The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
ARYAN ARKIEN ALEXANDER ROSELAND



Arya kembali ke istananya dan mengganti pakaiannya menjadi kasual(yah pakai celana). Dia membuka lemarinya dan mengambil sesuatu.


Itu belati lipat dengan warna gagang hitam dan warna pisaunya perak yang mengkilap.



Dia memutarnya sebentar lalu menangkapnya dalam genggamannya. Dia tersenyum menyeringai dan langsung bangkit berdiri.


Belati itu dia taruh disaku pahanya yang tertutup kantung celana. Dia bergegas keluar dari kamar itu dengan suasana nanti senang.


Dia akan meminta ayahnya untuk memasukannya ke Akademi.


Saat gadis itu didepan pintu kamarnya dia tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang.


"Ugh, mantap hidungku sakit" gumam gadis itu memejamkan matanya sambil memegangi hidungnya yang sedikit sakit.


"Uh, putri? Anda baik-baik saja?" ucap seseorang yang ditabrak Arya.


"Eh, Farel!! Kapan pulang? Kok aku gak tahu?!" Arya dengan kaget seketika mundur dua langkah.


Padahal Farel sudah sangat lama berada di perbatasan karena perintah Zaint. Tapi sekarang dia sudah pulang? Wow.


"Hm, itu yah..., saya baru saja sampai" Farel sedikit menggaruk tengkuknya ketika dia mengalihkan pandangannya.


Sebenarnya dia datang kerena mendapat perintah dari Zaint untuk menjaga anaknya karena Orang itu sangat sibuk dengan 'kegiatan' nya.


"Putri ingin kemana?" tanya Farel memandang pakaian Arya yang oversize.



"Anda tidak berniat...." Farel dengan curiga memicingkan matanya.


"Ugh, tidak seperti itu!! Aku bukan ingin kabur lagi, kok!?" ujar Arya melipat tangannya.


"Hah, syukurlah"


Arya memanyunkan bibirnya ketika melihat respon Farel yang terlihat sangat lega.


Apa salahnya menggunakan pakaian oversize?


"Omong-omong, Anda dapat pakaian seperti itu dimana? Dan kenapa hanya ada satu aksesoris saja yang Anda pakai?"


"Berat paman, berat!!"


Terlihat sedikit kejutan dibawah mata Farel ketika Arya memanggilnya paman tadi.


Apakah...?


"A-anda memanggil saya a-apa barusan?" Farel berusaha menahan suaranya yang sedikit bergetar.


Arya sedikit mengangkat alisnya.


Warna coklat muda...


"Farel, kalau kamu butuh sandaran katakan saja padaku, aku akan meminjamkan bahuku" Arya memandang Farel dengan sangat lekat membuat Farel tersenyum hangat.


Oh, warnanya berubah...


"Itu tidak perlu Putri"


"Tapi kamu kan berharap seperti itu, lain kali aku akan memanggilmu paman" gumam Arya langsung berlari pergi membuat Farel tertegun.


"Tadi Putri bilang apa?"


Sebelumnya sudah diberitahukan bahwa Arya itu punya 'mata gila' yang bisa melihat warna yang melambangkan perasaan seseorang semakin pekat warnanya semakin dipendam perasaannya(suka, benci, dendam, cinta, dll)


Tidak ada yang tidak bisa dilihat oleh Arya, kecuali isi hati seseorang(pikirannya).


Arya berlari dengan bibir di katup rapat.


A-apa yang tadi dia katakan?! Malunya~!!


Arya menghentikan langkahnya didepan pintu ruang kerja ayahnya dan menarik nafas panjang sebelum masuk.


Arya masuk sambil celingak-celinguk.


Itu dia?!


"Ayah!"


"Hah!!"


"Ada apa?"


Arya memperhatikan gerak gerik ayahnya yang sedikit mencurigakan.


"Apa yang sedang ayah cari?"


Zaint meneguk ludahnya susah payah menatap anaknya yang memicingkan matanya.


