
"Dia hanya ingin cinta, tidak lebih, tapi kenapa dia harus menerima penyiksaan yang bahkan tidak harusnya dia Terima? Adilkah? " -- Hayeo
"Aku ingin pelukan hangat ibu bukan pukulannya, aku ingin senyum tulus ayah bukan kata-kata yang menyiksa batinku" --Arya
Sore, 15.05
Arya dan yang lainnya dimasukkan kedalam sebuah kandang tahanan dan dibawa ke sebuah rumah gubuk yang ternyata dalamnya adalah ruangan luas dengan banyak anak-anak dan perempuan.
^^^(Penyamaran gitu rumahnya) ^^^
Arya dilempar langsung kedalam sebuah sangkar dan yang lainnya di tempatkan di sel layaknya penjara itu dengan kasar.
Kenapa Arya dimasukin disangkar sementara yang lainnya tidak?
Itu karena sepanjang jalan Arya tidak henti hentinya berbicara membuat tiga orang pedagang budak itu gedeg sendiri.
Ini contohnya...
"Paman? Apakah tempat itu bagus?"
"Tidak!"
"Paman, aku tidak ingin duduk di lantai!"
"Ngambang saja!"
"Paman, aku orangnya pemilih loh!?"
"Oh, baik"
"Paman, aku maunya duduk di lantai dengan alas lembut!"
"Ambil awan lalu duduk!"
"Paman, apa ruangan itu nanti pengap?"
"Jika kau gemuk mungin akan pengap"
Dan sebagainya, itulah yang membuatnya dimasukkan sangkar yang tergantung.
Arya duduk di atas selimut yang dia dapatkan dari para pedagang budak itu setelah dia menjambak salah satu dari mereka.
Sedang kan semua temannya hanya bisa melipat tangan dan menghela nafas.
*Siapa yang diculik dan siapa yang menculik*?
Mereka seperti melihat majikan yang memerintah bawahannya.
Hayeo menatap Arya yang masih asik dengan bunga mawar merah ditangannya dan tiba tiba memikirkan sesuatu yang lain.
Dalam kenangan Hayeo...
"Sesajen, kalau ini kuberikan pada ibu apakah dia akan menyukainya?" tanya Arya yang masih berwujud sebagai Alice. Dia memutar-mutar mawar putih di tangannya dengan mata yang tidak lepas dari bunga itu.
Saat itu Arya(Alice) masih berusia 13 tahun. Sedangkan Hayeo(Saye) berusia sekitar 20 tahunan.
Hayeo yang juga dalam wujud sebagai Saye hanya mengangkat alisnya bingung.
"Entahlah, coba saja" jawab Hayeo dengan santainya kembali mengutak-atik laptopnya.
Tangan Arya yang memutar-mutar bunga mawar putih itu terhenti. "Kamu bisa ikut kan?" tanyanya dengan wajah bermasalah.
"Jika itu mau mu ayo saja! Lagi pula kita kan punya waktu sekitar empat jam sebelum rapat sore" ucap hayeo mengangkat tangannya dan melihat jamnya.
Di mansion keluarga Arya.
"Aku pulang!" ucap Arya memasuki mansion itu dan langsung disambut hangat oleh pengasuhnya.
"Tumben nona pulang? Biasanya seminggu atau sebulan sekali pulangnya?" tanya sang pengasuh yang disebut Bi Usa.
"hehe, gak papa kok, memangnya gak boleh Dara pulang?"
"Mana mungkin, saya sangat senang kalau nona pulang, sangat senang!!"
Arya tersenyum dan meminta untuk ditinggalkan berdua dengan Hayeo yang juga baru masuk.
"Aku mencari ibu dulu!"
"Oke...!"
Arya menaiki tangga dan menghilang kemudian.
Beberapa menit kemudian suara nyaring tamparan menggema dari lantai atas tempat Arya berada.
Hayeo bangun dan langsung berlari ketempat Arya dan betapa kagetnya ketika melihat darah berceceran di dinding sebuah ruangan.
Dia memandang sebuah bunga mawar yang berwarna merah karena terkena darah itu di samping sesosok tubuh seorang gadis . Gadis itu terduduk dengan lemas dan mendongak menatap wanita didepannya dengan rapuh.
Wanita didepan gadis itu lantas berjongkok dan memenangi pipi gadis itu.
