
Ketika Zaint membuka pintu dia melihat anaknya tergeletak bernyawa. Dia dengan tenangnya menyentuh dahi anaknya dan menekannya agak kuat.
Arya yang merasakan dahinya ditekan pun membuka matanya sedikit lalu duduk tapi masih dalam keadaan ngantuk berat.
"Eng?.."
"Ah..."
"Hum..."
"Syapa?..."
"Ah..."
"Yah?"
Dia terus bergumam dan menoleh sedikit melihat seseorang dibelakang ayahnya. Pandangannya buram, jadi terlihat samar. Tapi dia yakin melihat emas bersinar kabur.
Ah...
Dia tahu siapa itu.
Arya perlahan bangun dan mendekati Feron.
Dia duduk di samping Feron dan menyenderkan kepalanya ke bahu Feron.
Perlahan tapi pasti dia bergumam di bahu Feron.
Kelion melihat interaksi Gadis yang setengah sadar itu, lalu melirik kearah Zaint yang memiliki ekspresi gelap dan bibir yang dicebik membuatnya terlihat menakutkan dan jangan lupa aura gelap yang menguar dari tubuhnya.
"Sudah kukatakan~ anakku ada ditempat putrimu~ kau tak percaya sih~ jadi sudah seharusnya anak mu menginap di Kekaisaran Ruffela, benar bukan~?" Kelion memanas-manasi Zaint yang sudah terlihat marah.
Dia tahu anaknya akan berada di tempat Arya karena anaknya itu sudah terkena 'kutukan cinta'. Oleh karena itu dia berani bertaruh sebuah kerajaan. Yah, walaupun masih tahap awal yang artinya masih tahap waras, putranya tidak akan melakukan hal gila lainnya. Jadi wajar jika masih ada sedikit pertengkaran yang membuat Anaknya dan anak si tiran itu saling tidak mau mengalah.
Dia ingat sekali setelah pernyataan yang cukup gila dari anak nya itu, dia mengurungnya dikamar beberapa hari tapi langsung keluar.
Kembali pada Arya...
Gadis itu masih bergumam tidak jelas lalu menarik kepala Feron dan mengguncang nya hingga Feron merem melek.
"Fer... Ayahmu datahuaaaawh... Ng... Cepath... Banghun..."Arya yang masih mengguncang tubuh Feron terus menguap dan tak henti hentinya bergumam.
"Ngh... Iya... Iya... Ber... Hen... Ti... Meng... Guncang... Ku...!!!" Feron bangun dan memegang tangan Arya yang terus mengguncang nya membuat Zaint maju selangkah dan langsung dihentikan oleh Kelion.
Ketika Feron benar benar bangun dia langsung menatap datar pada ayahnya dan mengangkat alisnya aneh.
"Ada apa? Tidak biasanya kamu mencari ku?" tanya Feron merapikan bajunya yang berantakan gara gara diguncang tadi.
"Aku merindukan anakku~" Feron dengan refleks merinding, terbukti dengan tubuhnya yang agak bergetar. Ditambah dengan wajahnya yang memandang dengan jijik ayahnya.
"Ih~ paman jablay ya?" ujar Arya yang sudah merebahkan tubuhnya Di Sofa.
Semua anak yang tadinya tertidur langsung terbangun setelah mendengar keributan.
"Jablay? Apa itu?" tanya Feron mengangkat alis heran.
"Masa gak tau? Jablay... Jarang dibelai... Itu artinya" jawab Arya langsung menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya.
Pftt...
Zaint tidak bisa menahan wajah lurusnya dan berakhir menahan tawanya. Dan mengalihkan matanya ketempat lain. Dia tidak ingin melihat wajah bermasalah Milik Kelion.
Feron melirik ayahnya yang membeku dan menutup mulutnya, dan dengan lemah berkata "mungkin karena ayahku payah dan tidak berguna, menurutku itu sangat keterlaluan, tapi........ Cocok untuknya" Feron menjeda omongannya sebentar lalu melanjutkannya lagi, Kelion menatap nanar penuh harap pada putranya tapi hal selanjutnya yang dikatakan anaknya benar benar membuatnya menyesal karena sudah 'membuat' anaknya yang satu itu.
