
⚠ Sangat random!!
Didalam ruangan yang memiliki luas yang sangat besar itu rasanya Arya seperti tercekik karena banyaknya makanan yang terus saja di suapi oleh wanita paruh baya cantik dihadapannya.
"T-tolong berhemh--" sekali lagi mulut Arya disumpal dengan makanan.
"Aduduh anak cantik~ ayo lagi buka mulutnya~ aaah cemilan datang~!" wanita paruh baya itu tersenyum manis penuh kegembiraan.
Arya meminta tolong pada kakek buyutnya namun sedari tadi kakek tua itu seperti menghindari kontak mata dengannya.
Sementara itu, Aryan yang masih tertidur ditempatkan di atas sofa panjang yang nyaman nan lembut. Dia terlihat seperti tidak akan bangun walau langit runtuh dan gunung meledak, sangat nyenyak.
Beberapa menit yang lalu, Kakek Damien menceritakan siapa mereka berdua dan hal saat ini pun terjadi. Saat Arya bertanya apakah tidak apa-apa memberi spoiler seperti itu, Kakeknya hanya berkata jika tidak apa jika memberi spoiler karena itu hanya ruang ilusi yang dibuat untuk bersantai:) mau sebanyak apapun orang yang diberi tahu masa depan yang akan terjadi pun, itu tidak akan mengubah masa lalu dan masa depan.
() () () () () () () () () ()
Tanpa disangka ternyata wanita paruh baya itu adalah nenek buyut mereka, mantan putri dari kekaisaran Zelonix, istri dari Kakek Damien, Jayna Zelonix. Kakeknya benar-benar tokcer!!
"Nak, siapa nama ayahmu?" tanya Nenek Jayna penasaran. Siapa Kaisar masa depan, hm~
"Zaint, ikh" jawab Arya meneguk segelas air putih. Benar-benar keselek dia.
"Hm, Zaint lean Roseland maksudnya?"
Arya menggeleng, "bukhan, ikh, tapi Za-int alehander, ikh, Roselandh, ikh" suara cegukan Arya membuat suaranya sedikit tercekat. Argggggg!!!
"Alexander? Apa kau sudah mati, Damien?" Nenek Jayna menoleh kearah kakek Damien dengan wajah tak bisa diartikan.
"Sayang, saat ini aku masih hidup oke!" pungkas Kakek Damien melihat tatapan istrinya itu.
"Oh, lalu bagaimana kamu dibesarkan hm~? Ada Pengasuh?"
Arya mengangguk, "sahya punga ua pen-gasuh, aya--h juga membezar khan z--aya k-ikh-ok! Azyah menga-chik-jari membaza, me--nulizz, dan ban-hic-ak hal lain!!(saya punya dua pengasuh, ayah juga membesarkan saya, kok! Ayah mengajari membaca, menulis, dan banyak hal lain!!)" jawab Arya antusias. Dia menekan lehernya agar suara yang dikeluarkan tidak diiringi cegukan namun gagal.
"Oh benarkah? Apa kamu bisa menggunakan sihir?"
Arya diam sebentar mengatur suara dan nafasnya agar normal.
"Sihir? Bisa sih, ada apa?" jawabnya agak sedikit berat.
"Sihir apa?"
"Eh? Teleportasi?" jawab Arya ragu-ragu.
"Hah!... Benar kah? Kalau begitu kau anak pintar dong??... Kalau anak yang di sana itu?" tunjuk Nenek Jayna kearah Aryan.
Arya bingung, dia juga gak tahu!
"Memanipulasi sesuatu, menjaga agar mana yang ada didalam tubuh Arya tidak hilang dan selalu melimpah" sahut Aryan memutar kepalanya, wajah bantalnya membuat Nenek Jayna gemas. Apakah ada cucunya yang seimut dia???
"Maksudnya??"
Aryan membalik badannya yang rasanya berat sekali. Mata sayu nya sedikit bergeser mencari pencahayaan yang tepat. Ini pertama kalinya dia memiliki 'tubuh' sendiri di dunia 'itu', jadi cukup sulit mengendalikan rasa ngantuk nya. Dunia saat ini mirip dunia asli soalnya...
