The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
JANGAN DEKET-DEKET!!



Istirahat...


Siang itu adalah waktu yang paling tepat untuk mengerjakan tugas dari guru. Arya, Delvan, Hansel, Brian, dan Ryzan membuat satu kelompok untuk mengerjakan tugas itu. Mereka akan berpencar untuk mengumpulkan data. Arya dan Ryzan pergi ke perpustakaan, dan yang lainnya akan pergi ke sekitar untuk observasi.


Mereka bekerja masing-masing untuk mengumpulkan data, nantinya data itu akan dikumpulkan menjadi satu dan dibuat jadi seperti laporan.


Arya yang terbiasa dengan hal seperti itu hanya bisa menghela nafas kasar.


Rasanya kembali saat observasi senjata baru untuk organisasi...


Tunggu...!


Senjata?...


Aha...


Arya tersenyum ketika dia mendapat idenya. Itu membuatnya tersenyum semakin panjang saat dia melihat beberapa buku yang memuat daftar senjata, dari yang kecil hingga yang besar.


"Aku cari di sana, ya?"


"Pergilah, aku stay di sini saja"


Beberapa menit kemudian...


"Aryan, kamu sudah... Eh perasaan baru saja aku tinggal beberapa menit, tapi... Bagaimana kamu sudah menulis sebanyak itu?!"


Baru saja ditinggal oleh Ryzan beberapa saat, tapi ternyata Arya sudah menulis hingga lebih dari dua lembar.


Arya terlalu fokus sampai-sampai dia tidak menyadari sudah sebanyak apa dia menulis. Dia mengangkat tangannya yang memegang pena dengan spontan.


Sejak kapan jadi sebanyak itu?


"A-ah, aku tidak sadar, ehehe" dengan cengiran kecil Arya membuat Ryzan membuka matanya sedikit lebar.


Apa itu tadi..?


Arya bangun dari tempat duduknya dan menyerahkan buku tempat dia menulis tadi pada Ryzan dan menepuk-nepuk kedua tangannya.


"Kenapa telingamu merah? Kamu sakit?" tanya Arya menyentuh telinga Ryzan.


Ryzan yang merasa telinganya kesemutan langsung menepis tangan Arya. "Tulisanmu ternyata bagus ya?"


"Apa?"


Arya berfikir mungkin itu akibat dia keseringan menulis ini dan itu untuk berkas-berkas dan dokumen penting. Sepertinya itu membuat tulisannya jadi bagus.


"Itu memang harus bagus, jika tidak aku akan dikritik oleh ayahku" jawab Arya berjalan duluan.


"Oh, begitu"


"Ayo cari yang lain"


"Ok"


Arya dan Ryzan berjalan bersamaan mencari keberadaan yang lainnya saat dia melihat sesuatu yang unik.


"Bukannya itu Rokan?" tanyanya pada Ryzan yang terhenti tepat di samping nya.


"Iya"


Arya jadi bingung sedang apa anak sektor Sihir ada di sektor Pedang, dia tidak belajar?


----


"Lihat Ro, dia menghina mu? Kenapa tidak kau pukul saja dia?"


"Benar, lihat dia mempelototi mu!"


"Kamu tidak bisa berbaik hati lagi pada baji*gan itu"


Arya dan Ryzan bisa melihat jika tangan Anak remaja itu terkepal erat saat temannya yang lain seperti kompor meleduk.


"Manipulatif A*jim" ucap Arya mengerutkan alisnya. Teman macam apa yang menghasut temannya yang lain untuk berbuat salah? Teman ****** kali.


"Mulutmu Aryan" tegur Ryzan mendengar kata-kata yang terdengar kasar dari remaja didepannya itu.


"Maaf, kesel soalnya"


Ryzan menarik kerah Arya untuk bergegas mencari teman sekelompok nya yang lain, meninggalkan Rokan yang mulai menyerang orang didepannya dengan sihirnya.


Sesampainya mereka ditempat yang lain, bertepatan dengan jam pelajaran berikutnya berbunyi. Arya menatap datar pada lonceng besar yang tergantung pada menara tinggi di tengah-tengah Akademi.


"Si*lan, baru juga sampai" umpat Arya pelan.


