The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
FLASHBACK NYA KAKEK



Beberapa menit setelah kejadian luar biasa menghebohkan.


Arya sudah cukup lama memegang wajah Aryan tanpa melepaskannya. Sepertinya dia kagum dengan wajah Aryan yang sangat mirip dengannya, bukan! Tapi sama persis dengan wajahnya.


"Ar, kamu belum selesai?" tanya Aryan yang sangat pasrah.


"Hah, bagaimana aku bisa selesai, ini sebuah keajaiban karena aku bisa menyentuh wajahmu, tahu?" jawab Arya menekan kedua pipi Aryan dengan telapak tangannya. Matanya yang sedikit bulat tajam itu seperti memantulkan sinar gemerlap saat menatap wajah Aryan.


Kakek yang memandang mereka tak jauh itu membuka mulutnya berbisik. "... Dua Kaisar masa depan, Jiwa Raja yang mulia, reinkarnasi yang tidak sempurna..."


Aryan yang samar-samar mendengar gumaman kakek itu menarik alisnya perlahan.


Nasi– apa?


"Arya, kamu kenal dia?"


Arya memutar kepala menatap kakek yang berdiri tak jauh dari mereka itu heran.


"Jika sekilas mirip ayah, tapi itu bukan wajah ayah"


Pria paruh baya itu memiliki beberapa keriput, netra matanya berwarna hijau zamrud dan rambutnya merah cerah. Kulit putih pucat itu terlihat sama seperti Arya dan Aryan. Senyumnya manis dan ada lesung nya juga.


"Hei kakek! Tadi anda bilang jika aku benar, memangnya apa yang benar?"


Kakek itu mengangkat kepalanya, "kamu benar karena aku adalah kakekmu! Hm, mungkin lebih benar jika kalian menyebutku kakek buyut, karena aku kakek dari ayah kalian dan ayah dari kakek kalian"


Arya dan Aryan mengangkat kepala mereka bersamaan. Apa maksud dari ayah dari kakek dan kakek dari ayah? Apa kedua kalimat itu beda?(benar)


"Kakek buyut?"


Zaint saat ini adalah Kaisar ke-12 yang artinya orang ada didepan mereka ini adalah.... Kaisar ke-10!?


"Loh Yan? Kalau yang didepan kita adalah Kaisar ke-10 bukankah berarti dia hantu?" tanya Arya pada Aryan yang sedikit bengong.


"Bukan lah, memang nya sudah pasti jika Kaisar ke-10 itu udah potek*?" jawab Aryan mengusap kepala Arya bolak-balik.


^^^(*menenggoy)^^^


"Dua anak yang random" gumam kakek itu menggeleng.


"Ehem! Jadi siapa nama kakek... Bu-buyu~t?" lihat, sekarang Arya jadi cangung untuk bertanya. Yang dia tahu jika Kaisar ke-10 itu memiliki nama cukup banyak entah karena apa. Hm, namanya gak pasti disatu tempat.


^^^(Maksudnya, satu tempat satu nama, misalnya jika didesa dan dikota namanya bisa beda-beda)^^^


"Kalian ingin tahu?" Arya dan Arya mengangguk.


"Sungguh~?" Arya dan Aryan mengangguk lagi.


"Serius~?" perasaan Arya dan Aryan langsung memberi sinyal jika sepertinya mereka sedang dipermainkan oleh pria tua itu.


"Bisakah langsung beri tahu saja? Gak usah berbelit-belit! Anda membuat kesal, hih!!!"


"Haha! Baiklah-baiklah... Damien Arfen Alexander Roseland! Kalian sudah tahu kan?"


Arya memiringkan kepalanya. Dia menatap Aryan dengan tatapan bingung.


Damien?


Alexander? What??


Seriusan?


Aryan menepuk kepala Arya sembari menggelengkan kepalanya. Sudahlah....


Arya bertanya lagi: "kok nama tengahnya sama seperti kami?"


Kakek itu mengangkat alisnya.


"Hm? Em... Itu kan nama khusus?"


"Saya tahu! Hanya saja kok bisa?"


Kakek Kaisar Damien mengangkat kepalanya dan memutar kembali ingatannya.


\=\=\=\=\=\=


"Hei cucu bodoh! Berhenti disana!"


Kaisar ke-10, Damien Arfen Alexander Roseland pria yang usianya hampir 70 tahun itu berdiri diujung lorong dengan tangan menunjuk pada anak yang terlihat berusia sekitar 7 tahunan itu dengan wajah kesal.


