The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
HIKS... RIDEN RUSAK~



Ruangan kantin berisikan banyaknya siswa baru itu kembali riuh ketika melihat seorang senior menindas juniornya terang-terangan.


Tanpa sengaja cairan yang masih mengalir ditubuh seorang gadis berpenampilan lelaki itu masuk kedalam mulut dan tertelan.


Awalnya dia hanya ingin mengelap wajahnya yang basah dengan lengan bajunya, tapi tanpa dia sadari malah masuk mulutnya.


Delvan yang melihat itu langsung menarik lengan Arya dan terdapat jejak ketakutan dimatanya.


Jangan minuman beralk0h0l lagi?!!


Satu hal yang dia takutkan adalah kemunculan Alican(Aryan). Dia masih sedikit trauma melihat sikap kejam kepribadian Arya yang itu.


^^^(Mengacu pada saat Alican(Aryan) melempar dua kucing sampai tembok retak, ketika mereka ada di Kekaisaran Jaeyang)^^^


Arya suka kucing dan Alican(Aryan) membenci kucing. Kenapa? Itu karena Alican(Aryan) itu punya trauma juga terhadap kucing. Dulu Alican(Aryan) dan Arya memiliki satu kucing, tapi mati. Jika Alican(Aryan) mengalami trauma, berbeda dengan Arya yang dihapus ingatannya. Jadi Arya biasa-biasa saja jika didekati kucing.


✂──────╼𖥅


Delvan membuka mulut Arya dengan paksa membuat sang empunya mulut mengernyit dan meludahkan beberapa kata.


"Sudah selesai? Kau menyakiti bibirku!"


Aryan menatap Delvan datar dan mata tajam itu terasa menusuk tubuh Delvan seketika.


Aryan dengan kesal mengacak rambutnya dan terus mengernyit.


Baik...


Baru ditinggal sebentar tidur, malah berakhir seperti ini?!


Haaa... Demi apa rasanya keinginan mencekik diri sendiri makin hari makin meningkat.


Kenapa Arya sangat bod0h?!


^^^(Tanpa sadar dia mengatai dirinya sendiri:v)^^^


Tapi dalam kenyataannya kemampuan Arya dan Aryan itu sama hanya saja sifat mereka sedikit berbeda. Aryan seperti mewarisi sifat Zaint dan Arya mewarisi penampilan Zaint


Demi menghilangkan pikiran anehnya, Aryan menghembuskan nafasnya panjang.


Dia menatap seorang remaja yang terlihat lebih tua beberapa tahuan darinya sedang mengoceh dan menyemburkan kata kosong.


Dia tidak repot-repot merespon setiap perkataan binatang yang sedang menggonggong didepannya itu, menurutnya itu hanya membuang-buang tenaga dan menguras energinya saja.


Biarkan ****** menggonggong, jika anda membalasnya sama saja anda adalah hewan itu. Jadilah singa yang sekali mengaum membuat gempar seisi hutan.


^^^(Intinya jangan banyak b**ot, ikuti saja alurnya)^^^


Tanpa kata Aryan memandang lurus ke hadapannya. Dia tidak ingin berdiri dan tetap duduk diam.


Dia membiarkan kakak kelas tiga itu memaki, menghina dan mencemooh nya sesuka hati, karena siapapun yang tidak mendapat respon setelah berbicara panjang lebar kali tinggi itu pasti akan malu karena omongannya seperti dianggap angin lalu saja oleh Aryan yang menatap lurus itu.


Dan benar saja kakak kelas itu berangsur-angsur diam dan wajahnya menjadi merah padam.


Malu, itulah yang sekarang ini dia rasakan. Dia telah dipermalukan oleh seorang junior berwajah cantik itu. Ingin rasanya dia mencakar wajah menyebalkan remaja cantik itu!?


Disebelahnya, Hansel menyenggol lengan Delvan dan berbisik, "kirim pesan pada adikmu, isinya: 'anak pembuat onar ada disini, namanya Aryan' cepat!!"


