
Di kediaman marquis Vintaics ini memiliki nuansa yang tenang tapi membekukan. Bagi orang yang sangat sensitif seperti Arya dia bisa merasakan perasaan tertekan, hal itu membuat dia sedikit mengerutkan bibir merah mudanya tidak nyaman, namun selalu ditahannya.
Di kediaman ini lah orang yang memiliki status mantan Ratu Roseland sekaligus ibunya Arya dibesarkan dengan cara dimanja pun hidup dengan glamournya. Menjadikan 'orang itu' sangat sombong.
Dari mana Arya tau jika 'orang itu' sombong? karena..... Duchess Rimson itu adalah MUSUH BEBUYUTAN sejak masih kecil. Mulai dari masih berupa bocah sampai menjadi dewasa pun mereka tidak pernah akur. Itu dimulai ketika Arsella menyombongkan dirinya jika dia adalah calon tunangan Seorang pangeran.
***
"Hey, apakah kau tahu jika nona Sella menjadi calon tunangan Pangeran Zaint?" Ujar salah satu lady di pergaulan kelas atas
"Oh... Benarkah? Nona sella sangat luar biasa!" Ladies yang lain pun menanggapi dengan sedikit berlebihan.
"Hmph, tentu saja, secara yah, aku tuh cantik dan lebih menawan dari siapa pun, pastinya menjadi calon tunangan seorang pangeran!" Dengan percaya diri Sella mengkonfirmasi dengan sangat arogan.
"Cih wajah seperti pemain opera dibilang cantik dan menawan, anda sedang bermimpi?!" Sahut Martia, putri dari Count Rabiel, Martia Rabiel dengan nada pedas miliknya.
'Aku dah biasa, tapi Tia, mulut kamu kok lemes banget sih? Kenapa gak ngebatin aja gitu loh, jangan disebut blak-blakan gitu juga dong' batin Eiji tersenyum getir. Iya, sejak dulu mereka itu deket banget dan karena itu juga mereka Bertunangan. Dan pada akhirnya nikah, dapat dua anak pula. Akhem sebenarnya gak dekat langsung dekat, tapi butuh perjuangan juga wahai para human. Martia yang urat peka nya gak nyampe, gak paham sama yang disebut dengan P.D.K.T. jadi yah gitu gak pernah digubris sama dia. Eiji jadi Sad boy dong (ToT)
"A-apa kamu bilang?" Sella sudah memiliki wajah yang gelap dan tubuh bergetar menahan amarah.
"Kamu tuli? Atau budeg, hah? Atau telinga kamu udah dibuang ketempat sampah?" Ujar Martia dengan wajah dingin dan juga nada yang mengandung cibiran
"Eh atau mungkin telinga kamu udah rusak alias.... Udah gak berfungsi?" Lanjutnya dengan seringai dibibir merah cery anak berusia 11 tahun itu.
"Kamu... Be-beraninya kau menghinaku?!" Wajah Sella sudah berwarna merah gelap menahan amarah yang akan meledak.
Ketika Martia akan membalas perkataannya Sella, Tiba-tiba tangannya ditarik kebelakang oleh Eiji. "Maaf, kami tidak ingin membuat keributan, kami undur diri!" Dengan wajah dingin dan nada datar Khasnya, Eiji menarik tangan Martia menjauh dari serangga sampah seperti mereka.
***
Mengingat perkataan yang dilontarkan oleh duchess Rimson membuat Arya bergidik jijik dibuatnya.
Cih, baru juga tunangan udah bangga!? Malu sama kumbang tanduk, yaelah.
Mau berapa kali pun dia mengingatnya dia akan selalu merasa jijik dengan ibunya.
Mau dulu atau sekarang ibu bagiku adalah wanita yang melahirkan ku sedangkan yang membesarkan ku... Selalu ayah, sebenarnya apakah ibu itu hanya sebuah gelar untuk seorang wanita yang melahirkan keturunan saja kah? Kenapa sejak lahir yang pertama kali kulihat hanya para pelayan dan ayah, sebenarnya kenapa? Kenapa ibuku hanya sebuah gelar saja sih....? Aku juga mau memiliki seorang ibu... Aku sangat iri dengan yang lain!
Semua pikirannya selalu tertuju pada satu orang... Ibu. Apalagi setelah dia mengalami mimpi tadi malam.
