The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
..



Langit gelap dengan sedikit bintang berkelip menjadi bukti seberapa kesalnya Arya pada anak-anak OSIS yang seperti sedang mengerjainya.


"Ergg, selesai juga...!" Arya meregangkan tulang punggung nya yang rasanya bengkok setelah menyelesaikan 30 soal tak masuk akal.


"Sudah selesai?" tanya Seadna mengintip dari arah belakang.


Arya mengangkat kepalanya dan bertemu dengan mata yang berkilau aneh membuatnya mengalihkan matanya. Matanya kek aurora.


"Maaf mau tanya nih?" Arya gugup membuatnya berbicara sopan


Sretttt...


Aneh, entah kenapa Yoshua, Seadna, Abel, dan Vee langsung melesat mendekati Arya saat anak itu mengangkat tangannya.


"Iya!" ucap mereka bersamaan.


"Huft, ini sebenarnya ada apa? Kok saya disini? Ini sudah malam dan besok ada kelas, bukankah saya harusnya kembali" tanya Arya sedikit menjelaskan situasinya. Diangguki semuanya.


Keempat orang itu diam dan saling  menatap. "Lalu? Bolos sekali kan tidak apa?"


"Ih, sesad!"


"Tidak apa, kami akan meminta izin untuk kalian besok, saat ini situasinya sedang sangat penting, jadi tolong kerja samanya, ya?" ucap Sofie tersenyum. Dia duduk disofa dan membaca soal yang sudah dikerjakan beberapa anak didalam ruangan itu.


"Kalian sekarang sudah tahu kalau kami yang ada disini adalah anggota OSIS"


"Biar aku jelaskan sedikit"


"OSIS adalah organisasi yang aggotanya berasal dari berbagai jurusan yang terpilih langsung"


"Kami dibentuk untuk mengatur keseimbangan Akademi. Tugas kami mencakup wilayah Akademi, bahkan penilaian kami sangat penting"


"Mulai dari menilai perilaku siswa sampai perilaku para Profesornya"


"Beberapa bulan yang lalu, ada siswa yang membawa Beer kekantin dan menumpahkannya pada siswa lain, sesuai hukuman dari OSIS dan Kepala Akademi, siswa itu dikeluarkan dan dikembalikan kekeluargaannya"


"Nah karena kalian tahu tentang kemampuan anggota OSIS, menurut kalian bagaimana OSIS itu?"


Haniel mengangkat tangannya, "kekuasaan nya ada dibawah Kepala Akademi dan diatas Anggota Akademi"


"Yup, begitu~"


"Kami OSIS memilih penerus saat kami akan lulus, dan agar lebih efisien kami memilih siswa dari seluruh Jurusan secara diam-diam dan berkala setelah di amati beberapa bulan bahkan beberapa tahun"


"Dan sekarang kalian yang sedang berdiri disini berarti telah lolos seleksi untuk menjadi anggota OSIS"


"Nah... Sekarang apakah ada yang keberatan menjadi OSIS?"


Sekarang giliran Arya yang mengkat tangannya.


"Eh, kenapa?"


"OSIS kan menaggung banyak sekali beban, gimana aku mau ikut, beban dari yang kumiliki saja cukup banyak apakah aku harus menambah beban lagi? Gak ah, gak mau ikut!"


"Ehem, yah~ tapi kau akan mendapat hak istimewa kalau ikut, contohnya saat kau melawan siswa bermasalah kamu tidak akan mendapat hukuman!"


"Begitukah?"


"Iya"


^^^(Biar kukatakan Arya kamu sedang masuk jebakan batman:">)^^^


"Huh, terserahlah!"


"Bagus! Ngomong-ngomong kamu menjadi penerusnya Seadna ya? Selamat ya, mulai sekarang tugasmu adalah menjadi Sekretaris OSIS~!!"


Wajah Arya seketika berfluktuasi mendengar ucapan Sofie. Apa? Sekretaris?


Makin banyak dong tugasnya!!!!!


