
Siang hari...
Baik, setelah makan Arya dan teman-temannya pergi ke kota untuk mencari souvernir. Terutama Arya, Lili dan Feron yang terlihat seperti emak-emak ketemu barang diskonan, matanya jelalatan mencari barang bagus.
Hayeo, Eun Jun, Brian, Delvan, Feng Yui, Riden, dan Steve yang merasa paling waras hanya bisa mengikuti dari belakang dengan hati yang terus berkata sabar ketika melihat ketiga orang itu geliuk sana-sini kek cacing kepanasan.
^^^(Kalau ipat pasti bilang: "Astagfirullah, masa kecil kurang bahagia"^\=^)^^^
"Apakah ada yang mau beristirahat?" tanya Hayeo menunjuk kearah salah satu toko di sana.
"Ayo saja" jawab Delvan yang kelelahan.
"Lalu bagaimana dengan mereka?" tanya Feng Yui menunjuk kearah tiga anak yang tak bisa diam itu.
"Biarkan, gak akan hilang juga" ucap Hayeo melambaikan tangannya acuh.
Hayeo memesan beberapa cemilan dan teh untuk pelengkapnya. Dia memandang Arya yang tergolong cukup hiperaktif itu dengan tatapan lucu.
Kemana wajah pucat gadis itu ketika berhadapan dengan hantu?
Dia tersenyum dan mengalihkan wajahnya, dia menatap anak-anak seusianya didepannya dengan mata bingung.
Bagaimana bisa gadis itu memiliki teman dengan sifat kalem sedangkan sifat nya sendiri seperti monyet lepas kandang?
Tapi yah.. Harus dia akui anak itu sangat mudah bersosialisasi dengan orang lain tanpa masalah
Hayeo memutar sendok di tehnya dengan lembut dan bertanya dengan suara magnetis.
"Sudah berapa lama kalian mengenal Arya?"
Semua nya memandang Hayeo dengan spontan.
Apa maksudnya?
"Yah, aku dan Riden mengenalnya ketika berusia tiga tahun, karena kami salah masuk ke taman pribadinya Arya"
"Lili... Saat dia berkunjung ke kediaman Rimson"
"Lalu, Feron bertemu dengan Arya ketika berusia lima tahun, di pasar, mereka berdebat karena... Karena apa ya? Ah, lupakan aku lupa kejadiannya"
"Ada juga Brian, dia korban persembahan orang tuanya sendiri, ya itu sebenarnya gak akan terjadi kalau Arya gak datang langsung ke rumahnya dan meminta mereka memberikan anak mereka untuk Arya"
"Setelah itu, Steve, saat kita berkunjung ke Kekaisaran Ruffela" ucap Delvan menjelaskan sesingkat mungkin.
"Korban?" beo Hayeo dengan bingung.
"Tumbal kah?"
"Entahlah"
Setengah jam kemudian...
Arya yang merasa sudah cukup berbelanja nya langsung mendatangi teman-teman yang lainnya, dia juga menyeret seorang remaja bercadar di sampingnya untuk ikut. Entah di mana dia mendapatkan remaja itu, intinya dia tanpa pikir panjang langsung menyeretnya
Dibelakangnya ada Lili dan Feron yang juga sudah selesai dengan kegiatan mereka dan ikut menyusul.
"Guys, aku punya seseorang nih, baru selesai aku culik!" ujar Arya memamerkan pemuda bercadar itu dengan bangganya.
"Maaf Nona, kenapa anda membawa majikan saya begitu saja? Huft...huft..." keluh seorang pria yang mengejar Arya dengan sedikit terengah-engah.
Semua teman Arya memandang gadis itu dengan pandangan tidak bisa diartikan.
Dia menculik seseorang?
Terlebih itu adalah seorang laki-laki?
Yang ada penjaga nya pula?!
Dia terlalu gila!?
"Aku melihat seorang pangeran berjalan-jalan di kota tanpa beban, jadi aku mau memberinya beban, baik kan aku?" kata Arya mengambil cemilan di atas meja dengan enteng.
Ugh...
ya, remaja bercadar tadi adalah Guan-Lee dan penjaga sekaligus pelayan pribadi nya, Ryu.
"Iya, saking baiknya mau ku banting mejanya loh" ujar Hayeo dengan senyum gemasnya.
Ehe...!
Arya menarik sebuah kursi dan duduk dengan santai lalu memasukan cemilannya lagi ke mulut nya.
"Duduk jangan berdiri, nanti kakimu patah loh ku sleding" ucap Arya menunjuk kearah dua kursi di samping Hayeo.
Geun-Lee sedikit menyunggingkan senyumnya dan duduk dengan diam. Arya kembali melanjutkan makannya, tapi kali ini dia mengambil buah dan mengupas kulitnya dengan pisau yang memang sudah disediakan.
Arya mengernyitkan keningnya dan menatap Ryu yang hanya berdiri dibelakang Geun-Lee.
"Mata kau buat hiasan kah? Atau telinga kau mau ku pelintir? Duduk oneng!!" Arya memandang Ryu dengan pandangan malas mengacungkan tangan berisikan pisau potong buah ditangannya.
Tolong...
Geun-Lee mengangguk dan Ryu langsung duduk di samping nya. Terkadang orang yang bar-bar bisa lebih gila dari pada orang gila yang gilanya beneran.
