
Dan sampai lah Gadis kecil itu didepan ruang kerja Zaint yang memiliki nuansa menenangkan namun suram.
"Ay, ayah? apa, apakah kau memanggilku?" Tanya Arya gugup. Dia masih berdiri dibelakang pintu sambil menyembulkan kepalanya di sela-sela pintu tersebut.
"Hm... Kemari!" Ujar Zaint.
Arya masuk dan mulai menundukkan kepalanya sedikit. "Ada apa?" Dan tidak mengangkatnya lagi. Mungkin dia lelah.
"Apakah kamu tidak bisa untuk tidak menyentuh berkas sehari pun? Dan aku mendengar jika kamu juga sering keruang arsip untuk mencari sekedar informasi, bukan?" Tanya Zaint
Glek...
Arya tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa menelan ludah nya dengan susah payah. Memang benar jika dia sering keruang arsip tapi dia hanya mencari info tentang para bangsawan yang ada di Kekaisaran dan juga di Kerajaan kecil dibawah kekuasaan Roseland. Dan itu merupakan hobi yang tidak bisa dihentikan.
'𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘥𝘶𝘨𝘢.... 𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 se𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵! '
"Maaf... Ayah, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪" Hm hari ini?
"𝙃.𝘼.𝙍.𝙄.𝙄.𝙉.𝙄 jadi kau akan melakukannya besok dan selanjutnya, bukan? " Tanya Zaint dengan penekanan di awal kalimat.
"Hehe, iya" Arya menjawab dengan cengiran khasnya yang sangat manis.
"Hah...! Bagaimana pelajaran mu hari ini? Kau tidak membuat keributan lagi bukan?" Tanya Zaint curiga. Pasalnya beberapa bulan yang lalu Arya dengan dalih tidak sengaja, hampir menghancurkan sebuah istana dengan satu serangan. Dan itu saat pagi hari yang teramat cerah, dan sudah terdengar suara 𝘽𝙊𝙊𝙈 dari arah taman belakang. Dan semua orang dibuat terpaksa menepuk jidat mereka semua dengan kelakuan kelewat absurd milik Tuan putri mereka yang satu ini.
"Heh, meremehkan. Tentu saja tidak ada! Kalau ada pun aku pasti akan langsung kab– akhem melapor pada ayah kan?"
'Haih... Anak ini?! Bisa-bisa nya aku memiliki anak seperti dia' Zaint memegangi kepalanya yang agak pusing. Untuk kesekian kalinya dia dibuat pusing.
"Baiklah karena kamu berkata seperti itu, mulai hari ini ruang arsip akan DISEGEL dan DIBERI FORMASI PELINDUNG agar kamu tidak akan pergi ke sana lagi"
Dan tentunya Arya merasa tidak Terima dan juga tercengang dengan pernyataan Zaint, yang menurutnya sangat tidak adil.
"APA, ITU TIDAK ADIL AYAH—" Arya berteriak marah. Dia pasti akan merasa sangat bosan nantinya jika begitu.
"Bawa tuan putri kembali keruang belajarnya"
"TIDAK AYAH!? AYAH?! AYAH AKU BENCI YOU?! I HATE YOU, DADDY!!! ZAINT KAU BUKAN AYAH KU!!!"
Arya terus berteriak marah dan juga memberontak saat tubuhnya mulai melayang karena diangkat oleh para pelayan.
Zaint hanya menghela nafas sabar menghadapi sifat Random putrinya yang satu ini.
Walau tahu begitu Zaint tetap saja dia merasa aneh dengan putrinya sendiri, dia tau jika putrinya itu adalah titisan nya sendiri. Tapi kok sifatnya gada mirip-miripnya sama dia yah? Atau mirip dengan Sella yah? Ah... Tidak mungkin karena Zaint tau jika Sella itu orang yang sangat gila akan penampilan dan juga mudah tersulut emosi terhadap pelayan yang tidak sengaja menumpahkan setetes teh digaun kesayangannya. Sedangkan Arya, ckck jangankan mau di make up di pakaikan bedak saja suka protes kalau ketebelan, apalagi mau pakai gaun sampai karatan pun tetap kekeh gak mau pakai gaun. Tapi.... Kalau soal ancam-mengancam Arya gak kalah kejamnya, haha!