Nenek Jayna membuka mulutnya sedikit, dua anak yang mirip monster itu adalah cucu buyutnya?!
"Arya dan Aryan, kalian datang kesini bukan untuk santai ok, kalian harus menjadi dekat dengan Zaint dan mengambil hatinya"
Arya membuka matanya lebar, "kakek ingin menyuruh kami membunuh ayah?!" bukannya tadi kakek nya itu bilang jika tempat itu untuk bersantai juga??
Kakek Damien dengan tidak percaya menatap cucunya, "tidak bodoh! Maksudnya ngambil simpatinya, bukan mengambil organ dalamnya! Heh dasar pikirannya!!" sangkal Kakek tua itu kesal.
"Kalau benar pun tidak apa" gumam Aryan. Dia tahu dia akan dimarahi jadi dia langsung menutup telinganya.
"ARYANNNN!!" teriak Arya dan Kakek Damien bersamaan. Apa-apaan anak itu!!
"Wah, benar-benar anak yang jahat seperti ayah dan kakek buyutnya~" ucap Nenek Jayna bertepuk tangan ringan.
Dia memang tidak memiliki hubungan darah dengan dua anak itu karena dia bukanlah orang yang melahirkan kaisar saat ini. Dia memang memiliki anak, namun anaknya mati saat perebutan takhta beberapa dekade lalu.
"Arya, apa saat Zaint naik takhta menjadi Kaisar kau melihat ku? Atau ada aku saat kau lahir?"
Arya mengalihkan pandangannya dari Aryan dan fokus kembali pada Neneknya.
"Jujur saja, saat saya lahir ayah sudah menjadi Kaisar selama 3 tahun lebih. Selama delapan tahun saya hidup di istana pun saya tidak pernah melihat anda"
Kakek Damien melirik istrinya itu kasihan, "kamu diasingkan ke istana selir dalam, dan mungkin saja kamu sudah ... Umh, yah kau tahu? Zaint tidak membunuh mu karena kamu adalah pasangan ku yang terakhir hidup setelah pembantaian yang dia lakukan"
"Hah! Benar-benar deh, dulu aku selalu berpikir jika Kekaisaran ini adalah sarang penjahat dengan status bangsawan, dan ternyata itu benar"
Semakin terang cahaya di suatu tempat, maka semakin gelap pula bayangan nya. Jika yang dilihat di satu sisi adalah kebaikan maka lihatlah disisi sebaliknya. Kalau kebaikan itu bisa ditumpuk menjadi gunung dan dibanggakan maka hanya dengan satu keburukan yang mendarat di puncaknya akan menghancurkan gunung tersebut. Hah... Manusia itu seperti wadah kosong... Pasti ada kapasitas yang bisa ditampung, bagaimana jika yang mengisi 99,9% wadah itu adalah cat putih? Apakah jika sisanya 0,01% di isi dengan cat hitam untuk memenuhi wadah itu tidak akan mengubahnya? Jelas sekali bukan?
Lalu bagaimana dengan Zaint? Anak itu adalah anak yang baik, dia anak yang rajin dan pintar, sosok asli nya bahkan memiliki sifat manis(seharusnya). Dia juga anak yang sangat menyayangi ibunya. Lalu apa itu faktor yang mengubahnya? Tentu saja! Siapa yang tidak akan berubah jika melihat orang yang paling disayanginya mati didepan matanya? Walau bukan sekarang sih matinya.
Yah... Itu adalah pandangan Nenek Jayna berbeda dengan Kakek Damien yang memiliki pandangan sebaliknya.
"Arya, pergi dengan Aryan untuk menemui Zaint di istana malam sana!" suruh Kakek Damien dengan logat seperti mengusir.
"Arya aja, aku ngantuk!" sahut Aryan pindah dari sofa ke kasur yang berada di ruangan sebelah.
Arya menatap rendah pada Aryan yang ingin disebut sebagai kembaran tapi bukan dan disebut saudara juga bukan. Dia bingung tapi sebaiknya sih anggap saudara saja sih, kan sudah ditemani bertahun-tahun sampai berbagai kehidupan. Masa gak bisa dianggap saudara, kan?
