The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
JATUH?



Tengah malam....


Arya yang sedari tadi mengikuti 'hantu' dan beberapa bayangan hitam itu berhenti. Ternyata yang disangka nya adalah 'hantu' itu adalah seorang gadis yang seusianya.


Sepertinya dia terdesak?


Arya masih berdiri di atas atap, sedangkan gadis itu sedang bertarung dengan para bayangan yang sepertinya adalah para pembunuh.


Arya berjongkok mengeluarkan permen limited edition nya, permen coklat dengan rasa manis buah dan dingin dari mint. Itu adalah permen yang sangat istimewa karena aroma mint yang dingin dan buah membuat aroma khasnya tersendiri.


Arya memiliki berbagai macam produk dengan aroma yang sama dengan permen coklat nya itu, contohnya adalah parfum, sabun, bahkan sampai shampoo nya pun beraroma sama. Memang pada dasarnya Arya pecinta makanan manis kan?


Selagi Arya memakan permennya, gadis yang terlihat memakai pakaian khas china itu terus menghindar dan sesekali menyerang, membuat Arya semakin tertarik menontonnya.


Gadis yang memakai hanfu berwarna putih itu terus mengamati sekitarnya dan menemukan celah. Tanpa memberikan kesempatan pada lawannya gadis itu menghabisi semua nya dengan sekali serang.


Prok... Prok... Prok...!!!


Tanpa sadar Arya bertepuk tangan membuat gadis dengan hanfu putih itu tersentak dan langsung mengalihkan pandangannya pada gadis yang kini sedang duduk dengan kaki terjuntai di atas atap rumah.


"Who?!(siapa?!)" ucap gadis itu melempar belati yang ada ditangannya kearah Arya.


Syuht...


Belati yang dilempar gadis itu melewati pucuk kepala Arya memotong antena khas bangun tidur Arya. Itu loh kalau bangun tidur pasti rambut mencuat naik.


"Huh? Eh, hah? Ka-kau menyerang ku?ah!!" seru Arya gelagapan. Dia dengan reflek terjatuh dari atap dan membelalakkan matanya.


"Aaaah, ainggggg jatuuuuuh!!" teriak Arya membuat gadis yang ada di bawah nya panik dan bersiap untuk menangkap nya.


"Eh?"


"Pergi!"


Sebelum jatuh menimpa gadis yang ada dibawahnya, seekor burung hantu menangkapnya dan menyeretnya mendekati tuan dari burung hantu itu, Riden.


"Ar, kamu jatuh?" tanya Lili memeriksa tubuh Arya atas bawah.


Bagi Arya pertanyaan Lili sangat lah random. Padahal dia melihat Arya jatuh tapi dia masih saja bertanya, kan bermasalah banget nih bocah!?


"Engga, tadi aku terjun bebas!" jawab Arya sewot.


"Hey, pertanyaan mu sangat tidak berguna tahu, seharusnya kamu bertanya, 'Arya jantungmu aman?'" dan ini lagi satu orang yang otaknya sama geser nya dengan teman lainnya.


"Hey, mulut!!" teriak Arya menyentil bibir Feron.


"Au, ya kan!, kali-kali aja jantungmu copot, kan gawat?!" jawab Feron membuat Arya bersiap menarik kerah Feron untuk berkelahi.


Gadis dengan hanfu putih itu memperhatikan interaksi mereka dan bersiap pergi sebelum sebuah tangan menghentikannya.


"Mau kemana? Kamu siapa?" tanya Lili mencengkram pergelangan tangan Gadis itu.


"...Sang Yui! Xiànzài fàng kāi wǒ de shǒu!(sekarang lepaskan tanganku!)" ujar gadis itu membuat Lili melepaskan tangannya. Dia sedikit menoleh menatap Arya yang sedang menarik rambut Feron itu gemas.


"Huítóu jiàn! Wǒ xīwàng wǒmen zài zhè zhǒng qíngkuàng xià zài yě bù huì jiànmiànle! (Sampai jumpa! Semoga kita tidak bertemu lagi dalam keadaan seperti ini!)" ujar gadis itu melompat pergi.


"Namanya palsu" ujar Arya melepaskan jambakkan nya di kepala Feron.


"Palsu?" beo Feron bingung.


"Iya, palsu, tidak ada orang yang tadinya sangat mencurigai ku tiba tiba menyebut namanya kan?" ujar Arya mengangkat bahu.


"Ada kok" sahut Delvan memegang pundak Arya.


"Hah, siapa?"


"Tolonglah sadar diri!" kata Lili menyeret Feron kembali ke penginapan.


Arya belum konek, Dia masih bingung dengan perkataan Lili.


Siapa yang kek gitu?


"Sebelum mengatai orang, harap kamu bercermin dahulu, semoga kamu bisa mengenali dirimu sendiri!" ujar Brian memberikan cermin pada Arya yang masih ngebug.


Arya mengambil cermin itu dan bercermin. Didalam cermin itu hanya ada pantulan wajahnya saja. Lalu akhirnya dia menyadari sesuatu.


ah-ha aku tahu...!


"Aku tidak seperti itu!!!" teriak Arya berlari menyusul semuanya ke penginapan.


Memang, tidak ada hari tanpa kejahilan anak anak itu.





Di suatu tempat....


"Pelayan, apakah aku sudah bisa menemui ibunda Permaisuri?" tanya seorang gadis yang tadi sore berhasil di tumbangkan dengan satu tendangan oleh Arya.


"Iya, putri silahkan masuk" ucap pelayan itu mempersilahkan gadis itu masuk.


Gadis itu masuk dengan tergesa-gesa dan langsung berlutut dipangkuan seorang wanita yang disebut Permaisuri.


"Ibunda, hiks... Apakah kamu bisa membantu Putri ini?!" tanya gadis itu tersedu-sedu.


