The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
PRIA BERJUBAH...



Sore hari, pukul 17.35...


Arya sudah siap dengan semua perlengkapan yang akan dia bawa. Beberapa juga sudah dimasukan kedalam 'kantong doraemon' miliknya dan sisanya dimasukan kedalam kereta kuda yang akan dia gunakan nanti.


Semua orang juga sudah ada.


"Apakah sudah semua?" tanya Arya mengangkat Raya.


"Yup, udah!" jawab Lili pasti.


"Gada yang ketinggalan?" tanya Delvan juga ikut memastikan.


Biasanya kalau adiknya itu lagi beberes seperti ini dia biasanya akan melupakan sesuatu.


"Udah kakak, kau tidak percaya? Silahkan geledah kamarnya!" jawab Lili kesal. Kakaknya tidak pernah percaya padanya kalau urusan seperti itu.


"Ya sudah ayo berangkat!"


Ketika mereka sudah sampai di kereta kuda, Kelion dan Lidya juga sudah sampai di sana.


"Sudah?"


"Yep, sudah!"


"Berhati-hatilah, saat malam tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi, siapkan mental kalian!" ujar Kelion memperingati.


"Apakah harus aku menyediakan pengawal untuk kalian?"


"Tidak usah, pengawal yang di tugaskan oleh ayah juga sudah cukup"


Ugh...


Semua pengawal bayangan yang masih bersembunyi langsung tersedak dan beberapa ada yang hampir jatuh dari atas pohon.


Ja-jadi selama ini gadis itu sudah menyadari keberadaan mereka?


Kok bisa?!


Mereka semua mengira jika Arya itu tidak sadar sama sekali, padahal sejak Arya masih di Istana miliknya dia sudah sadar kalau dia sedang diawasi oleh beberapa orang tanpa niat jahat. Dan dia tau siapa yang melakukannya.


"Perjalan menuju portal paling tidak harus memakan waktu sekitar dua setengah jam dari istana, kalian yakin?"


"Yakin 1000% kok, paman kaisar selalu meremehkan ku! Hump"


"Fer, nanti kamu datang seperti biasa,kan?" tanya Arya yang sudah ingin naik kereta, yang lainnya sudah masuk duluan.


Feron menggeleng dan berkata, "sepertinya tidak, soalnya aku masih ada yang harus diurus"


"Loh, kok gitu? Biasanya juga datang walau sibuk!?" Lili yang berada didalam kereta menyembulkan kepalanya keluar membuat Arya yang berada di depannya hampir terjengkang kebelakang lagi.


"Kenapa? Kau ingin berkelahi lagi?" Feron memegangi punggung Arya agar tidak jatuh dari kereta gara-gara Lili.


"Ih, males banget!" sinis Lili memutar kepalanya kesamping.


Arya dengan hati-hati masuk kedalam kereta dan langsung menjitak dahi Lili.


Setelah serangkaian acara perpisahan akhirnya mereka pun langsung berangkat.


Kelion dan Lidya saling lempar pandang dan langsung menyeret Feron memasuki ruang keluarga.


Dan mereka pun mulai menginterogasi Feron. Feron yang tidak tau apapun hanya diam berdiri.


Kelion: "Bagaimana perasaanmu?"


Feron: "eh? Maksudnya?"


Lidya: "bagaimana perasaanmu ketika bersama Arya, saat ada Emilly?"


Feron: "biasa saja, tapi anak bernama Emilly itu siapa?" tanya Feron bingung.


Kelion: "kau tidak tahu Emilly itu siapa? Bukankah tadi pagi kamu menyeretnya untuk duduk di samping mu?" tanya Kelion sedikit ngegas, sepertinya anaknya itu mulai mengalami penurunan IQ.


Feron: "eh, jadi namanya Emilly?"


Lidya: "..." sepertinya anaknya mendadak bodoh


Kelion: "sepertinya kau lebih dekat dengan Lili dari pada Arya?"


Lidya: "ah, iya ya, tapi bukankah kutukan itu sudah terbuka, seharusnya kamu itu memiliki keinginan untuk lebih dekat dengan Arya bukan?" tanya Lidya bingung.


Feron mengernyitkan dahinya, ah kalau diingat ingat lagi, ketika dia dan yang lainnya ada di pasar awalnya yang dia sapa memang lah Arya tapi ketika dia bertemu dengan Lili perasaan kesal dan ingin mengajak ribut gadis itu malah naik ke permukaan hatinya. Perasaan yang seperti menutup kutukannya, bukan menutup tapi lebih ke menghalangi perasaan yang ingin lebih dekat dengan Arya.


"ayah benar, tapi ketika bersama Anak cabai itu perasaan ingin dekat dengan Arya terasa berkurang, dan perasaan ingin bertengkar malah lebih mendominasi, bagaimana maksudnya itu?"


cabai?


Kelion sedikit tercekat mendengar perkataan anaknya. Perasaan seperti terhalang oleh sesuatu?


Sepertinya gadis itu adalah sesuatu yang tidak biasa.


Seperti ada sesuatu yang aneh dan janggal, tapi apa?


Feron yang melihat ayahnya yang terus mengernyitkan keningnya memiliki ekspresi rumit diwajahnya.


"Apakah itu adalah sesuatu yang penting?" tanya Feron mendudukkan tubuhnya di sofa empuk ruang keluarga itu.


