
Akademi Bintang.....
Ujian Praktek...
Jurusan Martial Art...
Hayeo menarik kerah Geun-Zhi dan membawanya ke lapangan, dimana ujian praktek akan dimulai.
Seperti nama jurusannya, ujian yang mereka lakukan adalah untuk mengukur kemampuan setiap siswa yang telah belajar selama enam bulan lamanya.
Hayeo bukan merupakan anak yang suka menonjol, namun takdir berkata lain. Dia menjadi sorotan setiap siswa karena kemampuannya di atas rata-rata.
Apakah ada yang tahu urutan absen Hayeo, Geun-Zhi dan Jeong?
Hayeo memiliki urutan absen ke 284 dari 500 siswa jurusan Martial Art. Itu karena namanya memiliki awalan 'H', sementara Geun-Zhi ada di urutan 468 dan Jeong di urutan 291. Seperti biasa siswa dengan awalan 'A' yang paling banyak.
Jeong melambaikan tangannya dan Hayeo langsung menemuinya.
"Bagaimana?"
"Sebentar lagi akan dimulai"
✎_______彡⌫⌧⌦
"BAIK SEMUANYA, APAKAH SEMUANYA SUDAH ADA DILAPANGAN?!!" teriak seorang host dengan lantang.
"SUDAH!!" jawab para siswa ikut berteriak.
"BAIK SEMUANYA, MASUK KEDALAM LINGKARAN LAPANGAN!! JANGAN ADA YANG KELUAR DARI GARIS ITU, JIKA ADA YANG KELUAR AKAN DINYATAKAN DIDISKUALIFIKASI!! TUJUAN KITA ADALAH TEMPAT UJIAN YANG SEBENARNYA!! SIAP SEMUA!!!?"
"YAAAA!!!"
Hayeo menatap tanah yang dia pijak dengan penuh kebingungan. Kenapa tanah itu bersinar? Itu seperti kereka ada disebuah portal khusus.
Dan ya! Semua orang tiba-tiba sampai disebuah tempat luas yang indah, dan jangan lupakan beberapa siswa yang langsung muntah, salah satu orang itu adalah Jeong.
Dia mengatakan jika rasanya seluruh isi perutnya terguncang. Dan rasanya sarapan yang tadi dia makan seperti ingin keluar dari lambung.
Hayeo hanya menatapnya dengan tatapan jijik, sebenarnya dia juga merasa mual, hanya saja jika dia muntah disini, memangnya apa yang akan keluar? Dia saja tidak ada sarapan sebelumnya.
"Hei Zhi, kamu tidak muntah juga seperti mereka?"
Geun-Zhi mendekati telinga Hayeo dan berbisik, "Aku gak sarapan, kalau aku muntah bisa-bisa aku pingsan"
"Dasar bodoh!" ucap Hayeo tanpa merasa jika dia juga akan bernasib sama dengan Geun-Zhi.
"Perasaan kamu juga bangun telat deh, kapan kamu sarapannya?"
"Aku loh sarapan angin?"
"Dasar aneh!"
"Ugh, kalian sedang berdebat apa sih?" wajah Jeong benar-benar pucat, dan sepertinya dia masih merasa mual.
"Gak papa!" ketus Geun-Zhi membuang wajah
"Lanjutkan saja muntahmu!" ucap Hayeo dengan tatapan mengejek.
_____
"BAIK SEMUANYA BUAT BEBERAPA KELOMPOK! SETIAP KELOMPOK BERISI 10 ORANG"
Semua siswa mulai membentuk kelompok masing masing. Hayeo, Geun-Zhi, dan Jeong berada dikelompok yang sama dengan tujuh siswa lainnya.
Mereka semua digilir kedalam sebuah portal yang mereka sebut dungeon buatan.
Hayeo yang baru tahu nama portal itu, matanya seketika berbinar.
Dunia fantasi yang selalu ada dibayangannya kini menjadi nyata.
Sekarang waktunya untuk mengila!!
Kelompok mereka ada diurutan ke-20. Dalam urutan itu mereka mungkin akan cukup lama untuk masuk karena ada 19 kelompok yang mengantri sebelum mereka.
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya sekarang giliran mereka masuk. Saat pertama kali masuk Hayeo langsung merasa aura disekitarnya berubah.
"Kalian merasa gak?" tanya Jeong yang mulai waspada.
Hayeo mengangkat alisnya lucu, dia kira hanya dia yang merasakan nya ternyata tidak.
