The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
ulangtahun



Pagi ini suasana nya cukup damai jika tidak ada curut yang mengikuti.


Arya menghela nafas jengah dan


mengabaikan teman-temannya yang terus membuntuti nya dari belakang.


Ini... Adalah hari minggu, hari dimana tidak ada pelajaran. Hari kebebasan bagi orang yang merasa bebas.


Arya dan Seadna yang berencana pergi bersama jadi terganggu gara-gara kehadiran beberapa orang lainnya


Arya menutup matanya dan memegang kepalanya yang sedikit pusing.


"Jangan ikuti kami!"


Arya yang kesal membalik tubuhnya untuk menghadap teman-temannya.


Emilly memanyunkan bibirnya tidak terima.


"Ih, kalian~ kami kan cuma mau ikut, kok dimarahin sih?"


Sekarang, Arya dan Seadna yang sedang menuju kota kecil disekitar Akademi harus berhenti untuk meladeni anak-anak itu.


"Jadi, kalian cuma ingin ikut? Tapi... Jika kalian ingin ikut, bisakah hentikan tatapan intens kalian pada kami?! Kami risih!" protes Arya dengan kesal.


"Kalian risih?"


"Ar? Ini cuma perasaanku atau memang kamu sedikit berubah? Entah sejak kapan kamu jadi semakin cuek dan acuh pada kami. Semenjak pertama kali datang ke Akademi, kita kan jarang ketemu masa... Kamu mulai menghindari kami? Sungguh kah?" ujar Feron menghalangi Emilly yang berniat membalas ucapan Arya.


Netra mata hijau muda gadis itu  seketika menyusut dan perasaan aneh naik kepermukaan hatinya.


Gadis itu sedikit mundur kebelakang, mengatupkan bibirnya tak percaya.


"Ti-tidak seperti itu! Ak-aku hanya... Ugh, aku tidak bermaksud seperti itu" gumam Arya merasa bersalah.


Apa yang salah dengannya? Kenapa dia jadi seperti itu?


Tidak seharusnya jadi seperti itu...


Arya mengerutkan bibirnya dengan keras kepala dan dengan cepat mengangkatnya.


"Maaf Sena, sepertinya aku tidak bisa pergi hari ini, aku harus kembali" ucap Arya berjalan cepat meninggalkan teman-temannya.


"Arya!! Mau kemana kamu?!" teriak Hansel menatap kepergian Arya.


Semua orang berkedip dalam diam.


"Maaf ya, aku tidak ingin terjadi kesalah pahaman diantara kalian dan Arya" ucap Seadna dengan senyum kecil tercetak manis.


"Jadi tadi aku dan Arya berniat pergi ke kota yang disana itu, bukannya tidak ingin mengajak kalian, hanya saja kami berfikir jika tidak akan baik pergi dengan banyak orang"


"Lagi pula yang ingin kami beli itu... Untuk... Hadiah... Ulang tahunnya... Emm itu.. Katanya rahasia, hehe:')" lanjut Seadna dengan senyum ragu.


Feron, Delvan, Emilly, Riden, Hansel dan Brian yang mendengar penjelasan dari Gadis dengan rambut biru tua itu langsung terdiam.


Mereka saling pandang dan tahu apa yang dipikirkan masing-masing.


Arya!!! Tadi itu salah paham!!!


Yang paling merasa bersalah adalah Feron yang menuduh Arya yang tidak-tidak.


Hanya Brian yang masih bertahan ditempat itu.


"Bisa jelaskan lebih detail?"


Seadna yang melihat laki-laki di depannya itu menatapnya dengan datar hanya bisa mengerutkan alisnya.


"Yah, kemarin Arya bilang jika salah satu temannya akan berulang tahun hari ini, jadi dia meminta tolong untuk menemaninya ke kota itu, temannya menyukai kue dengan krim keju, katanya jika salah satu dari kalian tahu, nanti kalian jadi 'kang cepu' jadinya kami pergi berdua saja" Seadna mengangkat bahunya dan menyelesaikan penjelasannya.


