
Sore itu semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Arya pun juga sangat sibuk. Dia masih ingin tinggal, tapi dua hari itu berlalu seperti angin bertiup. Tak terasa dua hari berlalu begitu saja. Sebenarnya apa sih yang sudah dia lakukan? Kok seperti hanya itu-itu saja yang dilakukannya??
Ketika matahari mulai tenggelam, Arya dan Aryan dibawa kembali oleh kakeknya tanpa ada yang tahu. Arya kembali ketubuhnya dan Aryan kembali ke kapalnya.
Waktu hanya berlalu selama 1 jam sejak Arya meninggal kan tubuhnya dan selama itu pula Ryzan menatapnya dari tempat tidurnya.
Dia tidak berkedip selama beberapa detik. Tak ada yang mengerti mengapa dia menatap Arya.
Remaja itu mendekati Arya saat dia perlahan bangun. Matanya masih sayu karena ada rasa ngantuk yang melekat.
"Seperti baru bermimpi panjang" gumam Arya mengusap wajahnya.
"Kamu kembali?" Ryzan bertanya tepat didepan kasur Arya.
Gadis itu mengerutkan alisnya, "maksudnya?"
"Tadi jiwa mu seperti menghilang dari tubuhmu, lalu tiba-tiba kembali"
"Lah kok tahu?"
"Ada bau kematian(mayat) dari orang yang mati"
Oh, Arya mengerti apa maksudnya, tapi benar-benar mengejutkan, haha! Dan menakutkan!!
"Berarti aku sudah mati sekali ya, haha!" canda Arya yang mencoba meringankan suasananya. Dia sedikit merinding sebenarnya, haha!
"..."
Tak ada tanggapan dari lawan bicaranya membuat wajah Arya yang pucat itu jadi semakin pucat, sungguh? Dia benar-benar sudah mati...
"Tadi tubuhmu kosong dan tak ada pergerakan selama 1 jam, jadi aku memperhatikan, lalu beberapa saat yang lalu tubuhmu terisi kembali, makanya aku bertanya" Ryzan memberi penjelasan agar Arya yang terlihat suram itu bisa tenang.
"Tetap saja, aku udah mati sekali... " suara Arya bergetar dan penuh emosional.
"Itu bukan masalah, ditempatku juga banyak orang mati setiap harinya"
"Haha! Ya sama dong, tapi bedanya aku yang bikin orang-orang mati, khekhe!" Arya terkekeh saat dia mengatakan kebiasaan buruknya. Bukan dia yang membunuhnya sih, tapi alat yang dia pasang di istananya saja.
"Kamu pernah membunuh orang?" tanya Ryzan menatap Arya rumit.
"..." sering...ha...ha..
Tak ada jawaban yang bisa dikatakan Arya untuk menjawab pertanyaan temannya itu.
"Aku mengantuk bisakah tidur sekarang?" tanya Arya mengalihkan topik pembicaraan nya.
"Baiklah..." Ryzan kembali ke tempat tidurnya meninggalkan Arya yang sudah dipeluk oleh selimutnya. Dia tidak bertanya lebih karena dia sudah tahu jawaban pastinya, terlihat dari saat dia mengalihkan pembicaraan seperti itu.
Pagi datang begitu cepat membangunkan Arya yang sedang tidur. Aslinya tubuhnya sangat sakit, tapi dia harus bangun karena hari ini adalah hari pertamanya menjadi OSIS.
Setelah menyelesaikan jam pertama pelajaran Arya pergi mencari seseorang, dia berniat mencari Yoshua; ketua OSIS.
Tapi! Ada dimana kelasnya??!
Hampir Setengah jam Arya berputar-putar di depan kelas jurusan Alchemist, namun tak ada tanda tanda keberadaan orang itu pergi ke kantin. Bukankah orang itu di lantai dua? Tapi, tapi, tapi, tapi kok gak ada tangga ataupun lorongnya, ya??
Ditengah-tengah kesibukannya mencari tangga, Arya dikejutkan oleh dua orang yang mendekatinya. Itu Cris dan siapa yah?
Arya menatap keduanya bingung.
"Cari apa? Cari siapa?" tanya Cris mengangkat alisnya.
"Kalian sendiri?"
"Yoshua, kamu?"
"Sama"
Orang yang ada disamping Cris menoleh kebelakang Arya lalu dia menunjuk satu sudut, "disana itu tangga naik, bukan?"
Arya dan Cris reflek menoleh dan menatap sudut yang terlihat seperti dinding tinggi.