"Ingatlah ini Alice, ibu melakukan ini karena ibu sangat mencintaimu, jadi kamu jangan menangis, ya? Sayang?" gumam wanita itu sambil memperbaiki tatanan rambut Arya dan mengusap sisa darah dari pelipis Arya yang sudah tidak terlihat lagi bekas lukanya.
Hayeo dengan kaget membelalakkan matanya ketika dia mendengar gumaman dari wanita yang ternyata adalah ibu dari Arya itu.
*apa*...?!
Wanita itu melirik kearah Hayeo yang membeku dan akhirnya berjalan meninggalkan Arya yang terlihat tidak bergerak.
Hayeo dengan cepat mendatangi Arya dan memeluk tubuh gadis itu dengan hati perih.
*Sangat kasihan*...
"Tidak apa, tidak apa" gumam hayeo mencoba membuat Arya tenang.
Tapi sayangnya Arya hanya diam dan bangun dari lantai dan memungut bunga mawar nya yang sudah berlumuran darah itu dengan hampa.
"Kata ayah, Ibu melakukan itu karena dia sangat mencintaiku, aku tidak boleh mengeluh, jadi jika aku ingin disayangi ibu, aku harus bisa bertahan" gumam lirih Arya sebelum meninggalkan ruangan itu.
Sunyi...
Hayeo memandang sebentar kearah cipratan darah Arya yang ada di lantai dan bergumam.
"Itu bukan cinta, itu penyiksaan di atas kalimat cinta"
\[\]\[\]\[\]\[\]
Hayeo tersadar kembali saat dia melihat Arya dengan santainya membuka sangkar itu dengan kunci lalu keluar.
*Kapan dia mendapatkan kunci itu*?
Arya lalu berjalan kearah Hayeo dan langsung masuk kedalam sel itu dengan mudahnya.
"Kenapa gak langsung keluar dari tadi?" tanya Feron memandang Arya dengan kesal.
"Aku ingin melakukannya tapi aku tidak bisa meninggalkan tempat ini begitu saja" ucap Arya memegangi pundak Hayeo lalu memeluknya dengan erat.
"Aku merindukan ayah?" gumamnya di ceruk leher Hayeo.
"Zaint lah~, dia adalah ayah ku, orang yang tidak pernah meninggalkan ku sejak aku masih bayi, aku selalu merasa dadaku hangat ketika bersama dengannya, walau dia agak menyebalkan tapi dia tidak membosankan, dia tidak pernah bilang jika dia membenciku, tapi juga tidak pernah bilang dia menyukaiku" jawab Arya yang hampir terdengar seperti suara yang berasal dari nafas.
"Kau ingin disayangi olehnya?"
Arya menggeleng dan semakin erat memeluk Hayeo.
"Tidak, apakah aku masih bisa mendapatkan hal yang seperti itu, pantaskah?"
Hayeo mengusap punggung Arya dan tatapannya sayu.
Kenapa saat dia melihat Arya sedih dia jadi tidak memiliki nafsu obsesi yang biasanya dia miliki?
Ini perasaan seperti seorang kakak yang melihat adiknya sedih.
Arya melonggarkan pelukannya, tapi tidak mengangkat kepalanya.
"Aku tidak ingin mati menyedihkan lagi, di kehidupan kali ini aku ingin hidup dengan caraku sendiri, tapi tetap saja perasaanku tidak enak"
Hayeo dangan senang hati mendengarkan curhatan Arya yang terbilang masih seperti bocah TK.
"Itu karena kau terlalu baik"
"Hm, ayah dari kehidupan modern juga bilang begitu. Tapi kenapa ya, setiap dia berbicara seperti itu dia selalu bilang 'kau akan mati jika kau bersikap baik, bagaimana kau akan mendapatkan kekuatan itu jika kau sebaik ini?' gitu katanya"
Hayeo mengernyit sedikit dan merasa janggal.
*Kekuatan 'itu*'?
*Apa hubungannya*?
*Bukankah di dunia modern tidak terlalu percaya dengan ilmu sihir*?
*Ada apa ini*?
Tak berapa lama kemudian seseorang masuk kedalam ruangan itu dan tangan di kantong baju dan di mulutnya ada permen.
Arya menoleh dan tanpa sadar ilernya menetes menatap permen itu.