"Ti-tidak, bukan apa-apa!"


Arya semakin mengeratkan alisnya membuat Zaint mengeratkan giginya.


"Sudah kubilang bukan apa-apa"


"Tapi--!"


"Sudahlah, katakan apa yang ingin kamu katakan padaku?"


Arya sedikit tersentak dengan nada bicara Zaint yang aneh


Ayahnya, sangat jarang memotong kata-kata nya. Kecuali itu tidak dibutuhkan, tapi biasanya dia kan dibiarkan menyelesaikan kalimatnya sebelum dijawab, tapi kenapa sekarang begitu?


"Warnanya bahkan sangat pekat" gumam Arya sangat lirih membuat siapapun tidak bisa mendengar.


"Itu, aku ingin ikut pergi ke Akademi"


Zaint yang kembali duduk ditempat duduknya seketika menghentikan tangannya.


"Apa kamu bilang?"


Ini tidak bagus!


"Aku ingin pergi ke Akademi, hampir semua teman-teman ku pergi ke Akademi"


Sepertinya hari ini sangat pekat...


Arya memainkan tangannya berharap akan direspon positif oleh ayahnya, bahkan senyum kecil terbit dibibir merah cherrynya, tapi...


"Kamu bilang ingin pergi karena semua teman-teman mu ke Akademi! Tidak bisa! Kamu bahkan masih berumur delapan tahun, apa yang ingin kamu lakukan di Akademi?!"


Senyum Arya perlahan luntur digantikan dengan wajah agak khawatir, takut ditolak, "Tapi, ayah... Katanya kalau bisa mendapatkan surat rekomendasi dari kepala Akademi aku bisa--!?"


"ARYA CUKUP DAN DIAM!!! CEPAT ENYAH DARI TEMPAT INI!!?" teriak Zaint membuat Arya membeku ditempatnya dengan mata bergetar dan terbelalak.


Zaint seketika terkejut ketika dia tanpa sadar telah berteriak pada Arya, "Hah, Arya, nak aku... Aku tidak bermaksud--"


"Kebencian yang kau pancarkan membuatku merasa kau sangat berbeda dengan yang biasanya, maafkan aku yang mulia!"


Setelah mengatakan kata kata itu Arya keluar dari ruangan itu dengan pandangan mata yang seperti bisa membekukan apapun.


Zaint tertegun lalu menatap kearah belakangnya yang terlihat tidak ada sedikitpun retakan walau ada sebuah pisau belati yang menancap indah di sana.


"Wo-wow, bagaimana anak itu dibesarkan, bahkan belati pun bisa menancap dengan sempurna seperti tanpa ada gesekan dengan udara sedikitpun"


"Dia lebih menarik daripada ayahnya"


|•\=•|


|•ו|


|•∆•|


Arya berjalan sangat cepat sampai-sampai dia tidak melihat kedepannya.


"Tu-tuan Putri? Ada apa, kenapa Anda melam-- astaga Putri kenapa Anda menangis?!" Tama dengan panik mengusap air mata Arya hingga hanya tersisa matanya yang berkaca-kaca.


"Hiks, aku tidak menangis hu~" Arya memeluk tubuh Tama membuat sang empu badan kembali panik dan gelagapan.


Ada apa ini?


"Putri, bisa jelaskan pada saya apa yang terjadi?"


"Aku benci ayah, aku sangat benci, semuanya sama saja! Mereka hanya ingin menjadikanku mainan"


"Eh, apa maksudnya? Baginda tidak seperti itu kok!"


Arya mengerutkan hidungnya mendorong Tama menjauh dan berdiri.


"Kenapa kamu selalu membelanya? Di ruangannya dia membentak ku? Kamu sama jahatnya dengan orang itu!!" setelah mengatakan itu Arya berlari langsung ke kamarnya dan menguncinya dari dalam dan tidak membiarkan seorangpun masuk.


Kembali ketempat Tama, pria malang yang dituduh oleh Arya itu menampilkan wajah kebingungannya.