"Mana? Gak ada"
Orang itu adalah Jazlyn Alona, anak kelas satu jurusan Sihir. Hanya dengan sekali lihat dia bisa tahu mana yang asli dan mana yang ilusi. Teman sekelas Emilly dan Feron yang paling pintar namun penyendiri.
"Ayo ikuti aku" gadis itu menarik Arya dan Cris bersamanya menembus dinding itu. Tak ada hambatan yang menghalangi hanya saja apa-apaan itu?
Tak ada yang aneh, mereka berjalan terus selama beberapa saat namun Arya mulai merasa aneh. "Kamu yakin kita masuk ketempat yang benar?"
Jazlyn mengangguk, "aku yakin, tinggal beberapa lapisan lagi saja,.... Seharusnya?" ucapnya sedikit ragu.
"Hah! Maksud??" Arya dan Cris kaget mendengar ucapan Jazlyn. Beberapa lapisan? Jadi dari tadi mereka bergerak melewati pelindung? Berapa lapis weh, jauh banget keliatannya?!!
Mereka bergerak bersama saat tiba-tiba lantai yang mereka pijak menghilang. Tanpa aba-aba mereka jatuh kebawah.
Arya jatuh diatas Cris dan Jazlyn jatuh diatas Arya. Mereka tumpang tindih saat mendarat. Cris yang ditindih dua orang merasa nafasnya tersendat di paru-paru.
"Bangun, ba-nghun, nafas, nafash!!"
Jazlyn buru-buru bangun dan membantu Arya yang kaku. Sepertinya tulang anak itu bengkok...!
Beberapa orang yang menyaksikan ketiga anak itu jatuh terkikik memegangi perut mereka.
Ada tontonan gratis, wkwk!
Yoshua mendekati ketiganya, wajahnya terlihat khawatir, "kalian gak apa-apa?"
"Terkutuklah orang yang memasang pelindung itu, ugh tulang belakang ku..." Arya memaki sembari memegangi punggungnya yang nyeri. Padahal tubuhnya belum sembuh sejak tadi malam tapi lihat sekarang, ugh... Itu menyakitkan!
"Biar kubantu" Arya berdiri ingin membantu Cris yang bermasalah dengan tulang belakangnya
Crak... Suara tulang Cris yang bengkok 90° kebelakang. Uwah... Arya memang berbakat mematahkan tulang orang.
Beberapa waktu berlalu, Yoshua membawa ketiganya keruang perawatan yang ada disekitar situ.
"Minum ini!" remaja itu menyodorkan sebotol obat dan sendok.
"Apaan nih?" Arya memutar botol itu diudara. Tak ada label, tak ada kode produksi, tak ada namanya juga, racun kah?
"Itu obat nyeri, kamu bisa menggunakan nya untuk mengurangi rasa sakit punggung mu"
"Berapa dosisnya?"
"Satu sendok saja cukup"
Arya meminum obat itu dan seketika rasa pahit menjalar diseluruh mulutnya.
Uwkkk....
Arya berniat memuntahkannya namun langsung dibekap oleh Yoshua: "jika kamu membuangnya, apa kamu percaya aku akan membuatmu meminum tiga botol obatnya? Ayo, telan~" bisiknya tepat di samping telinga Arya.
Arya, dengan sangat terpaksa menelan obat itu, rasanya perutnya akan bolong tengahnya.
Ada ya orang yang lebih jahat dari ayahnya??!
Cris memperhatikan dari samping, dia memiliki sakit yang lebih parah akibat ulah Arya, jadi dia harus meminum 3 sendok sekaligus. Dia menatap ragu pada obat ditangannya, apakah... Rasanya seburuk itu???
"Ka-kak, bisakah saya meminumnya dicampur dengan sup?" tanyanya kepada Yoshua yang masih sibuk menjahili Arya.
"Hm? Tentu saja~" jawab Yoshua sedikit tersenyum.
Arya membuka matanya lebar: "lahhh! Apa maksud?? Kenapa dia boleh mencampur nya dengan sup sementara aku harus minum langsung?"
Jika dicampur dengan sup yang memiliki rasa yang enak, maka rasa dan aroma dari obat itu akan memudar tapi tidak dengan khasiatnya.
"Ehh? Kan kamu tidak ada nanya?" balas Yoshua membuat Arya merasa dikhianati.
"APA-APAAN AN*IRRR!!!" teriak Arya benar-benar tak percaya.
