The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
HARI TES + PEMBERITAHUAN MENDADAK



Namanya adalah Ryzan. Dia memiliki rambut hitam layaknya langit malam yang tidak menampakkan perhiasannya.


Dan mata nya lebih pekat dari warna tinta yang selalu terbentang indah diatas kertas putih. Mata cantik yang memiliki pantulan ungu itu selalu menatap dengan tatapan acuh tak acuh.


Warna kulit putih yang menyerupai warna gading gajah yang lembut itu terlihat cukup menarik.


Kemampuannya adalah membaca pikiran orang. Jangan mengira jika bisa membaca pikirang orang lain itu sebuah keberuntungan. Karena bagi remaja itu kemampuannya adalah sebuah kutukan. Tanpa dia minta semua pikiran milik orang disekelilingnya masuk ke kepala nya. Ketika dia kecil dia hampir mati karena darah terus mengalir dari telinga dan hidungnya hanya karena kemampuannya itu.


Dia memiliki tangan yang banyak memar dan kapalan menjadikan itu bukti betapa dia sangat berkerja keras untuk berlatih menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Dan dia juga berlatih untuk mengurang rasa sakit dari kemampuannya.


Sifatnya yang cukup lembut itu menjadi tolak ukur terbesarnya. Dikeluarganya semuanya 'iblis' yang artinya tidak ada rasa sayang dan baik hati.


Tapi... Untuk pertama kalinya saat dia melihat anak laki-laki bernama Aryan, sifat nya berubah.


Anak laki-laki dengan rambut merah muda yang mirip dengan kue stroberi full cream benar-benar berbeda dimatanya.


Mata nya anak laki-laki itu juga bisa berubah... Dari yang warna nya pudar menjadi cerah. Mirip permata tapi bukan permata


Anak itu... Lebih cantik dari pada anak perempuan namun, lebih tampan dari anak laki-laki juga.


Kulit putih pucatnya mirip dengan ice fluffy yang benar-benar lembut dan mudah hancur.


Senyumnya rada aneh tapi itu manis walau tidak sering diperlihatkan. Wajahnya juga lebih kedatar dan dingin. Tapi aura aslinya tidak bisa ditutupi. Aura nakal yang terlihat darinya benar-benar kentara. Kalem namun bar-bar gitulah kelihatannya.


Dia memiliki cukup banyak teman yang sifatnya beragam. Tapi mereka tetap terlihat akur dan nyambung. Satu frekuensi ya begitu sifatnya.


Dan teman-temannya terlihat sangat overprotective padanya, memang apa salahnya jika mereka berdua berjalan bersama.


^^^(Feron dkk: "masalah lah, kamu mau dekatin anak paling muda diantara kami? Mimpi monyet!!")^^^


Memangnya Aryan itu tidak risih? Hm... Mengingat betapa dekatnya mereka sepertinya Aryan bukan seseorang yang mudah risih(?)


^^^(Jadi ingat eps 103⨀⋃⨀)^^^


Ngomong-ngomong sebenarnya Aryan itu siapa?


..."Saya hampir diamuk sama ayah saya"...


Padahal dia selalu ada dilingkungan Akademi, tapi bagaimana dia bisa bertemu ayahnya? Bukankah itu artinya ayahnya saat itu ada dilingkungan Akademi? Hisss sebenarnya siapa sih?


"Woy Rey kamu habis ngapain heh!! Lama banget?"


Ryzan menoleh dan orang baru saja dia pikirkan langsung mendekatinya dengan wajah mengerut.


"Hm? Aku hanya melihat jadwal pelajaran hari ini"


Arya menunduk dan alisnya terangkat.


"An**y! Matematika~ jam pertama"


"Bukan Ar, hari ini ada tes"


Arya tercekat sebentar, dia tidak tahu tes nya hari ini?


"Tes apaan?" tanya Arya bingung.


"..."


" kamu tidak mendengar pemberitahuan dari guru kemarin? kamu mendengarkan penjelasannya kan? Ar? " tanya Ryzan memastikan.


Arya dengan polos nya menggeleng. Dia kemarin melamun makanya gak dengar


Ryzan berkedip menatap mata hijau zamrud milik Arya dengan seksama. Lebih cantik jika rambutnya merah atau hitam dan lebih bagus jika dia perempuan.


Mungkin begitu jika Arya adalah seorang gadis(^∆^)


^^^(Walau kenyataannya memang perempuan)^^^


"Kenapa menatapku seperti itu?" ucap Arya melipat tangannya.


"Tidak, hanya saja kulitmu sangat pucat"


Arya mengangkat alisnya dan menatap kulitnya yang memang pucat.