•
•
•
"Heh apa yang kau lakukan, kau lagi apa sih? " Itu adalah pertanyaan yang ditanyakan oleh Evan ketika melihat Arya menggunting semua kertas didepannya sambil menggumam
𝘒𝘦𝘱𝘰𝘵𝘰𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘬𝘦𝘱𝘰𝘵𝘰𝘯𝘨, 𝘣𝘪𝘢𝘳𝘪𝘯 𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘬𝘶𝘫𝘢𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘣𝘶𝘳 𝘬𝘦𝘳𝘵𝘢𝘴 𝘢𝘫𝘢!
Yah kira kira begitu lah gumaman Arya, dia merasa sangat kesal sekaligus bosan setengah mati.
"Haih, padahal baru juga sehari gak dizinin masuk keruangan arsip kerajaan udah kek gak ketemu gebetan setahun aja deh kelihatannya"
Perkataan Lili membuat Arya mendelik tidak suka. Dia udah kesal malah dibuat kesal lagi bagai mana sih.
"Hm? Dimana Iden? Tumben gak dateng?"
"Biasa lah dia kan sibuk? Calon penyihir agung cuy!?"
"Oh iya! Hmm.... Ada yang mau jadi penyihir agung gak?"
"Kenapa nanya? Biar kutebak.... Kau mau... "
"Bingo, tumben pintar? "
"Sial"
"Haha, sudah lah aku mau ke kamar, nanti tolong suruh pelayan bersihin tuh tumpukan mantan"
Mantan?
Pftt ! ! ! ?
Dan seketika dua bersaudara bermarga Rimson itu tertawa terbahak-bahak. Ya kali kertas di bilang mantan, tapi bener kok. Mantan kan sampah, ya kan? harus move on dong?. (Menurut Arya)
Dan sampai lah Ketiga anak tersebut dikamar yang bernuansa elegan dengan gaya klasik yang memanjakan setiap mata yang memasukinya.
Bruk...
Arya menghempaskan tubuhnya kearah kasur nya yang empuk bagaikan di awan. Sedangkan dua saudara beda umur itu hanya duduk di sofa panjang di samping tempat di tidur. Di depannya ada meja yang penuh dengan camilan khusus untuk Arya. Dia sering duduk duduk di sofa hanya untuk membaca dokumen yang dia ambil dari ruang arsip. Mulai dari dokumen wilayah, dokumen bangsawan, sampai dokumen pribadi pun tak luput dari tangan geratil milik Arya.
"Hm? Apa ini Ya?" Tanya Lili mengangkat sebuah dokumen yang memang belum sempat di baca oleh Arya.
"Hm? Apa itu....? Ah, itu berkas tentang keluarga Marques Vintaics?" Jawab Arya menegakkan tubuhnya di atas kasur sambil melipat kakinya.
"Keluarga dari pihak ratu ternyata?!" Gumam Evan pelan bahkan terkesan berbisik.
"Ya? Kau bilang apa Van? " Tanya Arya yang pada dasarnya tidak terlalu mendengar gumaman Evan karena masih asik duduk-duduk di atas kasur.
Lili bergumam sambil menaruh tangan nya di dagu dan mengusapnya perlahan, hm posisi berfikir keras yah begitulah, dia terus menatap sambil mengamati setiap bait dari kertas putih itu.
"Hm? Kau kenapa Li" Tanya Arya menaikan sebelah alisnya heran.
"Ah... Aku hanya merasa jika berkas ini, agak.... Janggal" Ucap Lili sedikit ragu.
"Hmmm pasti kau juga membaca paragraf ke 8 bukan?" Perkataan Arya membuat Lili mengangguk setuju.
"Memang kenapa sih? Sini coba ku baca juga?" Evan yang penasaran pun menarik berkas itu dari tangan saudara perempuan yang yang masih dengan tatapan yang sulit diartikan.
Isi paragraf 8 :
𝘔𝘢𝘳𝘲𝘶𝘦𝘴 𝘝𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪𝘤𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘪 𝘴𝘦𝘫𝘶𝘮𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘯𝘫𝘢𝘵𝘢 𝘱𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘫𝘶𝘮𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘱.
"Apa... Apakah Marques berencana untuk...?" Evan masih menatap kertas itu lama, dia masih tidak menyangka tentang isinya itu. Lalu mengalihkan pandangannya Pada kedua gadis kecil yang duduk didepannya itu.
