang yang ada ditangannya dengan sangat lincah seperti sudah terbiasa. yah, walaupun sedikit ada rasa canggung di gerakannya. Farel tahu itu karena dia sudah sering mengayunkan pedangnya untuk membunuh orang.



'astaga, apa yang aku lihat ini?! tuan putri bisa berpedang di usianya yang terbilang sangatlah muda? luar biasa!? Yah walau pun ada gerakan yang tidak pas, tapi tetap saja itu namanya berbakat' batinnya berteriak dan juga ada rasa kagum dihatinya itu.



karena merasakan sebuah tatapan intens dari Seseorang, Arya pun mulai melemparkan pedangnya ke arah pohon tempat Farel bersembunyi.



swush..... Clap....



Farel dibuat terkejut dan menahan nafasnya ketika melihat sebuah pedang yang sudah menancap tepat disampingnya membuat jantungnya berdetak sangat cepat.



"siapa itu keluarlah sebelum aku mendekati mu dan memenggal kepalamu itu!!?" ujar Arya dingin. Bisa bisanya seorang anak yang terlihat sangatlah polos dan ceria itu berubah menjadi sangat dingin tak tersentuh. Dan ternyata sikapnya yang biasa hanyalah sebuah topeng belaka. Yah pasti tidak ada yang yang menyangka bukan?



Beberapa saat sudah berlalu, karena merasa kesal akhirnya Arya mulai mendekati pohon tersebut. Belum sampai didepan pohon tersebut, tiba tiba ada Seseorang yang turun. Dan orang itu adalah....



*Farel*?!



"Farel? Apa yang kau lakukan disini?" Tanyanya tak percaya dan juga sedikit terkejut saat melihat Farel di sana.



"Putri, apa yang anda lakukan dengan pedang itu?" tanyanya pura pura tidak tahu.



"Eh...ah...emm ini... Untuk, ah sudah lah... Ku tanya lagi Apa yang kau lakukan disini?" ujar ku gelagapan.



"Saya.... Tadi tidak sengaja melihat putri keluar dari kamar sambil berlari membawa pedang jadi saya mengikuti anda" kata Farel.



Arya maju selangkah dan menyuruh Dia untuk berjongkok didepan nya. "Jongkok!!!"ujar nya dingin. lalu Farel entah bagaimana tiba tiba mengikuti kata katanya dan jongkok didepannya. Arya bertanya "Jadi kau sudah melihat ku bermain dari tadi?" tanyanya memastikan.



"I...iya pu... Putri" jawab Farel gugup. Dia masih bingung bagaimana mungkin dia bisa tiba tiba berjongkok bahkan hampir berlutut didepan seorang gadis kecil yang mengeluarkan kata kata dinginnya, kenapa rasanya seperti dia ditekan oleh sebuah tekanan yang sangat kuat membuat dia tidak bisa berdiri?.



Arya maju lagi selangkah dan mendekati telinganya, lalu berbisik : "jangan beritahu siapapun tentang yang kau lihat tadi, termasuk ayah! Jika kau tidak mematuhi ku...... Bersiaplah kepalamu ada di kaki ku, ***paham***!!?" bisiknya diakhiri dengan penekanan. Dan menjauh kembali mengambil pedang untuk diayunkannya kembali.



Farel yang mendapat ancaman seperti itu menjadi menegang dibuatnya. 'Ternyata tuan putri lebih menyeramkan dari baginda, bagai malaikat maut yang siap mengambil nyawa kapan saja. Sungguh menyeramkan....!' batinnya kembali bergidik ngeri.



Farel kembali menonton permainan pedang gadis kecil didepannya yang menurutnya sangat mengagumkan. Gadis itu terus saja mengayun dan menebaskan pedang ke udara didepannya tanpa merasa lelah. Tak sampai disitu dia mulai menebas sambil memutar itu bagaikan tarian yang indah bagi siapapun yang melihatnya dan menjadi tarian kematian bagi yang membuat masalah dengannya.



Sesekali dia melirik Farel yang sedari tadi tertegun menatapku. "Farel, apakah hari ini ada jadwal belajar etiket kah?" tanyaku tanpa menghentikan aktivitas nya itu.



"Tidak ada putri, apakah putri akan pergi jalan jalan?" tanya Farel



"Iya!" jawabnya agak cuek "Jalan jalan kegunung Swely menemui seekor naga hihi!" lanjut nya lagi dalam hati sambil tertawa kecil. Lain di mulut, lain di hati. Di mulut bicara acuh tak acuh, di hati tertawa menyeringai



Hari sudah menjelang pagi, Arya pun sudah menyelesaikan latihannya dan bergegas masuk ke kamarnya tanpa diketahui oleh siapa pun.



"Farel! Ayo cepat!!!" serunya pada Farel. Setelah mandi dan berpakaian rapi Dia bergegas keluar dan memanggil Farel.



"Kita mau kemana, putri?" Tanya Farel penasaran sekaligus heran. "mengapa anda memakai pakaian itu?… apakah anda……?" Mengetahui jalan pikiran Farel yang seperti itu membuat Arya hanya membalas dengan anggukan saja. Sedangkan Farel langsung terkejut dibuatnya.



"Ayo nanti kita terlambat!!" ujar Arya bersemangat.



Mereka pun langsung pergi keluar dari istana secara diam-diam, tanpa ada yang tahu. Bahkan kalau perlu secara rahasia pun pasti akan mereka lalui. Ekhem kecuali lubang anj\*ng. Karena dia punya phobia terhadap anj\*ng karena trauma dikejar anj\*ng rabies. Sampai di desa kemari mereka pun berjalan sampai di perbatasan antara desa dan gunung Swely, lalu mereka pun berhenti.