
Arya memutar kepala kearah Emilly. Dia mengangguk memberi semangat gadis itu.
Emilly mengulas senyum lebar. Baiklah! dia menaruh tangannya diatas bola mana sangat percaya diri.
Paaattttssss....!
Cahaya keemasan keluar dari bola itu membuat semua orang lagi-lagi menutup mata. Warna itu perlahan memudar dengan bola yang berwarna biru muda.
"Hm, ada pada tingkat 4, kerja bagus!" ucap sang pengawas mengangguk kan kepala nya.
Emilly menunduk sedikit.
Beberapa jam berlalu dan penilaian kelas selesai dengan baik.
Dan hasilnya adalah....
Arya: kemampuannya dalam mengontrol kekuatan fisik baik mendapat nilai A+ dan elemen yang dimilikinya adalah api dan es yang cukup membuat heboh karena itu kemampuan yang jarang dimiliki seseorang.
Walau sebenarnya Arya itu memiliki empat elemen yaitu api,angin, es, dan tumbuhan, tapi yang bisa dia tunjukan hanya dua saja.
Tapi... Padahal menurutnya elemen es itu elemen yang cukup jarang dia gunakan selama ini, ternyata bisa membuat heboh ya?
^^^(Author be like: "kalau bukan karakter buatan sendiri udah lama ku ganti! Tolong peka lah sedikit Ar?! Bagaimana nanti kamu kalau dapat pasangan? Sakit hati pasanganmu nanti yang ada!")^^^
Emilly: dia mendapat sihir kelas 4 dan elemen dasarnya adalah angin. Jadi sejak awal dia sudah memprediksi akan mendapat elemen angin, jadi dia merasa biasa saja.
Brian: dia mendapat nilai B pada tes pertamanya dan elemen miliknya adalah air.
Delvan: hm, anak ini mendapatkan nilai A karena sejak kecil dia bisa menggunakan Aura jadi dia tahu cara mengontrol diri sendiri.
Feron: haha! Dia mendapatkan sihir kelas 6 yang artinya.... Perang!!! Sejak dia mendapatkan sihir kelas 6, dia tidak henti-hentinya mengejek Emilly yang dua tingkat dibawahnya. Dan dia memiliki tanah sebagai elemen miliknya.
Semuanya mendapatkan poin mereka masing masing.
Arya duduk disalah satu kursi dan pandangannya tiba-tiba oleng.
kok buram....?
Kedip sekali... Dua... Dan tiga! Kepemilikan tubuh berubah.
Sekarang, tubuh Arya sedang dikendalikan oleh Aryan. Anak laki-laki itu merasa kurang puas dengan hasil yang didapatkan oleh Arya dan dia ingin mengulang pengukuran elemen miliknya 'sendiri'.
Aryan berjalan kearah bola elemen dan menaruh tangannya diatas bola itu.
Para guru pengawas yang menyadari ada hal yang berbeda langsung berbalik dan lihat Aryan yang ada diatas altar.
Aryan mengalirkan sedikit kekuatannya dan beberapa saat kemudian ada sesuatu yang keluar dari bola itu.
"Hei nak kenapa kamu melakukan itu tanpa pengawasan!!?" tegur salah satu guru pengawas yang melihat Aryan.
Aryan tidak memperdulikan itu dan senyum nya terlihat seperti seorang villain.
Benda berbentuk golem yang terbuat dari es dilapisi kobaran api perlahan terlihat.
...["Tuan-tuan-ku tolong jangan membuat benda aneh!! Itu menakutkan!"]...
Benda yang baru saja terbentuk itu langsung pecah karena konsentrasi yang dimiliki Aryan yang buyar. Ada suara aneh yang tiba-tiba saja memasuki kepalanya. Dia tidak tahu dan tidak ingat pernah tahu ada suara aneh seperti itu.
Rasanya dia pernah mendengarnya namun dia tidak ingat. Itu benar-benar hanya suara tanpa terlihat apapun. Seperti ada memori yang terlupakan. Tapi mana mungkin! Dia ingat semua hal gak mungkin dia lupa!