^^^(Kang cepu \= tukang ngadu)^^^


"Oh, ternyata begitu" setelah itu Brian juga pergi menyusul yang lain.


Satu-satunya orang yang menyukai krim keju yang creamy hanya ada satu orang dan itu tak lain adalah Feron.


Tapi... Apakah hari ini adalah ulang tahunnya


Tidak ada yang ingat kecuali Arya, namun tetap saja, apa yang Arya lakukan tidak bisa dikatakan baik karena nada yang dipakainya  sedikit judes dan menyakiti hati yang dengar.


Kembali pada Arya...


Gadis itu masih menunduk dengan wajah kesal, kecewa, dan marah bahkan dipelipis nya tercetak perempatan


Uh


Menyebalkan....


Tidak seharusnya dia mengeluarkan kata-kata seperti itu.


Dia berjalan tanpa arah tujuan. Dia hanya pergi kemana kakinya membimbing jalannya. Mata yang jernih itu tertutup kabut air. Wajah mengerut dan bibir rapat terlihat sangat gelap dan suram.


Uh...


"Ayah... Heuks"


Gadis itu dengan keras kepala nya mengelap matanya dengan lengan bajunya. Dia melepas kaca mata nya yang ternyata hiasan mata saja dan dengan gemasnya mematahkannya menjadi dua bagian.


"Ugh, kapan datangnya, sih...?"


Ini lah Arya, orang yang sangat tsundere. Baru beberapa hari lalu dia seperti tidak ingin melihat ayahnya, tapi sekarang? Dia bahkan menunggu kedatangan ayahnya. Benar-benar deh!


Dia bukan lah orang jahat tapi mau bagaimana lagi itukan kebiasaannya.


Bruk..


"Aduh" ringis Arya setelah ditabrak seseorang.


"Au, maaf ya gak sengaja" ucap seseorang yang menabrak Arya.


Arya berkedip dan seketika wajahnya mengerut. Dia ketindihan!


"Anu itu, bisakah kamu bangun dari tubuhku?" tanya Arya mengangkat alisnya.


Remaja yang baru saja menabrak Arya adalah laki-laki dengan penampilan kutu buku yang sedang terburu-buru.


Anak laki-laki itu bangun langsung dan wajahnya memerah karena malu.


Arya bangun dan membersihkan pakaiannya yang sedikit berdebu.


"Kamu siapa dan dari kelas mana?" tanya Arya menatap anak laki-laki yang terlihat masih gelagapan minta maaf.


"Ah, ak-aku dari kelas dua jurusan alchemist"


Arya sedikit tersentak, jurusan alchemist mirip seperti jurusan obat-obatan, namun perbedaan dari keduanya adalah jika obat-obatan hanya mempelajari tentang karakteristik dan manfaat dari tumbuhan obat, maka alchemist mempelajari tentang karakteristik, dan berbagai macam proses pembuatannya. Jika di ibaratkan didunia modern, seperti ilmu biologi dan kimia (banyak rumusan dan kata ilmiahnya)


"Kakak kelas ya?" gumamnya lalu mengangguk.


"Oh? Kamu kelas satu?"


"Iya, jurusan seni pedang" angguk Arya.


"Wah! Sungguh? Aku tidak bisa percaya bisa bertemu salah satu siswa jurusan itu!" ucap anak laki-laki dari jurusan alchemist itu antusias.


Arya hanya tersenyum canggung menaggapi ucapan anak itu.


"Jadi namamu?" tanya Arya lagi.


"Oh, aku Yoshua, kamu?"


"Aryan"


Anak laki-laki bernama Yoshua itu membuka matanya sedikit lebar, "jadi kamu yang namanya Aryan!?"


Huh?


Arya hanya mengangguk sekali.


Yoshua tersenyum sedikit dan bergumam, "jadi kamu ya? Selamat datang dikandangnya rubah"


Anak laki-laki itu menunduk sedikit dan langsung pergi meninggalkan Arya diam mematung sendiri.