Delvan dengan cepat mengeluarkan alat komunikasinya dan mengirim pesannya langsung. Kegunaan alat komunikasi itu bisa dibilang mirip seperti ponsel di dunia modern dengan merk nok*a lama. Bentuknya kecil tapi keyboard nya ketik bukan tombol, bu.kan! Fungsinya hanya untuk menelfon dan mengirim pesan. Bisa juga dijadikan alat pengganti surat. Tapi biasanya tidak digunakan untuk hal seperti itu. Jadi wajar jika Arya dan Zaint menggunakan surat untuk berkirim kabar dan bukan alat komunikasi.


Beberapa saat kemudian, kakak kelas itu mengeluarkan benda tajam kecil dan berniat ingin menikam Aryan.


Aryan tidak merubah sedikitpun fitur wajahnya, dia hanya berdecak kesal dan dengan malas berdiri. Baik, dia kesal sekarang!


Selain karena waktu tidurnya terganggu, dia juga harus sebisa mungkin menyembunyikan kekuatannya. Dia sangat tahu apa yang diinginkan Arya, anak itu ingin terlihat lemah dalam fisik namun kuat di otak, memang terdengar aneh tapi itulah tujuannya masuk Akademi.


Akademi itu sekolah, bukan ajang unjuk kekuatan! Kalau mau unjuk kekuatan... Mending langsung ke arena gulat saja, ngapain sekolah? Ya kan? Buang buang energi, tenaga, dan juga uang tahu!?


Tap


Clang...


Dengan cepat Aryan mengambil benda tajam itu dan langsung melemparnya ke tembok lalu jatuh ke lantai. kakak kelas tiga itu tercengang dan melihat tangannya yang tiba-tiba bergetar.


ce-cepat sekali!?


"Apa? Apa yang salah?" tanya Aryan memecah keheningan ekstrim itu. Dia bertanya-tanya kenapa kakak kelas itu diam dengan wajah merah padam, apakah orang itu sakit? Sakit mental maksudnya, Khe-khe!!! ( ͡^ ͜ʖ ͡^)


^^^(Ngejek banget nih orang_-;☝︎)^^^


"Kamu...!" geram kakak kelas itu semakin kesal dan tidak terima jika dipermalukan.


Kembali ke waktu sekarang~


Tap.. Tap.. Tap...


Dari arah depan, Emilly mendekati Aryan dengan wajah takjub dan langsung menangkup wajah anak itu.


"Arya? Atau Aryan?" tanya gadis itu tanpa berkedip membuat Aryan refleks mundur dua langkah dengan wajah masih dipegangi.


Hah? What the--?


"Singkirkan tanganmu Lili! Bau itu akan menempel di tanganmu!" Arya dengan pelan menepis tangan Emilly yang masih kekeh.


Aryan tersentak ketika gadis dihadapannya itu mulai mengendus-endus tubuhnya. Memangnya tubuhnya bau sesajen apa?


"Kenap--?"


"Lalu siapa yang menyiram mu dengan beer?!" tanya Emilly membuat Aryan cengo.


Hanya dengan mencium aromanya dan dia langsung tahu?


"Li, kamu yakin gak pernah 'minum'?" tanya Aryan menutup matanya sabar.


"... Enggak"


"Ehehe, sumpah gak pernah kok!" Emilly dengan cepat mengacungkan dua jarinya agar Aryan percaya.


"Hah! sudahlah! Aku sudah tidak memiliki nafsu makan!" ucap Aryan mengangkat sedikit pakaiannya.


"Sial, pakaianku basah"


Feron yang baru saja maju langsung menatap kearah Aryan dengan mata berkedip.


"Kamu kan bisa keringkan dengan cepat? Kenapa harus repot?"


Riden dan Rokan juga maju untuk melihat lebih dekat.


"Mau ku keringkan?" ujar Riden menawarkan diri nya.


"Gak, gak perlu! Aku akan keringkan dikamar asrama saja, lagi pula sudah tidak ada pelajaran" jawab Aryan sembari berjalan pergi.


"Fer, tolong uruskan!"


"Tenang saja!" jawab Feron menyungingkan senyum miring nya.


Ah, benar! Jarang sekali Arya memintanya seperti itu.


Jadi semangat deh, wkwk!