Penyesalan selalu datang diakhir.
Btw, kenapa Feron malah makin mirip Arya ya? Suka mendramatisir banget gitu loh. Terlalu mendalami peran.
"Haha, Rechan saja kena mental mendengar mulutnya yang tidak disaring itu, dan kamu masih bisa tenang begitu? Hebat!" ujar Zaint masih terkekeh lucu.
"Hah, Rechan? Apa yang dikatakan anakmu sampai dia seperti itu?" tanya Kelion penasaran.
Bahkan semua orang menyimak pembicaraan mereka, Kecuali Arya yang sudah sampai ke alam mimpinya.
"Hanya manusia salju dan angin lalu saja" jawab Zaint duduk di sofa yang sama dengan tempat Arya tidur.
Semua orang diam tak terkecuali Kelion yang kembali membatu.
Pantas saja jika kena mental dibuatnya. Kata-kata nya gak main main. Lidahnya terlalu tajam hingga menusuk jantung tembus paru-paru.
Hacihh....
Delvan menoleh ketika mendengar suara bersin yang datang dari adiknya. Dia menoleh lagi menatap kebawah kaki adiknya.
Ah..
"Kirain kenapa, ternyata ada kucing" Gumam delvan langsung mengangkat Miau Wu menjauhi Lili.
Ingatkan Lili itu, alergi aroma tubuh kucing.
Feron juga menoleh dan mendekati Lili.
"Ternyata si cabai takut bulu kucing" ujar Feron tersenyum miring.
Kelion yang melihat anaknya yang memang pada dasarnya kurang ajar itu hanya menghela nafas.
"Siapa yang bilang aku takut bulu kucing!!!" Lili mengeram marah dan melebarkan matanya.
Arya membuka matanya dan menatap nyalang pada dua orang yang tak henti-hentinya adu mulut itu.
"ᚾᛟᛟᛋᛂᛏᛁᛂ" Gumam Arya mengangkat tangannya dan menggenggam tangannya dengan cepat.
Feron dan Lili yang tiba tiba masuk dalam dua buah jaring langsung diam tidak berani meronta ketika melihat mata gelap Arya. Mata yang selalu terlihat bersinar hijau permata itu benar benar redup, yang artinya Arya benar benar merasa kesal dan gondok.
Zaint dengan cepat menoleh kearah anaknya dan dia tidak bisa menyembunyikan tatapan terkejutnya melihat kedua mata anaknya menjadi gelap.
Kelion juga langsung menatap anaknya ketika melihat tiba-tiba ada yang mengurung anaknya secara mendadak.
"Sudah?" tanya Arya datar dan dingin.
Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Arya, bahkan Brian pun hanya diam.
"Sudah selesai, belum?" Arya semakin mendekat dan menarik kedua kantung jaring berisi manusia itu ke hadapannya.
Glek...
"Apakah kalian tahu seberapa--"
Kruyukkk.....
"Bang*at!!" Arya mengumpat ketika perutnya memotong perkataannya.
Tanpa dia sadari dia BELUM MAKAN DARI PAGI, WOY!?
Arya melepaskan mereka berdua dan berjalan keluar dari kamar.
"Ikut kagak? Aku lapar tahu?! Cepatlah!!" Arya berteriak dari luar dan menuju ruang makan.
Ctak...
Gadis itu menjentikkan tangannya sekali dan seluruh lampu yang ada di istana itu menyala secara serempak.
Istana dengan interior klasik dan elegan itu memiliki warna putih, cream, dan hitam yang mendominasi warna keseluruhan istana itu. Juga beberapa barang minimalis yang cocok dipajang di sudut ruangan. Dua tangga yang berhubungan dan karena ukuran istana itu adalah setengah dari istana kaisar jadi ada beberapa kamar kosong dan taman yang luas. Sekitar lima perpustakaan, satu ruangan medis, dan banyak tempat tempat lainnya.