Hmm, sebenarnya siapa wanita dalam mimpinya tadi malam itu? Kenapa perasaan nya sangat familiar dan terasa seperti dejavu mulu ya?!
Rasanya ingat, tapi siapa?
Seperti pernah bertemu, tapi dimana?
Perasaannya terasa akrab, tapi kenapa?
Rasanya ingin dipeluk olehnya, tapi bagaimana?
Semua pertanyaannya ingin dia ketahui jawabnya. Tapi, tidak semua pertanyaan itu ada jawabannya dan Arya sadar itu. Sampai pertanyaan Marquis membuyarkan pikiran Arya.
"Ada keperluan apa sampai yang mulia tuan putri datang ke kediaman saya yang usang ini?" Tanya Marquis dengan nada ramah namun terdengar seperti nada M.U.N.A.F.I.K
Usang? Heh, kakek bercanda?
"Haha, tidak kek, kami datang kemari karena kami ingin mengunjungi kakek saja apakah itu tidak boleh?" Tanya Arya depan senyum dan memiringkan kepalanya kesamping.
Arya memasang wajah imut tapi sebenarnya dia itu memiliki wajah buruk dengan mata melotot di dalam hatinya.
"Tentu saja anda boleh datang kesini, apalagi ini adalah pertama kalinya anda kemari" Ujar Marques masih dengan wajah yang tersenyum.
"Apakah saya boleh berkeliling disini?" Tanya Arya dengan mata bersinar terang. Dan pastinya ini adalah taktik agar Marques tidak mencurigai kedatangan mereka sedang secara tiba-tiba.
[Apakah sudah ketemu]
[Tunggu sebentar, tuan!]
[Hm, baiklah, lebih cepat snicky!!]
[Baik tuan]
Arya melakukan telepati dengan snicky yang kini berubah wujud menjadi anak kecil yang kira kira berusia 5 tahun.
"Tentu saja boleh" Dengan persetujuan dari Marques, akhirnya Arya berkeliling, menyusuri disetiap tempat. Sampai... Matanya tertuju pada satu lukisan wanita paruh baya, walaupun sudah agak tua tapi aura kecantikannya seperti tidak pernah pudar.
Sangat cantik?!
Seperti ada yang menariknya mendekati lukisan wanita itu, terasa sangat hangat namun juga dingin. Dia penasaran, dia mendekat, mendekat, semakin mendekat, dan....
"Arya kamu ngapain? Ayo, hm? Kamu sakit kah, muka kamu pucat?"
Sebelum Arya menyentuh lukisan itu tiba-tiba suara Lili mengagetkan nya. Dan entah mengapa rasanya dia pusing dan dadanya tiba tiba sakit. Dia merasa ada yang sedang mencoba keluar dari dalam tubuhnya. Dan lagi lagi dia merasa dejavu dengan kejadian ini. Kenapa rasanya kehidupan sebelum nya dan kehidupannya yang sekarang ini sambung menyambung yah? Dan hal yang paling ditakutinya adalah....
Kematian ayah nya!!?
Dan...
Gia.
Apakah dia akan kembali menghancurkan hidupnya, seperti dulu?
Tidak, dia tidak akan membiarkan semuanya berjalan seperti dulu. Di pasti akan melindungi ayahnya, apapun yang terjadi.
"Hmm, kamar mandi dimana?" Tanyanya Arya.
"Ada disebelah sana, anda hanya perlu belok kiri, lalu belok kanan, belok kiri lagi, lalu ada jalan perempatan, anda lurus––" Ujar Butler
"Stop... Singkat saja, tidak usah berbelit-belit deh" Arya menghentikan Butler itu melanjutkan ucapannya karena dia hampir dibuat pusing tujuh keliling.
"Baiklah, intinya anda hanya perlu memasuki salah satu kamar yang ada di ujung saja"
"Nah gitu dong"
Arya mengikuti perkataan Sang Butler dan sampailah dia disalah satu kamar yang agak sedikit gelap. Dia menyalakan lampu minyak disampingnya menggunakan api kecil, kalau api besar mah bukan nyalain lampu tapi nyalain si jago merah itu namanya.
Dia menyalakan semua lampu yang ada diruangan itu yang berjumlah dua lampu. Dia mencoba mencari jendela lalu membukanya menampilkan pemandangan hijau yang sangat indah.
