
Arya membawa rubik ditangan kanan nya sementara tangan yang lainnya digenggam oleh Seadna.
Mereka berjalan bersama dengan Arya yang terlihat lemas dan Seadnya yang bersemangat.
"Berhenti menarik ku..!"
"Gak! Ayo sekarang kekantin?!"
"Nanti terlambat kekelas heh!"
"Kelas mulai 20 menit lagi 'kok! Sekarang ayo!"
Arya mengikuti Seadna dengan sukarela karena dia tahu dia tidak bisa menang melawan anak itu.
Dikantin....
"Arya! Seadna!!" panggil Emilly melambaikan tangannya.
"Haloo~!" sapa Seadna melepaskan tangan Arya.
"Nyasar lagi ya kalian?" tanya Arya yang melihat Emilly, Riden, dan Feron sedang duduk disamping Delvan, Brian, dan Hansel.
"Biasa, mereka bilang makanan nya berbeda"
Arya sedikit mengulas senyumnya dan menarik Seadna ikut duduk.
"Bagaimana rasanya Li?" tanya Arya menopang kepalanya menatap Emilly.
"Lebih ada rasanya daripada dikantin kami!" sahut Feron menusuk sepetong daging yang ada dipiringnya.
"Memang dikantin kalian apa rasanya?" tanya Delvan memasukkan sendok kedalam mulutnya.
"Hambar!" ucap Emilly, Feron dan Riden bersamaan.
"Wkwkwk! Kalau kalian makan disini bisa bangkrut nih kantin" ejek Arya sambil tertawa.
"Gak apa-apa kok, nanti tinggal ganti kompensasi doang!" jawab Feron dengan wajah bangga.
"Iyain aja si yang paling kaya~"
"Kamu juga sadar diri lah Ar! Kamu bahkan yang paling kaya!"
"Siapa bilang? Aku loh miskin yang kaya itu ayahku!"
"Iyain aja~"
"Aryan, kamu mau makan?" tanya Seadna bangun dari tempat duduknya.
"Enggak--"
"Dia makan sayur dan ikan, dia tidak makan daging!" ucap mereka bersamaan membuat Arya menyipitkan matanya.
Kok kompak banget?!
"Ok!"
Seadna pergi dan Arya menatap teman-temannya, "aku mau makan daging!"
"Jika kamu mau terbaring sakit dan dimarahi ayahmu ya silahkan! Kami tidak ingin menanggungnya~"
Arya mengerutkan bibirnya dan hanya bisa menghela nafas. Kenapa dia memiliki teman yang seperti mereka?! Ketika dia menginginkan teman normal tapi semesta memberikan teman yang akhlaknya mirip dengannya be like_-;
"Kalian yak! Benar-benar deh!?
Khekhekhe...!
"Heh Arya?" panggil Feron melirik Arya yang memakan wortel di mulut nya
"Hm??" gumam Arya tetap mengunyah.
"Kemarin kamu kembali ke 'rumah' ya?"
"Iya"
"Bagaimana keadaan 'rumah' mu?" tanya Feron menunjuk menggunakan garpu ditangannya
"Kosong" jawab Arya apa adanya
"He? Kok kosong bukannya 'rumah' mu itu bukan 'rumah' ya?" timpal Emilly mengangkat garpu nya.
"Aku gak suka banyak orang, aku masih ingin menjaga mata suci ku!"
Rumah yang sedang mereka bahas adalah Istana Malam milik Arya. Itu adalah Istana paling sunyi yang mereka tahu.
Sementara mata milik Arya melihat warna aura milik seseorang. Tahu gak kalau mata Arya yang terlalu banyak terpapar aura orang-orang bisa menyebabkan kerusakan pada matanya? Bahkan hal yang yang paling parah adalah merusak tubuhnya. Cara agar dia tidak begitu sering melihat aura adalah tidak menatap seseorang lebih dari 10 detik.