"Hey, percayalah aku ingin mengejutkan bawahan Kakak ku" ucap Arya membuat semua orang diam memandangnya. Arya masih asik mengupas kulit apel ditangannya dan tetap bersikap acuh tak acuh.
"Maksudnya?" tanya Lili bingung.
Kakak yang mana?
Arya kan anak tunggal?!
"Di gang ke-3 dari tempat ini ada beberapa pedagang budak ilegal, aku lagi bosan dan kalian 'kan tahu terkadang aku juga bisa gila mendadak, kan? Nah, untuk mengurangi hal itu ayo kita berpura-pura menjadi budak dan ditangkap?"
Arya masih tidak terlalu peduli tapi pikirannya benar-benar bersemangat, sementara semua temannya dengan wajah tidak bisa diartikan benar-benar tercengang.
"Sifat siapa yang kau warisi sebenarnya?" tanya Feron hampir kehabisan kata-kata.
"Jangan bilang ayahmu, Kaisar Zaint tidak pernah memiliki pikiran segila dan seabsurd kamu, oke?"
"Mendiang Permaisuri juga, menurut berita yang pernah dirumorkan, dia orang yang sangat mengutamakan martabatnya, tapi kenapa kamu seperti ini? Salah ngidam kah?"
Arya yang tiba-tiba dibanding-bandingkan dengan orang tuanya hanya menampilkan wajah tersenyum. Entah kenapa hatinya seperti ditusuk pisau secara lambat dan perlahan. Dia tanpa sadar mengerutkan bibirnya sedikit. Sudah beberapa tahun dia tidak mendengar orang-orang membicarakan ibunya dan sekarang dia jadi sedikit kesal.
Walau dia tidak mengenal orang yang seharusnya dia panggil 'ibu' tapi dia masihlah dendam pada wanita itu(walau udah jadi mayat).
Wanita yang hampir membunuh anaknya sendiri yang bahkan belum lahir... apakah pantas di panggil ibu?
Hayeo melirik kearah Arya lalu kearah Feron. Dia menurunkan cangkir tehnya hingga terdengar suara benturan antara cangkir dan tatakan nya.
Etiket dasar saat minum teh adalah tidak boleh terdengar suara ketika meneguk nya dan ketika menaruhnya tidak boleh ada suara benturan antara cangkir dan tatakan nya. Kalau ada suara itu artinya sang pemilik cangkir menegur seseorang untuk menghentikan pembicaraan nya.
Tidak sia-sia aku belajar etiket dari dunia modern...!
Karena pekerjaannya sebagai sekretaris, maka dia diharuskan untuk bisa melakukan hal-hal seperti etiket dasar. Apalagi Arya yang memang CEO muda, dia harus siap sedia ketika harus mengikuti perjamuan yang satu ke perjamuan lainnya.
"Jadi bagaimana? Lakukan?" tanya Hayeo setelah semua orang tenang.
"Kuy lah, sabi lah buat referensi 'kan?" ucap Arya langsung berdiri dan menggunakan sihir transformasi untuk mengubah penampilan mereka semua.
"Ah, apakah... Sihir semudah ini dilakukan?" tanya Geun-Lee mengerutkan keningnya dan memandang bajunya.
"Tentu saja tidak, dibutuhkan cukup banyak Mana untuk melakukan sihir tranformasi apalagi digunakan untuk 12 orang, kalau itu penyihir biasa mungkin dia akan melemah atau bisa jadi rawan*" sahut Hayeo memutar pisau ditangannya.
^^^(*Rawan ini bisa juga dibilang sekarat atau bahasa Arya sih mudah mati)^^^
^^^(12 orang: Arya, Lili, Feron, Brian, Delvan, Steve, Riden, Hayeo, Eun Jun, Geun-Lee, Ryu, dan Feng Yui).^^^
"Berikan!" gumam Eun Jun merampas pisau miliknya yang entah sejak kapan ada ditangan adiknya.
"Cih, pelit" decak Hayeo kesal.
Arya dan yang lainnya langsung berpura-pura seperti orang kekurangan(tidak mampu/gelandangan), mereka berjalan kearah gang itu dan duduk di sana.
Dari sebuah toko di sekitar penginapan...
Seorang pria duduk meminum wine milik nya dan memandang keluar jendela
Dia memandang kearah penginapan milik Arya dkk dan tersenyum. Tanpa sadar punggungnya meremang. Dia meneguk habis gelas wine nya dan tersenyum.
"Aku punya Firasat buruk"
"Maksud tuan?"
"Ya~ seperti aku akan dipermainkan gitu~" ucap pria itu melambai-lambai kan gelas wine ditangannya.
Ha?
"Apa ada kabar dari anak-anak itu?"
"Tidak tuan, mereka masih ada di ibu kota"
"Berita terkini di ibu kota?"
"Perdagangan budak yang belakangan ini banyak terjadi"
"Anak-anak itu.... Tidak akan di anggap sebagai calon budak, kan?" tanya pria itu mengerutkan keningnya.
"... Itu... Saya tidak yakin" jawab bawahan pria itu ragu.
pasalnya, anak-anak itu adalah kumpulan anak yang kurang waras, hampir gila, udah gila, tahap gila, cukup waras, dan sebagainya, yang bahkan sifatnya saja sulit ditebak
like and komen nya kakak๐๐๐ซ
dan hampir lupa
SELAMAT TAHUN BARU SEMUANYA ๐ฅณ๐ฅณ๐งจ๐งจ๐๐๐๐๐