The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
PERTEMUAN KACAU



Hari senin, pukul 11.34


Pelajaran kedua, Sastra Bahasa


Sastra Bahasa... Pelajaran yang menyenangkan setelah matematika jika saja gurunya absen atau izin sakit:')


Arya, gadis berstatus anak Kaisar, Putri Mahkota, memiliki peran cukup penting bagi pemerintahan Kekaisaran karena kebiasaannya (andai dulu dia pura-pura bodoh mungkin sekarang dia masih bisa bersantai dikasurnya), dan anak ayah yang bar-bar.


Saat ini dia melamun memutar pena ditangannya. Pelajaran yang membosankan karena itu adalah pelajaran pertama yang dia ketahui saat pertama kali bisa membaca. Dan yang mengajarinya itu adalah ayahnya sendiri. Itu... Adalah siksaan yang menakutkan.


Percaya tidak percaya, dulu Arya pernah meminta ayahnya untuk membacakan sebuah buku tanpa tahu apa itu, dan sekarang dia benar-benar menyesal. (chp 2, buku sejarah berdirinya kekaisaran) ayahnya benar-benar memaksanya untuk bisa membaca gara-gara itu._.


Andai saja...


Arya tidak bisa fokus dalam pembelajaran karena lamunannya yang tidak bisa diajak kompromi. Entah sudah sampai mana dia menghalu tidak ada yang tahu.


Ruangan semula sedikit ricuh kini jatuh dalam keheningan saat beberapa orang baru saja masuk.


"SALAM KEPADA KE LIMA KAISAR" seru semua siswa bangun dari kursi mereka dan memberi salam.


Arya bahkan tersentak kaget karena teriakkan anak-anak yang sangat nyaring.


Kek ada toa' nya...!


Para Kaisar itu mengangguk menyuruh semua siswa kembali duduk.


Dari ke lima Kaisar itu ada tiga orang Arya cukup kenal.


"Ayah, paman Kelion, dan paman Rechan ada disini juga?" gumam Arya pelan.


Hansel mendekatkan kepalanya kearah Arya dan berbisik.


"Sepertinya jika kita ketahuan, kita akan dimarahi deh?"


Arya menoleh menatap temannya yang satu itu. Penampilannya memang berubah, karena dia menggunakan penampilan ibunya yang merupakan Permaisuri Theodore, hanya saja...


"Kamu pastinya akan langsung ketahuan, kan kamu pakai penampilan ibumu, istri paman Rechan, yang sudah menikah dengan nya, bagaimana bisa dia tidak mengenali penampilan istrinya sendiri?!" bisik Arya lagi membuat Hansel kehilangan senyum diwajahnya.


Apa yang Arya katakan itu benar dan itu membuatnya panik mendadak. Berbeda dengan Arya yang juga rada ketar-ketir karena menggunakan penampilannya Farel, adik tiri Kaisar, orang yang setia kepada Kaisar bahkan bisa memberikan nyawanya untuk sang majikannya.


Arya menunduk menutupi wajahnya dengan buku berharap tidak ada yang melihatnya.


Hansel dan yang lainnya menatapnya dengan mata menyipit.


Curang banget.


Mereka dengan cepat mengambil buku yang menutupi wajah Arya membuat anak itu terkejut.


Kurang ajar!!


Para Kaisar datang dengan perdana mentri mereka masing-masing. Dan pastinya Tama yang memiliki mata cermat dengan cepat menemukan Arya.


"Yang mulia disana itu!" bisik Tama disamping Zaint. Pria itu melirik sedikit lalu mengkat alisnya.


"Kenapa?"


"Anak itu mirip anda" bisiknya lagi


Zaint menoleh dan matanya bertatapan dengan mata tajam seorang anak laki-laki dengan kulit putih.


"Apa? Kau kira gen milikku seburuk apa sampai memiliki anak sejelek itu?"


Arya yang mendengar kata-kata menyebalkan ayahnya langsung menoleh dengan cepat.


"Kamu...." Arya menggeram dengan kesal dan mengepalkan tangannya.


Hansel dengan erat menggenggam pergelangan tangan Arya agar tidak bangkit dari tempat duduknya.


"Arya diam!" ucapnya menekan tangan gadis disampingnya itu kuat.


Arya mulai tenang tapi perkataan Zaint yang selanjutnya membuatnya kembali kesal.


"Anakku memiliki wajah putih sikapnya tidak tenang dan sifatnya random, bagaimana bisa anak setenang itu adalah anakku, kamu sedang bermimpi bukan?" perempatan tercetak indah dipelipis Arya menandakan jika gadis itu sudah diambang kewarasannya.