"Oh ya! Apa kalian tahu jika sebentar lagi kalian akan mendapatkan tes pertengahan semester?" tanya Seadna mempersihkan bibirnya dengan kain bersih.
"Hah? Tes?"
"Iya!"
"Tes apa?"
"Hm, tergantung jurusan"
"Misalnya?"
"Kalian dari jurusan Sihir kan?" tunjuk Seadna menunjuk Emilly, Feron, dan Riden.
"..." mereka mengangguk mengiyakan.
"Kalian tahu kan 'bola mana'?"
".. Iya"
"Nah biasanya kekuatan kalian akan diukur disitu, pengukurannya juga unik! Bola mana akan mengukur kekuatan sihir kalian dan menentukan tingkatan kalian"
"Oh?"
"Kalian tahu warna paling dasar?"
Arya mengangkat alisnya dan mengguk, "putih kan?"
Seadna mengangguk, "iya, begitulah tingkatan yanga kan digunakan"
"Eh, aku masih kurang paham! Tolong jelaskan lebih rinci!?" ucap Feron basih kebingungan.
"Baik jadi gini...
Jika semakin Putih artinya gak punya dasar mana alias sihir bukanlah jalannya.
Oranye sampai kuning artinya ada pada tingkatan 1.
Hijau muda artinya ada pada tingkat 2-3.
Biru muda sampai biru tua artinya ada pada tingkat 4-6.
Dan yang kuat biasanya ada pada warna ungu dimana ukuran tingkannya ada pada tingkat 6-9.
Kalau yang menurut legenda, warna paling tinggi adalah warna hitam yang berada di tingkat tanpa batas alias gak bisa terhitung.
Tingkatan sihir bisa juga disebut sebagai 'bintang' atau 'kelas'.
Kalau untuk elemennya juga sama, namun pengecekannya dilakukan bersamaan dengan jurusan lainnya menggunakan 'bola elemen', kalau ciri-cirnya yaitu:...
Jika keluar percikan atau kobaran api maka itu adalah elemen api.
Jika yang keluar adalah gumpalan air, itu elemen air.
Kalau elemen angin, cara pengukurannya lumayan cepat karena angin bisa disamakan dengan udara, ada di sekitar soalnya gak usah dicari pun sudah ada.
Elemen tanah, yang keluar adalah golem! Taukan golem yang bentuknya seperti gumpalan tanah yang disatukan membentuk benda unik? Nah itu lah golem.
Kalau elemen petir, yang keluar mirip seperti kilatan petir.
Elemen es, elemen langka tapi cara keluarnya juga cukup unik, ada yang bilang sakit, ada juga yang bilang itu seperti sengatan listrik. Tergantung pada pemilik elemen sih menurut buku!
Nah kalau elemen tumbuhan itu yang keluar bisa beragam, mulai dari batang, akar, daun, bunga, batang, bahkan rantingpun bisa keluar.
Elemen Cahaya disebut juga kekuatan penyembuhan, biasanya yang memiliki kemampuan ini bisa menjadi healer/ pendeta di kuil. Cara keluarnya seperti ada kilauan yang keluar dari 'bola elemen'.
Elemen kegelapan atau yang akrab disebut elemen bayangan kematian itu biasanya berada didunia bawah. Siapa pemiliknya? Pemiliknya adalah keluarga kerajaan iblis.
Dari 9 elemen ada lima elemen bawaan lahir dari setiap keluarga Kekaisaran.
Kekaisaran Roseland adalah Elemen tumbuhan.
Kekaisaran Theodore memiliki elemen api.
Kekaisaran Ruffela adalah elemen tanah.
Kekaisaran Zelonix, elemen cahaya.
Dan Kekaisaran Zovariz, elemen petir.
Nah, sudah paham?"
Arya dan teman-temannya bengong mendengarkan penjelasan panjang Seadna.
Bahkan kantin yang sebelumnya ramai langsung hening seketika. Mereka juga ikut mendengarkan penjelasan Seadna tanpa ada yang menyela seorangpun.