Aryan mengangkat bahunya acuh tak acuh. Dia mengabaikan guru dan matanya menatap kearah sebuah jendela yang menampilkan beberapa orang yang menatapnya dengan mata berbinar.
Huu... Apakah mereka... Osis?(benar!) Hm... Sepertinya bukan deh? Soalnya wajah mereka terlihat tidak mendukung...! (Tolonglah..!?)
Dari kejauhan seorang gadis dengan rambut biru laut langsung berlari dan menubruk tubuh Aryan dengan cukup kuat.
"Arya~ bagaimana kabarmu~?" gadis itu tersenyum cerah bahkan teman dari jurusannya menjatuhkan rahang mereka bersamaan.
Kemana perginya anak judes yang selalu mengalihkan pandangannya saat diajak bicara itu?
Aryan mengedipkan matanya heran.
Siapa?
Setelah dia ingat-ingat kembali sepertinya itu adalah temannya Arya, yakan?
"Kesha?"
Gadis itu memiringkan kepalanya dan mengunyel-unyel pipi Aryan yang terlihat menggiurkan untuk dipegang. "Ehe! Apa kabar mu?"
Aryan menahan tangan Kesha yang cukup kuat mencapit pipinya. Pipinya itu daging bukan adonan roti yang bisa diunyel-unyel.
"Ugh...kabarku baik dan yang lainnya juga" jawab Aryan menyentuh pipinya yang sedikit nyeri.
Kesha tersenyum sumringah dan terlihat imut.
"Kenapa?"
"Kamu tidak ingin bertanya?"
"Apanya?"
"Ikhhh! Tentu saja hasilnya!!"
Ah.. Itu ya?
"Bagaimana hasilmu?"
Kesha langsung tersenyum bangga.
"Semuannya bagus hanya saja aku tidak bisa menggunakan kemampuan keluarga" ucap Kesha sedikit murung
"Itu lebih baik, kamu kan unik, tidak perlu memenuhi ekspektasi orang lain, sadarlah bahwa realita nya kamu adalah yang terbaik"
"Hm..., ingat bahwa jangan merendah untuk meroket"
Kesha memiringkan kepalanya. Apa maksudnya?
"Em! Terimakasih"
Aryan mengangkat bahunya tidak peduli.
Anak dengan nama Kesha Ann Marlin adalah anak satu-satunya dari Archduke yang terkenal dengan sihir penyembuhan tingkat tinggi. Keluarga bersejarah yang masih memiliki hubungan darah dengan Keluarga Kekaisaran Zelonix dimasa lalu.
Hm? Aryan jadi bingung, jika masih ada hubungan darah walau berbeda beberapa generasi, kenapa keluarga itu ada di Kekaisaran Roseland yang notabene nya cukup terkenal sebagai Kekaisaran yang melakukan 'perang diam' dengan kekaisaran Zelonix.
Perang diam adalah perang yang dilakukan tanpa menimbulkan suara, bahkan suara pedang pun tidak akan terdengar, ini semacam perang pikiran yang memfokuskan orang untuk diam ditempat dan berperang dengan pikiran lawannya. Biasanya hanya beberapa kesatria berpengalaman dengan perang diam lah yang akan diturunkan untuk ikut serta. Siapa yang tidak bisa fokus akan mati dengan cara mengejutkan.
Aryan kembali kedalam kamar, dia merebahkan tubuhnya dan menemui Arya yang sedang tidur diadalam alam pikirannya. dia tidur diatas gumpalan awan.
"Kamu tidur diawan dan aku tidur di perahu, tapi, kamu harus kembali sekarang, benar? Jika sudah waktunya nanti kamu harus tidur diperahu bersamaku, mengerti?"
Aryan mengangkat tubuh Arya dan memeluknya, dia menurunkan Arya dari awan dan menaruhnya diatas rerumputan. "Jika kita benar-benar bertatap muka nantinya.... Panggil aku Kakak, ya? Soalnya aku lebih tua!"
