
Di pasar malam...
Setelah mereka sampai di sana, mereka langsung sibuk berbelanja. Lili membeli benang peri(gulali) Delvan membeli minuman dan Arya membeli boneka gantung(boneka yang biasa dipakai buat digantung di pinggang) berbentuk kucing. Dibelakang mereka ada dua anak kecil yang tak lain adalah Snicky dan Miau Wu yang juga ikut menemani.
Mereka bersama berjalan bersama, memainkan semua permainan yang ada di sana, berkeliaran ke sana kemari hingga sampailah mereka di sebuah kios makanan. Di Sana ada banyak sekali makanan yang dibakar. Ikan, ayam, daging dan sayuran yang cara pengolahannya dibakar.
"Ini... Apa?" Tanya Arya pada wanita pemilik kios. Dia menunjuk pada sayuran tanpa daging yang ditusuk itu penasaran.
"Apakah kamu ingin mencobanya nak?" Tawar wanita pemilik kios itu ada mereka bertiga.
"Mau!" Jawab mereka kompak.
"Tapi... Ini apa merah-merah? Tomat?" Tanya Arya lagi. Dia menunjuk pada benda sedikit lonjong (jangan aneh-aneh) berwarna merah yang ada campuran sayur itu.
Pemilik kios tertawa, " Haha! Bukan, itu cabai" Dia menjelaskan semua hal yang dia tahu dan setelah itu mereka bertiga mencicipi masakan itu.
Puk...
"Hallo semua!" Tiba tiba datang seorang anak laki laki mengejutkan kan mereka bertiga, hingga membuat Arya meneteskan air mata
Wuuuhh..
Apes banget, udah makanannya pedas... Di kagetin... Gigit lidahnya sendiri lagi. Membuat Arya seketika menangis dan memukul anak laki-laki yang tadi mengagetkan mereka.
"Eh, sakit Ar! sakit!!" Adu anak laki-laki yang ternyata adalah Feron.
"Sakitan mana, hah?! Lidah ku yang tergigit atau tubuhmu yang ku jadikan samsak, hah?!"
"Hey, yang gigit lidah kan kamu, kenapa jadi nyalahin aku, sih?!" Seru Feron tatkala tubuhnya masih digebukin oleh Arya.
"Kamu yang ngagetin makanya aku gigit lidah!!!" Teriak Arya dengan brutalnya dia masih memukul Feron.
"Ya udah, jangan kaget!!"
"Kamu..." geram Arya ingin menjambak rambut Feron, tapi langsung di lerai oleh dua orang yang dari tadi mencoba memisahkan mereka.
"Sudah, sudah ayo lanjutkan jalan-jalannya" Ujar Lili
"Ya udah kalian duluan aja!"
"Oke!"
Arya membayar semua makanan yang mereka makan tadi. Dia selalu menyediakan uang di sakunya. Jadi, ketik dia pergi keluar, dia akan bisa dengan mudah melakukan transaksi. Dia tinggal menengadahkan kedua tangannya dan ayahnya akan memberikannya berapapun dia mau. Tapi tak lebih dari seratus perak dan lima emas saja, per hari. Bahkan uang sisanya akan dia tabung untuk membeli racun dan juga senjata.
Setelah selesai berkeliling mereka akhirnya pulang, mereka kembali saat jam sudah menunjukan pukul setengah dua belas malam.
Arya yang masuk Ke istana nya sendiri dengan mengendap-endap pun langsung bersembunyi ketika melihat bayangan yang melintas pun bersembunyi. lagi-lagi ada yang ingin membunuhnya. Seberapa tidak beruntungnya dia.
Arya mengikuti mereka semua dan menyapa mereka dengan sopan.
"Wahai, paman dan om-om pedo apakah kalian salah masuk ruangan?" Tanya Arya dan mereka masih belum sadar.
"Tidak ini benar kamar milik putri kok!" Dan dengan bodohnya salah satu dari mereka menjawabnya
"Oh? Kukira kamar putri ada disebelah deh?" Sepertinya Arya malah ketagihan mempermainkan para pembunuh bayaran itu.
"Benarkah? Pantas saja tidak ada pergerakan dari putri gila itu?" Jawab salah satu dari mereka yang membuat Arya tersenyum seram
Apa?
Putri gila?
Dia?!
Wah minta pites nih orang?!
"ᛋᚺᛟᛟᛏ!"
Entah dari mana panah langsung meluncur dengan mulus mengenai orang orang yang Arya sebut 'paman pedo' dan dengan santainya dia memanggil Farel dan menyuruhnya untuk membersihkan kekacauan yang terjadi.
