
Keesokan harinya
Hari itu adalah hari yang tidak memiliki cahaya, hanya ada suara derasnya air jatuh dari langit yang ditutupi oleh awan mendung.
Arya melangkahkan kakinya dengan malas dan di atas kepalanya ada seekor anak naga sedang nangkring santai.
Gadis itu tiba di salah satu ruangan dan langsung merebahkan dirinya di samping seorang anak laki-laki yang masih terlelap didalam selimut tebal nan lembut.
Memeng saat itu masih pukul lima subuh jadi hanya para pelayan yang sudah bangun untuk mengurus istana yang sangat besar itu
Tempat tinggal pangeran, Istana Biru.
Tak lama kemudian Lili masuk bersama dengan Delvan dan ikut merebahkan dirinya di kasur tempat Feron tertidur.
Feron yang merasakan jika tempat tidurnya berdenyut karena goyangan itu, sedikit membuka matanya. Dia memandangi tiga orang temannya sedang berbaring tak bertenaga di kasurnya dan sedikit menegakkan tubuhnya, dia menarik selimutnya menutupi tubuh mereka berempat. Dan kembali tidur.
Kalau hujan-hujan-an gitu enakan tidur, trus tarik selimut.
Semua pengawal bayangan yang bertugas menjaga Arya, mengerutkan bibirnya dan wajah mereka semua sangat lah suram
Astaga yang mulia, kenapa anak anda seperti itu?!
Tidak ada takut-takutnya dengan seorang lawan jenis!?
Bagaimana anda menjaga dan merawat anak anda itu!?
Betapa sulitnya menjadi orang tua dan kaisar sekaligus ternyata!?
Sekitar jam setengah enam Steve datang ingin membangun kan Feron pun tertegun.
Pemandangan yang sangat asing dimatanya kini terpampang sangat jelas. Dua gadis kecil dan dua anak laki-laki kini sedang tidur meringkuk di satu ranjang bahkan satu selimut?!
Steve sedikit menoleh ketika merasakan seseorang memasuki kamar itu.
Dia menatap Brian yang tiba tiba masuk.
Brian mengangkat alisnya ketika ditatap oleh Steve.
"Apa?"
"Sedang apa kamu?"
Brian menarik pandangannya dan langsung menunjuk pada salah satu dari empat anak yang sedang tidur.
"Aku perlu membawa Putri kembali ke kamarnya"
"Dia seperti tidak punya dosa asal masuk kamar orang lain"
"Oh, dan juga mereka berdua" tunjuk nya lagi pada Dua bersaudara.
Steve sedikit mengangguk, "ya, silahkan!"
Brian mendekati kasur tempat Arya tidur.
^^^(Jadi posisinya itu gini [Delvan]♂[Lili]♀[Feron]♂[Arya]♀)^^^
Dia mencubit hidung Arya, Arya mengernyitkan dahinya dan sedikit berontak, gadis itu langsung berbalik dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Dahi Brian berdenyut-denyut, dia sedikit kesal.
"Putri, Kaisar Zaint datang dan membawa semua permen dan coklat limited edition rahasia anda!" Brian berseru cukup keras membuat Steve sedikit melebarkan matanya karena terkejut.
Arya yang masih menutupi tubuhnya dengan selimut auto melek dibuatnya. Dia dengan cepat bangun dan berteriak.
"Ayah, nooooo!! Jangan itu adalah permen dan coklat yang sengaja ku seludup kan dari lua--!!" belum sempat gadis itu menyelesaikan kata-katanya, dia langsung terjatuh dengan mengenaskan karena kakinya terlilit selimut.
Pftt...
Semua orang tidak bisa menahan tawanya dan tertawa bersama.
Itu benar-benar hiburan di pagi hari yang tidak akan mereka lupakan.
Arya segera mengangkat kepalanya.
Cur.....
Dia berdarah.
Ya, hidungnya sedang berdarah. Lebih tepatnya dia mimisan!!