"Kalau... Dari jurusan seni pedang?" dari arah sebelah meja mereka tiba-tiba ada yang request.
"Oh, kalau di jurusan seni pedang~?"
"Bentar ya! Aku ingin minum" Seadna minum beberapa teguk air dan kembali menjelaskan.
"Kalian tahu 'batu bunyi'?" semuanya terdiam dan menggeleng, "batu bunyi adalah batu yang jika dipukul akan mengeluarkan suara nyaring sesuai sedangan tenaga yang dikeluarkan pemukulnya"
"Lebih rinci?" pinta Arya membuat Seadna memasang wajah datar. Sepertnya dia terlihat seperti pengajar keliling deh, padahal ini ada diluar jam pelajaran, apa dia harus menmbuat kelas duluar jam pembelajaran juga? ToT
"Semakin kuat kalian memukulnya maka suara yang dikeluarkan akan mirip dengan suara monster Fliders"
^^^(Monster terbang menyerupai kupu-kupu setengah Laba-laba raksasa)^^^
"Jika kalian terlalu lemah memukulanya, suara yang dikeliarkan akan mirip seperti kaki terjepit lemari, membuat telinga berdarah.
Bagaimana agar suara yang dikelarkan bagus dan jernih?
Gampang kok! Kalian hanya perlu fokus pada satu titik dan jangan mengeluarkan tenaga yang besar, cukup santai dan bayangkan jika kalian seperti memotong kue saja.
Resiko yang diterima jika terlalu kuat memukul adalah ledakan, biasanya itu akan menyakitkan. Dan kalau terlalu lemah pukulan kalian akan mengakibatkan terblokirnya pendengaran kalian, menyebabkan kebutaan juga bisa.
Oh iya! Kalian memukul batunya menggunakan pedang ya, bukan tangan, hehe!
Terapkan seperti yang kukatakan dan kalian bisa melewati tes itu dalam sekali coba!"
"Memang kapan tesnya?" tanya Arya memakan apel di atas nampan nya.
"Biasanya setelah tinggal setengah tahun di sini, mungkin dilakukan setiap enam bulan sekali"
"Kapan pastinya?"
"Mungkin sekitar beberapa hari lagi?"
Arya mengerutkan bibirnya dan pikirannya langsung menjelajah.
"Tunggu! Kok kamu bisa tahu tentang semua yang tadi?!" tanya Feron yang tiba-tiba sadar dengan penjelasan Seadna.
Seadna, dia hanya mengangkat alisnya. Dia srpertinya terlalu bersemangat untuk menjelaskan ya?
"Kakak, kata kakakku begitu!" jawabnya gugup.
"Kamu punya kakak?" kali ini arya yang bertanya.
"...Iya!"
"Kenapa jawaban mu memiliki jeda seperti itu? Seperti bohong saja~"
Gulp...
"Haha! Mana mungkin!"
Seadna berdiri dari kursi nya sambil membawa nampan bekasnya makan. Dia berjalan dengan tergesa-gesa dan menaruh nampan itu. Setelah menaruhnya dia juga langsung pergi meninggalkan kantin.
Arya memiringkan kepalanya heran, "aneh kan?" tanya nya berkedip beberapa kali.
"Biasa~ temannya Arya! Aneh semua~" sahut Feron lucu.
"Kamu lupa diri? Kamu kan temanku juga, artinya kamu juga aneh! Kek gak berasa gitu nah kalau dia juga aneh" balas Arya dengan gumaman kecil diakhirnya.
"Eh memangnya kami aneh ya?"
"..." tau ah anji*
Arya yang gedeg memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Dia takit dia kelepasan memukul anak orang nantinya.
"He~ Feron mulutnya kalau minta dijahit sini kujahitkan! Ikhlas tanpa bayar kok!" Feron dan Emilly bertatapan dengan sanat sengit hingga terpaksalah Riden yang menarik mereka untuk kembali kekelas mereka yang seharusnya.