
Keesokan harinya...
Sore...
Semua orang sudah siap apalagi arya dan teman-temannya.
Arya hanya menggunakan dress Berwarna kuning dan hijau selutut dengan celana pendek yang tidak akan terlihat karena juga tertutup kaus kaki panjang. Rambut yang diikat ekor kuda mekar dan hiasan kepala berupa jepit kecil berwarna kuning. Dia juga menggunakan anting panjang di telinga kirinya. Dia lebih suka model anting yang hanya ada di salah satu kuping nya saja dari pada dua anting sekaligus.
Lili juga menggunakan dress panjang sedikit melewati lutut berwarna biru dan putih dengan hiasan pita, kaus kaki hitam panjang dengan sepatu berwarna biru yang serasi dengan pakaian nya. Rambut yang digerai dan perhiasan kecil berupa anting biru laut dan kalung dengan warna yang sama dengan antingnya.
Feron, Delvan, Riden, Brian, dan Steve juga memakai pakaian formal membuat penampilan mereka sangat berbeda apalagi pakaian mereka berwarna hitam dan abu-abu itu membuat mereka terlihat sangat berbeda dari biasanya. Tapi bedanya karena Riden itu adalah penyihir menara, dia menggunakan kemeja panjang berwarna biru tua dan dalaman berwarna hitam.
"Ar, kamu yakin menggunakan anting itu?" tanya Feron yang sedari tadi menatap Arya dengan pandangan bingung.
"Napa? Gak boleh?" balas Arya sewot membuat Feron menggeleng.
"Sudah lah, apakah kita menunggu para kaisar dulu?" tanya Delvan celingukan.
"Apa kita datang yang paling pertama?" tanya Lili yang duduk dengan santainya di kursi
"Hmph, pemeran utama itu selalu datang diakhir" ujar Arya melipat tangannya di dada.
"Kalau datangnya diakhir, itu bukan pemeran utama, tapi pemeran sampingan" ujar Lili mengambil makanan ringan yang disodorkan Riden.
"Siapa bilang, kalau kita datang diakhir, kita bakalan jadi sorotan utama, kan pemeran utama selalu jadi sorotan orang-orang!" Arya mengeluarkan segenggam permen miliknya dan menaruhnya di meja.
"Terserah anda Yang Mulia Putri Mahkota!!!" seru mereka semua membuat Arya terdiam.
"... Putri Mahkota apa?" tanya Arya bingung
Brian mengangkat alisnya dan berkata: "kamu kan satu-satunya Putri Kaisar, jadi kamu akan jadi satu-satunya Putri Mahkota" seketika Arya pun ngebug.
"Haha, jokes kalian tidak seru" ucap Arya mencoba menyangkal.
"Apanya yang jokes, itu adalah kenyataan bahwa kamu akan jadi Putri Mahkota" sahut seseorang dari belakang sambil menuruni tangga.
"Ayah?" panggil Arya pada seseorang yang tadinya menyahut. "Apa maksudmu?"
"Kenapa, kamu tidak mau?" tanya Lidya bingung. Dia juga ikut karena dia adalah Permaisuri, istilah Kaisar Ruffela.
Arya menganggukkan kepalanya dan menjawab iya, bagaimana mungkin dia mau terbelenggu oleh rantai bernama Putri Mahkota? Tidak mungkin, orang sepertinya, orang yang mencintai kebebasan bertindak sepertinya? Nope!!
Setelah semuanya selesai mereka mulai memasuki kereta masing masing. Mereka menggunakan tiga kereta kuda sekaligus. Dua kereta untuk kaisar, permaisuri dan pangeran dari Kekaisaran Ruffela dan Kaisar dan Putri dari Kekaisaran Roseland. Sedangkan satunya lagi untuk Delvan dkk.
Saat ditengah perjalanan, Arya membuka sedikit gorden dari kereta itu dan melihat keluar. Dia melihat seorang gadis kecil dan saudaranya sedang bergandengan tangan.
Dia membuka tirai itu setengah lalu membuka jendelanya. Karena jalan kereta itu yang lambat, jadinya dia mengeluarkan tangannya sedikit dan kepalanya juga.
"Ibwa dul!(hei kalian berdua!)" seru Arya dari dalam kereta berjalan sambil mengayunkan tangannya ke kiri dan ke kanan.
"ye? mwoy--?(ya, ada ap--?)" ucapan gadis kecil yang menggandeng tangan adiknya itu terputus dan langsung bersujud membuat Arya tersentak kaget.
Heeee!!?
Kenapa?!!
Gadis kecil yang menggandeng adiknya itu sangat terkejut hingga tanpa sadar langsung bersujud. Dia melihat kereta kuda mewah dengan lambang Kekaisaran besar lewat dengan begitu saja, ditambah lagi seorang gadis bersurai merah dan bermata hijau itu melambaikan tangannya kearah luar, entah bagaimana dia reflek begitu saja.
Arya yang melihat gadis kecil itu bersujud seketika mengalami korsleting otak. Apakah dia menakutkan hingga anak-anak itu bersujud.
