The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
KAGET SIH KATANYA...



Di ruangan redup dengan sedikit pencahayaan seorang pria menunggu dengan gelas wine ditangannya dan sesekali meneguk nya.


Seseorang datang dari arah luar membuatnya langsung menoleh dan menyodorkan gelas wine lainnya.


"Bagaimana?" tanya pria yang dari tadi menunggu.


"Haha, aku tidak berharap jika anaknya akan datang keruangan tanpa suara langkah" jawab orang yang masuk itu langsung duduk dihadapan pria tadi.


"Sudah ku katakan anak itu tidak biasa, lalu apa yang kau dapat?"


"Tidak ada~" jawab pria berambut merah itu mengganti wajahnya. Tapi beberapa saat kemudian dia mengingat sesuatu.


Dia mengeluarkan belati dari sakunya dan menaruhnya dihadapan pria dengan mata ungu samar.


"Apa ini?" pria bermata ungu samar itu mengambil belati itu dan memutar baliknya.


"Itu belati, anak itu yang melemparnya"


Pria itu mengangkat melati itu sedikit lalu menurunkannya


"Ini belati lipat yang sudah jarang diproduksi, jikapun diproduksi paling tidak hanya menghasilkan 2-5 buah saja"


"He~ kau serius?!" tanya tidak percaya pria berambut merah itu langsung mengambil belati itu dari tangan pria bermata ungu samar.


"Ya, itu dibuat langsung oleh para dwarf, dengan besi langka yang hanya bisa ditemukan di desa dwarf. gagang nya juga berasal dari kulit orc"


Pria dengan rambut merah itu seketika terbatuk, untung gak batuk darah.


"Apa kamu bilang, orc? Maksudmu goblin besar itu?"


"Ya, kenapa? Itu adalah hal biasa, dwarf itukan ahli dalam membuat benda-benda atau kerajinan yang bernilai jual tinggi, kemungkinan jika ingin membeli satu belati ini menghabiskan sekitar.... Hm, mungkin jika menjual satu kerajaan cukuplah"


"Kau gila?" ucap pria berambut merah itu dengan senyum dipaksakan.


"Tidak, itu benar! Lagi pula Zaint itu sangat menyayangi anaknya, itu tidak lah mustahil, apa kau ada membuat masalah?"


^^^(Padahal itu Arya dapat didalam ruang harta karun yang dikasih sama Zaint)^^^


Pria rambut merah itu mengalihkan matanya dan berkata: "hm, yah, aku hanya.... Membentak nya sedikit"


Pria dengan mata Ungu samar itu menepuk keningnya dan sedikit mendesah.


"Kau benar-benar.... Hah, wajahmu mungkin akan masuk daftar hitam targetnya jika kau tidak menyamar"


"Walaupun dia masih muda, kebrutalan nya hampir mirip dengan ayahnya, 'tidak ada yang bisa menghalangiku, jikapun ada, harus disingkirkan' yah paling tidak seperti itu lah kira-kira prinsipnya mereka"


"Dan kau membentak nya! Kau benar-benar gila, sepanjang yang kulihat, Anak perempuan itu terlihat cukup riang dan pemalu(?)"


"Mata kau! Dia yang memaki ayahnya walau bukan ayahnya itu tetap bisa disebut pemalu?! Itu pemikiran orang gila kau tahu!?" balas pria berambut merah itu mengingat kata makiannya Arya.


^^^(ini pas Arya maki" diruang kerja)^^^


°•°•°•°•°


diperbatasan...


Zaint menoleh ketika dia merasa telinganya gatal, jantungnya berdebar kencang. perasaan yang sana ketika dia melihat anaknya pingsan. tapi kali ini kenapa, Farel bahkan belum mengirim kan surat.


"tidak seharusnya aku mempercayakan anakku padanya, tapi hanya dia yang bisa dipercaya"


^^^(Zaint bimbang sendiri)^^^


°\=°\=°\=°


Ibukota....


Ibukota yang selalu ramai dengan lalu-lalang rakyat Kekaisaran dengan berbagai macam kepentingan kini bagai kuburan sunyi ditelinga seorang gadis yang tidak mau berbicara pada orang lain.


