
Burung yang sebelumnya berdebat dengan Arya kini terbang mengelilingi seluruh bagian sektor pedang. Dia berkeliling hingga matanya melihat sesosok remaja laki-laki dengan mata ungu menyala sedang mengayunkan pedangnya.
Dia kembali bertengger dan melihat remaja itu dengan seksama.
"Cwuwutut(dipagi buta)" kicau burung itu memutar matanya ke atas samping.
Eum, anak remaja sebelumnya juga bangun dini hari untuk mandi, apakah yang ini untuk latihan?
"Cruwut cwut truwut~(baiklah sudah selesai, waktunya laporan~)" burung itu kembali terbang sebelum sesuatu yang tajam dan mengkilap melewati kepalanya.
"Untuk apa seekor burung disini?" Ryzan berkedip sekali dan matanya terus menatap burung itu intens.
Dia mengusap wajahnya dengan sehelai kain. Mata ungunnya seketika berganti menjadi hitam, dan rambut hitamnya juga berubah menjadi abu-abu.
Dia berjalan mendekat kearah burung hitam itu dan terus menatap lama.
Burung itu memiringkan kepalanya.
Beraninya anak ini menyerang! Apakah perlu dibunuh saja?
Ryzan menghela nafas lucu.
"Hei burung aneh, singikirkan pikiran jelek mu itu dari kepala kecilmu itu, itu terlalu kejam" ujar remaja itu berbalik dan bersiap pergi.
Burung itu dengan kesal berdecak dan langsung pergi.
"Haha lucu nya"
Remaja itu melirik sedikit dan mengendus tubuhnya sendiri.
"hm, sebaiknya aku mandi"
Ryzan berjalan kekamar asrama nya dan mengambil seragam Akademi nya.
Belum ada yang bangun kecuali satu tempat tidur yang sudah terlihat rapi didekat jendela. Tempat tidur Arya.
"Kemana anak itu?"
Tunggu...!
Memangnya apa urusannya?
Setelah selesai dari Asrama, dia langsung ke kamar mandi. Tubuhnya sudah penuh dengan keringat dan itu mengganggu.
Saat dia ingin membuka salah satu pintu, dia mencium aroma manis dari salah satu pintu yang terlihat tertutup.
Ada orang juga ternyata.
Gak dingin kah?
Dia hanya mengangkat bahunya tidak peduli. Untuk apa juga dia peduli? Itu bukan urusannya apakah orang itu kedinginan mandi dini hari.
Dia membuka pakaiannya menyisakan celana pendek. Dia memikirkan aroma yang dia cium sebelumnya.
Aromanya mirip seseorang.
Dia menyelesaikan mandinya dan memakai seragamnya.
Remaja itu membuka pintunya dan seketika matanya jatuh pada seseorang yang ada di wastafel sedang berkaca.
Eh? Siapa itu?
Dia bisa melihat apa yang ada dicermin itu.
Itu adalah pantulan wajah Aryan bukan?
Tapi apa-apaan itu?
Ryzan membuka matanya lebar melihat isi hati Arya.
「Ah maaf...」
「Aku tidak salah」
「Ugh... Maaf itu mungkin salahku」
Ada sebuah perasaan yang aneh saat Ryzan melihat isi pikiran anak dihapannya itu.
「Tidak... itu bukan salahku」
「Ayah...」
「Ibu...?」
「Ukhhh... Sakit」
「Semuanya sangat melelahkan...」
「Aku ingin mengakhirinya segera」
「Tapi aku takut...」
「Sangat... Menyebalkan!」
「Haha... Jika semuanya berakhir, apa kah akan lebih menyakitkan?」
「Hiks, tolong aku... Semuanya sangat gelap」
Dalam sekejap semua suara-suara teriakan tak bersuara itu masuk kedalam kepala remaja laki-laki itu. Dia dengan tidak percaya bahkan sampai menutup telinganya dan berjongkok.
Sangat menyakitkan!
Itu adalah pertama kalinya dia melihat seseorang yang biasanya terlihat selalu stay cool memiliki pikiran yang menakutkan seperti itu. Biasanya dia tidak terlalu peduli dengan pikiran orang lain, namun lain ceritanya dengan remaja laki-laki(perempuan) yang satu ini. Dia bukan tipe orang yang ingin menyusahkan orang lain, tapi jika ingin menyusahkan orang lain dia akan jadi sangat menyeramkan.
*#002*
Arya yang merasakan seseorang dibelakangnya langsung berbalik. Tambut merah muda pendek itu masih sedikit basah membuat itu terlihat berkilau dibawah lampu kamar mandi yang ada diatas langit-langit kamar mandi.
Dia lengah tadinya.
"Kamu sedang apa dilantai?" tanya gadis itu ikut berjongkok.
"Uangmu jatuh?"