"Apa aku seperti nenek sihir atau mak Lampir? Kenapa mereka seperti itu?" tanya Arya pada Zaint sambil menunjuk dirinya sendiri.
Zaint yang duduk bersebrangan dengan Arya hanya melirik sekilas lalu mengangkat pundaknya. "Mungkin mirip ulat bulu?" ujar Zaint membuat kening Arya berdenyut-denyut karena kesal.
"Jangan mengejekku!" ujar Arya dengan senyum jengkel dan tangan yang terkepal.
^^^(Ulat adalah nama panggilan Arya ketika masih bayi, sebelum dia bisa berjalan dan masih merangkak, sekitar umur 1-9 bulan, karena Arya sudah bisa berbicara 'ngawur' sejak bulan kesepuluh dan berjalan 'nyusurin tembok' pas bulan kesebelas_-)^^^
Sudut mulut Arya bergerak gerak dengan kemarahan yang hampir meluap.
"Huft... Sabar.... Dia adalah ayahku.... Bukan musuhku.... Tapi juga bukan temanku.... Dia adalah ayahku.... Ayah... Huft... tapi kok aku malah makin jengkel?!" Gumam Arya mengelus dadanya sabar membuat Zaint ingin melempar anaknya keluar.
"igeo bad-a, al-assji?(tangkap ini, oke!)" ujar Arya melempar kantong berisikan permen dan bunga mawar dengan api dingin di atas kelopaknya.
Dua anak yang dilempari itu langsung menyambutnya dan terkejut karena api dari bunga mawar itu yang tidak panas melainkan dingin. Mereka tanpa sadar menoleh melihat kearah gadis yang mengedipkan mata dan melambaikan tangannya kearah mereka.
"tto boja!(sampai berjumpa lagi!)" ujar Arya menutup jendela keretanya dibarengi dengan kedua anak itu yang juga menunduk dengan hormat.
Semua orang menatap kedua anak kakak beradik itu dengan pandangan beragam, ada yang iri, kagum, bahkan ada yang memandang mereka tidak adil.
Dua kakak beradik itu pergi dari tempat itu dan memasuki sebuah gang kecil.
Gadis kecil itu membuka segel sihir dibelakang lehernya dan wujud aslinya pun terlihat begitu pula dengan sang adik.
"Huft, gadis itu aman dan sehat" ujar sang kakak yang ternyata seorang pria dewasa.
"Iya, bagaimana bisa ketua memerintahkan kita untuk menjaga gadis yang notabene Putri itu, dia adalah Putri pasti banyak pengawal yang akan menjaganya" keluh sang adik yang juga adalah seorang pria dewasa.
"Aku tidak tahu, yang pasti gadis itu adalah adik angkat ketua" jawab sang kakak mengangkat bahu.
"Tapi yang tadi itu benar-benar bikin kaget, jantungku hampir lepas dari tempatnya" ucap sang adik sambil memegangi dadanya.
"Apa kau kira aku yang dari mencoba untuk tidak menjawab itu baik-baik saja?!" ujar sang kakak memukul kepala sang adik.
Kedua orang pria dewasa ini adalah bawahan dari Denki yang diperintahkan untuk menjaga Arya dari para membunuh bayaran yang diperintahkan dari dunia gelap.
^^^(Denki ketua guild tentara bayaran)^^^
•
•
•
Depan gerbang Istana Kekaisaran Jaeyang....
Diantara Zaint dan Kelion orang yang pertama masuk adalah Kelion karena dia berada di urutan ketiga Kekaisaran internal(Kekaisaran besar) diikuti rombongannya. Setelah itu Zaint dan anaknya juga ikut turun.
Saat Zaint turun itu sudah membuat kegaduhan dan suara bisikan tidak percaya. Karena usia Zaint yang terbilang masih muda(28 tahun) membuat dirinya menjadi pusat perhatian. Usia mudanya itu membuat penampilannya seperti pemuda berusia 20an. Apalagi paras rupawan seorang bangsawan berpengaruh sangat kental dari caranya berpakaian.
Detik berikutnya malah membuat semua orang semakin heboh. Arya, Putri Kaisar yang hanya terdengar desas-desus rumor yang beredar, adalah seorang Putri yang sangat disayangi oleh Kaisar yang dikenal sebagai tiran.
Wajah cantik Arya yang putih bersih, wajah yang terlihat seperti kloningan Kaisar itu benar-benar menarik perhatian semua orang yang melihatnya. Wajahnya yang manis itu terlihat sangat lembut apalagi ketika dia tersenyum. Rasanya hati mereka semua tertembak oleh sabit malaikat pencabut nyawa(meninggal:v)
Arya turun dari kereta dibantu oleh Zaint dan dibelakang mereka ada Gils, Brian, Riden, dan dua pengawal pribadi.
Lili dan Delvan ikut rombongan Feron katanya buat bagi-bagi gitu.
?&&&&
&&&&-
&&&&_
pasti gak ada unsur komedinya. soalnya ipar bikinnya ngebut😫☹️
tinggalkan jejak dengan like and komen😘😘😘