"Bukan hanya penting, tapi sangat penting! Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya, tapi apakah kamu tidak memiliki perasaan pada gadis itu, hm?" ujar Lidya menggoda anaknya.


"A-apa!? Gak, mana mungkin! Aku hanya tertarik dengan Arya, untuk apa aku tertarik dengan cabai hitam sepertinya!?" kata Feron gelagapan.


Dia dengan cepat berdiri dan menuju ke kamarnya. Dia juga bingung dengan yang namanya perasaan, apa lagi dia juga masih cukup muda untuk mengenal yang namanya perasaan.


Tapi, ketika dia berjalan menuju ke kamarnya, tiba tiba jantungnya berdetak dengan sangat cepat.


Ada apa ini?


Dia memegangi dadanya dan mencengkram nya kuat.


Tiba-tiba terlintas dipikirannya dua nama yang muncul dan membuatnya merasa khawatir.


Gadis yang membuatnya terikat kutukan, dan gadis yang selalu membuatnya kesal.


Perasaan gelisah mulai menghinggapi dirinya. Dia tidak tahu lagi, dia langsung berlari mencari ayahnya yang ternyata sudah ada diruang kerjanya.


"Ayah, apakah jalan menuju portal melewati hutan?"





Kereta, tempat Arya....


Arya dan yang lainnya saat ini sedang dilanda kebosanan, Lili menutup matanya perasaannya tidak enak.


Gadis itu menepuk pundak Arya yang sedang duduk melipat tangannya di dada.


"Aku merasakan perasaan yang sangat tidak enak di hutan ini" ujar Lili sedikit gelisah.


Arya melirik sedikit, jujur saja dia juga tidak merasakan perasaan yang baik. Perasaan ini sama dengan perasaan ketika dia diintai oleh para pembunuh bayaran yang sering datang untuk membunuhnya.


Jegreg!!!!!


"Hah! Ada apa ini!?"


Tiba tiba kereta kuda mereka terguncang dengan kuat. Semuanya reflek langsung berpegangan dengan pinggiran yang ada di kursi mereka.


Arya segera membuka pintu kereta.


Semuanya mengintip dari sela sela jendela, dan apa yang mereka lihat membuat mereka terkejut.


"I-itu, itu adalah...!"


"Undead! Bagaimana ada makhluk terlarang seperti itu di hutan ini!?"


Undead adalah mayat hidup yang biasanya berupa tengkorak bergerak. Makhluk ini sangat dilarang keberadaannya karena berhubungan langsung dengan sihir gelap. Bahkan di dunia bawah pun, makhluk panggilan seperti itu sangat jarang. Karena jika ingin memanggil makhluk seperti itu, maka seseorang itu harus menggunakan sangat banyak nyawa. Orang yang memanggil makhluk seperti ini biasanya adalah necromancer.


XxxxxxX


Semua pengawal bayangan yang selalu bersembunyi itu akhirnya keluar dan melawan kumpulan undead itu semua.


Arya dan yang lainnya turun dari mereka dan ikut membantu.


Di atas pohon, seseorang berjubah hitam menyaksikan pertarungan yang ada dibawahnya dan langsung tersenyum menyeringai.


Akhirnya, mangsanya telah memakan umpan.


Orang berjubah itu terus menatap Arya. Wajahnya tertutup oleh bayang-bayang membuatnya tersamarkan sepenuhnya.


"Ternyata.... Sangat mirip dengan bajingan itu ya?" ucap orang berjubah itu terus menatap Arya dengan kebencian yang tidak bisa dibayangkan.


Dia melesat dan langsung mencengkram leher gadis itu.


Arya yang tiba tiba dicekik pun terkejut dan langsung memberontak.


Dia mengernyitkan dahinya, tubuhnya tidak bisa dia kendalikan, dia tidak bisa bergerak. Ketika dia ingin mengeluarkan kekuatannya pun itu malah tidak berfungsi sama sekali.


Orang berjubah itu terus mencengkram leher Arya, dari tangannya keluar semacam asap berwarna hitam. Arya berusaha melepaskan tangan orang berjubah itu namun hasilnya nihil. Bukannya terlepas malahan lehernya semakin dicekik. Dia hampir tidak bisa bernafas.


Orang berjubah itu menyeringai kejam, dia mendekatkan kepalanya pada telinga Arya hingga suara nafas orang itu bisa dirasakan oleh gadis itu.


Orang berjubah itu perlahan membisikkan sesuatu ditelinga Arya hingga Arya terkejut setengah mati.


"Belum waktunya kau untuk mati nak, aku masih ingin melihat wajah tenang bajingan itu! Tapi jika sudah waktunya aku akan membuatnya menangis dengan melihat mayat mu, aku ingin dia merasakan kehilangan yang sebenarnya, pikirkan baik-baik apakah kau.... Adalah putrinya?"


Dheg...


Arya terdiam tak bisa mengatakan apapun, dia menarik pandangannya dan netra matanya menatap wajah tampan seorang pria dan mata hijau zamrud yang bersinar diterpa cahaya bulan.


"Perhatikan siapa saja orang yang ada di sekitarmu, mungkin saja mereka.... Adalah alat?"


Pria itu menyeringai lagi dan langsung menghilang bersamaan dengan para undead yang juga menghilang entah kemana.


••


••


••


Jangan lupa like and Komen😘