Arya berjalan memasuki kamar mandi lalu cepat cepat membuka pakaiannya dan memperlihatkan bagian dimana jantungnya berada.
Di Sana seperti ada sebuah pola aneh yang terbentuk.
Kutukan...
Tiba tiba dia teringat ucapan Dark tiga tahun yang lalu tentang kutukan keturunan. Sebenarnya apa itu kutukan keturunan? Dan mengapa itu ada ditubuhnya? Itu masih menjadi tanda tanya besar dikepalanya.
Tak lama kemudian tiba tiba tubuhnya bergetar, dan hal paling mencolok ada pada tangannya yang terasa bergetar dengan rasa dingin yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.
Ahk... Hmph
Arya hampir saja berteriak karena rasa sakit tapi dengan secepat mungkin menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Hampir setengah jam dia merasakan sakit ditangan kirinya, dan tanpa dia sadari kamar mandi itu perlahan membeku karena hawa dingin. Dia mengingat kejadian sebelum dia terlahir kedunia ini.
Sakit
Perih
Pusing
Nyeri
Dia merasakan rasanya mati sebelum terlahir kedunia ini membuat dia semakin bertekat untuk tetap bertahan hidup. Dan jadi semakin kuat.
Hah... Hah... Hah...
Akhirnya rasa sakit yang barusan dia rasakan akhirnya menghilang. Dia melihat ke tangannya dan sisanya dia bisa merasakan sebuah es yang bisa terbentuk sesuai keinginan nya. Dia mencoba mengatur batasnya dan mencoba berkonsentrasi melihat seluruh element nya
Dan ada... Empat!!?
...Api...
...Angin...
...Tumbuhan...
...Dan...eh...
Bagaimana... Bisa...?
...Es?...
Dia melihat sekeliling dan terkejut. Seluruh ruangan sudah membeku. Bayangkan seberapa kaget nya dia ketika mengetahui jika kekuatan elemennya bisa bertambah... Mustahil sekali. Apa lagi jika ini diketahui oleh guru sihirnya, bisa bisa didorong dengan semua pertanyaan yang tak terbendung jumlahnya dia. Dan hal yang paling mengejutkan adalah element... Ibunya.
Setelah beberapa menit mengagumi kekuatannya sendiri akhirnya dia keluar dari kamar mandi, tapi gak keluar dari kamar. Dia masih saja memperhatikan taman hijau di bawah, sampai matanya berhenti pada sosok anak kecil yang memiliki rambut merah muda menarik perhatiannya. Terutama pakaiannya yang terlihat unik. Dan.... Ekor?
Iya ekor, ada ekor dibelakang tubuhnya juga yang bergoyang ke kiri dan ke kanan berirama. Padahal gak ada lagu.
'Siapa itu? Mengapa dia ada disana?'
Brakk...
Tanpa menunda waktu lagi Arya membuka pintu dengan kasar, lalu berlari kencang tanpa memperdulikan teman temannya yang terus saja memanggilnya.
Dan disini lah dia, di taman hijau dimana tadi dia sempat melihat seorang gadis kecil berekor berdiri sambil tersenyum. Namun bukannya seorang gadis melainkan seekor kucing berwarna pink lah yang sedang duduk di sana.
Miau...
'Ehhhh..... Bukannya tadi itu anak perempuan ya? Kok malah jadi kucing sih!?' dengan wajah terkejut Arya membatin.
Miau....
"Eh, ah, ku-kucing apakah kamu melihat seorang anak perempuan yang berdiri disini gak?"
Miau?
Bukannya menjawab kucing itu malahan memiringkan kepalanya kesamping membuat Arya nge blushing dibuatnya.
"Uh... Astaga imuuuttt banget" Arya berteriak lalu ingin memeluk kucing itu namun...
rencananya mau di up kemaren tapi kemaren itu kan lebaran jadi hanya orang dateng kerumah terus lupa deh dan kemaren juga sebenarnya aku udah bikin dua tapi lupa aku simpen pas aku buka lagi eh ternyata kehapus kan jadi harus ngulang༼ ´༎ຶ ༎ຶ༽ belum lagi bantuin emak didapur hiks ಥ_ಥ
thanks yang udah mau baca
see you next time, papay