Apa-apaan itu?


Saat dia bicara, dia terlihat mirip dengan Seadna. Sama-sama misterius dan membingungkan.


∘₊✧──────✧₊∘


Sepenjang hari Feron dan yang lainnya mencari Arya, namun tidak ada yang dapat menemukan cecuil dari dirinya.


Mereka mrncari dari asrama sampai kelas dan berputar kejurusan lain pun tetap tidak ketemu. Sebenarnya kemana anak itu pergi?


Mereka menyudahi pencarian Arya, mungkin saja dia masih marah dan tidak ingin diganggu.


Feron dan Riden itu satu kamar, jadi mereka pergi bersama-sama. Berbeda dengan Emilly yang kamarnya bersama cewek-cewek.


Feron dan Riden memasuki kamar itu dengan langkah lambat, yah mungkin karena kelelahan.


"Hei Feron! Ini, tadi ada seorang anak laki-laki dengan rambut merah muda datang memberikan ini untukmu, katanya ini hadiah untuk mu" ujar teman sekamar mereka memberikan kotak dengan hiasan seadanya.


Feron menerima kotak itu dengan tidak percaya. Dia mengerutkan bibirnya dengan erat.


Masa...?


Feron membuka kotak itu dan benar saja isinya adalah kue krim keju(cream cheese) yang di sampingnya ada surat kecil.



Feron terdiam. Riden mengambil kertas itu dan melihatnya, "kamu ulang tahun?" tanyanya heran.


Feron tidak memperdulikan pertanyaan dari sepupunya itu.


Dia mencoleh krim yang ada pada kue itu dengan telunjuknya.


Wajahnya yang putih gading memerah dan dia hampir menangis.


Dia... Rasa bersalahnya semakin besar! ╥﹏╥


Tidak seharusnya dia berprasangka buruk pada 'crush'(?) nya.


^^^(Arya be like: apa maksudnya itu:l)^^^


Esok nya, Senin.


Hari ini Arya membuka matanya dikelas yang paling membosankan, pelajaran sejarah.


Ogh, bang***!


"Arya, kamu tahu siapa Kaisar pertama Kekaisaran Roseland" tanya guru yang ada didepan dengan nada yang tegas. Arya biasanya akan menjawab asal-asalan tapi benar makanya guru suka padanya.


Guru yang cantik... Umh dia ingin mengutuk


"Maaf prof, saya kurang tahu, saya belum selesai membaca bagian itu" ucap Arya menunduk.


Masalahnya bukan apa, tapi baru subuh tadi dia mendapat berita jka ayahnya ada dalam perjalanan menuju Akademi karena undangan Kepala Akademi. Rasanya kepalanya benar-benar akan pecah.


Guru itu memiringkan sedikit kepalanya. Dia menaikkan kacamatanya.


"Baiklah, Aryan tolong pikirannya fokus kepelajaran saja untuk sekarang!"


"Baik, prof"


Arya menghela nafasnya pelan dan kembali duduk. Tempat duduknya sama seperti sebelumnya, dia tidak ada niatan untuk pindah tempat sedikitpun karena di kedua sisi nya diapit dua orang temannya.


Dari arah bawah pojok sesorang tersenyum menyeringai dan bergumam.


"Seleksi dimulai~"


✎__Bersambung...


Maaf ya telat lagi...🙇‍♀️


Saya habis dapat tamu penting...🤧


Dan... Saya juga baru buka MT gara-gara nyeri perut ehe😀


Yang mau bocoran eps 105nya☟☟


"Anak itu mirip anda"


Zaint menoleh dan matanya bertatapan dengan mata tajam seorang anak laki-laki dengan kulit putih.


"Apa? Kau kira gen milikku seburuk apa sampai memiliki anak sejelek itu?"


Arya terkejut dan dia hampir bangkit dari tempat duduknya untuk berdebat.


Gitu aja ya🙂