"Arya? Bagaimana?" tanya kakek Damien melirik Arya yang berwajah masam
"Iya-in aja!" ucap Arya memutar kepalanya nya kesal.
Dia berganti pakaian dan langsung menuju istana malam. Tak ada yang berubah ternyata. Istana itu masih terlihat bagus dari sekarang sampai beberapa tahun ke masa depan.
"Permisi~" Arya masih memiliki sopan santun untuk mengucap kata permisi sebelum masuk ke suatu tempat.
Dia membuka pintu perlahan dan mulai masuk kedalam istana itu. Istana luas dengan taman mawar yang mengelilinginya dan bangunan utama yang sangat megah.
Arya menelusuri istana itu dari sudut-ke-sudut. Matanya masih asik melihat-lihat saat tak sengaja dia bertatapan dengan mata indah seorang wanita.
Wanita itu berkulit kopi susu manis seperti permen cokelat kesukaan Arya. Saking manisnya wanita itu, Arya sampai membeku ditempat meneguk saliva nya berat.
"Kamu siapa?" wanita tersebut mendekati Arya perlahan. Rambutnya pendek berwarna cokelat muda sedikit berdesir.
Arya masih tidak sadar dengan lamunan alam bawah sadarnya tiba-tiba sadar kembali saat mendengar kalimat dari wanita itu.
"Kamu mirip putraku ya~, siapa kamu?"
Arya sedikit mendongak menatap wajah wanita itu. Uhhh,,, kulitnya eksotis seperti cokelat leleh.... Benar-benar memiliki pesona unik dan istimewa...!!
Ah tunggu dulu!! Dia hampir lupa tugas awalnya.
"Eum, madam(?) apakah saya bisa bertanya pada anda?" tanya Arya ragu.
"Oh, silahkan?"
"Egh... Sa-saya mau mencari ay-pangeran Zaint, apakah ada?" rasanya aneh jika memanggil ayah sendiri dengan gelar 'Pangeran' dan bukan Kaisar. Kek geli-geli gimana gitu~
"Ah, Zaint? Kamu mencari putraku?" tunjuk wanita itu pada dirinya sendiri.
Eh?
Arya memiringkan kepalnya sedikit, bentar-bentar dia masih loading... Anak? Wanita itu ibunya ayahnya? yang berarti neneknya kan? Ya 'kan?
"Eggghhh!!" Arya dengan tidak percaya menutup mulutnya dan mundur dua langkah.
"Anda serius???" tanya Arya memastikannya.
"Hm? Kenapa?"
Arya dengan cepat membalik kepalanya... Kok gak miripppp??!
^^^(Berdosa kau, Ar!) ^^^
Dia membayang kan saat Zaint yang menyebalkan itu dan nenek yang sangat ramah. Ih, nggak-nggak mirip sama sekali, kek bumi sama planet pluto gitu nah... Jaaaauuuuh bangettt!!!
"Ti-tidak, tidak apa-apa?"
Wanita itu menepuk kepala Arya penuh kelembutan. Woy lah Arya malah merinding tanpa alasan.
"Apa... Zaint membuat masalah lagi??" lihat aura yang dikeluarkan wanita itu. Bibirnya tersenyum namun matanya tidak! Uh, memang sulit mengatakannya namun aura ayahnya mirip dengan wanita didepannya itu.
"Gak! Sama sekali tidak!!!" sangkal Arya mengayunkan tangannya kiri kanan.
"Benarkah? Huuh... Sepertinya aku sangat sensitif akhir-akhir ini?" ucap wanita itu membelai pipinya.
Arya merasa keringat dingin tanpa sebab lagi. Entahlah seperti nya dia akan mendapatkan masalah besar!!
"Uh, sebenarnya saya ingin mencari ayah saya, namun saya harus mencari Pangeran Zaint dulu" dia tidak salah, karena sejak awal Zaint adalah ayahnya dan dia memang sedang mencarinya.
...----------------...
Guys, saya benar-benar sibuk akhir-akhir ini, banyak praktek tugas🙏