"Jadi sekarang dia sedang mengataiku gadis bar-bar?!" ujar  Arya dengan wajah suram.


"Kamu kan memang bar-bar" gumam Delvan yang berhasil mendapat geplakan renyah dari Arya.


"Ngomong lagi lo!?!"


Delvan yang mendapat pukulan dikepalanya terdiam menatap Arya yang benar-benar berwajah merah karena marah.


Ternyata ayahnya benar, wajah nya tidak lagi putih tapi merah. Ihh seram!!


"Hei anak laki-laki berambut merah muda!?" seru Tama memanggil Arya dari bawah.


Arya melirik sedikit. Semua siswa bahkan sampai menoleh padanya.


Apa?


"Ya?"


Apa maumu?!


"Nak siapa namamu?"


Arya menunjuk dirinya sendiri, "saya?"


"Iya~ kamu! Memangnya siapa lagi yang memiliki rambut merah muda selain kamu?" ucap Tama sedikit geregetan. Ada ya anak yang gak peka seperti dia? ... Oh ya jika dipikir-pikir Putri Arya juga jarang peka.


"Aryan... Arkien..."


"Alexander" lanjut Arya.


Tama tanpa sadar memiringkan kepalanya 90°. Dia tahu dimana dia pernah mendengar nama itu.


Ternyata namanya pangeran...


Kenapa dia ada disini? Eh atau itu Putri? Kenapa bisa sih Putri seperti Arya memiliki kepribadian ganda? Laki-laki pula!


Hu~ rasanya usianya bertambah...


Dia melirik Zaint yang juga fokus pada anak itu. Sepertinya dia tahu apa yang sedang dipikirkan orang disampingnya itu.


Setelah beberapa serangkaian perkataan yang disampaikan beberapa Kaisar, akhirnya mereka semua keluar dan pergi untuk beristirahat diruang yang disiapkan khusus oleh Kepala Akademi untuk para Kaisar.


"Bagaimana?" tanya Kepala Akademi dengan wajah tersenyum.


"Yah, hanya seperti itu" jawab Kelion menghela nafas lelah


"Anakku menapku dengan mata sinis" keluh Pria tampan itu dengan wajah pasrah


"Sungguh? Tidak ada yang istimewa lainnya?"


Rechan menghela nafasnya juga, "anakku juga sama, bagaimana bisa dia mengalihkan wajahnya saat mata kami bertemu? Dan bagaimana bisa wajahnya sangat mirip dengan ibunya?"


"Karena kamu membuat anak itu bersama istrimu, sebuah produk  tidak akan membohongi pabriknya" canda Kepala Akademi sambil tertawa renyah.


Kepala akademi adalah wanita yang usianya... Cukup tua, dengan wajah wanita muda berusia 20 tahunan(penipuan usia). Dia sudah menjabat menjadi Kepala Akademi bahkan sebelum para Kaisar yang sekarang lahir.


"Hei, Zaint? Bagaimana denganmu, kau bisa mengenali anakmu?" tanya Kepala Akademi dengan menyangga kepalanya.


"Hm, aku sudah menemukannya, tapi anak itu butuh diberi pencerahan"


"Hah?" Kelion bahkan sampai kaget saat mendengar ucapan orang didepannya itu.


"Heh, meski anakmu itu 'rada-rada'(gila) nakal, tidak seharusnya kamu melakukan hal aneh itu"


"Dia bahkan tidak pernah bertemu Pendeta dalam keadaan sadar" cetus Zaint tanpa merasa salah.


Artinya, Arya selalu pingsan atau tak sadarkan diri saat dia disembuhkan oleh seorang  Pendeta.


"Anakmu pernah sakit?" tanya seorang Kaisar dengan mata biru langit yang terlihat berkilau walau ditempat yang sedikit redup. Mata Kaisar itu tidak dingin tidak juga hangat.


Kelion mengangguk, "yeah! Hanya saja anaknya itu kelakuannya seperti... tahu kan?" ucap Kelon melirik Zaint yang diam menatapnya tanpa berkedip. Rasanya seperti ditatap oleh binatang buas!


"Lalu bagaimana dengan kalian?"


Pria dengan mata biru itu memiliki warna rambut seperti emas yang dilelehkan. Kulitnya yang seputih gading itu juga terlihat halus. Senyum menyeringai adalah caranya menutup emosi aslinya. Dia adalah Kaisar dari Kekaisaran Zelonix; Dominic Rex Zelonix yang bisanya dipanggil Dom oleh Kaisar lainnya.