Gak nyambung sih, tapi...


"Katanya.... Kulitku pucat karena menurun dari generasi ke generasi. Kata ayahku tidak ada anak yang terlahir denga kulit coklat eksotis dikelarga kami!"


Ryzan memutar matanya kekanan dan pikiran nya mengarah ke dua orang yang dia kenal.


"Aku juga memiliki kakak yang putih pucat sepertimu sayangnya dia adalah 'tengkorak aneh' dan yang memiliki kulit cokelat adalah 'iblis gila' jadi aku tidak terlalu memperhatikan!"


Arya mengorek telinga sedikit. Dia takut jika salah dengar.


"Kamu memaki kakakmu sendiri?"


Memangnya sejak kapan tengkorak warnanya jadi pelangi, kan warna tengkorak itu memang Putih pucat? Kan namanya juga tulang belulang?


"Berapa saudaramu?" tanya Arya sedikit bengong.


"18... atau... 19?" jawab Ryzan ragu-ragu.


"Anj*r, memangnya ayahmu apa sampai membuat anak sebanyak itu? Apakah ibumu adalah pabrik anak? Aku yanga anak tunggal aja ayahku banyak ngeluh, lah ini sampe 18-19 itu gimana ceritanya?!" ucap Arya tak percaya. Dia melupakan fakta bahwa ayahnya sendiri bahkan memiliki saudara lebih dari 40-an.


"Tidak-tidak! Ibuku hanya satu, istri ayahku yang banyak!" balas Ryzan yang langsung melambaikan tangannya menyangkal perkataan Arya.


"Ayahmu gila kawin ya? Kek kucing aja anji*r!! Sumpah dah!!? Gak takut kena HIV/AIDS* atau Sifilis* kah?!!" seru Arya yang semakin tak percaya. Bahkan matanya bergetar.


^^^(*penyakit yang disebabkan karena sering berganti pasangan)^^^


"Uh, salah tapi tidak salah juga, setiap Kerajaan atau Kekaisaran itu memiliki tidak pangkat untuk istri Raja/Kaisar nya. Permaisuri, ratu, dan selir dan ibuku termasuk selir"


Arya berkedip....


"Sekarang kamu sedang mengakui jika kamu itu keluarga Kerajaan kan?" tanya nya memiringkan kepalanya.


Ryzan membuka matanya lebar. Dia tanpa sengaja mengungkapkan identitasnya walau samar.


"Tidak! Tidak! Tidak! Tidak seperti itu!!"


Arya tersenyum miring, "gak papa kok! Tenang saja! Temanku yang namanya Foron juga anggota keluarga Kerajaan kok, jadi santai saja!" baik sekarang Arya sedang menjual nama temannya sendiri demi menenangkan anak didepannya.


^^^(Poor Feron o(╥﹏╥))^^^


Feron yang ada dilapangan langsung menutup telinganya saat dia merasakan gatal tak tertahankan dari telinga nya.


"Kenapa Fer?" tanya Emilly langsung menyenggol Feron yang gelagatnya aneh.


"Gak, cuma telinga gatal saja" jawab Feron menggedikkan bahunya.


"Ada yang membicarakan mu sepertinya, hehe!" celetuk Delvan tertawa renyah.


"Sudah dipanggil belum?" tanya Riden dari arah samping Emilly.


"Hmm~ belum, hehe!"


Mereka menunggu beberapa waktu sampai semua siswa tahun pertama berkumpul dilapangan. Arya pun datang dengan Ryzan yang mengikuti dari belakang.


Mereka berkumpul bersama dan menunggu panggilan masing-masing.


Dimulai dari Sektor seni pedang


Arya ada diurutan 24, Brian diurutan diurutan 30, Delvan diurutan 41, Hansel diurutan 50, dan Ryzan diurutan 73. Karena satu kelas berisikan 100 siswa jadi mereka disusun menurut absen


Lalu, sektor sihir


Emilly diurutan 10, Feron diurutan 37, dan Riden ada di 58. Dan ya, kelas ini pun berisikan 100 siswa campuran.


Dan sektor lainnya pun menyusun urutan masing-masing.


Ketika sudah giliran Arya dia sedikit terdiam menatap batu dengan warna silver kehitaman itu.


"Warnanya cantik" ungkap Arya tanpa sadar.


Para guru pembimbing yang ada didepan batu itu cengo dan terdiam.


"Batu itu cantik?" tanya salah satu guru itu menanggapi perkataan Arya tadi. Dia merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Sejak kapan batu bunyi jadi benda cantik?