"Ayo masuk?" ajak Brian menarik Arya menjauhkannya dari Ryzan. Begitu pula dengan Delvan yang tiba-tiba jadi protektif pada Arya.


Hansel menatap tiga orang yang pergi duluan itu dengan aneh. Jarang-jarang mereka akan bersikap seperti itu.


"Kamu melakukan sesuatu pada Arya?" tanyanya pada Ryzan yang juga menatap kepergian anak yang lain.


"Ti-tidak"


Hansel membuka sedikit mulutnya saat dia melihat telinga merah Ryzan.


Hansel mendatarkan matanya dan suaranya mengandung senjata.


"Aha, ternyata ada lebah sialan yang mendekati bunga mawar"


Sudah cukup Feron yang ingin bersaing secara sehat dengannya mengenai Arya. Dan kini, ada brengs*k lain yang mendekati Arya? Argggh ingin dia singkirkan segera.


Rintangan pertama yang harus mereka berdua hadapi adalah ayah gadis itu, lalu teman-teman nya yang menemaninya sedari kecil. Dan sekarang bertambah saingan baru?


Sangat sulit mendekati gadis itu dengan status yang kalau dibilang adalah 'tidak biasa', sialan! Untung statusnya juga sama.


Hansel meninggalkan Ryzan dengan langkah cepat karena jam pelajaran ketiga sudah dimulai.


Ryzan yang kebingungan hanya bisa memiringkan kepalanya bingung.


Kenapa harus ditinggalkan sendiri?


Dia menyusul yang lainnya ke kelas, syukurnya guru belum masuk kelas.


♡⑅*˖•. ·͙*̩̩͙˚̩̥̩̥*̩̩̥͙·̩̩̥͙*̩̩̥͙˚̩̥̩̥*̩̩͙‧͙ .•˖*⑅♡


Pelajaran Sejarah...


Arya mengerutkan alisnya karena sudah lebih dari lima menit dan belum ada guru yang datang.


Beberapa saat kemudian...


Ckiiittt.... Jebreg...


"Aduh, Ma-maaf terlambat" guru laki-laki yang baru saja datang dengan terpeleset itu membuat beberapa siswa tertawa.


Kesan pertama yang diluar nalar akal sehat...


"Haha, apa kabar semua? Harusnya sehat dan baik kan? Perkenalkan nama saya AGEF ASHOV, usia saya 24 tahun, saya mengajar pelajaran sejarah, pelajaran sejarah itu wajib untuk setiap kelas di semua sektor, terutama Sektor pedang"



"Apa ada yang ingin bertanya?"


Arya mengangkat tangannya.


"Pak! Mundur deh bapak kelewatan!" ujar Arya memperingati guru itu.


"Ah, apanya?" tanya guru itu heran


"Bapak kelewat tampan maksudnya"


Guru laki-laki itu membuka matanya lebar: "saya lurus!!" ucapnya spontan


Arya berkedip: "saya juga lurus kok? Yang bilang bapak dan saya belok siapa?" dia menganggukkan kepalanya


"Hey, anak ini... Haaaa, astaga usiaku benar-benar akan bertambah, nak tolong jangan berdebat dengan orang tua ya?" tegur guru itu dengan lembut.


Hing, ingin rasanya Arya berhenti menjahili guru laki-laki itu, tapi, kenapa guru itu sangat lembut? Tolong! Arya rasanya kan jadi mau makin menjadi ngejahilinnya. Jiwa brandal nya keluar lagi dong! Wuwu(╥ω╥)


"Pak guru yang tampan~ katanya usia Pak guru masih 24? Kok udah tua? Menurut saya orang tua itu yang seperti ayah saya!" balas Arya dengan senyum nakal dan tangan yang terlipat di dada.


Tolonggg hentikan dia sekarang!!?


"Memangnya berapa?"


"29 tahun"


Guru itu membuka mulutnya: "..."


29 tahun? Gak salah dengar kan? Itu tua?


Sreeettkkk...


Hansel, Delvan, Brian berdiri dari bangku mereka membuat seisi kelas memperhatikan mereka.


Mereka bertiga menatap lurus pada guru itu dan langsung menunduk.


"Tolong jangan dilanjutkan! Jika tidak anak ini akan semakin menjadi! Kami mohon!" ucap mereka bersamaan.