Sedangkan yang satunya lagi juga tak kalah tampan dengan Kaisar lainnya. Usianya cukup 'tua' tapi karisma ketampanannya tidak hilang sama sekali, mungkin karena dia bukan 'manusia'


Rambut hitam pekat dengan sedikit pantulan warna ungu dan iris mata seperti bunga violet dengan pupil hitam. Dia, Kaisar dari Zovariz; Cornelius Hilary Zovariz yang akrab dipanggil Nel oleh yang lainnya.


Dom mengangkat cangkir teh miliknya dan menatapnya lama.


"... Hm, entahlah? Aku tidak begitu peduli dengan mereka"


Kelion terdiam, dia berfikir... Perkataan pria itu benar, dia memiliki banyak anak dari banyak istri, tapi tak ada yang menarik bagi pria itu. Usia mereka hampir sama, dan dia tahu seperti apa pria dihadapannya itu dibesarkan. Tidak ada perhatian, tidak ada kasih sayang, dan tidak ada kepedulian dari Kaisar terdahulu yang merupakan ayahnya.


Rechan mengangkat alisnya, pria disampingnya itu benar-benar... Tidak berperasaan.


Zaint yang tidak begitu peduli dengan pembahasan orang-orang itu terus menatap keluar dimana dia bisa melihat tempat dimana anaknya berada. Ya, taman Akademi. Taman luas dengan bunga yang ditanam beraturan.


Anaknya duduk disana dengan tatapan mata kosong, ada beberapa anak yang mengelilinginya namun yang dia lihat adalah anaknya seperti dirinya, tidak begitu tertarik untuk mengikuti membicaraan orang-orang.


"Int..."


"Zaint! Hei bisakah kamu mendengar ku?" ujar Kelion melambaikan tanganya.


Zaint menoleh dan matanya bertemu dengan lima pasang mata yang menatapnya aneh.


"Apa ini Zaint, sepertinya kamu sangat menyayangi anakmu ya?" tanya Cornelius mengikuti pandangan Zaint diawal.


"Kamu tahu, sepupuku mulai bergerak, dan yang pertama dia incar adalah pertahanan semua Kekaisaran, dan seperti itulah... Kamu memperlihatkan kelemahanmu"


"Orang itu tidak punya hati, dia bahkan memanfaatkan anaknya sebagai senjata hidup, dan tidak ada yang mengetahui itu bahkan anak-anak malang itu, lalu apa kamu juga tahu, dia pastinya sudah menargetkan anakmu?" ucap Cornelius menatap Zaint lekat. Mata ungu miliknya bersinar samar.


Entah kenapa, Zaint merasakan jika jantungnya berdetak lebih cepat, seperti dia sudah memikirkan resiko terburuknya.


"Hei-hei! Kenapa pembahasannya jadi menjauh begini sih? Bukannya wajar jika menyayangi anak-anak ya?" lerai Rechan mencoba menghentikan atmosfer yang tiba-tiba jatuh.


"Heh, sepertinya kalian lupa, sebelum memiliki anak, Kalian tak lebih dari seekor monster gila haus darah, terutama kamu Rechan" sarkas pria itu menyandarkan punggungnya ke sofa


Rechan yang tiba-tiba di singgung mendelik tidak suka. Memang benar ketika dia masih muda dia pernah jadi orang gila, namun menurutnya itu masih batas wajar.


"Memangnya apa yang kulakukan?"


"Kamu mengamuk dan menghancurkan setengah ibukota Kekaisaran Theodore, bahkan kamu membunuh tanpa pandang bulu, Anak-anak ataupun orang tua tidak pernah ada yang selamat, dengan alasan sepele"


"Haha! Apa kamu bilang? Sepele? 'Mereka' membunuh adik laki-laki dan perempuanku lalu memajang kepala mereka digerbang Istana, apakah itu sepele? Otakmu mendadak hilang ya? Mereka bahkan baru berusia sepuluh tahun"


Kepala Akademi dengan cepat meleraikan kedua orang yang pembicaraannya semakin kearah jauh.


Benar saja, tak akan ada kedamaian jika kelima Kaisar itu dipertemukan dengan Cornelius sebagai provokator dominan.


selamat membaca🙂😁


sorry ya, mungkin dia minggu kedepan saya gak update dikarenakan saya ikut ulangan kenaikan kelas, saya harus belajar dulu😓🙏