"Nah sekarang berikan 'pin' kalian untuk penerus masing-masing"


"Um, anyway~ ketua OSIS itu yang itu yah, yang pakai kacamata! Dia kelas 2 jurusan Alchemist" tunjuk Sofie pada Yoshua.


Semua Anggota OSIS yang akan lulus mendekati penerusnya masing-masing.


"Arya dijaga ya! Nanti kalau udah mau lulus wariskan untuk penerus yang akan datang ya!"


"Hm, aku baru tahu kamu kelas 4"


"Ahaha! Maaf, belum sempat bilang"


"Terserahlah!"


"Ih, ngambek! Lucunya...!"


"Mohon perhatiannya!! Kalian akan mulai melakukan tugas kalian besok pagi, tugas kalian gampang kok! Bersikap lah sewajarnya seperti sebelumnya dan jangan mencolok! Jika mencolok pun itu biasanya yang memang sudah kuat dari awal! Kami tidak melarang kalian menggunakan berbagai cara mendisiplinkan para siswa, bahkan menyakiti siswa pun diperbolehkan asal masih dalam batas wajar. Seperti berkelahi atau adu otak, kalian bisa melakukan apapun!! Baik, terimakasih atas perhatiannya, kalian bisa bubar!"


"Oh jangan lupa jika ingin tahu lebih banyak tentang tugas kalian, kalian bisa bertanya pada Ketua OSIS, ya!! Sampai jumpa semuanya!!!!!"


Beberapa siswa yang sebelumnya berkumpul kini bubar kembali kekamar mereka masing-masing.


Saat semuanya selesai malam sudah sangat larut.


00.57 tengah malam...


Arya kembali ke kamarnya dan langsung tertidur. Dia tidak sadar jika saat itu Hansel masih bangun dan melihatnya baru masuk.


Malam itu suasananya sangat sunyi bahkan suara jangkrik pun tak terdengar.


Arya membuka matanya sebentar. Kasurnya tepat bersebelahan dengan kasur milik Hansel. Arya kaget saat melihat mata Hansel berkedip, dia sampai hampir jatuh dari kasurnya sendiri


"Kenapa?" tanya Hansel. Nada dinginnya membuat Arya tiba-tiba meremang. Apa memang anak itu menyeramkan seperti itu?


"Umh, gak kok!"


"Kamu dari mana?"


"Dari toilet"


"Oh" Hansel membalik tubuhnya, "sampai lima jam lebih ternyata ya di toiletnya...?"


"Eh?!"


Arya terkejut. Lima jam? Loh heh?!


"Sudah tidurlah, besok ada kelas"


Saat dia hampir terlelap dalam tidur tiba-tiba dia melek lagi seperti tidak mengantuk. Dia buru-buru bangun dari kasurnya dan mendekati tas miliknya. Sial permennya habis!!


Bagaimana ini!?


Gadis itu membawa alat komunikasi nya keluar kamar dan menelpon ayahnya.


"Brzzzzztt"


"Apa?" panggilan tersambung namun suara Zaint sama seperti biasanya, Menyebalkan!


"Ayah bisa kirimkan hewan perliharaanku bersamaan sekotak permen dikamarku? Tanya saja pada Lina tempatnya, tolong ya ayah?"


"Hm"


"Okeh, aku tutup ya? Dah~"


"Ya"


Arya kembali kekamarnya dan kembali tidur. Tidak! Dia tidak benar-benar tidur dia malah mendatangi Aryan untuk tidur bersama.


_____$_______


Kekaisaran Roseland...


Ruang Kerja Kaisar...


Zaint meletakkan alat komunikasinya dan bangun dari tempat duduknya.


"Akhirnya anda akan tidur, yang mulia?" ucap Tama riang.


"... Siapa bilang?" ucapan Zaint membuat pria lajang itu tercekat. Oh ayolah ini hampir subuh she-alan!! Dan dia masih bekerja?!! Kapan tidurnya?!


"Haah~ aku benar-benar bisa mati muda..." guman Tama lesu.


"Tanpa seizin ku, kamu tidak bisa mati"


"Memang anda dewa?"