Jika salah satu diantara mereka ada yang menunjukan diri maka yang lainnya akan tertidur. Jadi, tidak ada waktu untuk mereka bertatap muka secara langsung kecuali dicermin.
Tap... Tak... Tap... Tak...
Aryan tersentak saat dia mendengar tiga suara langkah kaki yang mendekatinya. Padahal itu ada dirumput tapi dia seperti mendengar suara berjalan diatas keramik.
"Siapa kalian?"
Entah kenapa Aryan memeluk tubuh Arya cukup erat. Dia gelisah dan takut. Tidak ada yang bisa memasuki tempat khusus itu tanpa terdeteksi oleh Aryan sebelumnya, jadi dia benar-benar terkejut
Tiga langkah yang sebelumnya terdengar kini telah berhenti.
"Ehem, Halo!!" sapa salah satu dari mereka. Itu gadis dengan ekor yang pernah ditemui Arya ditaman belakang istananya kan?
Chi-Chi, Siam, dan.... Siapa?
"Kita bertemu lagi pangeran!!"
Aryan menyipitkan matanya dan menatap seseorang yang masih terlihat muda walau ada beberapa keriput dibawah matanya, itupun benar-benar hampir tidak terlihat.
"Kalian sedang apa disini?"
Pria dengan sedikit keriput itu tersenyum perlahan. "Hah~ kalian sungguh... darah tidak kan berbohong. Dia benar-benar mirip dengan Zaint"
Aryan mengedipkan matanya was-was. Apa-apaan kakek satu ini?
Aryan bangun dan membawa Arya untuk dikembalikan.
"Kenapa kamu ingin menghindar? Bukankah kamu ingin tahu kenapa kalian itu 'satu'? " suara pria paruh baya itu terhenti saat Aryan menatapnya dengan tajam.
"Anda siapa sih? Kok ngatur? Terserah kami ingin 'satu' atau 'dua'! Kok anda seperti keberatan? Memang anda siapa kakek kami? " ucap Aryan dengan sangat ketus.
Pria paruh baya itu membuka matanya sedikit. "Kamu cukup pintar"
Aryan yang tiba-tiba dipuji reflek mengerutkan keningnya.
Pria tua aneh!!
Pria paruh baya itu mendekati Aryan dan berdiri didepannya. Dia menatap wajah Aryan dan Arya lama lalu mengusap kepala keduanya.
"kamu mirip seperti Zaint, apa mungkin gara-gara ucapan ku dulu ya?"
Aryan yang merasa kaget dengan usapan tiba-tiba itu langsung mundur dan wajahnya seperti berkata 'apa-apaan?'
"Hm, kamu benar" ucap tiba-tiba kakek itu. Jujur saja kakek itu telihat cukup muda untuk disebut 'kakek'. Sepertinya jika dilihat oleh orang lain pria tua itu seperti berusia 30-40an, tapi saat Aryan melihatnya pria itu benar-benar terlihat seperti kakek-kakek.
"Apa yang benar?--" pertanyaan Aryan terpotong oleh gumaman bangun tidurnya Arya.
Tunggu-- Apa-- kok??
Arya bangun dengan mata sayu. Dia tidak sadar jika dia saat ini sedang digendong oleh seseorang.
Aryan terdiam saat mata Arya berpapasan dengan matanya.
Mata mereka memiliki warna sama bahkan wajah mereka juga sama, lalu apa yang membedakan mereka berdua? Hm, bukankah sudah pasti jika gender adalah perbedaan terbesar mereka. Hehe! Gak kok,jadi perbedaan mereka ada pada tahi lalat yang dimiliki Aryan di bawah kedua matanya.
"Arkkyarn?(Aryan?)" Arya mengeluarkan suara parau sambari mengusap matanya dengan perlahan.
Aryan membuka matanya lebar dan tanpa sadar melempar Arya yang baru saja ingin mengumpulkan nyawa jadi senam jantung.
an*-- kaget!!?