"Auranya cukup untuk membunuh tanpa menyentuh, 'kan?" ucap salah satu dari kelompok mereka; Angyi, seorang remaja laki-laki dengan rambut tidak teratur/acak-acakan.
Hayeo mengulas senyum lebar, wajahnya terlihat seperti orang licik.
Teman sekelompoknya menatapnya aneh tapi tidak dengan Angyi yang juga ikut tertawa.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan!"
Hayeo memutar kepalanya dan mereka berdua mengguk bersama.
"Mau melakukannya sekarang?"
"Yeah! Aku cukup lama tidak menggerakkan tubuhku dengan bebas! Tanganku sudah gatal, tahu?!" ucap Angyi memutar bahunya sambil mengepalkan telapak tangannya.
"Let's play together!!" seru mereka bersama yang langsung menghilang.
"SEMAKIN BANYAK BATU INTI MONSTER YANG DIDAPAT MAKA ORANG ITU AKAN MENANG!!! "
Delapan orang yang tersisa hanya bisa membuang napas mereka pasrah.
"Mereka berdua gila!"
"Mereka tidak waras...!"
"Otak mereka jungkir balik mungkin!?"
"Otak mereka itu bermasalah"
"Faktor bawaan lahir"
--------
Akademi Bulan....
Asrama Arya....
Tengah malam....
Mimpi Arya...
"Shia! Tungguin!!!"
"Shi, kamu lebih lambat dari siput!"
"Ayah!! Ibu!!"
Sekali lagi Arya bermimpi, namun kali ini dia memimpikan sesuatu yang berbeda.
Dua anak laki-laki dan perempuan yang wajahnya ngeblur itu berlari dihadapannya dengan riang gembira. Entah kenapa semua mimpinya selalu ngeblur wajahnya, tapi sekelilingnya tidak.
Kali ini pun dia melihat kedua anak dalam mimpinya itu dengan wujudnya sebagai gadis muda sekitar lima belas tahunan.
Arya bisa sedikit menyimpulkan bahwa kedua anak itu kembar dari nama mereka yang hampir sama.
Anak laki-laki yang terlihat berusia empat tahun itu kalau tidak salah memiliki panggilan 'Shi' dan yang perempuan 'Shia' sepertinya begitu.
Dalam mimpi itu Arya berjalan menuju sebuah kursi yang memang ada di tempat itu.
Rasanya dia sangat familiar dengan tempat itu, hanya saja dia tidak tahu dimana tepatnya.
Dia menunduk dan memainkan jarinya. Tidak akan ada yang melihatnya karena itu bukan kenyataan.
Beberapa saat setelah dia duduk, dua anak yang sebelumnya berlarian dan berteriak itu berhenti. Mereka saling pandang sebelum mengangguk.
Mereka berdua berjalan kearah Arya yang sedang menunduk. Saat mereka tepat berada didepan gadis itu, mereka memanggil namanya bersamaan.
"Arya?"
Bahkan Aryan yang dari tadi hanya menonton seketika bangun dari kapalnya.
Apa?
Apa yang terjadi?
Kenapa bisa?
Arya sendiri juga langsung mendongak menatap kedua anak yang wajahnya tidak terlihat jelas.
"Kalian bisa melihatku....?" tanya Arya ragu sambil menunjuk dirinya sendiri
"He'em!" angguk mereka berdua.
"A-ada apa?" tanya Arya lagi merasa tidak percaya.
"Jangan mati ya, hidup terus, semangat ya!!"
"Pergilah, nanti kamu terlambat!"
Mereka mendorong tubuh Arya kebelakang. Tidak tahu bagaimana, rasanya tubuh Arya seperti didorong kejurang tanpa ujung.
Tiba-tiba Arya bangun dari mimpinya dengan jantung yang selalu maraton.
A-apa-apaan itu!?
"Astagah!?"
Dia mengusap keringat dikeningnya dan berusaha mengatur nafasnya. Begitu pula dengan Aryan yang juga merasa seperti didorong sampai jatuh.
Arya bangun dari tempatnya dan mendekati jendela. Dia membukanya sampai angin masuk kedalam.
Lagi, Arya melamun didepan jendela. Tidak ada suara yang dia dengar selain suara jangkrik dan kodok yang terdengar sahut-sahutan walau tidak jelas maksudnya apa.
Dia memikirkan apa maksud dari kedua anak itu, "apa maksud 'terlambat' sih? Ini aja masih tengah malam! Aneh banget! Dan... Kenapa mereka melihatku? Itu tadi mimpikan?" dia memandang bulan diatas kepalanya dengan sangat bingung.