Semua orang diam sesaat, dan mereka tertawa kembali. Feron adalah orang yang paling ngakak diantara semuanya.
Lili menyeka air matanya, saking banyaknya dia tertawa dia bahkan sampai mengeluarkan air matanya.
"Ayo bangun, jangan diam disitu dengan mata ingin menangis!"
Bukan-bukan, Arya tidak sedang menangis dia cuma sedang menahan air matanya yang ingin keluar gara gara malu. Dia langsung bangun dan memeluk Lili, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Lili. Dia terlalu malu untuk mengangkat wajahnya.
Harga dirinya jatuh ke dasar jurang terdalam dan terkelam.
"Sudah-sudah!" Lili mencoba menenangkan Arya dengan menepuk-nepuk punggung gadis itu.
"Hngg.. Rasanya wajahku habis dilempari kotoran" Arya meratapi nasibnya yang kurang dari seminggu itu terus mendapatkan rasa malu yang tak terlupakan.
Arya sedikit mengangkat kepalanya, matanya melotot tajam pada Brian yang masih melipat bibirnya.
Rasanya anak laki-laki itu masih ingin tertawa.
Beberapa hari yang lalu dia kehilangan giginya dan kali ini dia kehilangan harga dirinya.
Arya memandang Brian dengan niat membunuh yang terpancar sangat pekat. Siapapun yang memiliki indra yang sensitif pasti akan merasakan perasaan tertekan. Yes, semua orang yang ada di ruangan itu kini berkeringat dingin.
"Ehem, Arya sebaiknya kamu ke kamar mu dan mandi, lihat pakaian mu ada darahnya" ucap Lili mendorong Arya keluar dari kamar Feron.
Sedari tadi Arya memang mengusap darahnya yang turun, lagi pula dia sebenarnya tidak akan terluka parah. Dia memiliki tubuh yang bisa meregenerasi dirinya sendiri kok.
Arya membersihkan tubuhnya dan kembali dengan menggunakan dress selutut. Begitu juga dengan Lili yang ikut mandi bersama dengan Arya.
Mereka keluar bersama dan pergi ke meja makan bersama.
Di Sana sudah ada semuanya(?)
Iya semuanya!
Ada Kaisar nya~
Ada Permaisuri nya~
Bahkan sampai ada Pangerannya~
Lidya(ibunya Feron) yang melihat Arya langsung melemparkan senyuman nya. Entah bagaimana rasanya semua bulu di tubuh Arya jadi meremang melihat senyum ibu angkatnya.
"Meet pagi, putriku!" sapa Lidya melambaikan tangannya.
"Eh, se-selamat morning juga! Ah? Ah, maaf maksudnya selamat pagi!!" jawab Arya gelagapan
Semua orang menahan tawanya melihat reaksi Arya yang terlihat lucu.
"Huhu, duduk disini!" lambai Lidya menyuruh Arya duduk disampingnya.
Feron menoleh melihat Lili yang akan duduk di di samping kakaknya pun langsung memanggilnya, "woy cabai! Sedang apa?"
"Kamu tau ini apa?" Lili mengangkat tangannya dan dan menunjukan jari telunjuknya.
"Satu" jawab Feron bingung.
"Oh, baiklah, ternyata memang bermasalah" Lili mengangguk dan kembali ingin duduk.
Feron dengan refleks bangkit dari kursinya dan menyeret Lili kesamping tempat duduknya.
"Apa maksudnya tadi?!" ujar Feron juga ikut ngegas.
"Yang mana?"
"Yang bermasalah"
Ke lion menepuk keningnya, bagaimana bisa anaknya yang terkenal pintar jadi bodoh begini?!
"dia tadi bertanya 'apa' bukan 'berapa' bocah!!" sahut Lidya sedikit kesal.
"Ekhem, jangan berkata kasar" sahut Kelion menegur Lidya.
Lidya mengerucutkan bibirnya, "itu bukan kata yang kasar"
"Lalu kata kasar itu seperti apa?" ucap Arya menimpali perdebatan yang tiba tiba itu.