Termasuk ruang makan yang lumayan besar. Di Sana sudah ada orang yang duduk mengobrol. Arya masih di kamar mandi untuk membersihkan wajahnya dan menyegarkan pikirannya. Matanya yang gelap sudah kembali cerah kembali, dia hanya tersulut emosi sesaat saja.
Setelah selesai mengurus dirinya, Arya langsung pergi bergabung dengan lainnya dimeja makan.
"Oh iya paman, siapa nama anda?" tanya Arya menatap Kelion dengan senyuman kecil.
"Oh? Gigimu yang indah sudah tumbuh kembali? Selamat!" walau Zaint berkata begitu, tapi dengan jelas dia mengarahkan ejekkan langsung pada anaknya itu.
Wajah Arya yang tadi tersenyum langsung luntur digantikan dengan wajah jengkel.
"Oh? Ayah? Sepertinya kamu kumat lagi, apakah obat waras mu sudah kamu minum?" balas Arya yang juga ikut menyerang Ayahnya.
"Aku sudah meminumnya, ketika melihat putriku kehilangan giginya aku terpaksa harus meminumnya karena aku takut menjadi gila" ujar Zaint melipat tangannya di meja.
"Ha! Kau baru sadar jika kau itu gila, kukira kau tidak akan sadar diri?" Arya menopang dagunya dengan tangan di atas meja.
"Dari pada memikirkan waras tidaknya aku bukanlah lebih baik kau juga mengurangi ke blangsak kan mu itu? Putriku?" ketika berbicara Zaint tersenyum evil dan menekan kalimat 'putriku'
"Sebelumnya aku minta maaf, a-ya-h-ku!! Karena aku adalah putri a-ya-h maka sifat blangsak ku juga menurun dari Kamu, a-ya-h!! Jangan heran jika aku bersikap blangsak, karena pada dasarnya aku adalah ka-mu versi anak perempuan" Arya tersenyum miring ketika dia men-skakmat ayahnya itu.
Kelion berusaha mati-matian untuk menahan tawanya tapi rasanya susah sekali.
Semua orang yang lain nya (kecuali Brian yang emang gak tahu apa-apa) hanya menghela nafas pasrah. Ini sudah terjadi ribuan kali jika dua orang yang sayangnya keluarga sedarah itu bertemu, kondisi yang berkembang di antara keduanya adalah kondisi yang memiliki arus naik turun. Sulit diprediksi, kadang bertengkar, berselisih paham, kompak, dan lain lainnya.
Dan kali ini adalah bentuk kondisi berselisih paham untuk yang kesekian kalinya.
Ketika makanan datang semua orang diam, sudah tradisi jika makan itu harus diam kerena jika bicara bisa bisa nanti keselek.
Setelah mereka menyelesaikan makan, mereka tidak langsung beranjak pergi tapi tetap diam ditempat.
"Jadi paman siapa nama anda?" Arya kembali menanyakan pertanyaan yang semula ingin dia tanyakan.
"Singa kejepit, susun kalimat itu!" Kelion yang ingin menjawab pertanyaan Arya langsung menghentikan omongan yang ingin keluar dari tenggorokannya.
"Singa kejepit? Singa itu lion, kejepit itu pinch. Tidak-tidak!! kejepit? Ke... Lion... Kelion? Masa sih? Atau pilion?" Arya terus bergumam dan mengerutkan kening nya dan menatap ayahnya lagi.
"...Pilion?" ucapnya ragu.
Zaint menggeleng.
"Lalu..." Arya menoleh pada kelion dan Kelion tersenyum canggung.
"Apa mungkin... Kelion?" Arya mengerutkan kening nya lagi. Jika kali ini salah dia akan berlari ke kamar nya dan mencari semua nama kaisar di buku catatan nya.
Kelion mengangguk dengan wajah lega.
Arya benar benar tersenyum lebar dibuatnya. Sedangkan Zaint mencibir.
.....
.....
.....
Banyak typo.
Tinggalkan paket lengkapnya kawan online ku😘