^^^(...-_-; saya gak tahu maksudnya)^^^


"Tapi... Jangan terlalu 'sesat'!" sambung Aryan sebelum menghilang dibalik pintu. Dia tahu jika tidak diperingatkan maka mungkin akan terdengar berita 'seorang senior kelas tiga mengalami patah tulang di seluruh tubuh karena junior kelas satu' kan rada kesal kalau kek gitu ceritanya!?


Shwaaa....


Saat Aryan benar-benar menghilang, seketika seisi kantin langsung jatuh ke keheningan yang ekstrim.


"Kak, jelaskan!"


Emilly yang sebelumnya masih tersenyum seketika berubah dingin dan sinis.


Begitu pula dengan Feron yang masih tersenyum miring, kini dia dengan delik kan tajam menatap Delvan.


"Jika jawabannya tidak memuaskan... Awas saja~"


Delvan yang diancam oleh satu teman dan satu adiknya hanya bisa menelan ludahnya susah payah.


"Hei hans? Jelasin gih!" ucap Delvan menyenggol lengan Hansel disebelahnya.


"Kok aku? Jelasin lah! Kan kamu yang dipanggil!?"


Riden dengan datar dan santai mengedipkan matanya pelan, dia tidak ingin ikut campur dalam pertengkaran anak kecil. Dia mengalihkan pandangannya dan mencari tempat duduk di samping Brian.


"Apa yang terjadi?" tanyanya pada Brian.


"Seperti yang kau pikiran, itu terjadi karena kakak kelas tiga yang membuat keributan disini!" jawab Brian mengerikan matanya dan melirik kakak kelas yang berniat pergi.


Set...!


Feron dengan tidak santainya menarik bahu salah satu dari kakak kelas tiga yang berjumlah empat orang.


"Mau kemana?" tanyanya dengan nada suram.


Emilly tidak mau kalah dan dia menarik dua orang dan langsung dilemparnya ke lantai bersamaan.


"Yang mengganggu salah satu teman kami, sama saja dengan mengganggu kami~"


Delvan kembali berkedip dan dengan santai berkata.


"Apakah kalian tahu? Aryan tidak pernah menganggap orang yang mengganggu nya sebagai manusia melainkan sebagai... Hewan sirkus!" dia menekan bagian akhir kalimatnya dan langsung menangkap orang terakhir yang sudah mulai berlari.


"Argh, lepaskan kami!! Kalian s*alan!! Iblis s*alan!!"


Pftt...


Emilly dengan wajah menahan tawa itu langsung terduduk dengan satu kaki.


"Khe Khe! Tau gak? Kami itu bukan iblis ya, kami itu manusia, jika kamu mau lihat iblis, lihat saja Aryan! Biar gitu-gitu dia itu iblis berkedok manusia"


"Enggaklah bod0h! Aryan itu pembunuh berkedok anak-anak!" ujar Feron dengan tawa ringan mencubit pipi kakak kelas tiga yang dia tanggap tadi hingga berdarah.


"Sadar diri, go*lok!" sahut Riden membuat semua orang menoleh padanya.


berkedip beberapa kali.


Apa yang mereka dengar barusan?


Emilly, Feron, Delvan be like: "..." rusak kek nya ni anak gara-gara temanan sama Arya!


"Riden? Kamu salah minum obat kadaluwarsa?" tanya Hansel mengernyitkan keningnya heran.


Sejak kapan anak kalem itu bisa mengumpat?


"Kamu butuh dokter jiwa, kah?" tanya Brian yang menatap aneh temannya yang duduk di sebelahnya itu.


Aku baru pertama kali mendengarnya mengumpat dengan bahasa aneh Arya?


Mereka menatap satu sama lain dan menggeleng.


Tak. Bisa. Diselamatkan!


Anak yang malang~


Riden dengan malas memutar matanya dan pergi dari kantin itu meninggalkan Feron dan Emilly yang masih asik dengan pikiran mereka. Dan Rokan... Entah sejak kapan anak itu menghilang.


like dan komen, jangan lupa~


(catatan: udah dari tadi malam upnya tapi pas diliat lagi ternyata belum selesai direview)