The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
128



Jam makan siang...


Arya berjalan bersama dengan teman-temannya, disana juga terselip Cris yang diam-diam memperhatikan sekitar. Brian melirik sedikit kearahnya dan mengangkat alisnya.


Beberapa minggu terakhir kedua anak itu selalu pergi bersama. Dan mereka terlihat cukup akrab(?)


"Cris, kamu bisa ambilkan air disana?" tanya Arya menunjuk pada air minum di meja yang ada di dekat masuk kantin.


"Ambil saja sendiri, kamu kan punya kaki" tolak Cris mentah-mentah.


Fucek lah....


"Tolonglah Cris, pergi sana!" tegas Arya memberi kode mata. Tapi Cris belum konek


"Biar aku saja" ucap Delvan berdiri namun dihentikan oleh Arya.


"Tidak, harus Cris yang pergi!"


Cris yang baru tersambung jaringannya langsung berdiri dan berjalan pergi. "Cuma kali ini saja"


"Halah, cuma kali ini-cuma kali ini, kan kamu sudah sering digituin, ya pasti bukan yang pertama kali, lah?" celetuk Arya seketika.


Brian lagi-lagi mengangkat alisnya, dia yakin ada sesuatu yang aneh di antara kedua anak itu.


Tapi sebenarnya dia juga terkesan aneh, kenapa dia terus mengikuti rombongannya Arya, yang notabene nya rombongan paling menarik perhatian. Dan pada akhirnya dia terseret masuk kedalam geng nya Arya.


Siapa yang sebelumnya tidak ingin berhubungan dengan Arya saat diakademi? Itu adalah Brian sebelum masuk akademi. Betapa polosnya dia saat diajak kemana-mana oleh Arya.


Brian tak melepaskan pandangannya dari Cris yang masih berjalan kearah meja itu, namun beberap saat kemudian matanya sedikit membulat kala tangan Cris tiba-tiba memelintir kedua tangan dari salah satu anak yang sedang duduk disana.


"Apa-apaan itu?" guman anak itu tak percaya. Gerakannya cepat dan ringkas. Seperti tangan pencuri...


Brian lagi-lagi memutar kepalanya untuk melihat Arya, dan lagi Brian memiringkan kepalanya heran.


Kenapa Arya tersenyum seperti itu? Sebenarnya apa yang terjadi?


***


Arya mengedipkan matanya, senyum khasnya membuatnya terlihat seperti orang yang gila, namun bukan itu, dia akhirnya menemukan orang yang dengan tidak tahu dirinya mencoba melakukan suatu masalah di dalam jangkauan matanya.


Matanya bertemu dengan Brian dan dia mengedipkan matanya perlahan. Seperti mengatakan 'apa? Bukan aku kok!' Seperti itu.


Cris melirik sedikit matanya meminta bantuan pada Arya. Arya tersenyum lagi tapi kali ini lebih kecil dan hampir tak bertekstur membuat beberapa gerakan.


"Tahan dulu, sebentar lagi saja" itulah gerakan yang Arya buat dengan bibir dan tubuhnya. Cris menghembuskan nafasnya sedikit kesal.


"Sial, sebenarnya kalian ini benar-benar ada masalah hidup kah? Kenapa banyak sekali membuat masalah??"


"Apa maksudmu sialan, lepaskan tanganku!!" anak yang tangannya dipegang oleh Cris memberontak. Bahkan teman-temannya yang lain masih dalam keterkejutan.


"Sebenarnya apa yang kamu pegang, huh?".


"Ap-apaa maksud.. Mu?!! Aku tidak mengerti maksudmu badjii**n!!?"


Lagi-lagi tangan anak itu bergerak cepat mengambil benda yang ada di genggaman anak yang dipelintir nya.


Perbuatannya hanya disaksikan sedikit orang, tapi tak ada yang bereaksi ketika mereka melihat tatapan Arya yang sangat tajam.


Kenapa? Kembali kebeberapa minggu yang lalu.


Saat itu suasananya sama seperti sekarang. Hanya saja saat itu lebih heboh. Masalah berawal dari seorang siswa yang menuduh Cris dan Delvan berbuat curang dalam pelatihan dengan meminum obat penguat tubuh.


Kedua anak yang merasa tertuduh tentu saja tidak terima. Mereka berdua mulai beradu mulut dengan siswa tersebut.


Arya dan yang lainnya mencoba menjadi penengah dari perdebatan itu, tapi akhirnya bukanlah sesuatu yang baik. Padahal dia hanya ingin melerai agar tidak ada perkelahian fisik, tapi...


