
Satu hari sebelum penyambutan murid baru di Akademi Bulan...
Arya membuka matanya saat dia sedang asik rebahan di atas kasur 'empuk' nya
Dia mengganti pakaiannya menjadi pakaian biasa yang tidak terlalu mencolok.
Saat dia ingin keluar dia dihentikan oleh seseorang yang menepuk pundaknya.
Arya memutar kepalanya dan bertanya.
"Apa?"
Orang yang menepuk pundak Arya tadi adalah Hansel yang juga merupakan temannya saat menjadi 'Arya'.
"Kamu akan pergi keluar? Bisakah aku ikut? Aku tidak begitu mengenal orang-orang?"
Arya mengangkat alisnya.
"Memang kita kenal?" pertanyaan Arya membuat Hansel berasa tertohok seketika.
"Ya~ memang tidak, tapi... Aku hanya merasa sedikit familiar dengan wajahmu, bukan berarti aku kenal, hanya saja kamu mirip seseorang"
Arya mengalihkan pandangan dan membatin.
Ya iyalah kenal namanya juga teman!
"Kalau begitu ayo pergi" ucap Arya membalik kepala ya dan melanjutkan jalan sebelum dia dihentikan satu suara lagi.
"Tu-tunggu! Tunggu sebentar! Aku-aku ikutan ya?!" kali ini adalah Delvan yang juga ikut sekamar dengan Arya.
"Tidak!" tolak Arya mentah-mentah
"Ayolah?" Delvan memohon dengan wajah memelas
"Huft!"
Arya menghela nafas dengan jengah dan kembali masuk kedalam kamar asrama.
"Mohon perhatiannya!" seru Arya membuat semua anak laki-laki yang ada didalam sana menoleh.
"Ada apa?" tanya salah satu dari anak laki-laki itu.
"Apakah ada yang ingin pergi berkeliling Akademi? Walau tidak saling kenal mungkin kita bisa saling akrab jika sering mengobrol bersama?"
Semua orang terdiam.
Arya adalah orang yang mudah bersosialisasi, bukan seseorang yang pemalu dan dia sangat percaya diri. Dia bukan seseorang yang akan malu-malu kucing, tapi malah malu-maluin. Wkwk!!
Beberapa Anak-anak itu saling tukar pandang dan mengangkat bahu.
"Ayo saja! Mohon kerja samanya saja!" ucap anak-anak itu yang mulai ikut keluar.
Hansel dan Delvan saling lempar pandangan dan memiliki isi pikiran yang sama.
Mirip Arya, walau dalam versi datar.
Anak laki-laki dengan rambut hitam pekat di belakang yang lain memandang Arya dengan intens. Mata hitam pekatnya itu berkedip beberapa kali. Tercium aroma makanan dari tubuh Arya membuatnya menjadi bingung.
Anak laki-laki(Arya) yang menyukai makanan manis, tidak biasa sekali?
Arya yang tidak sengaja bertatapan dengan mata hitam itu perlahan memandangnya balik.
Dia bertanya-tanya kenapa anak laki-laki itu tidak mengatakan apapun itu terus menatapnya. Mata anak itu juga hitam pekat seperti sangat kosong.
Apakah bisu?
Atau tuli?
Tunanetra?
Kadang akhlaknya Arya itu bisa ngilang tiba-tiba, jadi maklum saja otaknya geser dikit.
✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈
Aryan be like: "gak Ar! Dia gak tuli, buta, atau bisu. Itu wajar jika anak-anak pendiam di sekolah pas hari pertamanya!"
Ipat be like: "mana ada, saya dulu pas SMP malah ngerusuhin teman disamping, padahal gak kenal sama sekali!"
Arya & Aryan be like: "apakah kami tanya? Oh tidak tentunya~"
✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏
Arya mendekati anak laki-laki itu dan mengulurkan tangannya.
"Aryan, namamu?"
Anak laki-laki bermata hitam itu mengamati tangan Arya sebentar lalu membalas jabatannya.
Tangannya tidak ada kapalan
"Ryzan"
Arya berkedip dengan tenang dan melepaskan tangannya.
Ternyata sehat?
Kirain aja tadi ada kelainan!
"Ingin ikut?"
"..." anak laki-laki bernama Ryzan itu hanya mengangguk dan mengikuti Arya dari belakang.
Arya dan semua teman sekamarnya pergi berjalan-jalan dengan santainya menyusuri kemana jalan yang mereka tapaki menuntun.
Selama perjalanan itu Arya mulai merilekskan tubuhnya karena kelelahan akibat kemarin dia berlarian dari pohon ke pohon lainnya.
"Iyan kamu punya teman di Akademi ini?" tanya salah satu anak-anak itu yang memiliki nama Ayka.