"Bukan tuh, tapi semenjak kau bekerja disini, kau sudah mengikat kontrak hidup dan mati dengan tempat ini"


Ragggggghhh!!! Ingin rasanya Tama mencakar habis majikannya itu. Jika saja bukan karena Tuan Putri Arya mungkin dia sudah melarikan diri sejak awal.


Zaint berjalan lurus kearah Istana Malam yang terlihat berkilau dimalam hari itu. Istana yang dia berikan untuk anaknya beberapa tahun yang lalu. Bangunan... Yang menjadi saksi bisu kematian ibunya, permaisuri ke-15. Bangunan yang merupakan tempat dia dilahirkan. Tempat yang paling disukai oleh ibunya karena bisa menanam mawar yang bisa tumbuh lebat.


"Ain, tolong jaga mawarnya ya?" ucapan terakhir yang didengar oleh Zaint dari ibunya.


Hm, kenangan lama...


"Yang mulia" sambut Lina menunduk memberi hormat.


"Permen dan kucing-ular"


"Oh, permen dan peliharaan Putri, baik akan saya bawakan"


Lina pergi beberapa lama dan kembali lagi sambil membawa hal yang diminta Zaint padanya.


Zaint membawa barang-barang itu begitu saja. Ralat bukan Zaint yang membawanya tapi Tama.


Penyiksaan karyawan!!


[Wawancara dadakan...


Host: "apa anda sehat tuan Tama?"


Tama: "rasanya ingin mati"


Host: "oh, sungguh?"


Tama: "iya, dia itu majikan yang sangat buruk dan tidak berperasaan makany--"


Zaint: "Tama, ini uang bulanan mu kan? Kau mau itu kubakar?"


Tama: "hoho tidak yang mulia, anda adalah majikan terbaik sepanjang hidup saya! Tolong berikan~"


Host: *speechless* "ok begitu saja wawancara hari ini, sampai jumpa di 'Wawancara Dadakan'! Saksiakan versi lain!!"]


°°°°°°°


Akademi Bulan...


Asrama...


Ruang Jiwa Arya dan Aryan...


Arya terjun kearah Aryan yang sedang tertidur dengan harapan Aran terbangun. Namun sayang pergerakan reflek Kakek Damien membuat Arya tergantung diudara.


"Turunin!" ucap Arya memberontak. Dia memakai pakaian seperti hiu kecil dengan penutup kepala yang imut.


"Gak!" tegas kakek Damien membawa gadis itu pergi.


"Ragrrrrrr, ARYAN!!!!"


Aryan bangun dari tidurnya dengan linglung dan matanya masih merem-melek. Dia menoleh kearah Arya dan Kakek Damien dengan mata terbelalak.


"Ar!" panggilnya sambil berlari mengejar.


Sampai disebuah padang rumput yang sangat luas mereka pun berhenti. Mata Arya berdelik beberapa kali memperhatikan lingkungan sekitar. Apakah didalam 'jiwa' bisa secantik itu?


"Hm, aku ingin kalian 'bermain' dengan Zaint ketika dia masih kecil" kakek Damien diam sebentar lalu melirik kedua anak itu bersamaan. Sejak kapan Aryan berganti pakaian?


"Apa maksudnya 'bermain' itu, kek?" tanya Arya bingung.


"Em, seperti mengikuti Zaint yang masih kecil berkeliling? Ya seperti itulah"


"Lalu bagaimana dengan sekolah?"


"Itu mudah! Jika 'bermain' selama 1 minggu maka waktu didunia nyata hanya terpakai 1 jam. Jam malam kalian adalah 6 jam jadi kalian bisa menggunakan 6 minggu dengan 'bermain', bagaimana?"


"Kami berdua? Apakah tidak mengubah masa lalu? "


"Iya, tidak karena itu ilusi buatanku, jadi tenang saja! "


"Okelah kalau begitu!"


Kakek Damien meminta mereka berbaring di atas rumput sambil berpegangan tangan dan beberapa saat kemudian.... BOOM!!