"..."


Kaisar Damien mendekati anak itu dengan cepat.


"Kamu lagi-lagi membawa buku sihir dari perpustakaan istana, Ain?"


Anak laki-laki dengan nama lengkap Zaint Lean Roseland, adalah salah satu cucu yang diakuinya setelah pangeran ke-2. Anak laki-laki yang memiliki kemampuan berpedang yang terampil dan hebat. Hanya satu kekurangan anak itu dimatanya. Zaint adalah anak yang lebih tertarik dengan politik dan sihir.


Kaisar Damien menatap buku yang dibawa oleh pangeran Zaint dengan mata tidak suka.


'Teknik sihir lanjutan' jenis buku yang bahkan tidak akan dibaca oleh anak yang lulus dua kali dari Akademi sekalipun.


"Hah~! Lagi-lagi kamu membaca buku seperti itu, tidak ada kah yang lain?"


Pangeran Zaint mengedipkan matanya dan mengeluarkan buku lainnya yang dia bawa.


'1001 Cara membuat tikus menjadi semut'


Kaisar Damien menggeram dengan sangat kesal. Apa apaan buku itu?! Membuat tikus menjadi semut? Apa maksudnya 'membuat pejabat tunduk'? Dasar anak nakal!!!


"Dari pada kamu menghawatirkan masalah orang dewasa, bagaiman jika kamu belajar untuk tidak irit bicara dulu? Huh, bagaimana nanti jika kamu punya anak? Apakah kamu akan irit bicara juga(benar) atau anakmu yang ketularan irit bicara mu(setengah benar, setengah salah)"


Pangeran Zaint mengedipkan matanya tanpa ekspresi. Jujur saja dia malas...


"... Aku tidak mau..." setelah diam beberapa saat Pangeran Zaint langsung pergi meninggalkan Keisar Damien a.k.a kakeknya.


"Dia bilang dia tidak mau?" kakek itu cengo. Dari banyaknya cucu, Zaint adalah yang paling parah masalah membangkangnya.


"Haisssssss! Ada ya anak seperti itu?" tanya Kaisar Damien menggeleng


"Itu tadi kan contohnya!" sahut seseorang yang baru datang.


"Heee benar~"


Pangeran Zaint 15 tahun, sebelum kabur dari Istana...


"Kapan anda ma*i?" pangeran Zaint bertanya tepat dibelakang mantan Kaisar Damien dengan wajah datarnya.


"Heh, breng*ek! Dasar cucu kurang ajar!! Kamu mendoakanku agar cepat metong, heh!!?" Damien dengan keras melempar sebuah gelas kearah Pangeran Zaint namun meleset.


"Dasar pria tua keras kepala" gumam Zaint melirik kearah serpihan gelas yang terlihat menyedihkan itu.


Cucu kurang ajar!!


"Ugh, kepala ku pusing!" mantan Kaisar itu memegangi kepalanya yang seperti berputar.


"Apakah sudah ingin mokad?" tanya Pangeran Zaint dengan wajah tanpa dosa.


"Kurang ajar!!! Dasar binatang!!" teriak Damien membuat kepala nya semakin sakit.


"Saya binatang berarti anda kakek binatang" jawab Pangeran Zaint dengan mata yang terlihat tidak peduli.


"Anak anj--!!"


Damien mendudukkan tubuhnya di sofa single.


Kepalanya rasanya ingin pecah. Gini banget punya cucu modelan baj*ngan seperti ini.


"Hey Zaint, kamu ingat nama tengahmu kan?"


"Lean"


"Hm, benar! Ini hari terakhirku di tempat ini, jadi aku ingin memberikan nama tengahku untukmu!"


"Tidak mau" jawab cepat Pangeran Zaint.


Apa katanya?


"Apa? Kamu menolak?"


"... Iya"


Damien menghela nafasnya panjang. Rasanya dia ingin berteriak KENAPAAAAAAA?!!!


"Alasannya?"


"..."


"Kamu diam berarti kamu setuju! Ok! Mulai sekarang namamu ZAINT ALEXANDER ROSELAND!!"


"Gak mau..."


"Kenapa??"


"Gak"


"Alasannya?"


"Gak mau"


"Heh, aku itu perginya selamanya bukan sementara bodoh! Jadi mau tak mau harus mau!!!"