Dari arah belakang seseorang masuk sambil menjenteng tas, "woho! Semuanya!! Aku kembali!!"
"Ah, si pembuat onar itu sudah kembali ternyata" gumam Yoshua sedikit kesal.
"Hah? Apakah ada orang baru disini?" tanya orang yang baru saja masuk itu memegang dagunya berpikir.
"Oh, maaf jika kami ada disini?" ucap Arya sedikit menyapa orang itu.
Dia adalah gadis muda yang cantik, mata coklat gelapnya terlihat ceria.
"Tak apapa! Lagian tempat ini bukan punyaku kok"
"Oh iya..."
Gadis itu mengangkat alisnya menatap Arya, ia menurunkan tasnya dan mengeluarkan sebuah botol.
"Haha! Tapi sebelum itu, hey!kamu bisa meminum ini, ini adalah obat buatan nenek ku, itu bisa menghilangkan luka lehermu"
Arya sedikit terkejut, bukankah lukanya sudah ditutupi? Kok ketahuan?
Tapi, masalah utamanya bukan itu! Kan baru beberapa detik yang lalu dia di paksa minum obat lalu sekarang apa? Minum lagi??
"Gak, terima kasih!" tolak Arya mengayunkan tangannya.
Mereka terus berdebat tentang obat dan Arya benar-benar merasa dirugikan oleh hal itu.
Dia meminumnya dan tak ada rasa pahit atau aroma aneh aneh, itu seperti air mineral biasa, tapi anehnya lukanya menghilang dan tubuhnya menjadi segar.
"Ini apa?" tanya Arya penuh curiga. Feeling nya merasa seperti akan ada jump scare tiba-tiba.
"Obat, tentu saja!"
"Terbuat dari?"
"Darah orge, susu kelelawar iblis dan bunga radig. Yak, semuanya dicampur lalu dimurnikan~"
Arya sudah tidak bisa berpikir logis lagi, dia memuntahkan seluruh isi perutnya ditempat, dia terlalu jijik untuk memikirkan apa yang baru saja dia dengar. Perutnya bergejolak merasakan nyeri.
Ugh, dia sudah diambang kewarasan...
Semua orang memegang tubuh Arya yang gemetar hebat. Mereka berusaha menenangkan Arya yang mulai menangis.
"HUWAAAAA, MENJIJIKANNN, HEUP UGH HIGSHHH!! UWAHHHH, AKU MINUM SUSU BINATANGGGG~!! HUWEEE, AHHHHH" dia, orang yang bahkan tidak pernah meminum susu ibu kandungnya sendiri kini meminum susu binatang yang tidak manusiawi... Jijik ukh...
Beberapa saat kemudian, Arya lemas dipelukan Jazlyn, matanya tertutup lemas.
Jazlyn terpaku saat dia melihat tubuh Arya yang lemas, tubuh nya cukup kecil untuk ukuran laki-laki dan kalau dilihat dari dekat ternyata Arya itu kulitnya lebih dingin dari suhu manusia normal begitu pula dengan warna kulitnya yang putih pucat bersih... Benar-benar seperti kulit perempuan yang terawat(perawatan).
"Kak Yoshua, bisa saya pinjam ruangan ini? Saya ingin mengganti pakaian nya Aryan" pinta nya menoleh.
"... Tentu"
Semua orang keluar meninggalkan keduanya. Jazlyn membaringkan Arya diatas sofa. Dia menggunakan tangan nya untuk membuka seragam yang digunakan oleh Arya
Sekarang Arya sudah bertelanjang dada, ekspresi Jazlyn biasa saja karena dia memiliki adik laki-laki. Tapi, ekspresi nya berubah saat dia merasakan ada yang aneh dengan tubuh anak dihadapannya itu.
Gadis itu mengibaskan tangannya tepat di atas tubuh Arya sembari mengucapkan mantra singkat. Awalnya tak ada perubahan, tapi tubuh Arya perlahan-lahan menunjukkan perubahan.
Jazlyn membuka matanya lebar dan reflek melempar kain keatas tubuh Arya, "sial, apa-apaan ini?!!" jelas sekali itu tubuh seorang gadis! Waghhh!!
Gadis itu panik, dia merasa aneh, takut, dan resah. Kenapa anak yang dia kira laki-laki ternyata perempuan?!
Tubuh Arya memang menunjukan bentuk aslinya, namun warna rambutnya masih merah muda. Tak ada yang bisa mengungkapkan warna aslinya, bahkan orang terhebat sekalipun, kecuali ayahnya, heh tentu saja.