Dia duduk melamun didalam kereta yang hanya ada dirinya dan Farel yang terlihat canggung dengan suasana yang suram itu.


Dia perlahan melirik kearah gadis cantik dihadapannya itu dengan sedikit gugup.


Kapan dia akan berbicara?!


Entah kenapa ketika dia menatap wajah Arya dia teringat dengan wajah Zaint yang sebelumnya memerintahkan nya untuk selalu stay di samping Arya.


Wajah pria yang memerintahkan nya pun juga seperti itu. Seperti sedang melamun padahal tidak. Dan pastinya juga dengan aura suram yang sama.


Dia belum menemukan alasan kenapa ada penyusup ke ruang kerja Kaisar. Dan lagi jika dilihat baik-baik maka akan terlihat jelas bahwa Arya salah paham dengan ayahnya.


"Yang Mulia sebenernya bukan orang jahat" Farel membuka suaranya untuk memecah keheningan yang seperti menyedot semua oksigen didalam ruangan.


Arya tidak sedikitpun menoleh, wajahnya seperti mengatakan 'apakah aku peduli? Oh tentunya tidak, nyeh!' begitulah.


Farel hanya tersenyum kecil melihat respon Arya yang terlihat tidak tertarik sedikitpun dengan perkataannya tadi.


Tolong dengarkan sebentar saja, please!?


"Bote banget!(bohong banget)" gumam Arya semakin menghenyakkan wajahnya ke dalam lipatan tangannya. Dia tidak ada sekalipun memutar kepalanya untuk melihat Farel. Satu-satunya yang dia lihat adalah seorang anak perempuan yang digendong di pundaknya oleh ayahnya.


Mengiri aja jadinya:)


Selama dia hidup, dia tidak pernah diperlakukan seperti itu. Ada perasaan iri tak tertahankan dihatinya tapi satu yang dia tahu, itu adalah salah satu pikiran konyolnya yang seumur hidup tidak akan pernah terkabul.


Cape prenn kek gak ada yang paham:)


Farel menghela napas sebentar lalu ikut menyenderkan kepalanya di jendela kereta untuk melihat pemandangan Ibukota di luar jendela.


"Saya juga dulunya berfikir jika Baginda adalah orang yang seperti itu kok"


Arya masih tidak merespon tapi dia tetap pasang telinga. Jangan salah, biar begitu-begitu sikap Arya, dia adalah pendengar yang baik kok.


"Yang Mulai itu--"


"Zaint, panggil dia Zaint saja" potong Arya mengerutkan bibirnya.


"Aku memerintahkan mu untuk memanggilnya begitu, kau dengar?"


Farel ingin menolak tapi sayang dia tidak ada pilihan lain selain mengangguk.


Tolonglah...


"Zaint tidak disukai oleh ratu karena beliau bukan anak perempuan"


"hah?"


What?!!


Jika bukan karena mogok ekspresi nya, mungkin Arya akan berteriak kaget.


"Ekspresi nya juga dari dulu tidak ada, sangat sulit melihatnya merubah wajahnya, bahkan hampir dibilang mustahil"


"Walau begitu beliau sangat melindungi apa yang ingin dia lindungi"


"Jika tidak salah Dulu ada seekor kucing putih yang selalu mengikutinya kemana-mana, kucing itu tidak peduli kemana Zaint pergi pasti dia akan ikut"


"Saya selalu melihat beliau memberi makan kucing itu jika ada kesempatan"


"Tapi, pada suatu hari kucing itu tidak terlihat olehnya dan dia mencarinya. Saat ditemukan kucing itu sudah dalam keadaan sekarat dengan darah menutupi bulu tubuh kucing itu. Di sekelilingnya ada beberapa pangeran lainnya yang sedang tertawa dengan puasnya"


Arya yang mendengar cerita itu seketika mengepalkan tangannya. Dia sebagai pecinta hewan berbulu lebat sangat greget ketika mendengar cerita seperti itu. Ingin rasanya dia menonjok wajah orang-orang itu.


Farel melanjutkan ceritanya..


