The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
BERNYANYI



Kekaisaran Ruffela...


Arya menyandarkan punggungnya ke kursi dan melamun.


Belum juga sehari dia pergi dari Roseland udah kangen berat. Apa lagi kalau ditinggal berminggu-minggu sampai berbulan-bulan, mati gentayangan dia.


Puk...


"Ar? Apakah gak ada ya tarian yang lain selain shuffle dance?" tanya Feron menepuk pundak Arya membuat gadis itu langsung tersentak kaget hampir jatuh.


"Hah!? Apa, apa? Kamu bilang apa?!"


"Kau melamun? Atau tidur?" tanya Feron dengan wajah tembok.


"Ehehe, maaf-maaf" Arya menampilkan deretan giginya yang putih dengan cengengesan miliknya yang khas. "Bagaimana kalau bernyanyi?"


"Hah? Bernyanyi? Memang suara kalian bagus?" sahut Lili berhasil menohok jantung Arya dan Feron.


"Ehem, yah...... Enggak!" ucap Arya langsung memasang wajah datar tanpa ekspresi.


"Tunggu sebentar!" Arya dengan cepat berlari kembali ke kamarnya dan kembali dengan gitar ditangannya.


"Dapat dimana lagi itu?! Rasanya kamu gak ada bawa benda seperti itu deh?!" ujar Lili menunjuk pada gitar yang dibawa Arya.


"Muehehe, aku kan punya kantong ajaib doraemon!" sahur Arya langsung duduk.


"Apa lagi itu? Jangan pakai kosakata aneh-aneh napa sih?" kata Delvan menggeleng geleng kan kepalanya.


"Memangnya kenapa? Serah aku lah~ wlee" jawab Arya sewot.


"Ck ck ck, masa kecil kurang bahagia" sahut Brian yang sedari tadi diam memperhatikan.


"Hah, kutub berjalan ngomong, njir!?" teriak Arya kaget, Lagi-lagi dia hampir jatuh dari kursinya.


Brian yang merasa keberadaannya sempat terlupakan memalingkan wajahnya kesamping.


Kurang ajar...


Steve dan Riden masih diam dan ikut menoleh, jujur mereka gak kaget kalau Brian tiba tiba nyaut, tapi mereka kaget gara gara Arya yang hampir terjengkang kebelakang untuk yang kedua kalinya.


"Sudahlah wahai anak muda!" Kelion tiba tiba nimbrung pada pembicaraan anak-anak yang ada didepannya. Yap, sejak tadi dia juga cuma memperhatikan doang.


"Hey ayah, berapa usia mu, hey?" tanya Feron mengernyitkan dahi. Seingatnya ayahnya ini masihlah muda. Mengingat dirinya saja masih sembilan tahunan.


Arya dari samping mendengar kan apa yang mereka katakan sambil memakan rambutan yang dia dapat entah dari mana.


"32, kenapa?" jawab Kelion heran.


"Ternyata udah tua" gumam Feron


Semua orang dapat mendengar nya dan berdecak kagum melihat keberaniannya menyindir ayahnya sendiri.


Pelipis Kelion berdenyut-denyut menatap anaknya kesal.


Duak....


Dengan satu pukulan telak di kepalanya, Feron meringis kesakitan. Dia menatap sengit ayahnya dan hampir mengutuk, tapi sebelum Kata-katanya keluar, mulutnya langsung dibekap oleh Lili.


Lili: "Jangan cari mati, bodoh!" dia berbisik tepat ditelinga Feron. Feron hanya mendelik dan mendengus kesal, menarik kembali kata-katanya yang sudah sampai tenggorokan nya.


"Uhuk!! Keselek biji!!"


Arya yang melihat kelakuan Lili dan Feron pun reflek tersedak biji rambutan yang dari tadi dia makan.


"Tuh kan, kena karma!? Makan gak bagi-bagi sih!!!" ucap Delvan memberikan Arya air putih dan menepuk-nepuk punggung Arya.


"Huphah, heh dolphin! Yang dari tadi ngeliatin aku makan tapi gak minta siapa hah! Kalau mau kan bisa langsung ambil aja kayak mereka berdua!!!" sewot Arya menunjuk kearah Riden dan Steve yang masih mengunyah buah rambutan di mulut mereka.


(Delvan→dolphin→lumba-lumba)


Feron menghentikan pertengkarannya dengan ayahnya dan menatap Arya lalu kearah dua orang yang ditunjuk Arya. Hey, kenapa Steve yang jarang ngomong kalau gak penting itu juga ikutan makan?!! Dia aja belum ada nyicipin satu buah pun!?


"Woy, Steve! Kenapa kamu ikutan makan!?" ujar Feron menaikkan nada suaranya.


"Gak ada yang ngelarang, kan? Ya sudah!" jawab Steve datar dan melanjutkan makannya.


Feron berfikir jika akhlaknya Steve ini sudah dibuang ke jurang curam dan terjal, kali ya?


"Kembali ke topik utama! Jadi kemungkinan besar aku akan menampilkan nyanyian" ucap Arya menaruh tangannya di atas meja dengan wajah serius.


"Tapi, Lagu apa?" tanya Feron mengangkat alisnya.


Arya memandang Feron dan langsung mengangkat gitar miliknya. "Ekhem, selamat sore everyone! Saat ini saya akan menyayikan lagu 'sampai jumpa' judulnya saja yang sampai jumpa, nyatanya si doi nya lupa, kashian~"


Arya mulai memetik senar dari gitarnya dan menghayati setiap nada yang dihasilkan oleh gitar miliknya.