Arya kena pukulan di hidungnya menyebabkan mimisan yang cukup banyak. Semuanya panik tapi berbeda dengan dirinya dan Cris.


Cris ingin memukul balik namun dihentikan Arya. Saat itu wajah Arya lebih menakutkan dari wajah dingin ayahnya.


Arya adalah orang yang paling tidak bisa menjaga emosinya saat marah atau kesal. Dia tidak suka tubuhnya terluka, terutama wajah. Karena baginya sulit merawat wajah bagi perempuan yang selalu menomorsatukan wajah atau kecantikan nya.


Satu pukulan dari siswa itu dibalas dengan tiga tulang rusuk dan dua tangan dari siswa itu. Arya tak merasakan ketakutan jika dilaporkan atau takut dimarahi ketika mematahkan tulang anak itu karena anak itu duluan yang memukulnya. Yang penting sekarang adalah wajahnya yang terpukul oleh siswa *** tersebut


^^^(*** : isi sendiri)^^^


Dan kejadian itu benar-benar berkesan untuk seluruh siswa dikantin yang sedang menonton, bahkan berita itu langsung menyebar keseluruh Akademi.


Kembali kewaktu sekarang~~


Cris kembali ke meja Arya dan memberikan benda yang ada di tangannya.


"Sudahkan?" tanyanya malas.


"Terima~ kasih~ monyiet~" jawab Arya menyimpan benda itu di saku celananya.


^^^(Nadanya yang kek di Pada Jaman Dahulu)^^^


"Apa maksud?" sinis Cris pada Arya.


"Bercanda bocah!"


"Lih? Yang bocah kan kamu?"


"Idih diskriminasi"


"Apanya? Kan kamu yang mulai?"


"Tapi kan--!"


"Sudah hei, sudah!! Makan cepat!!" sela Delvan mengangkat tangannya.


Beberapa dari siswa dikantin itu curi-curi pandang pada meja Arya dan teman-temannya. Mereka biasanya akan ribut seperti sekarang.


Beberapa saat kemudian, empat orang yang baru tiba dikantin itu membuat panggilan yang... em agak nyaring.


"Dimana meja Aryan???" seru Feron berjalan didepan.


"Teriak lagi, mulutmu kurobek!" Arya mendengar seruan itu merasa jengah.


Mereka mendekat dan duduk dimeja yang bersampingan dengan meja Arya dan yang lainnya.


"Sudah makan?" tanya Delvan mengangkat sendok berisikan daging dan sayur.


Tapi...


Teman-teman Arya dan termasuk Cris dibuat bingung oleh Jazlyn yang terus menempel pada Arya sedari tadi.


"Ngapain sih?" tanya Arya memasukkan makanan disendoknya kemulut gadis itu


Jazlyn mengunyah makanan dimulutnya dan berpikir sebentar.


"Karena sibuk aku tak sempat makan dari pagi"


"Oh gitu" walau Arya terlihat cuek tapi dia tetap memasukkan sendok berisikan makanan kedalama mulut gadis itu.


Emily memicingkan matanya: "kenapa kamu pilih kasih? Saat dikelas kamu seperti anjing, sekarang kamu mirip kucing, sial" protes nya merasa dibedakan.


"Kamu tidak perhatian" balas Jazlyn yang masih mengunyah.


Feron sebenarnya bingung. Saat dikelas Jazlyn adalah anak yang penyendiri, namun nilainya selalu bagus(dia bahkan kalah saing dalam nilai). Tapi kenapa sekarang bisa ramah banget saat bersama Arya. Dia merasa tersaingi...


"Aryan~~ setelah ini kamu akan kemana?" tanya Jazlyn duduk dengan berpangku tangan.


"Bilang saja mau ikut" pungkas Cris yang masih makan.


"Cris, kubunuh kamu" gertak gadis itu kesal.


Beberapa saat kemudian makanan di piring Arya habis dimakan oleh Jazlyn. "Sudah?" tanya gadis itu dan Jazlyn mengangguk.


Cris melirik piring milik Arya dan menyindirnya, "kamu makan seperti bab1, Aryan bahkan baru beberapa suap" Jazlyn berkedip dan wajahnya setengah panik.


"Ah, Aryan maaf~ aku tadi tanpa sadar..." ucap gadis itu merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, aku sudah kenyang duluan kok"


Arya bangkit dari tempat duduknya dan berjalan, "aku duluan ya, ada keperluan" pamitnya melambaikan tangan.