^^^(Iyan itu nama panggilan dari 'Aryan' karena... Kalau dipanggil 'Aryan',itu terlalu mirip dengan 'Arya'. Misal kalau Arya dipanggil Ar? Apakah Aryan juga? Gak lah, susah nantinya! Jadinya pakai Iyan aja)^^^
Arya yang merasa dipanggil menoleh dan mengangguk.
"Punya, hanya saja belum ketemu"
Semua anak-anak itu mengerutkan dahinya.
Katanya punya, tapi kok belum ketemu?
Jadi udah punya atau belum?!
"Iyan, bisa tidak jangan berbicara ambigu seperti itu?" protes Delvan merasa aneh.
^^^(Ambigu \= memiliki lebih dari satu makna)^^^
"Ugh, maksudnya aku punya teman, hanya saja aku belum ketemu, kami seperti pisah gitu sektor nya!" jelas Arya membuang muka.
Semua anak-anak itu mengangguk mengerti.
Sepanjang jalan ada cukup banyak orang yang memperhatikan mereka. Ada yang curi-curi pandang, ada yang menatap langsung.
Arya mengabaikan setiap perkataan yang keluar dari mulut orang-orang itu dan terus berjalan melihat-lihat bangunan sekitarnya.
Semuanya besar dan tinggi.
Saat mereka berada di dekat sektor sihir mereka terhenti.
Ada beberapa siswa yang menghentikan mereka. Entah kenapa Arya merasakan perasaan buruk ketika berhadapan dengan mereka.
"Kalian ingin apa?" tanya salah satu dari siswa yang menghentikan rombongan Arya.
"Gitu saja?" Delvan yang tiba-tiba didorong untuk kembali bertanya dengan bingung.
"Memang kamu mau berdebat dengan mereka?" tanya Arya menatap datar Delvan.
"Eh, engga sih"
"Ayo pergi!"
Beberapa siswa yang merasa diabaikan itu menjadi geram dan langsung menyerang Arya dan yang lainnya menggunakan sihir.
Arya yang sedang mendorong teman-teman nya seketika langsung berbisik.
"Melompat!"
Semua teman sekamarnya yang mendengar bisikan Arya jadi spontan melompat.
Ctasss...
Semua orang yang menyaksikan kejadian itu tercengang. Respon yang diberikan oleh rombongan Arya benar-benar tidak terbayangkan.
"Kalian, bagaimana bisa...?" Anak-anak yang menyerang Arya dan teman-temannya bahkan sampai terperangah.
Arya menghela nafasnya jengah.
Jangan sekarang!
Dia berbalik dan menunjuk pada anak-anak itu.
"Hei buruk rupa alias burik! Jangan buat masalah ya! Kalau tidak kalian akan jadi daging geprek!!? Atau gak akan... emph---!" ucap Arya membuat teman-temannya yang ada dibelakang terbelalak.
Entah lah kenapa Delvan langsung menutup mulut Arya dan menghentikan gadis itu untuk melanjutkan bicaranya.
Caranya bicara mirip Arya ╥﹏╥
"Kamu..... Beraninya kamu mengancam kami!!?" teriak salah satu anak-anak yang menyerang tadi.
Arya menyingkap tangan Delvan kebawah dan menunjukkan jari tengahnya membuat Hansel seketika menurunkan tangan Arya.
"Kalian duluan yang nyerang k*plak!! Mau ku pukul kalian!?!" balas Arya dengan nada dingin tapi ngegas.
"Sudah-sudah! Cukup Iyan! Cukup! Jangan mulai!!?" cegah Hansel berusaha keras menurunkan tangan gadis itu yang ingin terus naik.
"Apa-apaan anak laki-laki berwajah cantik itu hah!? Wajah mirip gadis lugu itu benar-benar tidak cocok dengan gendernya" ucap salah satu dari anak-anak yang terlihat berandal itu berhasil membuat Arya membeku seketika.
Ukh, sial*n!!
Teman-temannya sekamar Arya yang juga mendengar perkataan itu mengumpat diam-diam. Mereka bahkan tidak ada yang menyinggung tentang wajahnya, tapi lihatlah orang-orang itu... Astaga!
"Sudah ***--!" belum selesai Delvan mengatakan apa yang ingin dia katakan, Arya yang memiliki wajah menghitam itu melepas kan tangannya dari pegangan Hansel dan menjauhkan tangan Delvan dari mulutnya.
Dia berjalan maju dan diam didepan anak-anak yang tadi mengatasinya.
"Memang kenapa? Wajahku cantik juga bukan urusan mu! Memangnya kamu yang biayain perawatanku? Gak kan? Jadi gak usah ngurusin tentang wajahku!" ucap Arya penuh penekanan sambil menusuk-nusuk dada anak itu dengan jarinya. Matanya menjadi tajam dan wajahnya menjadi semakin dingin.