"Tuan Tama? Ada apa?" tanya Farel yang kebetulan sedang mencari keberadaan Arya.


"Aku ingin tanya?"


"Ya?"


"Baginda... Sudah pulang?" tanya Tama dengan wajah tidak bisa diartikan.


"Tentunya tidak, 'masalah' kali ini cukup serius, paling tidak Baginda akan berada di sana sekitar satu hingga dua bulan, ada apa?"


"Sudah kuduga ada yang tidak beres, tadi Putri dari ruang kerja Baginda, dan keluar sambil menangis, ayo pergi ke sana"


"Baik"


Saat mereka sampai diruang itu tidak ada sesuatu didalam nya tapi ada satu titik yang tidak beres.


"Tepat di tembok belakang tempat duduk ada bekas lubang benda tajam, Putri selalu membawa benda tajam bersamanya karena dia tidak terlalu nyaman jika selalu menggunakan sihir, apa mungkin...?"


"Ada penyusup yang meniru yang mulia maksud anda?"


"Saya tidak yakin, Sir Farel bagaimana?"


"Saya juga tidak bisa sembarangan menduganya"


"Perintahkan beberapa anggota spesial knight untuk menyelidikinya secara diam-diam, jangan sampai diketahui Putri!"


"Baik"


_____


_____


_____


Arya membaringkan tubuhnya di kasur dan menutup matanya dengan erat.


Dia sedikit terisak ketika mengingat apa yang barusan terjadi.


"Itu bukan ilusi, dia benar-benar membentak ku dan meneriaki ku"


Selain itu ada hal lain yang membuatnya merasa semakin sedih dan kesal.


Ada sesuatu yang tiba-tiba terlintas di kepalanya ketika ayahnya membentak nya.


"Kamu tidak harusnya hidup! Enyah dari sini! Dasar anak haram!"


Entah bagaimana itu membuatnya ambigu dan dejavu disaat bersamaan.


Arya bangun dari kasurnya dan berjalan langsung ke depan cermin. Dia menghapus jejak air matanya dan berusaha tersenyum.


"Alican, oh Alican! Kamu di sana?"


Alican yang merasa terpanggil pun langsung berpindah tempat kearah cermin.


"Apa?"


"Tidak apa, aku hanya ingin melihatmu"


"Oh gitu~"


Alican hanya mangut mangut mengerti. Dia mengerutkan alisnya dan langsung mengoreksi sedikit kesalahan.


"Aku hampir lupa bilang, namaku sudah berubah!" ucap Alican dengan senyum yang langsung mengembang.


"Ya? Apa maksudnya itu?"


"Aku punya nama baru!"


"Wow, siapa namamu sekarang?"


"Karena Alican itu aku ambil dari nama kamu di dunia modern, jadi sekarang aku ubah jadi.... ARYAN ARKIEN ALEXANDER ROSELAND"


Arya yang tidak percaya langsung berdiri dan tersenyum lebar.


"Wah, nama kita hampir samaan lagi!!" seru Arya kegirangan melupakan masalah sebelumnya.


"Tentu saja!"


Nama itu diberikan oleh Zaint karena gabut setengah tahun yang lalu. Zaint berfikir jika seandainya Alican keluar tanpa aba-aba bisa dipanggil Aryan biar gak banyak yang curiga.


^^^(Mulai dari sekarang nama Alican berubah jadi Aryan ya(≡^∇^≡))^^^


Sepanjang malam Arya berbicara dengan Aryan tanpa lelah dan mengadu untuk banyak hal yang mengganjal di hati gadis itu hingga tanpa sadar keduanya tertidur.


Keesokan harinya....


"Arya? Kamu gak papa?" tanya Emilly memandang wajah Arya yang tidak sedikitpun memiliki fluktuasi.


Lina dan Tera memiliki wajah cemas sedari pagi saat membangunkan Arya. Bahkan saat mandi, berdandan, dan bahkan sampai makan pun wajah gadis itu tetap datar tanpa ekspresi.