———
^^^(Ryzan: "Ya kali ke wc bawa uang? Sehat?"^^^
^^^Ipat: "bisa aja, saya juga kalau ke wc bawa hp!"^^^
^^^Arya: "gak dimarahinya?"^^^
^^^Ipat: "enggak sih soalnya sembunyi-sembunyi", ovo^^^
^^^Arya & Ryzan: "kurang obat°^°")^^^
———
Arya tersenyum seperti biasanya dan dia kembali memperkuat sihir pelindung ditubuhnya.
Ryzan berkedip
Perasaan tadi dia masih melihat suara-suara keputus asaan anak didepannya itu, tapi sekarang... Apakah kemampuannya bisa diblokir begitu saja.
"Sedang apa kamu disini?" tanya remaja laki-laki itu berdiri. Dia mengangkat pakaian kotornya yang terjatuh dilantai.
"Aku? Mandi lah, memang apa lagi?" jawab Arya dengan enteng
"..." ah, terserah saja.
Arya bingung menatap remaja didepannya, "Siapa kamu?". Dia membuka satu permennya dan memasukannya kedalam mulutnya, rasa segar dan manis segera memenuhi rongga mulutnya.
Ryzan terhenti, "apa maksudmu? Aku Ryzan!" remaja laki-laki itu hanya memiringkan kepalanya. Entahlah tapi rasanya dia jadi gugup.
"Oh, ya sudah! Aku hanya penasaran, aku sedikit curiga jika kamu itu 'berbeda' seperti aku, Hansel, dan Feron!"
Ryzan berkedip, "berbeda?"
Glup...
Seketika Ryzan kembali merasa gugup. Anak didepannya itu seperti memiliki pikiran aneh lagi.
"Oh lupa! Ekhem, nih kenalin dulu" Arya mengeluarkan Raya dari ruang jiwanya. "Perkenalkan namanya Raya hewan kontrak berharga ku"
Ryzan menatap kada-- tidak naga di hadapannya dengan bingung.
"Bukankah naga itu sudah lama tidak muncul hingga disangka sebagai mitos?"
Arya memutar matanya kesamping.
Oh iya lupa...!
Ini adalah efek memiliki teman yang tidak pernah bertanya hal seperti itu. Apa karena teman-temannya juga punya hewan kontrak unik lainnya? Makanya dia biasa-biasa saja? Mam the push!
"Emh i-ini hadiah dari a-yahku! Iya dari ayah! Oh, sudah jam 03.45 waktunya la-latihan pagi!" ujar Arya mengalihkan topik. Wajah putihnya seketika berkeringat.
Gadis itu dengan cepat berjalan namun suara Ryzan menghentikannya.
"Latihan pagi dimulai pukul 05.00 pagi, masih cukup lama untuk mulai"
Degh..
Perasaan menyebalkan ini mirip dengan saat dia beradu argumen dengan Feron ya gak sih? Persis dengan saat itu!
"Hm, kalau begitu... Aku akan ke perpustakaan saja"
"Untuk apa? Kamu bukan kutu buku kan?"
Arya kembali menghentikan langkahnya, dia berputar sedikit dan menyipitkan matanya.
"Kamu kira aku pintar karena ngapain? Gini-gini aku pintar karena belajar tahu! Kamu kira ayahku akan berdiam diri saja saat melihatku nyantai?" sewot Arya melipat tangannya
"Oh tapi sepertinya kamu pintar debat tuh?" Ryzan yang awalnya ingin kembali keasrama malah jadi tanya jawab dengan Arya.
Arya memutar matanya malas, "ya iyalah~ tiap hari saja kerjaanku kalau bertemu ayahku loh perang urat terus"
"Siapa ayahmu?"
Arya memiringkan kepalanya kesamping dan berfikir.
"Count?"
Baik, jadi sebenarnya Count itu adalah gelar milik Farel setelah lepas dari keluarga kekaisaran. Arya hanya asal saja saat menyebut gelar bangsawan karena dia hapal. (☜efek keseringan belajar_-)
"Bohong sekali~"
Arya tertawa dan mengkat bahunya.
"Ehehe, bukankah kita tidak boleh memberi tahu latar belakang keluarga masing-masing?"
"Kamu tahu Aryan, Kata-kata mu yang sebelumnya itu bisa menjadi masalah besar jika ada seseorang yang mendengar, kamu mengerti?" tegur Ryzan menghela nafas pelan.
"Aku tahu itu"
Arya hanya membuang muka, dia berjalan keluar dan secara diam-diam melakukan teleport ke perpustakaan.
ˏ⸉ˋ‿̩͙‿̩̩̽‿̩͙‿̩̥̩‿̩̩̽‿̩͙‿̩͙‿̩̩̽‿̩͙‿̩͙‿̩̩̽‿̩͙‿̩̥̩‿̩̩̽‿̩͙‘⸊ˎ
Akademi Bintang.
Subuh, 02.32
Hayeo memutar jarinya pelan dan matanya tak lepas dari bulan di langit yang terlihat sangat cantik.
Pikirannya terbang jauh meninggalkan kepalanya.
Dari arah jauh ada seseorang yang memperhatikan gadis itu dari balik pohon.