Mereka malah takut jika guru itu akan kena mental breakdance gara-gara anak yang satu itu. Mereka jadi lebih khawatir kalau itu benar-benar terjadi.


Jadilah waras untuk diri sendiri...!


"A-ah, baiklah" jawab guru itu sedikit canggung.


Pelajaran dimulai dan semua siswa yang ada dikelas itu diam memperhatikan. Tidak ada yang berbicara kecuali guru, dan itu sudah terjadi beberapa hari terakhir.


"Ada yang tahu sejarah lima Kekaisaran?" tanya guru itu setelah menjelaskan materi.


Banyak yang mengangkat tangan termasuk Arya dan yang lainnya.


"Ah, ternyata banyak yang tahu"


"Bisa sebutkan masing-masing sejarah?"


"Oh iya, tenang saja! Dikelas ini kita kan saling belajar, jadi jangan takut untuk melakukan tanya jawab kepada sesama ya! Saya juga sebagai guru bisa mendapatkan wawasan dari kalian, jadi jangan sungkan mengutarakan apa yang kalian ketahui" ucap guru itu tersenyum.


Arya mengangkat tangannya bersamaan dengan Hansel. Mereka saling pandang dan saling menatap.


"Kamu duluan" ujar Hansel mengangkat tangannya.


"Kamu aja" jawab Arya juga mengangkat tangannya.


"Ayo lah, kamu saja!"


"Sudahlah, kenapa kalian ribut lagi?" sahut Delvan dengan malas memandang dua human beda gender itu.


"Uh, baiklah, kenapa aku terus!" ucap Arya pasrah


"Haha! Sepertinya kalian ini sahabat ya? Kalian terlihat dekat"


"Enggak juga sih, Hansel itu anak teman ayah saya, kalau Delvan dan Brian teman 'main' saya" jawab Arya menggelengkan kepalanya.


Delvan dan Brian yang melihat kata 'main' sedikit ditekankan langsung menyipitkan matanya. Main bukan sembarang main!


"Oh begitu? Baik, silahkan dilanjutkan!"


Arya menunduk sedikit lalu membuka mulutnya.


"Halo, perkenalkan nama saya Aryan, saya ingin memberi sedikit informasi tentang Kekaisaran Roseland. Kekaisaran Roseland memiliki perbandingan, setiap penduduknya memiliki status berbeda"


"Yaitu: Rakyat biasa, tentara bayaran/pembunuh bayaran/pedagang, bangsawan, dan yang paling berkuasa adalah keluarga Kekaisaran yang dimana memiliki kekuasaan ±80%"


"Ciri utama nya adalah rambut merah dan mata hijau emerald, kemampuan setiap keturunan sama yaitu mawar merambat, Kaisar terkenal dengan kemampuan pedang sihir nya di medan perang, dan Putri terkenal dengan kemampuan melarikan dirinya. Hanya itu saja dari saya Terima kasih!"


Seisi kelas terdiam beberapa saat.


"Bagaimana kamu tahu jika sang putri memiliki kemampuan melarikan diri?" tanya salah satu siswa yang duduk sedikit pojok.


"Karena aku melihatnya melompati tembok istana dengan dua ekor hewan peliharaan nya" jawab Arya. Dari agak aneh karena mendengar tentang dirinya dari mulutnya sendiri. Rasanya seperti geli gitu loh.


"..." semua orang terdiam.


Arya duduk kembali dan guru itu langsung mengangguk.


"Halo, saya Hansel, jika tadi tentang Kekaisaran Roseland, maka saya tentang Kekaisaran Theodore"


Hansel menjelaskan sedikit tentang Kekaisaran milik ayahnya lalu dilanjutkan kembali oleh anak-anak yang tentang Kekaisaran Ruffela, Kekaisaran Zelonix dan Kekaisaran Zovariz.



Setelah jam pelajaran Sejarah selesai, mereka langsung berpencar dari tempat satu ke tempat lainnya. Kecuali Arya yang langsung ke perpustakaan.


:♡.•♬✧⁽⁽ଘ( ˊᵕˋ )ଓ⁾⁾*+:•*∴


Komen dan like nya kakak jangan lupa.


Dan besok udah mulai puasa.


Em... SEMANGAT DIET YANG LAGI DIET!!! Kek saya tentunya(≡^∇^≡)