"Geun-Haa, aku sudah mendengar apa yang terjadi padamu, jadi aku ingin mendengarkan ceritanya langsung darimu!" ujar Permaisuri itu dengan wajah tegas.


"Itu adalah salah gadis rendahan dengan rambut hitam, dia berani menyebabkan pakaian Putri ini kotor. Lalu tiba-tiba gadis berambut merah itu menendang Putri ini hingga pingsan" Geun-Haa menjelaskan pada ibunya dengan wajah marah yang sangat terlihat jelas diwajahnya.


Rambut merah?


"Baiklah aku akan membuatnya menyes--!" ucapan Permaisuri terpotong oleh suara menahan tawa dari seseorang yang baru saja datang.


"Pftt... Dua orang pendongeng handal yang seharusnya musnah dari muka bumi ini sedang bermain-main di atas seutas tali ternyata?" sindir seorang remaja yang sedang bersandar di depan pintu dengan tangan yang dilipat di depan dada.


"O-oppa Geun-Lee? Kamu..." dua orang ibu dan anak itu langsung pucat ketika melihat pemuda itu yang mendekati mereka.


"Kenapa? Apakah kalian tidak bisa berubah, hah? Masih saja bodoh!" ujar Geun-Lee dengan wajah tampannya yang menunjukan seringaian.


"Putra Mahkota Geun-Lee!! Beraninya kamu berkata kasar pada ibumu!?!" teriak sang Permaisuri.


"Pftt, ibu? Bukannya ibuku sudah mati gara-gara racun milikmu, ya?" ujar Geun-Lee dengan wajah lurus. "Ah, benar kamu kan berdalih jika ibuku meninggal karena penyakit? Benarkan i-b-u?!" lanjut Geun-Lee mengangkat tangan Permaisuri.


"Oppa! Jangan menghina ib--" ucapan Geun-Haa terpotong oleh delikkan mata membunuh milik Geun-Lee.


"Berisik tahu! Jangan panggil Putra Mahkota ini dengan sebutan Oppa, kau tidak layak!!" sahut Geun-Lee membuat Geun-Haa meneteskan air mata nya.


"Dan oh, gadis berambut merah dan hitam itu bukan berasal dari Kekaisaran ini, sepertinya mereka berasal dari lima Kekaisaran" ucap Geun-Lee keluar dari tempat itu.


"Dengan kata lain, jika kalian bertindak sembrono kepada mereka, sama artinya kalian menyinggung salah satu Kekaisaran besar. Terutama anak laki-laki dengan rambut coklat muda itu, dia memiliki mata emas" lanjut Geun-Lee yang sudah diambang pintu.


"Kemungkinan besar kalian akan menyinggung dua Kekaisaran besar sekaligus jika kalian melakukan balas dendam" ucapnya lagi benar-benar keluar meninggalkan dua ibu dan anak yang membeku ditempat.




"Hyung, tunggu aku! Ada yang ingin ku beritahu pada mu!!" dari arah belakang Geun-Lee ada seseorang yang berteriak sambil melambaikan tangan mendekati remaja itu.



"Yang mulia, pangeran ke-9 memanggil anda" ucap penjaga pribadi Geun-Lee.



"Pangeran Geun-Zhi? Ada apa?" tanya Geun-Lee pada Geun-Zhi yang ngos-ngosan.



"Itu, ayahanda Kaisar memanggilmu, sepertinya ini berhubungan dengan pesta besok malam!" ucap Geun-Zhi uang sudah mengatur nafas nya.



"Hm, baiklah!"



"Semoga berhasil, hyung!"



"Anak itu...!"



Geun-Zhi adalah Pangeran ke-9 Kekaisaran Jaeyang, adik beda ibu, karena pangeran Geun-Zhi adalah anak dari selir Kaisar, sedangkan Geun-Lee adalah anak Permaisuri yang sudah meninggal karena Permaisuri yang sekarang. Walau begitu Geun-Zhi adalah anak yang periang. Usianya sepuluh tahun sedangkan Geun-Lee lima belas tahun.









**Tempat Perdana Menteri Ahn**...



**Kamar Hayeo**...



"Oppa~ kau tahu apa yang terjadi tadi?" tanya Hayeo dengan semangat kepada Eun Jun.



"Engga, memangnya apa yang terjadi?" tanya Eun Jun mengambil manisan di atas meja.



"Kamu tahu Putri Geun-Haa?" Eun Jun mengangguk. "Dia mendapat tendangan brutal dari seorang gadis!" lanjutnya lagi dengan tawa lebar.



"Sungguh? Putri angkuh dan sombong itu?" tanya Eun Jun tidak percaya.



"Iya, kamu tahu dia berjalan-jalan di pasar tanpa pengawal dan pelayan, aku awalnya tidak percaya tapi ketika aku benar-benar melihat wajahnya, itu benar-benar dia. Bahkan dia ditendang sampai pingsan oleh seseorang gadis yang terlihat tidak bisa melakukan martial art!" ujar Hayeo mengepalkan tangannya.



Martial art adalah seni bela diri yang dilakukan oleh seseorang untuk memperkuat diri. Semakin kuat seseorang maka semakin dihormati.



"Pingsan? Dan gadis yang menendangnya terlihat seperti tidak bisa Martial art? Berarti bukan dari tiga Kekaisaran. Kalau begitu.... Apakah mungkin dari lima Kekaisaran?" gumam Eun Jun mengusap dagunya.



"Sepertinya...." jawab Hayeo agak ragu



![](contribute/fiction/2263166/markdown/19593941/1638159590181.jpg)



•••



•••



•••



Like and komen👍🥱



![](contribute/fiction/2263166/markdown/19593941/1638158640158.jpg)