Datang akan pergi


Lewat 'kan berlalu


Ada 'kan tiada


Bertemu akan berpisah


Awal 'kan berakhir


Terbit 'kan tenggelam


Pasang akan surut


Bertemu akan berpisah


Hei, sampai jumpa di lain hari


Untuk kita bertemu lagi


Kurelakan dirimu pergi


Meskipun ku tak siap untuk merindu


Ku tak siap tanpa dirimu


Kuharap terbaik untukmu


Datang akan pergi


Lewat 'kan berlalu


Ada 'kan tiada


Bertemu akan berpisah


Awal 'kan berakhir


Terbit 'kan tenggelam


Pasang akan surut


Bertemu akan berpisah


Hei, sampai jumpa di lain hari


Untuk kita bertemu lagi


Kurelakan dirimu pergi


Meskipun ku tak siap untuk merindu


Ku tak siap tanpa dirimu


Kuharap terbaik untukmu


Hei, sampai jumpa di lain hari


Untuk kita bertemu lagi


Kurelakan dirimu pergi


Meskipun ku tak siap untuk merindu


Ku tak siap tanpa dirimu


Kuharap terbaik untukmu


Arya menyelesaikan lagunya dan tersenyum. Dia melirik semua orang dan mengangkat alisnya heran


Arya: "... Kenapa?" tanyanya bingung


"Ah, oh, tidak apa-apa!" jawab Lili.


"Lagu lain ada?" tanya Feron menatap Arya serius.


"Ada, kenapa?"


"Coba nyanyikan!"


"Judulnya 'selamat jalan', paham?"


Terlalu lama engkau terkenang


Hancurkan diri kian jauh tenggelam


Lelah mencoba 'tuk lepaskan beban


Kau beli mimpi semu tak berarti sendiri


Tak mampu kau beranjak pergi


Jalan yang panjang nanar kau tatap


Tak lagi peduli semua yang terjadi


Semakin dalam larut angan mu melayang


Mimpimu hadirkan semua penantian


Alunan apa ajak kau bernyanyi?


Akhirnya kau pun pergi


Tak kembali


Banyak sudah kisah yang tertinggal


Kau buat jadi satu kenangan


Seorang sahabat pergi


Tanpa tangis arungi mimpi


Selamat jalan kawan cepatlah berlabuh


Mimpimu kini telah kau dapati


Tak ada lagi seorang pun yang mengganggu


Kau bernyanyi


Tiap haruku hanya sanggup mengingat


Jelas bayangmu yang masih melekat


Dalam kecewa 'ku hanya mampu katakan


Tetaplah tersenyum


Karena itu jalan yang telah kau pilih


Terbang lah, oh terbang lah


Bersama pelangi


Banyak sudah kisah yang tertinggal


Kau buat jadi satu kenangan


Seorang sahabat pergi


Tanpa tangis arungi mimpi


Selamat jalan kawan cepatlah berlabuh


Mimpimu kini telah kau dapati


Tak ada lagi seorang pun yang mengganggu


Kau bernyanyi


Semoga dalam damai engkau mengerti


Arti dalamnya jalan yang kau daki


Hingga indahnya bias mentari


Tak lagi kau nikmati


Selamat jalan kawan cepatlah berlabuh


Mimpimu kini telah kau dapati


Tak ada lagi seorang pun yang mengganggu


Kau bernyanyi


Ah, ketika dia menyayikan lagunya Arya tanpa sadar mengingat keadaan dirinya sendiri. Dia sudah pernah mati, meninggalkan semua sahabat dan juga keluarganya, ah dia lupa keluarganya yang tersisa hanyalah bibinya dan itupun bibinya juga ikut mati.


Dia jadi benar-benar kepikiran bagaimana kah perasaan semua sahabat dan teman-temannya ya?


Dia bingung, apakah jika dia mati di dunia ini dia akan kembali ke dunia modern?


"Ar? Kamu gak papa? Kok malah melamun? Bikin khawatir aja!" tanya Lili menepuk pundak Arya.


Arya tersadar dari lamunannya dan menatap Lili.


Haha, pikirannya melayang kemana-mana


Sungguh konyol dia ingin kembali ke dunia modern.


Sepertinya dia sudah benar-benar betah tinggal di dunia tanpa internet tapi ada sihir dan keajaiban yang tidak akan ada habisnya ini.


"Haha, gak papa kok!" jawab Arya dengan cengengesan.


"Bener nih?" ucap Delvan memegang dahi Arya.


Delvan itu dari dulu sudah menganggap kalau Arya itu adalah adiknya. Jadi, dia bakalan care banget sama Arya. Dia memandang semua orang setara jadi gak akan ada yang lebih mulai dari yang lainnya.


Biasanya anak bangsawan seperti mereka wajib hukumnya untuk menjaga sikap dimana pun. Delvan dan Brian adalah contoh yang terdekat, apalagi mereka berdua adalah penerus keluarga berikutnya. Delvan menjaga sifatnya tetap kalem didepan bangsawan yang lain tapi didepan sahabatnya auto hilang harga dirinya(canda). Sedangkan Brian dia sudah dididik sejak kecil untuk bersikap dingin dan kejam tanpa ampun, itu juga hanya karena dia adalah anak dari seorang pemimpin pasukan perang Kekaisaran dia benar benar harus bersikap tenang.


Mereka bermain dan bercanda bersama. Hingga menjelang malam. Arya tidak ingin terlalu lama berada ditempat orang jadi dia berencana untuk pergi besok sore.


••


••


Oke, sip!


Jangan lupa like and komennya


Lebih banyak komen lebih baik!


Ipat suka baca komen kalian semua


Dan makasih buat motifasi dan dukungannya semua


|


|∧∧""""


| *¯ ³¯)Muah♡


|⊂ノ