*kelihatan nya enak*?
Pria berpakaian hitam dengan banyak tali bergantungan itu menatap Arya dengan manik mata abu-abu.
Dia melempar sebungkus permen nya kepada Arya dan di sambut dengan antusias oleh Arya.
"Bagaimana cara Denki mendapatkan adik secantik kamu?" tanya pria itu dengan tatapan menyelidik
"Berapa usia mu?"
"7 tahun"
"Padahal dia sudah berusia 25 tahun tapi dia belum menikah"
"Hm, jika dia menikah diusia 18 tahun mungkin kau akan menjadi anaknya"
"Oh, usia kak Dan 25 tahun? Tapi kenapa dia terlihat seperti 20 tahun?"
"Faktor keturunan"
"Kamu sendiri berapa?"
"24 tahun"
"Hump, kenapa kamu sendiri tidak menikah? Padahal jika kau menikah diusia 18 tahun kamu akan memiliki anak berusia ±6 tahun" ucap Arya membalikkan serangannya pada pria itu yang langsung diam membeku.
*Balas dendam*...?
*Membela kakaknya*...?
*Wow*....!
"Mana paman yang nyulik kami?" tanya Arya celingak-celinguk.
"Sudah di tangkap" jawab pria itu seadanya.
"Siapa yang nangkap?" tanya Arya lagi.
"Yang Maha Kuasa" jawab Hayeo ngasal.
"Oh"
"Tuan, siapa namamu?" tanya Feron memasukkan tangannya kedalam sakunya.
"Artan" Ketika pria itu mencari kunci di sakunya, Arya dalam sekejap menghancurkan sel yang terbuat dari besi itu dengan tendangannya.
"Hump, lambat!" ucap Arya sedikit mengejek.
pria itu tertegun untuk sementara waktu menatap pagar sel yang rubuh itu.
*tubuh loli tenaga titan*. . .
Mereka semua keluar dari tempat itu tapi Arya diam di pintu dan tidak ingin bergerak.
Dia sedikit mengangkat tangannya dan sedikit melambai
"Terimakasih untuk pengalaman diculik nya, itu cukup menyenangkan(?)"
Arya menyusul semua temannya dan kembali ke penginapan tempat ayahnya.
Tapi, saat mereka masuk hal pertama yang mereka lihat adalah tiga perdana menteri yang berdiri diluar dan didalam ruangan ada tiga Kaisar sedang mengadakan acara minum 'minuman'
\[\]\[\]\[\]\[\]\[\]\[\]\[\]\[\]\[\]\[\]\[\]
mohon perhatiannya....
Oke, disini saya sebagai author dari THE TYRANT EMPEROR'S CRUEL PRINCESS atau yang biasa dipanggil PUTRI KEJAM KAISAR TIRAN ingin sekedar mengingatkan.
Saya membuat cerita ini saat waktu senggang. Banyak yang pastinya tidak suka/kesal dengan bahasa kasar yang diucapkan oleh para tokoh(terutama Arya). Nah saya ingin bilang KALAU GAK SUKA TINGGAL TEKAN TOMBOL "KEMBALI" DAN SKIP CERITA INI, gampang kan?
Saya biasanya menanggapi komentar kalian dengan senang hati, berkomentar sesuka hati kalian tidak apa.
Kritikan juga silahkan, tapi JIKA KALIAN SUKA TERSINGGUNG SILAHKAN PERGI.
Saya memang jarang up, tapi saya tidak pernah meninggalkan cerita ini lebih dari sebulan.
Karena saya masihlah seorang pelajar yang bahkan belum mencapai usia dewasa, saya sangatlah labil dengan hal disekitar, terutama karena saya adalah anak pertama yang dituntut untuk bisa lebih dari adik-adik saya.
Saya akui jika saya memang bodoh dan tidak berguna, saya sangat sadar itu karena saya sering dikatain seperti itu oleh beberapa orang dekat.
Dan untuk semua komentar positif yang kalian berikan sangat membuat saya termotivasi untuk melanjutkan cerita ini. Yah walau tidak terlalu sering.
dan lagi mental saya bukan mental yang baik, jadi jika saya membalas komentar kalian berarti saya lagi tidak ada masalah.
itu saja terimakasih dan Assalamu'alaikum 🙏