Sedang apa gadis itu diatas atap genteng?
Dia mencari tangga yang cukup panjang dan mencoba naik keatas genteng mendekati Hayeo.
"Sedang apa?"
Hayeo melamun sebentar dan menoleh.
"Kamu tahu, aku dulu memiliki sebuah keluarga toxic?" gumam gadis itu hampir tak terdengar.
"Ada apa kamu disini?"
Orang itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Oh ya, tumben kamu tidak pergi bersama dengan anak bernama Zhi itu?"
Hayeo mengakat alisnya
"Padahal aku bertanya duluan tapi orang ini malah mengabaikan dan nanya balik" gumamnya dengan wajah kesal.
"Zhi anak nakal itu... Saat ini dia sedang tidur"
Ngomong-ngomong tentang Geun-Zhi, anak itu adalah orang ter-kolot dan ter-lemot yang pernah Hayeo temui. Bagaimana tidak, beberapa hari terakhir ini anak laki-laki itu terus saja mengejarnya agar diajarkan tentang pertahanan diri, tapi... percayalah rasanya Hayeo menyesal mengiyakan permintaan anak itu!
"Haha, jangan kesal, anak itu sepertinya juga sudah berusaha kan? Kamu harusnya memberinya suport loh, dia banyak berkembangkan?" ujar anak itu tersenyum lebar.
"Jeong kamu itu terlalu positif tahu? Walau anak itu berusaha keras itu sedikit sulit" ucap Hayeo menghela nafas panjang.
Anak disamping Hayeo tadi bernama Jeong. Anak laki-laki dengan jurusan sama dengan Hayeo. Dia sudah lama memperhatikan gerak-gerik Hayeo dan Geun-Zhi sejak hari pertama Akademi.
Dia cukup tertarik dengan Hayeo karena gadis itu selalu mengajari anak yang tidak berguna seperti Geun-Zhi. Walau gerakan yang diajarkan ringan, tapi jika dilihat dengan teliti dan kecepatannya ditingkatkan, maka itu akan menjadi serangan mematikan. Bayangkan saja gerakan gemulai seperti yang diajarkan nya saja mengandung unsur Qi yang terkontrol dengan baik. Apa lagi jika serangannya dipercepat, apa gak lepas kepala orang?
Monster...?
"Oh iya, tadi kamu bilang keluargamu toxic ya? Apa maksudnya?"
Hayeo berkedip dan merebahkan tubuhnya diatap genteng yang tudak terlalu miring itu.
Eh iya lupa!
"Em, bisa dibilang keluarga ku itu tidak waras sih, haha!" gadis itu tertawa saat dia mengingat keluarganya saat didunia modern.
"Misalnya?"
"Kamu tanya "misalnya"? Eum, adik pertamaku dinyatakan meninggal tanpa sebab, padahal aku bisa melihat ada banyak tanda tusukan jarum dilengannya"
"Adik keduaku mati kelelep wkwk, padahal saat itu ada pesta keluarga"
"Adik ketigaku yang usianya bahkan baru 2 tahun juga mati didapur"
"Dan apa kau tahu? Saat polisi memeriksa ketiga kasus itu... Dinyatakan 'tidak ada pelaku' nya. Lalu kasus ditutup dengan pernyataan 'ketidak sengajaan' 'kecerobohan' dan 'kelalaian', khekhekhe lucu!! Ketiga adik ku mati sia-sia"
Jeong berkedip dan dadanya sesak.
"Kamu anak pertama?" tanyanya ikut merebahkan tubuhnya.
Hayeo menggeleng lalu mengangguk.
"Aku lima bersaudara, aku adalah anak kedua. Diantara saudara ku hanya aku yang berhasil hidup, kakak ku mati sebelum aku lahir, dia laki-laki. Adik kedua dan keempatku juga laki-laki, hanya aku dan adik ketiga ku saja yang perempuan"
^^^[Susunan keluarga Hayeo(Saye)^^^
^^^Ayah⥤Ibu⥤kakak laki-laki⥤Hayeo(saye)⥤adik laki-laki⥤adik perempuan⥤adik laki-laki]^^^
"Apa kamu dulu melawan?" tanya Jeong memutar kepalanya ke samping.
"Enggak, aku takut dibuang, nanti jadi gembel, kan gak lucu! Aku baru berani melawan saat hidupku benar-benar diujung tanduk, untung saja saat itu ada anak kecil yang membantuku!" jawab Hayeo dengan jujur.
Saat itu dia baru berusia 15 tahun dan Arya(Alice) berusia 8 tahunan. Saat pertama kali bertemu gadis itu, dia sangat cantik dengan wajah manis.
Bagi Hayeo, Arya(Alice) adalah penyelamat nya. Jujur saja, dia merasa sakit jika mengingat bagaimana cara ayah dan ibunya memandangnya dengan tatapan jijik sakaligus takut.
●◉◎◈◎◉●
seperti biasa like and komennya ditunggu