"Keke-parat!!" jawab Lidya membuat kelion langsung tersedak.
Keke adalah nama panggilan Kelion ketika dia masih kecil.
"Diam! Cepatlah makan dan selesaikan!"
Lidya hanya tersenyum, tanpa sadar dia menoleh kearah anaknya.
Ehem!
Pemandangan yang waw sekali.
Dia menatap Feron yang sedang memotong kan daging untuk seorang gadis. Lalu memberikannya pada gadis itu. Dia lalu melirik kearah gadis itu yang menggembungkan pipinya, terlihat sangat lucu.
Padahal selama ini anaknya itu selalu menghindari setiap gadis yang berpapasan dengannya dan sekarang, huwooo sekali~
Dia mendengar gumaman pelan mereka, seperti:
"Gak usah dipotong juga gak papa!"
Ini Lili.
"Diam lah biar aku potongkan!"
Ini Feron.
Tanpa sadar Lidya menarik bibirnya keatas sedikit membentuk senyum seringai.
Dalam hatinya berkata, 'semoga mereka berjodoh, lagi pula gadis itu juga sangat cantik, semoga lancar agar aku bisa mendapatkan seorang menantu yang mirip bunga malam*'
*bunga yang hanya mekar di siang hari berwarna hitam
^^^(Percayalah ipat gak bisa memudahkan jalan mereka, wk-wk-wk)^^^
Feron mengetuk meja dua kali lalu melirik Arya. Arya yang merasakan ditatap hanya mengangkat alisnya dan menoleh.
'Apa?'
'Mau ku potongkan?'
'Gak perlu!'
Feron yang ditolak mentah mentah mencibir kan bibirnya ke depan.
Setelah makan....
"Kamu yakin nanti sore akan berangkat kembali?" tanya Kelion memastikan.
Jarak antara Kekaisaran Roseland dan Ruffela dipisahkan oleh dua benua. Kalau ingin cepat, ya pakai teleportasi atau portal. Jaraknya juga sangat jauh untuk menuju portal. Dan Arya malah ingin pergi dengan portal?!
"Iya!" jawab Arya dengan pasti.
"Tapi, kenapa kamu mau menggunakan portal?"
"Itu adalah pengalaman pertama kami naik portal, dan lagi pun, walau aku bisa menggunakan sihir teleportasi, itu akan sangat cepat dan aku tidak bisa menikmati yang namanya perjalanan" jelas Arya panjang lebar.
Kelion dibuat speechless oleh Arya, bagaimana Zaint bisa tahan dengan logika anaknya yang seperti ini.
Kenapa cari yang mudah kalau ada yang susah?
Setelah berbicara tentang keberangkatannya nanti sore dia akan menghabiskan sisa waktunya untuk bersiap siap untuk membereskan barang-barang yang akan dia bawa pulang nanti.
Hal yang paling penting dan wajib dibawa pulang adalah... Tubuh yang sehat tanpa ada cacat luka dong pastinya.
Ini buat warna matanya, ini mungkin tokoh yang bakalan sering muncul dalam ceritanya oke?
Mata hijau, rambut merah\= Arya
2,3. Mata biru, rambut hitam\= Delvan dan Emilly
Mata kuning keemasan, rambut perak\= Riden
Mata kuning keemasan, rambut coklat muda\= Feron
Mata biru tua mendekati ungu, rambut Hijau tua\= Steve
Mata perak, rambut hitam gradasi ungu kemerahan\= Brian
Mata campuran kuning, pink, dan ungu, rambut Oranye\= Hayeo
Mata coklat, rambut coklat\= Eun Jun
Ribet banget, banyak tokohnya untuk kedepannya juga😩
like and Komennya kawan!
please banyakin komennya ya, ipat suka banget bacain komennya kalian
kasih saran juga, biar ipat bisa memperbaiki kesalahan kesalahan yang ada oke🤗