"Yah, seperti yang anda tahu kepribadian Baginda yang 'jelek', beliau benar-benar membantai para pangeran itu dengan tangan kosong, bahkan tanpa sihir. Baginda mengangkat mayat kucing itu dan menyuruh saya membereskan mayat para pangeran yang sudah mati itu kepada pengawal"


"Kau bilang dia baik, otakmu masih ditempatnya kan? Gak geser kan?" ujar Arya memaki Farel yang terdiam.


Seriusan?! Ayahnya yang kek tiran itu suka kucing?! What!?


"Eh, tapi memang benar kok"


"Penipu" gumam Arya menutup matanya.


"Hah, apa anda sudah pernah dengar cerita tentang saya?" tunjuk Farel pada dirinya sendiri.


Arya membuka matanya dan menatap datar pada wajah tampan Farel. Dia perlahan mengangkat alis nya ke atas tanda dia tertarik mendengar cerita Farel lagi.


"Nama asli saya FAREL SHA ZEREQ ROSELAND tapi karena saya bukan lagi pangeran nama belakang saya dihilangkan"


"Apa?!"


Arya yang kaget tanpa sengaja menjatuhkan kepalanya dengan mata tidak percaya. Kepala yang tiba-tiba lepas dari tempatnya langsung terbentur mengenai bawahan kaca berupa kayu, tapi karena terlalu tercengangnya dia, bahkan sampai berdarah pun tidak dia rasakan.


"Coba, coba ulangi? Mungkin aku salah dengar" ucap Arya mengibaskan tangannya di samping telinganya


"Huft, nama saya Farel Sha Zereq Roseland, pangeran buangan, keturunan gagal, yang bahkan untuk menggunakan kekuatannya saja tidak bisa, seseorang yang berlindung dibelakang kakak nya, itulah 'saya' yang dikatakan semua orang"


Arya memiringkan kepalanya dan berkedip beberapa kali sebelum berkata.


"... Adik ayah? Kau? Pantas saja warna mata dan rambutmu seperti tidak asing, warna kulitmu bahkan lebih pucat dari milikku, kau bahkan sangat tampan"



Seketika semburat merah tipis muncul dipipi Farel dan dia langsung memalingkan kepalanya.


"Kata semua orang wajah saya buruk rupa bahkan mirip monster" Ketika Farel berbicara wajahnya menjadi cerah tanpa alasan.


Arya yang mendengar pengakuan Farel kembali memiliki wajah datar tanpa ekspresi.


"Mata mereka pasti kemasukan dari kotoran! Wajah bak dewa gitu dibilang jelek! Lalu standar wajah seperti apa yang bisa dibilang tampan? Wajah sapi atau kerbau?! Orang-orang gila itu benar-benar....!!" gumam Arya menggerakkan gigi tanpa menunjukan ekspresi berlebih.


"Jadi... Menurut anda saya tampan?"


"Kau sedang melawak ya? Wajah itu, apa ingin ku sandingkan dengan wajah monyet? Diamlah!"


Arya menghela nafas dan berusaha tetap tenang tanpa memikirkan apapun.


Apa yang dikatakan Rosiel yang dulu itu membuatnya kembali menoleh.


...'Satu-satunya orang yang dilindung oleh Zaint!'...


Jadi maksudnya saudaranya Zaint itu benar-benar Farel? Kok rada gak percaya ya?


"Ayo pulang! Hari ini aku sudah cukup mendapat kejutan yang aneh" ucap Arya membuka buku lalu membacanya sepanjang perjalanan kembali ke Istana.


Sepanjang perjalanan pula Farel hanya menatap wajah Arya malah membuat Arya risih sendiri.


"Kenapa?"


"Anda masih marah pada Baginda?"


"Entahlah"


"Saya akan melapor pada Baginda"


Arya diam sebentar


"Tidak usah, anggap saja ini hanya mimpi sesaat, ketika bagun aku mungkin sudah lupa(?)"


^^^(Ini itu Arya ngomong tentang kejadian diruang kerja Zaint, gitu 0_0)^^^


"Baiklah"


&&&&&


jangan lupa paket lengkapnya~