"...Dasar pria tua pemaksa!" ujar Pangeran Zaint sangat kesal


Semenjak saat itu nama tengah Zaint berubah menjadi 'Alexander' karena paksaan dari kakek lac-- kesayangannya.


::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


"Ek..."


"Kek....."


"Ekek...."


"Kakek..."


"Hei kakek buyut!!"


Arya terus memanggil kakek buyut nya namun seperi kakek tua itu sedang melamun memikirkan sesuatu.


Hmhm...!


Arya dan Aryan mengerutkan keningnya dan saling melirik lalu mengangkat bahu bersamaan.


"Dia kenapa tertawa seperti itu?" tanya Arya pada Aryan dan dibalas gelengan kepala.


"Mana aku tahu!"


"Dia orang mesum ya? Pipinya memerah, tuh! Ha-haruskah kita pergi?" tanya Arya menepuk pundak Aryan.


"Ayo!"


"Eh! Tunggu!!" cegat dua orang yang datang bersama kakek Damien.


"Tolong tunggu ya, pangeran dan putri? saya mohon?" ucap Siam mencegat dengan wajah khawatir


Arya dan Aryan diam ditempat. "Siam kan, ya?"


"Iya"


Sementara itu, Chi-Chi mengguncang-guncangkan tubuh Kakek Damien dengan sangat kuat.


"Tuan! Tuan! Bangun! Cepat!!"


Kakek Damien bangun setelah beberapa saat diguncang oleh Chi-Chi.


"Ada sadar?" tanya Arya bersembunyi dibelakang Aryan.


"Hoho! Ya, aku sudah Sadar! Maaf soal yang tadi"


Arya menggeleng.


Entah apa yang dilakukan oleh Kakek Damien yang membuat ruangan yang penuh warna itu berubah menjadi ruang kosong dengan warna putih polos.


"Nah, Anak-anak! Aku ingin bertanya kepada kalian"


Arya yang melihat sekelilingnya dengan wajah bingung itu seketika menoleh menatap Kakek buyutnya.


"Lihat yang disana itu?" tunjuk Kakek Damien kearah kanannya.


Arya dan Aryan memutar kepalanya bersamaan. Mata mereka memantulkan sesuatu yang cantik.


"Putih berkilau" ujar Arya dengan wajah berseri-seri.


"Pohon yang menakjubkan" puji Aryan yang terlihat sangat terpesona dengan pohon yang ada diujung sana.


"Nah! Sekarang lihat sesuatu yang ada dibawah pohon itu!"


Arya dan Aryan menyipitkan mata mereka dan mencoba fokus pada sesuatu dibawah pohon tesebut.


"Sesuatu yang merah?"


Aryan yang semula diam kini menunjukan gelagat yang aneh. Dia seperti mengenal sesuatu yang ada dibawah pohon itu.


"Arya! Ayo!!" Aryan menarik tangan Arya dengan tiba-tiba.


Sesampainya mereka dibawah pohon itu. Mereka terhenti...


Arya diam dan tidak bisa bergerak. Mata hijau zambrutnya meneteskan sesuatu yang bening secara perlahan.


Ah... Dia menangis...? Tapi kenapa...?


Aryan merasa jika matanya lembab langsung mengusap nya secara kasar.


———–———___———————


Ok guys, saya harus mengucapkan banyak-banyak terima kasih buat yang udah suport saya selama membuat cerita ini. Jujur banyak banget kendala nya pas mau ngetik setiap kalimatnya. Seperti banyak typo, kalau nulis lambat, tata bahasa yang acak-acakkan, keyboard yang gak bia diajak kerja sama, HP kebanting, niat yang tidak pasti, malas, dan sebagainya.


Saya upload hari senin 1 Agustus 2022 karena ini adalah hari yang sangat penting bagi saya.


Yappp!! Hari ini adalah hari ulang tahun ke-16 saya😆🥳 sekaligus tahun kedua saya sebagai pelajar SMA(walau udah lewat beberapa minggu sekolahnya wkwk)!!


Gak nyangka udah lebih dari setaun saya ngetik ni cerita(walau banyak kendala seperti yang udah ditulis sebelumnya) tapi gak papa! Selama akun saya gak rusak(pernah rusak soalnya hehe) dan HP saya masih aman saya akan lanjutkan mengetik cerita ini sampai tamat, nantikan ya!!