Aryan bangun sebentar dan dia menatap wajah Arya yang kebingungan. Apa mungkin maksud 'terlambat' itu memiliki arti lain? Aryan hanya bisa menggulung bibirnya dan dia benar-benar tidak bisa menahan kantuknya yang membuatnya langsung tertidur, dia tidak memperbaiki posisinya karena tidak sempat.
Sebenarnya juga.... Kenapa Aryan sangat mudah tertidur? Padahal kalau diingat-ingat Aryan itu... :v
^^^(Silahkan berprasangka ygy)^^^
____->
Taman....
"Aryan, anu itu kamu ikut ektrakurikuler jurnalistik kan?" tanya Seadna berdiri didepan Arya.
"Eh? Iya, kenapa?"
Seadna tidak menjawab tapi dia diam-diam tersenyum. Gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Enggak, cuma mau tanya bagaimana rasanya?"
Arya yang bingung memiringkan kepalanya, "gak ada rasa, aku sudah biasa melakukan nya sedari kecil" jawabnya mengutak-atik sebuah rubik.
Entah kenapa wajah Seadna yang sebelumnya biasa saja langsung cerah secerah harapan orang tua pada anaknya.
Arya memutar beberapa warna disaat bersamaan dan terdiam.
"Sena, kamu bilang keluargamu itu adalah keluarga yang mendalami tentang sastra?"
Seadna memiringkan kepalanya kesamping, "hm? Iya"
"Oh begitu... Kata seseorang, Seadna memiliki arti Laut Na?"
Seadna memiringkan kepalanya lebih, "enggak kok, arti Seadna itu, 'kenyamanan yang menenangkan' itu di berikan oleh kakekku"
"Bagaimana dengan namamu?"
Arya menengadahkan kepalanya dan terdiam.
"... Aku memiliki dua nama utama"
"Oh, benarkah?"
"Yah, nama pertama Arya artinya 'bangsawan terhormat' dan Aryan artinya 'prajurit yang dihormati' aku tidak tahu apa yang dipikirkan ayahku saat memberiku nama!"
"Oh, nama yang berhubungan ya?"
"Begitulah..."
Dari arah lain taman, ada tiga orang yang menatap Arya dan Seadna dengan tatapan berbinar.
"Itukah?"
"Haha, sial@n gadis itu! Dia mencuri garis star ya ternyata?"
"Kamu baru tahu?" jawab seseorang lainnya dengan wajah bantal.
Anak laki-laki dengan wajah rada kasar dan seperti preman itu menyisir rambutnya dengan tangan kanannya membuat setengah dari rambutnya terangkat.
Sementara anak laki-laki dengan wajah bantal yang menjawab adalah teman anak kasar sebelumnya. Dia selalu membawa boneka dipelukannya. Terkadang dia memeluk boneka itu menutupi setengah wajahnya.
"Bagaimana mereka bisa dekat?" tanya seseorang lainnya yang menggunakan kacamata.
"......" tidak ada tanggapan sama sekali.
"... Kenapa tidak bertanya langsung?"
"Jika kamu mau dijadikan 'tulisan abadi' silahkan saja!"
Mereka bertiga terdiam lagi.
Seseorang yang lewat dan tidak sengaja melihat mereka bertiga langsung terhenti.
"Senior? Apa yang kalian lakukan ditaman secara sembunyi-sembunyi seperti itu?"
Ketiga anak laki-laki itu menoleh. Memang, mereka adalah siswa kelas 4 alias senior. Tapi... Siapa dia?
"Hei, kau kelas berapa, jurusan apa?" tanya anak dengan wajah kasar.
"Saya? Kelas 1, jurusan seni pedang" jawab siswa yang terlihat sedikit gugup
"Kalau mereka?" tanya anak laki-laki dengan kacamata menunjuk kearah Arya dan Seadna yang sedang berbincang.
"Hm? Aryan dan Seadna? Mereka juga kelas 1, jurusan kami sama"
"Nah, kalau namamu siapa?"
"Nama saya Cris, bagaimana dengan senior?"
"Aku Abel" ucap anak laki-laki dengan wajah kasar memperkenalkan diri.
"Namanya tak sesuai dengan prilakunya dan wajahnya" gumam anak laki-laki yang membawa boneka.
"Aku Yran, salam kenal" ucap anak berkacamata.
"Dan aku Vee" dan yang terakhir memperkenalkan diri adalah anak yang membawa boneka.
nantikan eps 109 nya nanti ya~
tinggalkan jejak nya ya, jangan lupa!