Dia memasuki kamarnya yang seperti dia bilang berada di samping. Kenapa harus di samping? Karena dia gak mau kamarnya berantakan karena terkena imbas dari permainannya. Karena tidak ingin repot, dia sudah memasang banyak jebakan di istana malam. Jadi entah sejak kapan istana malam sudah seperti labirin jika salah masuk ruangan atau tempat lainnya, mereka akan langsung mati. Hanya Lina, Tera, Dua bersaudara, Zaint, Dark dan Farel yang mengetahui susunan formasi labirin miliknya.
Dua bulan kemudian...
Arya bersama ketiga sahabatnya berniat untuk menemui Dark yang sedang beristirahat di gua miliknya. Mereka memasuki gua itu dan terdengar sebuah suara dengkuran yang cukup keras untuk menakuti orang orang. Mereka terus berjalan hingga mereka melihat seekor naga hitam yang sangat besar.
"Dark, bangun woy!! Sudah dua ribu tahun kamu tidur tau gak?!!" Arya menendang kulit keras Dark dan membuat dark terbangun dan langsung berubah menjadi manusia.
"Hoaam.. Bisakah kalian tidak membangun kan ku hah? Aku sudah tidak tidur nyenyak selama tiga setengah tahun, tahu tidak?" Dan dengan kompaknya mereka semua menggeleng membuat Dark tepuk jidat.
Kata orang, polos dan bodoh itu beda tipis
Tapi sepertinya mereka benar benar bodoh deh.
Saat mereka berbicara Lili tidak sengaja melihat sebuah lorong di gua itu membuatnya penasaran dan dia berjalan memasuki lorong itu saat sampai diujung lorong dia terdiam....
Lalu...
Aaaaahhhhh....
---
Arya yang sibuk bertengkar dengan Dark langsung terkejut mendengar suara jeritan dari arah lorong yang berada di sana. Arya dan yang lainnya langsung berlari ke sana tanpa pikir panjang.
"Lili, ada apa?" Tanya Arya saat sudah sampai dibelakang gadis yang berteriak tadi.
"Lihat, ada tiga telur di sana!" Tunjuk Lili pada tiga telur berbeda warna.
"Bukankah itu telur hewan magis. Benda langka" Ujar Riden mengangkat alisnya.
"Oh? Itu bukanlah sesuatu yang istimewa. Itu adalah telur yang tidak sengaja kudapatkan saat menjarah sebuah desa. Itu telur gagal!" Jawab Dark santai.
Delvan yang penasaran pun maju dan menyentuh telur tersebut, tanpa disadari telur itu malah menusuk jarinya hingga darah mengalir keluar dan mengenai telur tersebut.
Tak lama kemudian telur itupun perlahan retak dan keluar sebuah moncong kecil dengan kedua telinga panjang dan berbulu putih. Ya itu adalah kelinci. Tapi bedanya ada pada dua tanduk yang berada di kepalanya itu.
"Chaa.." Ucap kelinci itu.
"Eh? Itu pecah!? imutnya..." Ucap Lili antusias. Sedangkan Dark hanya melongo seperti orang kehilangan jiwa.
"Kau bilang telur itu tidak bisa pecah? Itu bisa!" Jawab Arya tenang. Dia maju dan melihat sekeliling.
Lili mencoba menyentuh salah satu telur tapi tidak berhasil lalu dia menyentuh yang satunya dan benar saja telur itu bereaksi dan terjalin lah kontrak spiritual. Saat telur itu pecah, hewan yang keluar adalah rubah kecil berwarna salju (tau lah ya, warna salju, putih sedikit biru)
"Ciaaatt.."
"OMG!!? So cute!!!" Teriak histeris Lili ketika memegang bulu rubah putih itu
Sekarang hanya tersisa satu telur, dan dua orang. Arya menoleh dan menyuruh Riden untuk melakukannya terlebih dahulu. Saat telur itu pecah dan seekor burung hantu pun keluar
"Kruuu..."
Entah kenapa saat menyentuh burung hantu itu, wajah Riden yang biasanya terlihat datar dan dingin itu menunjukan ekspresi berbeda hari ini. Bibirnya sedikit melengkung dan pipinya sedikit terdapat semburat merah.
Arya yang melihat itu hanya tersenyum lalu dia berjalan tanpa sadar kearah sudut. Entahlah kenapa, tapi sepertinya dia dituntun untuk mendekati pojokan.
Saat dia sadar, tangannya sudah memegang sebuah telur kasar berwarna hitam. Telur itu berwarna hitam tentu saja tidak akan ada yang menyadarinya karena warnanya menyatu dengan warna pojokan yang gelap.