Arya yang baru sadar dengan apa yang dia katakan langsung tersentak.


"Emh, enggak hehe! Hanya bercanda!" sangkal Arya menggelengkan kepalanya.


"Eng, jadi saya hanya harus memukul batu itu dengan pedang hingga mengeluarkan suara jernih?"


"Benar!"


Arya mengangguk mengerti. Dia mengambil sebilah pedang yang pas di genggamannya.


Ingat kata Seadna...


Tenang.... Konsentrasi.... Fokus pada satu titik... Jangan menggunakan kekuatan sama sekali..!


Arya mengangkat pedang ditangan kanannya dan dia menutup matanya. Dia menarik nafasnya perlahan lalu menghembuskannya perlahan.


Ketika dia membuka matanya dengan cepat pedang ditangannya bergerak terayun turun memukul batu itu.


Tingggggg....


Swhaaa.....


Hembusan angin yang begitu kencang langsung menerpa para siswa dan juga guru ketika suara jernih bagai lonceng berdeting itu terdengar.


Ketika angin perlahan berhenti mereka akhirnya langsung menarik pandangan kearah Arya yang masih membatu di tempat.


Apa tadi itu?


"... Baik, nilai A+!!" seru guru didepannya mencatat nilainya disebuah papan penilaian.


Arya yang baru saja sadar akhirnya mengedipkan matanya.


A+?


Apanya?


Bahkan Emilly yang baru akan meletakkan tangannya diatas bola mana terhenti sekejap. Apa yang dia rasakan sebelumnya benar-benar luar biasa. Angin kencang seperti digurun~!


OoooooO


"Wow~ lihat anak itu~ dia berhasil, memang ya kalau ilmu yang kuberikan itu tidak akan sia-sia~!" ucap Seadna bangga sambil mengangkat cangkir tehnya. Dia dengan santai menonton pertunjukan yang dilakukan oleh Arya.


"Anak itu masih membatu loh?" ucap orang lainnya yang menggunakan kacamata. Dia adalah Yran


"Ada dua kemungkinan, pertama dia kaget dan yang kedua dia tidak menyangka" ucap seorang gadis dengan rambut gradasi hijau tosca dan ungu.


Diruangan itu ada sekitar enam orang termasuk Seadna dan yang lainnya ada empat laki-laki dan satu perempuan.


Emm...


"Ngomong-ngomong kak Sen, kamu sudah menyelesaikan tugasmu?" tanya anak laki-laki yang memakai kacamata.


Seadna menyangga dagunya dengan tangan kiri dan matanya melengkung.


"Tentu saja.... Tunggu! Bukankah beberapa bulan lalu kamu sudah bertanya tentang itu?"


"Oh iyakah? Aku lupa, hehe!"


"Sena, kamu serius akan mengambil Aryan untuk menggantikanmu?" tanya anak laki-laki imut dengan boneka di pelukannya. Itu adalah Vee.


"Tentu saja! Oh ya, bagaimana dengan kalian bertiga? Eh? Abel mana?"


Yran mengangkat bahunya sebagai jawaban, "kamu bertanya sesuatu yang tidak aku ketahui"


Anak dengan boneka dipelukannya itu semakin memendam kepalanya pada ceruk boneka.


"Kamu tahu anak bernama Cris?"


Seadna memiringkan kepalanya, "ah, anak bernama Cris Agral dengan nomor absen 39 ya?"


"Ho, kamu mengenalnya? Bahkan sampai mengingat no. absennya?"


Seadna menganggukkan kepalanya. Setahu nya Cris anak yang selalu berdiam diri di sekitar taman. Anak yang cukup pendiam juga dikelas. Hm... Bahkan mungkin kehadirannya dikelas hampir hilang(?).


"Memang apa yang terjadi padanya?" tanya Seadna bingung


"Abel mengincarnya untuk menggantikan dirinya" sahut gadis dengan rambut gradasi, Sofie.


Seadna dengan tidak percaya membuka mulutnya. Bercanda kan?


"Abel gila!"


Seseorang masuk keruangan...


"Bukannya kamu yang lebih gila?"


++++++++-++++++++


baru aja up ehe, beberapa hari terakhir MT saya bermasalah yang membuat saya jadi menunda updatenya☺︎


HP saya juga lagi ada masalah. gara-gara terhempas jadinya pecah layar nya╥﹏╥ bagian atasnya juga jadi gak keliatan gara-gara gelap hiks.


jadi, mungkin ini bab terakhir...(?) karna saya lagi berusaha nabung buat beli HP baru. sorry banget yah╥﹏╥