Cris juga ikut bangun dan mengekori Arya dari belakang meninggalkan Jazlyn yang masih cengo, "kalau diam saja kami tinggal ya~?"


Jazlyn mendengar ucapan Cris berdiri dari tempatnya dan bergegas mendatangi dua orang itu namun kakinya hampir tersandung kaki kursi. Dia hampir jatuh.


"Ei~~! Tunggu!! Aduh, sakit..." walau sedikit timpang, Jazlyn tetap berlari mendekati keduanya.


Sisa anak-anak itu yang ada dikantin. Feron mengangkat tangannya sedikit, "ke tempat latihan yuk? tanding persahabatan, ada yang mau?"


"Berangkat!"


Mereka semua berjalan bersama. Dan walau tanpa adanya Arya, kelompok itu tetap terlihat keren karena semuanya selain memiliki tubuh proposional, wajah pun sangat mendukung.


√©©©©©©√


Arya membuka pintu gerbang dan berjalan bersama kedua anak dibelakang nya. Saat ini mereka sedang berada didepan bangunan besar yang saat luas dan tinggi. Sepertinya ada lebih dari lima lantai.


Ketiganya berjalan masuk dan suara kebisingan segera terdengar. Sepertinya itu bukan tempat yang bersahabat bagi mereka.


Yap, itu adalah kantin di Jurusan Sihir.


Arya melirik pada salah satu meja dan dia tersenyum kecil.


Benar-benar kacau...


Pantas saja Emilly mengatakan lebih baik kantin jurusan pedang dibanding jurusannya sendiri.


"Suasananya unik, ya?" sarkas Arya tanpa menoleh.


Jazlyn tertawa canggung, padalah itu bukan salahnya namun dia merasa yang paling salah. Mungkin karena dia juga salah satu dari siswa jurusan sihir.


"Apa yang harus kita laporkan disini?" tanya Arya kebingungan saat dia menatap kertas di tangannya.


"Makannya?" usul Cris random.


"Jangan lah, itukan pekerjaannya pengurus kantin"


"Lalu apa?"


"Perilaku siswa"


------&------


"Dah lah, ayo pergi, bisa sakit kepala aku jika terus ada disini" ujar Arya memegangi kepalanya yang sakit. Sekitar dua puluh menit dia duduk dikantin itu, iya dua puluh menit. Dia merasa keributan dikantin itu benar-benar lebih parah dari pasar malam.


Arya suka keributan, tapi bukan keributan seperti itu juga.


Mereka bertiga berjalan bersama keluar dari kantin saat tak berapa lama kemudian seseorang melewati mereka begitu saja.


Arya terhenti sekejap saat dia melihat telapak tangannya tiba-tiba berkeringat. Dia menoleh mencari keberadaan yang baru saja lewat, tapi tidak ada.


"Ar? Ada apa?" tanya Cris bingung.


"... Tadi kalian lihat ada orang yang lewatin kita, gak?"


"Hah? Siapa? Kapan? Perasaan dari tadi jalannya kosong"


"Aryan, mungkin kamu kelelahan jadi pusing"


"Enggak cuy, tadi ada yang lewat, jelas-jelas tadi kelihatan! Seriuss!!" Arya bersikeras bahwa dia tadi melihat seseorang, namun kedua orang itu malah tidak melihat sama sekali.


"Coba sebentar, kamu lihat wajahnya? Rambutlah paling tidak?" ucap Jazlyn mencoba menenangkan suasana.


Arya membuka mulutnya namun segera ditutupnya lagi, tiba-tiba dia lupa seperti apa sosok orang yang lewat tadi, tapi perasaan aneh itu benar-benar nyata.


"Mungkin itu ■■"


Arya tersentak saat telinganya berdengung cukup keras. Tanpa sadar Arya menutup kedua telinganya spontan. "A-apa?" gumamnya masih terkejut.


"Ar, kamu kenapa sih? Jangan bikin panik!"


"Huh?" Arya yang linglung berkedip kebingungan rasanya seperti ada yang memukul telinganya keras. Sepertinya dia mengalamai tuli sesaat.


"Ar, Aryan!! Hei, lihat sini! Kamu dengar gak??" Jazlyn mulai panik mencoba menepuk pipi Arya pelan tapi berkali-kali.


Ah... Apa lagi ini...!!


Dan sialnya saat itu tak ada yang melewati tempat itu, padalah itu ada tepat didepan kantin. Tanpa mereka bertiga sadari suara dari dalam kantin yang semula ramai kini tak terdengar apapun.