Anak yang dadanya ditusuk-tusuk dengan jari oleh Arya membuka matanya dengan lebar. Pipi dan telinganya memerah dengan sempurna saat dia mencium aroma manis.
A-aroma coklat...
"Kamu suka pe-permen?" tanya anak itu spontan membuat temannya yang lain memandang nya dengan tidak percaya.
^^^(jadi jinak_-")^^^
"Iya, aku suka permen dengan rasa buah dan coklat kenapa? Kamu mau memberikanku coklat?" tanya Arya berkedip dan menurunkan tangannya.
Argggg...
Semua teman sekamar Arya rasanya ingin menjerit ketika melihat tatapan mata Arya yang terlihat sedikit berbinar.
Apakah anak itu memiliki otak untuk tidak jujur?!
Anak yang ada dihadapan Arya itu mengedipkan matanya dan mengeluarkan beberapa butir permen berbungkus dan memberikannya pada Arya.
"A-aku bukan berniat memberikan nya padamu! Ambil itu! Na-namaku Rokan, a-aku akan pergi!?!" ucap anak itu gagap dan menarik semua temannya pergi. Sepertinya dia adalah pemimpin dari anak-anak yang lainnya.
Arya mengedipkan matanya ketika melihat permen ditangannya.
Gak beracun kan?
Btw, aku kan gak nanya siapa namanya?
Arya berbalik dan mengangkat bahunya. Dia dengan tidak peduli membuka permen itu dan memakannya.
"Ayo pergi!"
...•◌•◌•◌•◌•◌•◌•◌•★•◌•◌•◌•◌•◌•◌•◌•...
Dikamar...
"Kamu kenal anak tadi?" tanya Delvan pada Arya yang lagi rebahan di kasur membaca rangkaian acara yang akan dilaksanakan besok.
"Egwa, akwu ajwa barrwu liywat tadwe(engga, aku aja baru lihat tadi)" Arya menjawab tanpa menoleh pada Delvan yang mencari beberapa buku.
Arya memiliki sebuah permen dari anak laki-laki bernama Rokan di mulutnya. Rasa permen itu manis dan asam, yah cukuplah untuk menghilangkan rasa ngantuk nya.
"Ouh gitu~" Delvan mengangguk dan tidak bertanya lagi.
Dari arah samping, Hansel menatap Delvan dengan mata takjub.
"Kamu ngerti apa yang dia bilang?" tanya Hansel di angguki beberapa anak lainnya.
Delvan menoleh dan baru sadar. Dia sudah terlalu terbiasa dengan cara bicara Arya yang biasanya di mulutnya ada permen atau benda lain. Cara bicara yang kadang acuh membuatnya biasa-biasa saja. Bahkan sampai-sampai dia tanpa sadar mengerti apa maksud dari cara bicara Arya yang ngawur.
"Eh? Iya ya!"
"Iyan, kamu kenal Arya?"
Arya yang tidak begitu mendengar perkataan Delvan hanya menggeleng.
"Ngwak twuv(enggak tuh!)" jawabnya singkat.
"Iyan, kamu mendengarkan ku tidak?" tanya Delvan yang tidak dijawab oleh Arya.
"ARYAN ARKIEEENN!!!" teriak Delvan tepat di samping telinga Arya.
Arya tidak pernah mengatakan nama lengkap dari 'Aryan' karena menurutnya, Aryan hanyalah teman imajinasinya.
Padahal semua temannya tahu jika Aryan itu nyata. Dan selama beberapa bulan terakhir Alican yang berubah nama jadi Aryan tidak pernah keluar. Jadi hampir tidak ada yang mengenal Alican dengan nama Aryan.
Lanjut...
Arya yang terkejut sontak saja menelan permen itu membuatnya keselek. Dia dengan gemetar memukul-mukul dadanya sembari terbatuk.
Dia dengan sengit menatap Delvan yang berniat kabur.
"DEL.. uhuk!! DELVAN SIALAN SINI KAMU SETAN!!? Kuhuk...kuhuk...!!" sambil berteriak dan batuk, Arya mengejar Delvan yang berlari keluar dengan kecepatan maksimal.
"Waa!! Maaf, aku tidak sengaja!!" ujar Delvan berlari menuju luar.
"Hah, mereka cepat sekali akurnya, perasaan beberapa jam lalu mereka masih seperti orang baru kenalan" keluh Hansel membuat anak-anak yang ada dikamar itu tertawa kecil.
^^^(All be like: "GAK HANS, GAK! ITU BUKAN AKUR NAMANYA! ITU KELAHI!! JANGAN MENYAMAKAN AKUR DAN KELAHI, WOY!!?")^^^
sebenarnya udah bikin 3 episodenya, tapi tunggu dulu ini di review ya buat update, biasanya gak lama sih(?)
selamat membaca semua😀
tinggalkan jejak ya!😁