"Pastinya, sebenarnya itu sudah aku rangkum jadi aku sudah tulis pokoknya dan kalian tahu apa yang kudapat?" Bibir mungil Arya menyeringai menambah kecantikannya sekaligus kejahatan yang tidak disembunyikan olehnya.
"Marques merencanakan untuk memberontak!!" Mereka kompak menyebutkan inti dari pembahasannya.
"Good job, friends" Setelah mereka bicara panjang kali lebar akhirnya mereka memutuskan untuk pulang kerumah masing masing.
"Kakek, cucu tercintamu akan datang, bersiaplah untuk kejutan nya, jangan kaget hihihi!"
"Snicky, bersiap untuk bermain besok, ok?"
"Sttt... Tentu"
Dan akhir pembicaraan pun selesai mereka semua tidur dibuai mimpi yang indah kecuali Arya.
Dalam mimpi.
"Hm~~ semua nya akan berakhir~ kesedihan pun akan pergi~"
"Sayang sudah, ayo kita makan lalu pergi ke tempat latihan balet mu, oke?"
"Oke mah! Tunggu sebentar!!"
Didalam mimpi nya Arya melihat seorang anak perempuan yang memiliki wajah cantik, kulit seputih salju, rambutnya yang berwarna silver bergelombang itu melayang layang saat gadis tersebut berlari, matanya pun berwarna Perak besar dan itu sungguh menakjubkan.
Tapi kenapa?
Kenapa, dia merasakan perasaan yang sangat Familiar saat melihat kearah wanita muda yang memiliki kecantikan di atas rata-rata, memiliki mata hazel jernih dan rambut ombre cokelat, Tersenyum hangat kepada gadis kecil itu, membuat sisi hati kecilnya Arya pun ikut menghangat dibuatnya.
'Ada apa ini kenapa begini? Aku tidak pernah merasakan perasaan yang seperti ini ketika melihat seseorang kecuali orang orang terdekatku saja loh?'
"Isal ayo, nak?" Ajak wanita itu setelah selesai makan.
"Oke mah!" Jawab sang anak yang dipanggil ISAL tersebut
Namun adegan selanjutnya benar benar membuat Arya tercengang. Dia melihat wanita itu tertembak dikepalanya dan gadis kecil itu yang sudah dewasa yang kira kira berusia 15 tahun itu sedang merintih kesakitan dan meninggal setelah mendapatkan luka tembak di jantungnya.
Setelah itu Arya terbangun dengan bermandikan keringat dingin di sekujur tubuhnya pun, berlari kearah kamar ayahnya tanpa berpikir panjang padahal saat itu dia masih menggunakan pakaian overall jeans dengan acak acakan, bahunya yang sedikit terlihat dan satu talinya tersangkut di lengannya dengan santainya.
Kenapa Arya merasa ini seperti pernah terjadi?
Apa maksud dari mimpi yang di alami olehnya tersebut?
Tanpa memikirkan apapun Arya tidak menghentikan langkahnya bahkan para pelayan pun berteriak karena kaget ditabrak olehnya.
Dia merasa ini... Deja vu.
"Ayah... Ayah..."
Zaint yang merasa namanya dipanggil pun menoleh dan mendapati putrinya sedang melompat ke arahnya dan dia dengan sigap menangkapnya dengan tepat. Kalau tidak sudah dipastikan jika Arya akan mencium lantai di pagi hari.
"Ada apa, hm...?" Zaint bertanya dengan lembut setelah menyadari jika tubuh putrinya bergetar dengan sangat tidak wajar, seperti menahan tangis.
"Menangislah, jika kamu ingin menangis, jangan ditahan, paham?" Setelah mendengar perkataan Zaint, Arya pun menangis sesegukan karena merasakan jika jantungnya terus memompa dengan cepat.
Padahal hal seperti ini tidak pernah terjadi. Untuk pertama kalinya dia merasakan tentang jantungnya yang berdengup dengan kencang sekali. Dia panik dan tidak bisa berkata kata lagi. Dia sangat kuat diluar dan sangat rapuh didalam.
"Ayah... Hiks.... Aku.. "
•
•
•
•
•
•
•
Oke makasih thanks yang udah baca bay minggu depan...